KeislamanSejarah

Wahyu Pertama Mendorong Manusia Untuk Mencari Ilmu

2 Mins read

​Mayoritas ulama, khususnya ulama Al-Qur’an, sepakat bahwa wahyu Al-Qur’an yang turun pertama kali adalah lima ayat di surah ke-96, yaitu Al-‘Alaq. Allah SWT berfirman:

​اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ. خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ. الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ

​Artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5).

​Kemudian, disusul dengan ayat awal surah ke-68, yaitu Al-Qalam. Allah SWT berfirman:

​نٓ ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ. مَاۤ اَنْتَ بِـنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ. وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍ. وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ. فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَ

​Artinya:

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan. Dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila. Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur. Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat.” (QS. Al-Qalam [68]: 1–5).

​Pada ayat-ayat yang pertama kali turun, yakni QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5, tergambar dengan jelas betapa kitab suci Al-Qur’an memberi perhatian yang sangat serius terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Allah SWT menurunkan petunjuk pertama kali terkait dengan salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan, yang dalam redaksi tersebut menggunakan kata “iqra’”.

​Tentu saja, makna perintah tersebut tidak sebatas membaca dalam arti melafalkan teks, melainkan membaca dengan melibatkan pemikiran dan pemahaman. Itulah kunci perkembangan ilmu pengetahuan sepanjang sejarah manusia. Dalam konteks modern saat ini, makna iqra’ berdekatan dengan konsep reading with understanding (membaca disertai pemahaman).

Baca...  Maksum Dalam Syiah Dan Suni

​Dalam ayat pertama tersebut, tidak dijelaskan objek apa yang harus di-iqra’. Hal ini mengandung arti bahwa apa saja yang dapat dijangkau untuk diteliti dapat menjadi objek iqra’. Di kalangan para mufasir, terdapat sebuah kaidah tafsir yang menyatakan:

​“Apabila dalam suatu perintah tidak disebutkan objeknya, maka objeknya adalah apa saja yang dapat dijangkau oleh perintah tersebut.” (As-Sya’rawi, 1991).

 

​Dari sini dapat disimpulkan bahwa Islam sejak awal tidak membedakan antara ilmu umum dan ilmu agama, atau ilmu dunia dan ilmu akhirat. Objek apa saja yang dapat memberikan manfaat bagi kemaslahatan hidup manusia sudah sewajarnya dipelajari. Dengan demikian, yang menentukan baik-tidaknya hal yang dipelajari bukanlah terletak pada objeknya, melainkan pada motivasi atau niatnya. Hal itulah yang diisyaratkan dalam penggalan ayat selanjutnya, yaitu “bismi rabbik”.

​Hal yang perlu mendapat perhatian adalah apa pun aktivitas iqra’ yang dikerjakan, syarat yang ditekankan oleh Al-Qur’an haruslah bismi rabbik (dengan nama Tuhanmu). Hal ini mengandung arti seperti yang diungkapkan oleh Syekh Abdul Halim Mahmud (mantan Pemimpin Tertinggi Al-Azhar, Mesir) sebagaimana dikutip oleh M. Quraish Shihab (2007, hlm. 5–6):

​“Dengan kalimat iqra’ bismi rabbik, Al-Qur’an tidak sekadar memerintahkan untuk membaca, melainkan membaca adalah lambang dari segala yang dilakukan oleh manusia, baik yang bersifat aktif maupun pasif.”

 

​Tak hanya itu, Quraish Shihab (2007) juga melanjutkan bahwa kalimat tersebut dalam pengertian dan jiwanya ingin menyatakan:

​“Bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu. Demikian juga apabila Anda berhenti bergerak atau berhenti melakukan sesuatu, hendaklah juga didasarkan kepada bismi rabbik. Sehingga pada akhirnya ayat tersebut berarti: ‘Jadikanlah seluruh kehidupanmu, wujudmu, dalam cara dan tujuannya, kesemuanya demi Allah SWT.'”

Baca...  Keistimewaan Bani Hasyim Muhammadiyah dan Bani Hasyim Keluarga Rasulullah SAW

 

​Jika kelompok ayat yang pertama turun berkaitan dengan perintah membaca, kelompok ayat yang kedua, yaitu QS. Al-Qalam [68]: 1–5, menekankan pentingnya alat yang digunakan untuk menunjang aktivitas membaca, yaitu qalam (pena) dan hasilnya, yaitu tulisan.

​Dalam ayat tersebut, seakan-akan Allah SWT bersumpah dengan manfaat dan kebaikan yang dapat diperoleh dari tulisan. Hal ini secara tidak langsung merupakan anjuran untuk menulis dan membaca, karena dengannya seseorang dapat memperoleh banyak manfaat, khususnya wawasan hidup dan pengetahuan. Bahkan, hal tersebut akan sangat bermanfaat bagi kesuksesan hidupnya.

​Dengan kata lain, ilmu pengetahuan akan dapat terus berkembang dengan baik apabila budaya baca-tulis telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Budaya baca disimbolkan dalam perintah iqra’, sementara budaya tulis disimbolkan dalam wahyu yang kedua, yaitu al-qalam (pena). Wallahu a’lam bish-shawab.

433 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
Keislaman

Perbedaan Tafsir Syiah: Perbandingan Al-Qumi dan Al-Tabarsi

4 Mins read
​Berasal dari satu rahim bukan berarti harus menghasilkan sesuatu yang sama, begitu pun dalam ranah penafsiran Al-Qur’an. Penafsiran yang dilakukan oleh Al-Qumi…
KeislamanPendidikan

​Fathu Makkah ke Ruang Kelas MI: Menanamkan Antiperundungan

5 Mins read
​Baru-baru ini, masyarakat Indonesia kembali terkejut oleh maraknya kasus perundungan (bullying) yang melibatkan siswa sekolah. Ada siswa yang dipukul hanya karena dianggap…
KeislamanPendidikan

Urgensi Pembelajaran SKI dalam Membentuk Literasi Sejarah Gen Z

7 Mins read
Pendahuluan ​Mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memegang posisi sentral dalam lingkungan pendidikan Islam karena tidak hanya memuat kronologi masa lalu, melainkan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *