Surabaya — Resepsi Pelantikan Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur berlangsung khidmat dengan semangat kebhinekaan yang kental. Rangkaian acara dibuka dengan penampilan Tari Remo dari Sanggar Kuwung Surabaya, yang menghadirkan nuansa kultural khas Jawa Timur di awal prosesi.
Suasana religius menyelimuti ruangan saat pembacaan ayat suci Al-Qur’an mengawali agenda formal kepengurusan periode ini.
Peran Strategis PMII di Era Transisi
Ketua IKA PMII Jawa Timur, Thoriqul Haq, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi kader PMII di berbagai sektor. Ia menekankan pentingnya sinergi dan penguatan organisasi di tengah dinamika zaman yang terus berubah.
Menurut Thoriq, PMII harus tetap eksis menghadapi fase post-religious society, sebuah era di mana humanisme berkembang pesat namun nilai-nilai transendental sering kali memudar.
“Perlu penguatan nilai dan regenerasi agar PMII tetap relevan di setiap fase zaman,” tegas mantan Bupati Lumajang tersebut.
Misi Besar: PMII Berkarya, Jatim Berdaya
Acara dilanjutkan dengan penayangan video teaser yang merangkum capaian serta potensi besar organisasi. Ketua PKC PMII Jawa Timur terpilih, Muhammad Ivan Akeidozama, menegaskan misi besarnya: PMII Berkarya, Jawa Timur Berdaya.
Sejalan dengan itu, Ketua Kopri PMII Jawa Timur menyatakan bahwa pemberdayaan kader perempuan adalah tanggung jawab strategis. Hal ini bertujuan agar kader putri mampu berkontribusi lebih luas di ruang-ruang publik.
Kemeriahan semakin terasa saat parade Ketua Cabang se-Jawa Timur tampil mengenakan busana adat masing-masing daerah. Penampilan ini menjadi simbol kuat bahwa PMII tetap solid dalam bingkai keberagaman.
Pelantikan dan Fokus Lompatan Kaderisasi
Prosesi inti pelantikan dipimpin langsung oleh Gus Fuad Muhammad mewakili Pengurus Besar (PB) PMII. Setelah resmi dilantik, Ivan Akeidozama kembali menekankan visi tentang “Lompatan Kaderisasi”. Ia mendorong seluruh kader untuk bersikap profesional dan memiliki jenjang yang jelas, baik dalam profesi, kepemimpinan, maupun spiritualitas.
Ivan juga memberikan pandangan baru terkait ideologi organisasi. Ia menegaskan bahwa Aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah) tidak boleh hanya dipahami sebagai mazhab teologis statis.
“Aswaja harus menjadi laboratorium nilai dan gerakan kreatif yang mampu mengelola serta memanfaatkan sumber daya alam secara bijak,” ujarnya.
Pesan Intelektual dan Soliditas dari Tokoh Bangsa
Tokoh senior PMII, Ali Maschan Moesa, mengingatkan para kader untuk terus belajar dan tetap kreatif agar relevan dengan perkembangan zaman. Ia berpesan agar PMII selalu hadir melayani masyarakat dan konsisten memperjuangkan hak-hak rakyat.
Senada dengan hal tersebut, Khofifah Indar Parawansa dalam sambutan penutupnya menekankan pentingnya soliditas. Menurutnya, PMII memiliki posisi vital dalam menjaga stabilitas negara di tengah kebhinekaan.
“PMII harus terus berperan dan menginspirasi,” tutur Khofifah seraya memberikan ucapan selamat kepada seluruh jajaran pengurus PKC PMII Jawa Timur yang baru.
Penutup yang Simbolis
Sebagai simbol bahwa pergerakan PMII selalu berangkat dari fondasi spiritual, acara diakhiri dengan penyerahan kaligrafi kepada Khofifah Indar Parawansa dan Ali Maschan Moesa. Doa penutup dipimpin oleh Rektor UNDAR, Amir Maliki Abi Tolchah, menandai dimulainya babak baru perjuangan PMII Jawa Timur.

