Pendidikan

Metode Penerapan Tasawuf di Dalam Pendidikan Modern

7 Mins read

Abstrak

​Tasawuf tidak bisa diamalkan sendirian tanpa syariah, seperti halnya syariah tidak bisa diamalkan tanpa landasan akidah. Dalam hal ini Penulis menekankan bahwa dimensi tasawuf sangat dipentingkan dalam kesempurnaan pengamalan ajaran Islam, yang diimplementasikan melalui muamalah pendidikan.

​Bertasawuf artinya menghidupkan hubungan rasa antara manusia dengan Tuhan. Berbeda dengan kesadaran intelektual tentang adanya Tuhan yang belum tentu mendatangkan ketenangan jiwa, kesadaran rasa berhubungan dengan Tuhan menempatkan seseorang berada dalam harmoni sistem sunatullah.

​Bagi orang yang sudah sampai pada stasiun rida atau mahabbah, apalagi ma’rifat, maka ia tak akan terganggu oleh perubahan zaman hidupnya, karena pusat perhatiannya tidak lagi kepada yang berubah, tetapi kepada yang tetap tak berubah yaitu Allah SWT.

​Kesadaran rasa berhubungan dengan Tuhan dapat memupuk fitrah keberagamaan yang hanif dan mempertajam bashirah sehingga seseorang merasa perlu untuk mendekatkan dirinya (taqarrub) kepada Allah SWT.

​Manusia secara lahiriah membutuhkan segala sesuatunya mudah didapat, transportasi yang mudah, komunikasi tanpa masalah, tetapi dalam hal kebutuhan pendidikan masih banyak orang tua yang salah menempatkan.

​Dalam kondisi seperti ini banyak orang tua yang lebih menitikberatkan pada hal yang bersifat duniawi. Kenyataan membuktikan, bahwa pada umumnya orang tua akan bangga apabila dalam pelajaran yang bersifat umum anak mendapat nilai tertinggi.

​Sementara untuk nilai pendidikan agama masih banyak yang kurang peduli. Padahal pendidikan agama jauh lebih penting dalam membentuk karakter, moral, dan akhlak anak. Sementara pada era modern sekarang, pendidikan agama merupakan landasan yang sangat fundamental dalam mencapai keberhasilan tujuan pendidikan secara umum, baik dari nilai etika maupun estetika dan akhlak.

​Kata Kunci: Tasawuf, Pendidikan, Modern.

​Pendahuluan

​Di era modern sekarang ini, banyak orang tua yang lebih bangga bila anak-anaknya mengikuti les khusus untuk mata pelajaran umum daripada les pendidikan agama (membaca Al-Qur’an dan sebagainya).

​Realitas mencerminkan bahwa setiap anak lebih bahagia apabila nilai pelajaran umum lebih baik daripada nilai agama. Hal serupa dapat dibuktikan dalam hal kurangnya minat dan motivasi belajar siswa dalam mengikuti mata pelajaran agama di berbagai lembaga pendidikan yang notabene umum, seperti SMP, SMA, SMK, dan yang sederajat, di mana kebanyakan dari mereka kurang antusias.

​Melihat kondisi di atas, maka penulis melihat bahwa tasawuf penting untuk diajarkan dalam pendidikan yang serba modern sekarang ini. Kharisudin Aqib menyatakan bahwa secara istilah, tasawuf sebagai ilmu adalah suatu pengetahuan yang membahas tentang seluk-beluk antara manusia dengan Tuhannya.

​Sedangkan Junaid Al-Baghdadi menyatakan bahwa tasawuf adalah suatu keniscayaan bahwa dalam kondisi apa pun kita harus senantiasa mengingat Allah.

​Berbeda dengan Ma’ruf Al-Karkhi yang menyatakan bahwa tasawuf adalah mencari hakikat dan meninggalkan segala sesuatu yang ada pada tangan makhluk.

​Ibnu Khaldun mengatakan bahwa tasawuf adalah semacam ilmu syariat yang timbul kemudian di dalam agama, asalnya adalah bertekun beribadah dan memutuskan pertaliannya dengan segala hal selain Allah, hanya menghadap Allah semata. Menolak hiasan-hiasan dunia serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kenikmatan harta benda serta kemegahan duniawi, dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan ibadah.

