Penulis: Raisul Amin Loamena*
Biografi Singkat Al-Ustadz Plato
Plato merupakan seorang filsuf Yunani terbesar yang menjadi cikal bakal filsuf Barat tentang etika dan metafisika. Ia dilahirkan kurang lebih pada tahun 427 SM dan meninggal dunia pada tahun 347 SM. Plato lahir di sebuah keluarga aristokrat Athena yang secara turun-temurun memiliki peranan penting dalam kehidupan politik.
Ayahnya bernama Ariston, seorang bangsawan keturunan Raja Kodrus, yaitu raja terakhir Athena (1068 SM) yang sangat dikagumi oleh rakyatnya karena kecakapan dan kebijaksanaannya dalam memerintah. Sedangkan ibunya bernama Perictione, keturunan Solon, seorang tokoh legendaris dan negarawan agung Athena. Sejak kecil, Plato telah akrab dengan pelajaran filsafat yang dipelajarinya dari guru pertamanya yang bernama Cratylus (Kratylos). Cratylus sendiri merupakan murid dari Heraclitus (Heraklitos).
Nama asli Plato adalah Aristocles. Di lidah masyarakat Arab, nama Plato lebih akrab disebut Al-Ustadz Al-Fathun. Nama “Plato” sebenarnya merupakan julukan dari guru senamnya yang diambil dari bahasa Yunani, yaitu Platos, yang berarti “berbahu lebar”. Julukan tersebut diberikan karena Plato memang memiliki postur tubuh dengan bahu yang lebar. Julukan tersebut cepat populer dan dijadikan nama panggilan sehari-hari, serta diabadikan dalam seluruh karyanya.
Selain sebagai filsuf, Plato dikenal sebagai pemikir politik. Hal ini dimungkinkan karena keluarga Plato memiliki banyak hubungan dengan tokoh politik, terutama yang tergabung dalam kelompok Thirty Tyrants (30 Tyrannoi). Namun, naluri politik Plato memudar setelah peristiwa kematian Socrates yang dihukum mati oleh rezim penguasa saat itu. Sejak saat itu, pemikirannya lebih intens mengarah pada filsafat. Plato melahirkan gagasan tentang pentingnya seorang filsuf tampil sebagai penguasa ideal. Ia kemudian berimigrasi dan berkelana mulai dari Megara hingga ke Sisilia (tempat Raja Dionysius berkuasa), lalu kembali ke Yunani untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan tinggi yang disebut Academia.
Pada masa mudanya, Plato sangat menyukai dunia seni lukis dan gambar. Plato juga menekuni pemikiran filsafat dari Cratylus yang meyakini bahwa “semua yang ada itu mengalir” (panta rhei) bagaikan air. Sejak berusia dua puluh tahun, ia aktif mengikuti Socratic Circle (halaqah Socrates). Itulah sebabnya dalam berbagai karya dialogis Plato, Socrates ditampilkan sebagai figur utama. Ketika itu, Socrates memang muncul sebagai juru bicara masyarakat Athena, khususnya yang berkaitan dengan perbincangan tentang demokrasi.
Dalam karya-karyanya, Plato meracik puisi, seni, dan metafisika menjadi suatu karya monumental yang indah. Tidak jarang pemikiran-pemikiran klasik Plato tetap hangat untuk diperdebatkan hingga saat ini. Bahkan, sebagian pemikir modern menganggap karya-karya besar filsafat setelahnya hanyalah “catatan kaki” dari pemikiran Plato (Whitehead, 1929).
Di antara karya-karya monumental Plato adalah:
- Apology (Pembelaan Socrates di pengadilan) [Plato, Apology]
- Crito (Socrates dianggap sebagai warga yang baik walaupun dihukum karena kedengkian orang terhadap dirinya) [Plato, Crito]
- Euthyphro (Socrates berhadapan dengan tindakan kejahatan atas dirinya) [Plato, Euthyphro]
- Laches (Tentang keberanian) [Plato, Laches]
- Ion (Perlawanan terhadap penyair dan musisi) [Plato, Ion]
- Protagoras (Kebajikan adalah pengetahuan yang diajarkan) [Plato, Protagoras]
- Charmides (Kesederhanaan) [Plato, Charmides]
- Lysis (Tentang persahabatan) [Plato, Lysis]
- Republic (Khususnya Buku 1 tentang keadilan) [Plato, Republic]
Konsep Plato Tentang Realitas Murni
Embrio lahirnya konsep idealisme Plato tidak bisa dipisahkan dari perdebatan para pemikir filsafat alam pada zaman Yunani Kuno yang saling mempertanyakan arche (prinsip utama) dari alam semesta. Menurut Plato, alam semesta merupakan bentuk murni dari ciptaan sesuatu yang berdiri secara independen. Namun, wujud konkret dari sesuatu yang independen tersebut tidak bisa diamati secara langsung, melainkan hanya bisa diamati melalui gejala-gejala yang ditimbulkannya. Dalam artian, semua yang terjadi merupakan pelaksanaan yang mengikuti dan menerjemahkan kemauan dari sesuatu yang bersifat dasar, yang disebut sebagai realitas murni oleh Plato. Realitas murni itulah yang kelak disebut sebagai Idea tunggal oleh Plato.
