Esai

Menciptakan Habitus Membaca: Belajar dari Teori Pierre Bourdieu

3 Mins read

Guru saya, Romo Haryatmoko SJ, mengisahkan sahabatnya. Mereka berdua bertemu di suatu pameran buku. Sahabatnya itu membawa anaknya yang masih berusia tujuh tahun. Laiknya kawan lama, mereka saling mengobrol akrab mengenang masa-masa kuliah. “Pah, aku mau keliling-keliling, ya, lihat-lihat dan baca-baca buku,” izin anaknya kepada sang ayah. Anak perempuan itu lari tergopoh-gopoh ke arah pojok tempat buku ensiklopedia anak dan “hilang” di balik tumpukan buku yang berbaris seperti angkatan bersenjata.

​Tak biasa melihat anak sekecil itu bersemangat membaca buku, Romo Moko memberanikan diri bertanya, “Kok bisa anakmu suka membaca?” Pertanyaan itu sebetulnya biasa saja. Namun, bagi orang yang tidak mempunyai kedekatan psikis yang erat dengan buku, rasa penasaran terhadap fenomena tersebut tidak akan muncul. Alih-alih penasaran, tak mustahil seseorang justru akan mengolok-olok: apakah gemar membaca buku bisa menghasilkan duit?

​Tentu saja, orientasi pragmatis-materialistis terhadap hubungan antara pembaca dan buku tidak ada salahnya. Namun, membaca bukan semata untuk itu. Penelitian di bidang neurosains mungkin dapat sedikit menghibur kita, para pencinta buku, di tengah era kecerdasan buatan (AI) yang bergerak sangat cepat. Semakin cepat perubahan, kita justru dituntut untuk memperlambat gerak. Otak yang gemar melahap informasi dengan durasi pendek-cepat berpotensi mengalami “kebusukan”. Busuk maknanya rusak; ia seharusnya memberi manfaat dan makna maksimal, tetapi tak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.

​Menumbuhkan Habitus Membaca

​Istilah habitus berasal dari filsuf Prancis, Pierre Bourdieu. Ia menamai “nalar berpikir” tersebut sebagai strukturalisme genetik. Anda yang mengikuti perkembangan ilmu sosial kontemporer pasti tidak asing dengan nama ini. Tidak sekadar ilmu sosial, jika Anda penggemar sastra, dalam diskursus sosiologi sastra pun pasti akan berkenalan dengan teori ini. Strukturalisme genetik, sederhananya, adalah bagaimana pengalaman ketubuhan manusia mengonstruksi cara berpikir dan struktur sosial-politik masyarakat.

Baca...  Pelaksanaan Hukuman Mati di Indonesia

​Saya berikan contoh mudahnya. Suatu kali Anda bertemu dengan kawan sekelas yang gemar merundung (bullying). Anda jengkel: bagaimana bisa ada anak “senakal” ini? Kemudian, suatu ketika Anda berkesempatan main ke rumahnya karena ada tugas sekolah. Saat itulah Anda tahu realitas kawan tersebut: tidak ada orang tua yang mendukung dan ia tinggal di lingkungan kumuh dengan tetangga yang saling sindir serta berkata buruk. Usai melihat lingkaran kehidupan sehari-harinya, Anda mungkin akan bergumam: “Oalah, wajar kalau dia menjadi troublemaker.”

​Pengalaman ketubuhan yang sehari-hari mampir di hidup itulah yang menjadi mode dalam berpikir. Orang yang hidup di lingkungan yang tidak memedulikan pendidikan akan melahirkan model masyarakat yang sama. Perubahan sosial yang bermakna dapat dimulai dari intervensi ide baru yang lebih baik agar ada alternatif cara berpikir, atau—menurut Bourdieu—mengubah realitas dengan pengadaan fasilitas yang berguna.

​Kecintaan pada membaca tidak terbentuk begitu saja. Ia merupakan pengalaman menahun yang mengendap dalam kesadaran dan menjadi sebuah laku hidup. Habitus berbeda dengan habit atau kebiasaan. Jika boleh disejajarkan, habitus setara dengan budaya pada level individu. Indikator paling pas untuk mengukur apakah sebuah kebiasaan telah menjadi habitus adalah ketika hal itu dilakukan tanpa berpikir lagi. Jika sudah menjadi refleks, ia telah mengkristal menjadi habitus. Jika membaca sudah menjadi habitus, ia akan setara dengan aktivitas makan. Seolah-olah Anda akan “mati” jika tidak melakukannya.

