“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambahkan (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7). Sepintas, ayat ini mengandung pesan yang amat dalam, baik dari dimensi spiritual maupun motivasi diri. Dalam dimensi spiritual, ayat ini berusaha membuka ruang batin untuk selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan.
Di sisi lain, sebagai manusia yang tabiatnya sering merasa kurang, kita kerap menderita karena membandingkan diri dengan orang lain. Melalui ayat ini, kita diajak untuk menumbuhkan kesadaran bahwa setiap nikmat adalah bentuk karunia Allah SWT yang patut diakui.
Dalam perspektif Imam al-Ghazali, syukur pada dasarnya adalah cara sederhana untuk menerima segala bentuk takdir. Selain itu, dengan bersyukur, kita mampu mengelola batin dari sifat serakah, bertindak sesuai batasan, serta meminimalisir gangguan mental seperti kecemasan, kecenderungan membandingkan diri, hingga menyalahkan takdir.
Kacamata psikologi mengungkapkan bahwa ketenangan jiwa tidak selamanya bergantung pada aspek material. Ketenangan lahir dari kepuasan untuk selalu bersyukur dan menerima diri secara natural. Hal ini diafirmasi oleh Martin Seligman bahwa self-acceptance (penerimaan diri) dapat diraih melalui rasa syukur. Baginya, syukur adalah tindakan mengapresiasi segala aspek kehidupan, baik kelebihan maupun kekurangan, sebagai anugerah yang tak ternilai.
Oleh karena itu, praktik psikologis yang dibalut dengan rasa syukur merupakan tahapan penting dalam menjaga stabilitas dan kesejahteraan mental. Dengan menanamkan rasa syukur, kita tidak hanya merefleksikan terima kasih atas nikmat Tuhan, tetapi juga menjalankan siasat untuk menumbuhkan self-love, menemukan arti dari sebuah pemberian, dan menyikapi pola kehidupan dengan rasa cukup.
Bila disikapi secara tekstual, syukur memberikan manfaat yang tercermin melalui ucapan, tindakan, dan pengendalian batin. Kondisi ini menghadirkan kesejahteraan mental yang mampu membentengi diri dari dinamika zaman.
Namun, muncul pertanyaan penting: apakah sikap bersyukur sungguh menjadi jalan menghadirkan ketenangan, atau justru menjadi cara halus untuk melakukan dehumanisasi terhadap seseorang?
Dehumanisasi adalah praktik psikologis yang mengabaikan hak dan merendahkan sisi kemanusiaan seseorang. Sikap ini mencerminkan disfungsi perilaku yang melihat manusia hanya sebagai objek produktivitas, kesenangan, dan keuntungan, tanpa memedulikan kondisi mental serta fisiologisnya. Manipulasi dan eksploitasi termasuk dalam ranah dehumanisasi ini.
Psikologi modern mengajak kita melihat sudut pandang lain dalam memahami interkoneksi syukur dengan fenomena dehumanisasi. Syukur adalah esensi nilai moral positif. Namun, dalam arus dehumanisasi, konsep syukur mengalami pergeseran makna. Ia diibaratkan sebagai alat untuk mengendalikan situasi mental: emosi, pola pikir, hingga pemaksaan. Situasi ini mencerminkan dorongan untuk tetap bertahan dan menerima keadaan secara pasrah. Dibalut narasi “bersyukurlah”, makna tersebut seketika beralih menjadi “racun” yang memodifikasi mental.
Dalam psikologi positif, konsep bersyukur terkadang diadopsi menjadi struktur yang memiliki sisi gelap subjektif. Hal ini didasari oleh teknik hubungan interpersonal yang mengoneksikan perilaku kekerasan dengan tuntutan untuk bersyukur. Contohnya, perilaku kekerasan yang menimbulkan efek dopamin pada korban, seakan memberikan kebahagiaan semu yang “mesti” disyukuri. Padahal, nyatanya ini adalah kekerasan yang dibungkus rapi untuk menciptakan kepatuhan dan ketundukan.
Di sisi lain, hubungan eksploitatif juga terjadi dalam dunia kerja. Karl Marx menggambarkan relasi kerja yang sering kali tidak seimbang antara pemegang kuasa dan kaum proletar (pekerja). Dalam posisi yang lebih lemah, pekerja dituntut memenuhi target ego otoritas dengan upah yang sering kali tidak sebanding.
Di sinilah ungkapan “syukur” mulai memainkan perannya sebagai tabir penutup eksploitasi. Rasa lelah dan jam kerja yang tak menentu seolah dibungkam dengan bisikan: “Bersyukur saja, karena kita masih diberikan rezeki untuk makan,” atau “Banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisi kita sekarang.”
Narasi seperti ini lazim dianggap sebagai motivasi. Padahal, dalam situasi tertentu, ini adalah kiasan untuk memprovokasi cara seseorang memandang kondisinya sendiri. Alih-alih melihat kesenjangan, mereka digiring untuk merasa bersalah (guilt tripping) ketika hendak menuntut hak yang wajar. Kekhawatiran dianggap tidak bersyukur menjadi ancaman psikologis agar seseorang tetap patuh.
Psikologi Islam mengingatkan kita bahwa bersyukur seharusnya menjadi instrumen spiritual untuk membentuk kepribadian superior, bukan alat untuk menanamkan rasa bersalah. Jika dikoneksikan dengan dehumanisasi, makna bersyukur yang dangkal dapat menjelma sebagai praktik perbudakan yang dipoles halus dengan doktrin agama.
Ketika dipahami secara utuh, makna syukur tidak akan mengalami kejanggalan. Sebaliknya, ia menjaga diri dari praktik eksploitasi. Syukur tidak boleh dipahami secara sempit sebagai ajakan menerima kondisi secara buta, melainkan ruang terbuka untuk melihat keadaan secara waras dan sadar. Dengan pemaknaan ini, perayaan atas nikmat Tuhan tidak menjauhkan manusia dari kemanusiaannya, melainkan menuntun pada kematangan iman dan kedewasaan batin.