Ahmad Tafsir mengemukakan bahwa dalam kajian filsafat, idealisme merupakan doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami melalui ketergantungannya pada jiwa (mind) dan spirit/ruh (Tafsir, 2005). Istilah tersebut diambil dari kata idea yang berarti sesuatu yang hadir dalam jiwa. George R. Knight menguraikan bahwa idealisme pada dasarnya adalah penekanan terhadap realitas ide, gagasan, dan pemikiran melebihi penekanan terhadap objek-objek serta daya-daya materi (Knight, 2007). Menurut Plato, dunia nyata yang kita alami adalah dunia yang penuh dengan bayangan dan salinan dari realitas yang sejati. Realitas yang sejati terletak di alam ide-ide yang abadi dan sempurna (Plato, Republic).
Plato membagi dunia menjadi dua bagian terpisah, yaitu dunia persepsi (indrawi) dan dunia Idea. Dalam dunia persepsi, seluruh pancaindra saling berkorespondensi membagikan informasi yang terekam hingga membentuk gambaran-gambaran yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti meja, kursi, dan benda fisik lainnya. Namun, dunia tersebut bersifat temporal dan dapat rusak karena karakternya yang konkret. Layaknya bunga, ada saatnya mekar dan ada pula saatnya layu. Akan tetapi, idea tentang bunga tidak akan pernah layu. Oleh karena itu, dunia konkret bukanlah dunia yang abadi. Sesuatu yang abadi hanya terletak pada dunia kedua, yaitu dunia Idea.
Terdapat alam di atas alam benda, yaitu alam konsep atau Idea, yang bersifat universal dan abadi. Idea merupakan bentuk murni sebagai contoh utama yang transenden dan asli, sedangkan persepsi dan benda-benda individual merupakan bayangan dari ide-ide tersebut. Hal tersebut dikonsepkan oleh Plato dalam karyanya yang berjudul Republic, di mana relasi idea dalam dunia intelegibel (intelligible realm) mirip dengan gagasan seorang seniman dalam dunia fisik (Plato, Republic). Plato menjelaskan bahwa seorang pengrajin yang membuat sebuah meja sebenarnya menirukan bentuk ‘kemejaan’, dan seorang seniman yang melukis meja tersebut menirukan meja buatan pengrajin. Karena itu, yang terjadi pada karya seni adalah tiruan dua tingkat (mimesis).
Menurut Plato, ide merupakan sesuatu yang memimpin pemikiran manusia. Ide bukanlah hasil pemikiran subjektif, melainkan sesuatu yang objektif dan lepas dari subjek yang berpikir. Meskipun setiap orang berbeda satu sama lain, ide dasarnya tidak berubah. Bukti adanya pengamatan yang bervariasi dan berubah-ubah merupakan pengungkapan atas ide yang tidak berubah. Plato berkesimpulan bahwa ada suatu realitas di balik “dunia materi”, yaitu dunia ide yang kekal dan abadi di balik fenomena alam.
Dalam mengungkapkan teorinya tentang realitas murni, banyak pemikir merasa kesulitan untuk menangkap gagasan Plato, terutama yang tertuang dalam buku Republic. Bertrand Russell berusaha memaknai apa yang disebut realitas murni oleh Plato. Russell berpendapat bahwa teori Idea/realitas murni Plato merupakan teori wujud yang hakiki (Russell, 1945). Menurutnya, sesuatu ada karena satu ide dasar yang disebut Idea, yang kemudian melahirkan ide-ide lain hingga membentuk berbagai cabang ide. Namun pada hakikatnya, ide pertama itulah yang disebut sebagai Idea Murni/Realitas Murni yang tidak diciptakan oleh ide-ide lain.
Untuk memahami konsep Plato tentang realitas murni, kita dapat mengambil contoh sederhana. Ketika melihat bangunan bertingkat, kita berpendapat bahwa bangunan tersebut didirikan oleh seseorang atau beberapa orang. Namun, pendiri gedung ini bukanlah pencipta asli gedung tersebut, melainkan peniru dalam konsep indrawi yang mengeksekusi bentuk partikular dari ide dasar. Argumentasi semacam ini kelak dikembangkan lebih lanjut oleh teolog naturalis abad ke-18, William Paley, melalui argumen teleologisnya mengenai keberadaan Perancang Agung (Paley, 1802).