​Membaca buku lima lembar secara konsisten setiap hari jauh lebih bermakna dalam pembentukan habitus daripada membaca 350 halaman dalam sekali duduk, namun setelah itu tidak menyentuh buku lagi selama setahun. Dalam penciptaan habitus, konsistensi jauh lebih penting daripada kuantitas sesaat.

Baca...  Mengapa Mantiq (Logika) Harus Bangkit di Pesantren? Ini Jawaban Imam Al-Ghazali

​Dari Habitus ke Budaya

​Budaya adalah seluruh peri kehidupan manusia. Begitu definisi dari Prof. Koentjaraningrat yang diamini para antropolog. Manusia tidak dapat keluar dari kebudayaan. Budaya inilah yang menentukan arah pembangunan manusia. Teknologi yang kini tampak mengancam eksistensi manusia—seperti AI—merupakan produk kebudayaan. Kesediaan manusia untuk membaca dan melakukan observasi mendalam dapat meminimalisasi mudarat tersebut.

​Segmen habitus memang spesifik pada individu, tetapi ia adalah benih budaya. Individu yang memiliki habitus membaca akan menjadi agen perubahan (agent of change). Ia akan memicu rasa penasaran orang di sekitarnya. Pemandangan orang menenteng buku akan menjadi kontras di tengah kerumunan orang yang hanya menatap layar ponsel.

​Orang tua, guru, dan tokoh publik akan sangat mudah menciptakan ekosistem membaca yang bermakna. Habitus tidak dapat diajarkan secara eksplisit, melainkan ditanamkan secara implisit melalui teladan. Beri saja contoh, maka orang lain akan meniru. Di Yogyakarta, ekosistem buku yang baik terbentuk dalam kurun waktu yang sangat panjang. Seperti kata buku Atomic Habits, perubahan kecil akan menciptakan perubahan besar. Ambil bukumu, baca: sehari satu esai, satu puisi, dan satu cerpen bagus!

​Budaya Berpikir

​Sastrawan Mesir pemenang Nobel Sastra, Naguib Mahfouz, menyatakan bahwa kemajuan sebuah bangsa diikhtiarkan dengan menciptakan budaya berpikir (tsaqafat al-fikr). Sebuah negara atau rezim yang anti-pengetahuan tidak akan bertahan lama. Nuh adalah contoh “ilmuwan” di eranya yang memberi peringatan ekologis tentang banjir besar, namun diabaikan hingga mereka hancur.

​Namun, berpikir itu sulit. Carl Gustav Jung mengatakan, “Berpikir itu sulit, maka orang lebih suka menilai.” Budaya berpikir hanya bisa dibentuk dengan membaca. Ide-ide segar selalu muncul dari bacaan. Jika Anda pembaca yang lahap, Anda akan menyadari bahwa banyak buku tua yang relevansinya masih sangat kuat hari ini.

Baca...  Strategi Pembelajaran untuk Membangun Karakter Disiplin di Kelas

​Nyawa berpikir adalah bahasa. Nyawa bahasa adalah akal. Dan akal selalu mengajak dialog melalui tulisan. Sejarah peradaban besar membuktikan bahwa mereka yang maju adalah yang mengembangkan budaya baca-tulis, bukan sekadar ucap-dengar. Di tengah tren budaya ucap-dengar melalui media seperti YouTube, Anda perlu menggunakannya dengan bijak tanpa meninggalkan kedalaman literasi baca-tulis.

3 posts

About author
Guru dan Pegiat Literasi
Articles
Related posts
Esai

Pati Unus: Kisah Pangeran Sabrang Lor dan Perjuangan Melawan Portugis

2 Mins read
Pati Unus, yang dikenal luas dengan julukan Pangeran Sabrang Lor, merupakan salah satu tokoh sentral dalam sejarah Kerajaan Demak. Ia adalah putra…
Esai

Memahami Perbedaan Tafsir Al-Qur'an Melalui 3 Teori Kebenaran

6 Mins read
Tulisan ini merupakan kelanjutan dan memiliki keterkaitan dengan karya penulis sebelumnya yang berjudul “Al-Qur’an Itu Up to Date: Memahami Keajaiban Kitab Suci…
ArtikelEsaiFilsafatKeislaman

Hikmah dari Jule, Inara dan Ridwan Kamil

6 Mins read
KULIAHALISLAM.COM- Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang menjadi cermin kekuatan peradaban. Dalam perspektif Islam, keluarga bukan sekadar lembaga sosial, melainkan amanah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
BeritaSUMU

SUMU Bogor Raya Perkuat Sinergi Pengusaha Muhammadiyah di 2026

Verified by MonsterInsights