Baca...  Muhammadiyah Boarding School, Ikhtiar Muhammadiyah Bangun Pendidikan Pesantren

​Abdul Karim Amrullah mengatakan bahwa tasawuf adalah membersihkan jiwa dari pengaruh benda atau alam supaya jiwa tersebut mudah menuju kepada Tuhan.

​Sedangkan Labib Mz dan Moh. Al-Aziz menyatakan tasawuf adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah, membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, menghias diri dengan sifat-sifat terpuji, tidak mementingkan urusan dunia, merasa cukup atas pemberian Allah atas dirinya disertai tawakal dan mahabbah kepada Allah.

​Ditegaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa tasawuf adalah ajaran untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan Allah.

​Penulis menggarisbawahi bahwa tasawuf merupakan pengetahuan hubungan manusia dengan Tuhannya, keadaan beserta Allah, mencari hakikat dengan meninggalkan segala yang ada pada tangan makhluk, semacam ilmu syariat menghadap Allah, membersihkan jiwa menuju Allah, mendekatkan diri kepada Allah, dan terakhir adalah ajaran mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian dapat diungkapkan secara sederhana bahwa tasawuf itu ialah suatu sistem latihan dengan kesungguhan (riyadhah mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi, dan memperdalam kerohanian dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, sehingga dengan itu segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya. Oleh karena itu, Al-Suhrawardi mengatakan bahwa semua tindakan (al-ahwal) yang mulia adalah tasawuf.

​Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian tasawuf adalah ajaran atau ilmu pengetahuan untuk mencari hakikat dan membersihkan jiwa, serta berserah dan mendekatkan diri kepada Allah, guna mendapatkan ketenteraman jiwa dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

​Tujuan Tasawuf

​Labib Mz dan Moh. Al-Aziz menjelaskan bahwa tujuan tasawuf adalah untuk mencapai ma’rifatullah (mengenal Allah) dengan sebenar-benarnya dan tersingkapnya dinding (hijab) yang membatasi diri dengan Allah. Dalam mendekatkan diri kepada Allah selalu disertai semangat ibadah dengan tujuan untuk mencapai kesempurnaan hidup dan ma’rifat billah.

​Dari pernyataan tersebut di atas, dapat diartikan bahwa dengan tasawuf manusia berusaha untuk meminimalisasi, bahkan kalau bisa menghilangkan jarak antara dirinya dengan Sang Maha Pencipta dengan cara memperbanyak ibadah siang dan malam hari tiada henti. Getaran hati dan segala gerak-gerik, tindak-tanduk, pikiran, dan ucapan selalu tertuju kepada Allah untuk mencapai tujuannya.

​Ma’rifat billah adalah melihat Tuhan dengan hati secara jelas dan nyata, dengan segala kenikmatan dan kebesaran-Nya, tetapi tidak dengan kaifiyat (menggambarkan Tuhan seperti manusia atau benda atau yang lain dengan ketentuan bentuk dan rupa) untuk mendapatkan jawaban kaifa (bagaimana zat Tuhan itu).

​Abu Bakar Al-Maliki menjelaskan bahwa ma’rifat kepada Allah merupakan cahaya yang dipancarkan Allah di hati hamba-Nya, sehingga dengan cahaya tersebut hamba Allah tadi bisa melihat rahasia-rahasia kerajaan Allah di bumi dan di langit, serta hamba tersebut bisa mengamat-amati sifat kekuasaan dan kekuatan Tuhan.

​Adapun kedekatan Tuhan dengan manusia tidak dapat diukur dengan apa pun. Mengutip dari pernyataan Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam sebuah hadis menyatakan bahwa:

​Kita bisa melihat Tuhan dengan sesuatu yang diperlihatkan kepada kita, karena Tuhan tidak bisa dilihat dengan pancaindera, tidak bisa diukur dengan suatu ukuran, dan yang dekat dengan kejauhan-Nya dan yang jauh dengan kedekatan-Nya. Tuhan itu di atas segala sesuatu dan tidak boleh dikatakan seperti sesuatu yang lain.

Baca...  Urgensitas Pendekatan Bimbingan Konseling Pada Anak dan Remaja

​Adapun kesempurnaan hidup (insan kamil) adalah manusia yang sudah mengenal dirinya sendiri, keberadaannya, dan memiliki sifat-sifat utama. Ibnu Arabi mengatakan bahwa insan kamil adalah manusia yang sempurna karena selalu mendekatkan dirinya kepada Tuhan, sehingga menyatukan adanya sifat-sifat Tuhan pada dirinya.

