KeislamanNgaji Jawahirul Qur’an

Gus Ulil Ngaji Jawahirul Qur’an: Untaian Hikmah dari Ayat Kursi hingga Permata Al-Qur’an

3 Mins read

Sudah mafhum mengenai penyebutan khusus Nabi Muhammad SAW tentang Ayat Kursi dan Surah Al-Fatihah. Anda mungkin bertanya-tanya, “Mengapa beliau menyebutkan Ayat Kursi sebagai yang paling utama dan Surah Al-Fatihah sebagai yang terbaik? Apakah ada rahasia di baliknya atau hanya kebetulan, seperti ketika lidah seseorang mengucapkan kata pujian kepada seseorang dan kata pujian lainnya kepada orang yang serupa?”

​Imam Al-Ghazali menjawab, “Saya katakan jauh dari itu. Hal seperti itu lebih tepat bagi saya, bagi Anda, dan bagi siapa pun yang berbicara berdasarkan kecenderungan pribadi, bukan bagi orang yang berbicara berdasarkan wahyu ilahi. Jangan mengira bahwa satu kata pun akan keluar dari beliau dalam berbagai keadaannya, baik marah maupun senang, kecuali dengan kebenaran dan ketulusan.”

​Dengan kata lain, rahasia di balik penyebutan khusus ini adalah bahwa orang yang menggabungkan banyak bentuk kebajikan disebut orang yang berbudi luhur, dan orang yang menggabungkan lebih banyak bentuk kebajikan disebut yang terbaik. Karena keunggulan adalah peningkatan, keunggulan adalah yang lebih besar. Adapun kedaulatan itu adalah penetapan yang teguh dari makna kehormatan yang mengharuskan ketaatan dan menolak kepatuhan.

​Artinya, menurut Al-Ghazali, jika Anda meninjau makna dalam dua surah tersebut, Anda akan mengetahui bahwa Al-Fatihah mencakup kiasan tentang banyak seni dan beragam pengetahuan, karenanya ia lebih unggul. Sedangkan Ayat Kursi mencakup pengetahuan tertinggi, pengetahuan utama, dan yang menjadi asal mula semua pengetahuan lainnya. Dengan demikian, predikat “kedaulatan” lebih tepat untuknya.

​Maka perhatikanlah pola keterlibatan dengan ayat-ayat Al-Qur’an agar pengetahuan Anda bertambah, kecerdasan berkembang, Anda dapat melihat keajaiban tanda-tanda kekuasaan-Nya, dan menemukan ketenangan di “surga pengetahuan”.

​Ini adalah surga tanpa akhir, karena pengetahuan tentang keagungan dan perbuatan Allah SWT tidak terbatas. Surga fisik yang Anda ketahui diciptakan dari materi, dan meskipun sangat luas, ia tetap terbatas karena tidak mungkin menciptakan materi tanpa akhir.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kisah Kedermawanan Hingga dalam Mimpi

​Waspadalah terhadap pertukaran antara kebaikan dan keburukan. Jangan sampai kamu termasuk golongan orang-orang bodoh, meskipun kamu termasuk penghuni surga; karena mayoritas penghuni surga (yang hanya mengandalkan amalan lahiriah tanpa makrifat) adalah orang-orang yang tidak mendalami hakikat pengetahuan.

​Mereka yang Mengenal Tuhan

​Al-Ghazali menegaskan, jika kerinduan akan Tuhan dan keinginan untuk mengenal keagungan-Nya diciptakan dalam diri Anda—kerinduan yang lebih tulus dan kuat daripada keinginan akan makanan dan gairah biologis—Anda akan lebih menyukai surga pengetahuan dengan keindahannya, daripada surga tempat pemenuhan keinginan fisik semata.

​Ketahuilah bahwa keinginan ini diciptakan bagi mereka yang benar-benar mengenal Tuhan (makrifatullah). Jika Anda belum merasakannya, itu ibarat anak kecil yang hanya memiliki keinginan untuk bermain, sementara orang dewasa memiliki keinginan yang lebih kompleks.

​Anda mungkin heran dengan keterikatan anak-anak pada permainan, namun orang yang arif (mengenal Tuhan) justru heran dengan keterikatan Anda pada kesenangan status dan kepemimpinan. Bagi mereka, seluruh dunia hanyalah hiburan dan permainan.

​Kenikmatan pengetahuan tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan indrawi, karena ia tidak pudar atau berkurang karena kebosanan. Sebaliknya, ia terus meningkat seiring bertambahnya pemahaman. Namun, keinginan ini biasanya baru muncul saat seseorang mencapai kematangan spiritual. Siapa pun yang tidak memiliki keinginan ini, ibarat anak yang sifatnya belum berkembang sempurna, atau orang yang “impoten” secara spiritual karena hatinya telah dirusak oleh kekeruhan dunia.

​Menjauhi Kekayaan Dunia

​Orang-orang berpengetahuan cenderung menarik diri dari kekayaan dan status karena hal itu dapat mengalihkan perhatian dari manisnya hubungan dengan Tuhan. Mereka bahkan sering dianggap aneh atau “gila” oleh orang awam. Namun, mereka justru menertawakan orang awam karena kepuasannya terhadap harta duniawi yang fana.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Dzat dan Sifat Tuhan dalam Benak Muktazilah

​Sebagaimana firman Allah dalam Surah Hud ayat 38-39: “Jika kalian mengejek kami, maka kami akan mengejek kalian seperti kalian mengejek kami. Maka kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakan dan siapa yang akan ditimpa azab yang kekal.”

​Orang yang berilmu sibuk mempersiapkan “kapal keselamatan” bagi dirinya dan orang lain. Ia menertawakan orang yang lalai sebagaimana orang bijak menertawakan anak-anak yang asyik bermain tongkat kerajaan saat seorang tiran hendak menyerbu kota mereka.

​Permata dan Mutiara Al-Qur’an

​Al-Ghazali menyusun “permata” Al-Qur’an dalam satu untaian, dan “mutiara” dalam untaian lain. Bagian pertama Surah Al-Fatihah adalah permata (pengetahuan tentang Tuhan), dan bagian kedua adalah mutiara (etika menghamba).

​Hal ini bersandar pada hadis qudsi riwayat Imam Muslim: “Aku telah membagi salat (Al-Fatihah) antara Diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian…” Ketika hamba memuji Allah, Allah menjawab pujian itu. Ketika hamba memohon jalan yang lurus, Allah mengabulkannya.

​Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud “salat” dalam hadis tersebut adalah Surah Al-Fatihah. Al-Ghazali mengingatkan bahwa makna “untaian permata” adalah untuk memperoleh cahaya ilmu (teoretis), sedangkan “mutiara” adalah untuk tetap teguh di jalan yang lurus melalui perbuatan (praktis). Dasar iman adalah perpaduan antara ilmu dan amal. Wallahu a’lam bisshawab.

227 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Jawahirul Qur’an

Gus Ulil Ngaji Jawahirul Qur’an: Menyingkap Keagungan Makna Surah Al-Ikhlas dan Yasin

2 Mins read
Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa, yang setara dengan sepertiga Al-Qur’an.” Menurut Imam Al-Ghazali, banyak dari…
KeislamanNgaji Jawahirul Qur’an

Gus Ulil Bedah Makna Ayat Kursi dalam Kitab Jawahirul Qur’an

2 Mins read
Pernahkah Anda merenungkan mengapa Ayat Kursi disebut sebagai “Penguasa Ayat”? Jika Anda belum mampu menyimpulkannya melalui refleksi pribadi, maka tinjaulah kategori dan…
KeislamanNgaji Jawahirul Qur’an

Gus Ulil: Tadabbur Jawahirul Qur'an dan Rahasia Al-Fatihah

2 Mins read
Pernyataan Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Fatihah ayat 5 yang berbunyi: “Hanya Engkau yang kami sembah” mencakup dua pilar utama. Pertama adalah ibadah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
KeislamanNgaji Jawahirul Qur’an

Gus Ulil Ngaji Jawahirul Qur’an: Menyingkap Keagungan Makna Surah Al-Ikhlas dan Yasin

Verified by MonsterInsights