Kusumohamidjojo menjelaskan bahwa jika dilacak akar pemikiran Plato tentang Idea, kita dapat menemukan pengaruh Pythagoras yang menganggap bahwa di dunia ini terdapat kenyataan material dan immaterial (Kusumohamidjojo, 2013). Terdapat banyak kesamaan dalam pemikiran abstrak keduanya.
Plato memandang bahwa di satu sisi manusia merupakan eksistensi yang abadi dan tak pernah berubah (jiwa), sementara di sisi lain manusia adalah badan yang terperangkap dalam dunia empiris yang berubah-ubah dan bisa lenyap. Terdapat dualisme antara tubuh duniawi yang tidak kekal dan jiwa adi-duniawi yang kekal. Jiwa inilah yang dihubungkan Plato dengan alam Idea.
Dalam menjelaskan hubungan antara ide dan realitas jasmani, Plato membaginya ke dalam tiga bentuk relasi:
- Idea hadir dalam benda-benda konkret (presents).
- Benda konkret mengambil bagian dalam Idea (participates). Di sini Plato memperkenalkan konsep partisipasi (methexis).
- Idea merupakan model atau contoh (paradigmatic) bagi benda-benda konkret, sedangkan benda-benda konkret merupakan gambaran tak sempurna dari model tersebut.
Pengaruh Pemikiran Plato Terhadap Filsuf Barat, Ideologi, dan Teknologi
Filsafat Idea Plato melahirkan banyak pemikir baru yang berupaya menerjemahkan maupun mengkritisi pemikirannya. Muridnya, Aristoteles, berusaha mengalihkan abstraksi pemikiran Plato menuju bentuk yang konkret. Aristoteles mengkritik pemikiran Plato yang dianggap terlalu mengawang di awan dan menurunkannya ke tingkat yang realistis, imanen, dan materialistik melalui teori Hylomorphism (Aristotle, Metaphysics). Teori ini menyatakan bahwa ousia (esensi/substansi) merupakan perpaduan antara hyle (materi/bahan) dan morphe (bentuk/wujud).
Pemikiran Plato juga memengaruhi para filsuf modern seperti Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger, dan Jacques Derrida. Nietzsche mengkritik pemikiran Plato dan menyebutnya sebagai biang keladi kesia-sian filsafat Barat selama 2.000 tahun karena dianggap terlalu melangit/utopis, meskipun ia tetap mengapresiasi besarnya pengaruh filsafat Plato (Nietzsche, 1886).
Martin Heidegger mengkritisi Plato karena menganggap yang-ada (Being) sebagai Idea transenden yang hanya ada dalam pemikiran. Heidegger menilai Plato telah melupakan esensi dari Being (Seinsvergessenheit) karena terlalu sibuk dengan abstraksi (Heidegger, 1927).
Di sisi lain, Alain Badiou menghadirkan pemikiran alternatif dengan menyandarkan ontologi matematisnya pada Plato, René Descartes, dan G.W.F. Hegel, dengan pengaruh Plato yang tetap mendominasi (Badiou, 1988). Selain itu, Immanuel Kant mengembangkan idealisme transendental/formalistik yang dipengaruhi tradisi ini (Kant, 1781), G.W.F. Hegel merumuskan idealisme absolut (Hegel, 1807), dan George Berkeley mengusung idealisme empiris/immaterialisme dengan prinsip terkenalnya esse est percipi (ada berarti dipersepsikan) (Berkeley, 1710).
Secara sosial-politik, idealisme Plato melahirkan konsep ideologi. Jean-François Lyotard menjelaskan bagaimana narasi-narasi besar (grand narratives) atau metanarasi bekerja dalam mengorganisasi kenyataan menjadi ideologi (Lyotard, 1979). Ideologi hadir sebagai gerakan untuk membumikan konsep kebaikan tertinggi (Summum Bonum) ala Plato.
Dalam konteks teknologi, Jürgen Habermas mengkritisi bagaimana ide tentang Kebaikan (The Good) dari Plato kini terdegradasi oleh sistem kapitalisme menjadi sekadar the goods (barang-barang material) yang tidak dapat menggantikan hakikat kebaikan itu sendiri (Habermas, 1968). Sementara itu, Jean Baudrillard menggambarkan kondisi masyarakat modern sebagai realitas simulacra, di mana manusia terjebak dalam dunia virtual yang mirip dengan alegori Gua Plato (Allegory of the Cave) (Baudrillard, 1981; Plato, Republic).
*) Mahasiswa Ilmu Hukum (semester 7), Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Bima. Pernah menjadi Ketua Umum Pimpinan Komisariat IMM Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Bima. Pegiat Ilmu Hukum dan Filsafat.