​Sejalan dengan pendapat tersebut, Ibnu Arabi menyatakan bahwa insan kamil adalah miniatur dari kenyataan Al-Haq. Berbeda dengan Moh. Iqbal yang berpendapat bahwa adanya peleburan diri (miniatur dari kenyataan Al-Haq) dalam diri manusia tersebut tidak mungkin terjadi karena Tuhan Maha Sempurna.

​Hal ini sejalan dengan pendapat Jalaluddin Rumi yang menyatakan bahwa insan kamil adalah seorang yang sadar tentang keakuannya yang bersifat abadi.

​Penerapan Ajaran Tasawuf dalam Pendidikan Modern

​Kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi dan informasi dalam segala bentuk dan media, baik media cetak maupun media elektronik, menyebabkan manusia mudah mendapatkan informasi dalam segala bidang.

​Hal ini jelas berpengaruh terhadap kehidupan manusia di segala bidang pula, termasuk moral dan religi, baik yang bersifat positif maupun negatif.

​Tasawuf yang merupakan ajaran moral atau akhlak yang mulia tentunya tidak terlepas dari pengaruh modernisasi. Adapun pengaruh modernisasi bersifat positif dan negatif, di mana hal tersebut menjadi peluang ataupun hambatan.

​Pendidikan modern adalah pendidikan yang dilaksanakan dengan cara modern dan menggunakan alat-alat yang modern pula. Di zaman yang modern seperti sekarang ini, komputer dan internet bukan sesuatu yang baru lagi dalam pendidikan dan pengajaran, bahkan menguasainya menjadi sebuah kewajiban.

​Sudah banyak sekolah yang menggunakan fasilitas komputer ataupun internet dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar. Adapun pengaruh modernisasi menjadi hambatan tersendiri bagi implementasi ajaran tasawuf. Hambatan-hambatan tersebut adalah sebagai berikut:

​Kita mengetahui bahwa anak-anak dan remaja yang sedang tumbuh dan berkembang mempunyai kegemaran dan sifat yang mudah dan suka meniru, selalu ingin tahu, ingin mencoba, dan sebagainya.

​Sedangkan kita tahu pula bahwa pada saat ini, tayangan di TV, baik nasional, lokal, maupun swasta, hampir setiap saat menayangkan sikap, tingkah laku, dan cara berpakaian artis yang tidak mencerminkan moral yang utama, seperti berpakaian minim dan membuka aurat yang justru dikatakan bagian dari seni.

​Handphone kini sudah banyak dilengkapi dengan fitur canggih, sehingga pengguna yang notabene remaja secara privat dapat bermain game, menonton TV, mendengarkan radio, ataupun mengakses situs-situs pelajaran bahkan situs-situs yang berbau porno.

​Hal ini tanpa disadari merupakan strategi-strategi para kapitalis modern dalam menurunkan mental dan moral bagi generasi muda. Banyaknya majalah yang memuat berita dan gambar-gambar yang semestinya bukan konsumsi anak-anak dan remaja juga merupakan hambatan tersendiri bagi pengajaran tasawuf pada pendidikan modern sekarang ini.

​Adapun peluang modernisasi bagi pengajaran tasawuf adalah sebagai berikut:

  • ​Siaran TV dan radio yang bermutu dapat menunjang aplikasi ajaran tasawuf.
  • ​Handphone dapat digunakan sebagai media berdakwah, dengan memasukkan media dan pesan moral yang bernuansa Islami, belajar mengaji, ilmu tajwid, dan tafsir Al-Qur’an. Di antaranya dengan memasukkan program Al-Qur’an digital.
  • ​Majalah-majalah keagamaan dapat dijadikan sebagai sarana berdakwah, seperti As-Sunnah, Mimbar, dan sebagainya.
Baca...  Mengajarkan Akidah Anak SD: Agar Dipahami & Dihayati, Bukan Sekadar Hafalan

​Penutup

​Dari uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa kemajuan teknologi, khususnya di bidang informasi dan komunikasi, merupakan hambatan bagi penerapan tasawuf. Pada sekolah modern, para siswa yang pada umumnya masih anak-anak dan remaja harus dibentengi dengan keimanan dan ketakwaan yang kuat.

