Opini

Krisis Kebersamaan Generasi Muda: Perspektif Sosiologi dan Islam

3 Mins read

Generasi muda saat ini hidup dalam era yang ditandai oleh kemajuan teknologi digital dan kemudahan akses komunikasi. Melalui media sosial, seseorang dapat berinteraksi dengan banyak orang dalam waktu singkat tanpa dibatasi ruang dan waktu. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul sebuah paradoks sosial. Meskipun semakin terhubung secara digital, banyak generasi muda justru mengalami kesepian, keterasingan sosial, dan kehilangan rasa memiliki terhadap lingkungan sekitarnya.

​Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan sosial tidak hanya ditentukan oleh frekuensi komunikasi, tetapi juga oleh kualitas interaksi yang terjalin. Kehadiran teknologi tidak selalu mampu menggantikan kebutuhan manusia akan kedekatan emosional, penerimaan sosial, dan kebersamaan. Akibatnya, tidak sedikit generasi muda yang merasa kesulitan menemukan ruang untuk didengar, dipahami, dan diterima.

​Kondisi tersebut menjadi persoalan penting karena dapat memengaruhi kesehatan mental, pembentukan identitas, dan partisipasi sosial generasi muda. Oleh karena itu, krisis kebersamaan perlu dipahami tidak hanya sebagai persoalan individu, tetapi juga sebagai fenomena sosial yang memerlukan perhatian bersama. Dalam konteks ini, perspektif sosiologi dan Islam dapat digunakan untuk memahami akar permasalahan sekaligus menawarkan solusi yang relevan.

​Krisis Kebersamaan dalam Perspektif Sosiologi

​Sosiolog Émile Durkheim menegaskan bahwa manusia membutuhkan solidaritas sosial untuk menjaga keteraturan dan keseimbangan kehidupan masyarakat. Solidaritas tercipta melalui hubungan yang erat, rasa saling percaya, serta kesadaran bahwa setiap individu merupakan bagian dari kelompok sosial yang lebih besar.

​Dalam masyarakat modern, perubahan sosial yang cepat sering kali menyebabkan melemahnya ikatan sosial. Mobilitas yang tinggi, persaingan akademik dan ekonomi, serta dominasi teknologi digital mendorong munculnya pola kehidupan yang semakin individualistis. Interaksi sosial yang sebelumnya berlangsung secara langsung kini banyak bergeser ke ruang digital yang cenderung lebih singkat dan kurang mendalam.

Baca...  Kritik Terhadap Gus Miftah

​Durkheim menjelaskan bahwa melemahnya solidaritas sosial dapat menimbulkan kondisi yang disebut anomie, yaitu keadaan ketika individu kehilangan keterikatan dengan nilai dan kelompok sosialnya. Dalam konteks generasi muda, kondisi ini dapat terlihat melalui meningkatnya rasa kesepian, menurunnya partisipasi dalam kegiatan sosial, dan melemahnya rasa memiliki terhadap komunitas.

​Selain itu, Robert Putnam melalui konsep social capital menjelaskan bahwa kualitas kehidupan sosial dipengaruhi oleh keberadaan jaringan sosial, kepercayaan, dan partisipasi masyarakat dalam berbagai organisasi atau komunitas. Ketika keterlibatan dalam organisasi, komunitas, maupun aktivitas sosial menurun, modal sosial masyarakat ikut melemah. Akibatnya, hubungan sosial menjadi renggang dan solidaritas sosial semakin berkurang.

​Fenomena tersebut menunjukkan bahwa krisis kebersamaan yang dialami generasi muda bukan sekadar persoalan psikologis, melainkan juga persoalan sosial yang berkaitan dengan perubahan pola interaksi dalam masyarakat modern.

​Pentingnya Sense of Belonging bagi Generasi Muda

​Salah satu kebutuhan mendasar manusia adalah kebutuhan untuk diterima dan menjadi bagian dari suatu kelompok. Dalam ilmu sosial, kebutuhan tersebut dikenal sebagai sense of belonging atau rasa memiliki.

​Rasa memiliki memberikan perasaan aman, dihargai, dan diakui keberadaannya oleh lingkungan sosial. Sebaliknya, individu yang kehilangan rasa memiliki cenderung lebih rentan mengalami kesepian, keterasingan, bahkan kehilangan arah dalam menjalani kehidupan sosialnya.

​Bagi generasi muda, keberadaan komunitas, organisasi, maupun kelompok pertemanan memiliki peran penting dalam membangun sense of belonging. Melalui ruang-ruang sosial tersebut, mereka memperoleh kesempatan untuk berinteraksi, mengembangkan diri, berbagi pengalaman, serta mendapatkan dukungan sosial ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

​Karena itu, organisasi kepemudaan, komunitas sosial, dan berbagai bentuk aktivitas kolektif masih memiliki relevansi yang tinggi di era digital. Keberadaannya tidak hanya menjadi sarana pengembangan kapasitas individu, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun solidaritas dan kebersamaan.

Baca...  IMM dan Tafsiran Progresif Kader Tentang Ikatan

​Perspektif Islam terhadap Kebersamaan

​Islam memandang manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Oleh karena itu, ajaran Islam memberikan perhatian besar terhadap pentingnya menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama manusia.

​Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10:

​“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

​Ayat tersebut menegaskan bahwa hubungan antarmanusia harus dibangun di atas semangat persaudaraan, kepedulian, dan saling menguatkan. Konsep ukhuwah dalam Islam tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme sosial yang menjaga kohesi dan integrasi masyarakat.

​Selain itu, Islam juga mengajarkan pentingnya silaturahmi dan ta’awun (tolong-menolong). Kedua nilai tersebut mendorong umat Islam untuk membangun hubungan sosial yang positif, memperkuat solidaritas, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

​Rasulullah saw. juga memberikan teladan dalam membangun masyarakat Madinah melalui penguatan ikatan sosial antarkelompok. Hal ini menunjukkan bahwa kebersamaan bukan sekadar kebutuhan sosial, melainkan bagian dari ajaran Islam yang memiliki peran penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.

​Relevansi Nilai-Nilai Islam di Era Digital

​Di tengah meningkatnya individualisme dan krisis kebersamaan, nilai-nilai Islam menjadi semakin relevan. Konsep ukhuwah, silaturahmi, dan ta’awun dapat menjadi fondasi untuk membangun kembali hubungan sosial yang sehat di kalangan generasi muda.

​Generasi muda perlu didorong untuk terlibat aktif dalam organisasi, komunitas, kegiatan sosial, maupun ruang-ruang kolaboratif yang mampu memperkuat hubungan antarmanusia. Keterlibatan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi pengembangan diri, tetapi juga membantu membangun rasa memiliki terhadap lingkungan sosial.

​Dalam konteks ini, teknologi digital seharusnya tidak menjadi penghalang bagi terciptanya hubungan sosial yang bermakna. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkuat jejaring sosial, memperluas kolaborasi, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama

3 posts

About author
Mahasiswa Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia.
Articles
Related posts
FilsafatOpiniPolitik

Merajut Kemanusiaan di Era Digital: Ketika Lisan dan Jari Menentukan Arah

5 Mins read
Perkembangan peradaban manusia dewasa ini ditandai oleh paradoks yang kian tajam. Di satu sisi, teknologi komunikasi dan media sosial telah meruntuhkan batas-batas…
OpiniPolitik

Merawat Kebebasan di Lorong Kekuasaan dan Ketakutan

5 Mins read
Dalam lanskap diskursus politik kontemporer, relasi antara yang memerintah dan yang diperintah senantiasa berada dalam ketegangan yang konstan. Narasi kekuasaan sering kali…
OpiniPendidikan

Epistemologi Teori Komitmen Dr. Hosaini dan Arah Baru Modernisasi Pesantren

6 Mins read
Dinamika peradaban global dewasa ini menuntut dunia pendidikan untuk terus-menerus melakukan kalibrasi epistemologis. Di tengah arus globalisasi yang kian hegemonik, institusi pendidikan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *