Di tengah ritme kehidupan sekolah yang semakin dinamis, berbagai upaya dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang tidak hanya produktif secara akademik, tetapi juga menyehatkan secara spiritual. Salah satu bentuk konkret dari upaya tersebut tampak dalam kegiatan rutinitas pembelajaran Al-Qur’an sebelum kelas dimulai di SD Yapita. Kegiatan ini sekilas terlihat sederhana, yakni pembelajaran Al-Qur’an secara bersama-sama sebelum proses pembelajaran formal berlangsung. Namun, di balik kesederhanaannya, kegiatan ini mengandung makna yang mendalam, baik dalam membentuk karakter peserta didik, menumbuhkan kesiapan psikologis dalam mengikuti pembelajaran, maupun dalam memperkuat internalisasi nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Rutinitas kegiatan ngaji pagi di SD Yapita ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Qira’ati, yang dikenal sebagai salah satu metode pembelajaran Al-Qur’an yang sistematis dan terstruktur. Pemilihan metode ini didasarkan pada pertimbangan kualitas capaian pembelajaran yang jelas serta tahapan yang terukur dalam setiap jenjangnya. Menurut Ustadzah Khoiriyah selaku kepala TPQ SD Yapita, “metode Qiro’ati ini merupakan metode yang baik karena memiliki target pembelajaran yang jelas dan terstruktur. Selain itu, guru yang mengajar dengan metode ini juga harus melalui berbagai tahapan kelulusan, seperti mengikuti PPL dan proses standarisasi lainnya.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa metode Qira’ati tidak hanya berfokus pada hasil belajar peserta didik, tetapi juga menekankan pada kualitas dan kompetensi pengajarnya.
Tujuan dari penggunaan metode Qira’ati adalah untuk mempermudah dan mempercepat cara belajar membaca Al-Qur’an pada anak. Metode Qira’ati merupakan salah satu metode dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an yang lebih menekankan pada pendekatan keterampilan proses membaca secara cepat dan tepat, baik dari segi makharijul huruf maupun bacaan tajwidnya. Dengan demikian, akan diperoleh hasil pengajaran yang efektif, tahan lama, dan dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi kemampuan anak didik.
Metode Qira’ati ini ditempuh dalam proses pembelajaran dengan pendekatan langsung (ceramah), praktik atau latihan, menirukan (musyafahah), metode sintetik (tarkibiyyah), dan metode suara (bunyi). Adapun ciri-ciri metode Qira’ati antara lain pembelajarannya dilakukan secara klasikal-individual, siswa membaca secara langsung tanpa mengeja huruf, serta menggunakan modul yang tersusun secara terstruktur, bervariasi, dan kreatif.
Dalam implementasinya, proses rekrutmen pengajar tidak dilakukan secara instan. Calon guru biasanya harus mengikuti pembinaan terlebih dahulu hingga dinyatakan lulus, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan metodologi mengajar selama beberapa hari sebelum akhirnya diterjunkan dalam Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Setelah melalui tahapan tersebut, barulah mereka diperbolehkan mengajar secara mandiri.
Di SD Yapita, metode Qira’ati telah dijalankan sejak tahun 2001 dan menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Banyak siswa yang memiliki kemampuan hafalan cukup baik, terutama karena adanya dukungan dari lingkungan keluarga yang juga membiasakan kegiatan mengaji di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga oleh sinergi dengan lingkungan keluarga.
Menariknya, kelas Qira’ati sering kali memiliki jumlah siswa yang lebih sedikit dibandingkan kelas formal, yaitu sekitar 15 orang per kelas. Jumlah yang terbatas ini justru menjadi keunggulan tersendiri karena memungkinkan guru untuk lebih fokus dalam membimbing setiap siswa. Dengan pendekatan yang lebih personal, proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan terarah.
Tentu saja, dalam pelaksanaannya terdapat berbagai tantangan. Salah satunya adalah perbedaan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur’an. Tidak semua siswa memiliki latar belakang yang sama, sehingga guru perlu memiliki kesabaran dan strategi yang tepat untuk mengatasi kesulitan tersebut. Selain itu, target pembelajaran pada setiap jilid dalam metode Qira’ati juga menuntut konsistensi, baik dari siswa maupun guru.
Sebagai bentuk apresiasi atas capaian siswa, biasanya diadakan kegiatan wisuda, baik untuk kelulusan jilid maupun tahfidz. Wisuda ini tidak hanya menjadi momen seremonial, tetapi juga bentuk penghargaan atas usaha dan kerja keras siswa dalam belajar Al-Qur’an. Bahkan, dalam beberapa kasus, kegiatan wisuda tahfidz dilaksanakan dua kali dalam setahun dengan melibatkan orang tua sebagai bentuk dukungan moral dan emosional. Kehadiran orang tua dalam momen ini menjadi simbol penting bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga.
Pada akhirnya, kegiatan rutin ngaji sebelum kelas bukan sekadar tradisi yang dipertahankan, melainkan praktik pendidikan yang memiliki relevansi kuat dengan kebutuhan zaman. Di tengah tekanan akademik yang semakin tinggi, aktivitas ini justru menjadi penyeimbang yang memberikan ketenangan dan arah bagi peserta didik.
Dengan demikian, ngaji pagi dapat dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Dari lantunan ayat-ayat suci di pagi hari, lahir ketenangan; dari ketenangan, lahir fokus; dan dari fokus, lahir prestasi. Sebuah siklus sederhana, tetapi memiliki dampak besar bagi masa depan pendidikan.
Oleh: Mahasiswa MBKM Ilmu Hadis UINSA di SD Yapita Surabaya