​Oleh karena itu, penulis mengingatkan kepada para pendidik dan orang tua bahwa agar pendidikan Islam mencapai tujuan yang tertinggi dan terakhir, yakni terbentuknya kepribadian muslim, maka terlebih dahulu harus melalui tujuan-tujuan sementara, seperti kecakapan jasmaniah, pengetahuan membaca-menulis, pengetahuan dan ilmu-ilmu kemasyarakatan, kesusilaan dan agama, kedewasaan jasmani dan rohani, dan sebagainya, yang merupakan satu garis linier.

​Mewujudkan khalifatullah fil ardhl (manusia sempurna dan berkepribadian muslim) merupakan tujuan umum pendidikan Islam.

​Sedangkan tujuan khusus pendidikan Islam adalah mengusahakan terbentuknya pribadi khalifatullah fil ardhl melalui berbagai aktivitas pendidikan yang bisa mengembangkan bagian dari aspek-aspek pribadi manusia. Tujuan khusus diusahakan dalam rangka untuk mencapai tujuan akhir. Ketiga tujuan tersebut merupakan rangkaian proses yang tidak bisa dipisahkan.

​Tujuan pendidikan Islam yang dipaparkan di atas hanyalah sebatas gambaran global. Sementara standar untuk mengetahui dan mengevaluasi keberhasilan tujuan pendidikan Islam tersebut sangatlah relatif/abstrak, karena ukuran yang dipahami bukan menggunakan angka-angka (logika).

​Dalam kondisi era modern yang dinamis dan penuh intrik, diharapkan juga agar orang tua jeli dalam mengawasi putra-putrinya, sering mengamati bacaan mereka baik buku maupun majalah, serta sering mengadakan pemeriksaan handphone yang mereka gunakan agar terhindar dari pengaruh negatif yang ditimbulkan dari media komunikasi dan informasi tersebut.

​Adapun saran kepada pemerintah agar selalu mengadakan sosialisasi internet sehat ataupun pengawasan terhadap Undang-Undang ITE dan Undang-Undang Pornografi serta Pornoaksi, sehingga dapat mengantisipasi sedini mungkin gejala dan efek negatif yang diakibatkan dari hadirnya teknologi dan budaya modern.

​Daftar Pustaka

  • ​Aboebakar Aceh. 1991. Pendidikan Sufi Sebuah Upaya Mendidik Akhlak Manusia. Solo: CV Ramahani.
  • ​Al-Syaibani, Umar Muhammad Al-Toumy. 1979. Filsafat Pendidikan Islam. Surabaya: Bulan Bintang.
  • ​Aqib, Kharisudin. 2009. Aktualisasi Tasawuf dalam Pendidikan Modern. Ponorogo: Brosur Kuliah.
  • ​Bawani, Imam, dkk. 1991. Cendekiawan Muslim dalam Perspektif Pendidikan Islam. Surabaya: Bina Ilmu.
  • ​Marimba, Ahmad D. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Cet. VII. Bandung: PT Al-Ma’arif.
  • ​Mz, Labib. 2000. Tasawuf dan Jalan Hidup Para Kyai. Surabaya: Bintang Usaha Jaya.
  • ​Nasution, Harun. 1995. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
  • ​Syukur, Amin. 2002. Menggugat Tasawuf. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • ​Tim Penyusun Kamus Depdikbud. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  • ​Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an. 1989. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Surabaya: Surwya Cipta Aksara.

​Penulis: Gusti Alip Nursuhud (07040120073)

Editor: Adis Setiawan

3 posts

About author
Mahasiswa UINSA
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Mendidik Akidah Anak di Era Digital: Peran Orang Tua & Guru

6 Mins read
Di era digital yang terus berkembang pesat saat ini, banyak orang tua merasakan kekhawatan dan kegelisahan saat melihat pertumbuhan anak mereka. Fenomena…
KeislamanPendidikanSejarah

Melawan Budaya Instan: Menumbuhkan Kesabaran Anak SD Lewat Sejarah Islam

4 Mins read
Suatu hari di kelas, seorang siswa kelas empat menaruh pensilnya baru dua menit setelah menghadapi soal yang sulit. “Susah, Bu, aku enggak…
KeislamanPendidikan

Menanamkan Kejujuran lewat Keyakinan Malaikat Pencatat Amal

6 Mins read
Bayangkan sebuah ujian Akidah Akhlak yang berlangsung tanpa pengawas. Guru sedang keluar kelas, dan jawaban teman terlihat jelas dari bangku sebelah. Apa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *