KeislamanNgaji Jawahirul Qur’an

Gus Ulil: Bedah Kitab Jawahirul Qur’an Karya Al-Ghazali

2 Mins read

Kita tahu bahwa kitab Jawahirul Qur’an karya Al-Ghazali merupakan salah satu pintu utama untuk memahami Al-Qur’an. Tak heran jika Al-Ghazali menyerupakan kitab ini dengan “samudra yang luas”.

​Mengutip penjelasan Gus Ulil, saat berinteraksi dengan Al-Qur’an, kita akan menghadapi dua situasi. Pertama, seperti orang yang sekadar bermain ke laut; tujuannya hanya bersenang-senang sehingga yang didapatkan hanyalah keindahan pantainya. Kedua, seperti penyelam yang berani terjun ke kedalaman; dialah yang akan memperoleh mutiara berharga di dasar laut.

​Keunikan Laba-laba dan Lebah

​Perhatikanlah laba-laba: bagaimana Allah menciptakan anggota tubuhnya dan mengajarkannya trik berburu tanpa sayap. Dia menciptakan air liur lengket untuk menempelkan diri di sudut, menunggu lalat terbang mendekat. Ia kemudian menerjang, menangkap, dan mengikat mangsanya dengan benang liur agar tak dapat melarikan diri.

​Perhatikan pula jaringnya: bagaimana Tuhan membimbingnya menenun dengan presisi geometris melalui susunan benang lungsin dan pakan. Tak kalah menakjubkan adalah lebah dalam mengumpulkan madu.

​Cermati rekayasa arsitektur sarangnya: lebah membangun ruang berbentuk heksagonal (segi enam) agar tidak sempit bagi koloninya. Meski berkerumun dalam jumlah banyak, bentuk heksagonal memastikan tidak ada ruang yang terbuang. Secara geometris, jika sarang dibangun berbentuk bulat, akan tetap ada celah di luar lingkaran. Begitu pula dengan bentuk lainnya.

​Bentuk persegi memang saling menutup, namun karena sarang lebah cenderung mendekati bulat, bentuk persegi akan menyisakan sudut yang hilang. Hanya segi enam lah bentuk yang mendekati bulat namun mampu menutup rapat tanpa celah. Pertimbangkanlah: bagaimana Tuhan membimbing lebah pada kecanggihan geometris ini? Ini adalah salah satu bukti rahmat-Nya.

​Renungkanlah Ciptaan-Nya

​Di antara keajaiban ciptaan Allah SWT, tersimpan kebaikan dan rahmat-Nya di mana hal yang “rendah” mengarah kepada yang “tinggi”. Keajaiban ini takkan habis dieksplorasi meski sepanjang umur manusia.

Baca...  Gus Ulil Abshar Abdalla: Al-Ghazali dan Pengetahuan Ilmu Kalam

​Al-Ghazali menegaskan bahwa apa yang telah diwahyukan kepada umat manusia barulah sebagian kecil dibandingkan rahasia yang masih tersembunyi, yang hanya diketahui oleh-Nya dan para malaikat-Nya.

​Petunjuk semacam ini mungkin dapat Anda temukan dalam kitab Asy-Syukr (Syukur) dan Al-Mahabbah (Cinta). Carilah jika Anda merasa layak; jika tidak, jangan memaksakan diri memandang tanda-tanda rahmat Allah SWT. Jangan berkeliaran di alam pemahaman ciptaan jika hati belum siap.

​Sebaliknya, lanjut Al-Ghazali dengan nada satir, sibukkan saja diri Anda dengan puisi-puisi Al-Mutanabbi, keanehan tata bahasa Sibawaih, cabang-cabang pemikiran Ibnu Al-Haddad, kasus perceraian yang langka, atau strategi debat. Hal-hal itu mungkin lebih cocok bagi Anda, sebab nilai diri seseorang diukur dari ambisinya.

“Dan nasihatku tidak akan bermanfaat bagimu, sekalipun aku menasihatimu, jika Allah bermaksud menyesatkanmu. Dialah Tuhanmu, dan kepada-Nya kamu akan dikembalikan.” (QS. Hud [11]: 34).

“Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Fatir [35]: 2).

​Pemilik Hari Pembalasan

​Al-Ghazali mengajak kita kembali pada tujuan utama: menyoroti rahmat-Nya dalam penciptaan alam semesta. Hal ini berkaitan dengan firman-Nya dalam surat Al-Fatihah ayat 4: “Pemilik Hari Pembalasan.” Ayat ini merujuk pada rahmat di akhirat kelak, saat kekuasaan absolut diberikan sebagai balasan atas amal dan ibadah.

​Istilah “Penguasa Hari Kiamat” mengisyaratkan makna kedaulatan yang merupakan sifat keagungan Tuhan. Intinya, tidak ada pengulangan yang sia-sia dalam Al-Qur’an. Jika Anda menemukan sesuatu yang tampak diulang, perhatikanlah konteks sebelum dan sesudahnya. Di sanalah terdapat mutiara hikmah yang lebih besar. Wallahu a’lam bisshawab.

231 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
Keislaman

​Ekonomi Pesantren: Studi Etnografi di Toserba Sunan Drajat

4 Mins read
Di tengah arus modernisasi ekonomi yang semakin kompetitif, pesantren tidak lagi hanya dikenal sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai aktor ekonomi…
Keislaman

Hukum Penambangan Pasir Laut untuk Reklamasi

3 Mins read
Selain sebagai hamparan air biru yang indah, lautan kita adalah sistem pendukung kehidupan yang mahakampleks. Saat ini, perdebatan mengenai penambangan pasir laut…
Keislaman

Memahami Makna Liberal dalam Islam: Berpikir Luas dan Terbuka

3 Mins read
​Islam adalah agama yang satu untuk semua Muslim di dunia. Ukuran akidahnya seragam: percaya pada Allah SWT sebagai Tuhan dan Muhammad SAW…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Berita

Republika & Lazismu Luncurkan AI Keislaman Aiman dan Aisha

Verified by MonsterInsights