Kuliahalislam.com.
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
Arab-Latin: Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Arab-Latin: Ar-raḥmānir-raḥīm. Artinya: Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Al-Fatihah adalah Ummul Kitab, tidak sah salat tanpanya. Manusia boleh saja tidak membaca ayat Alquran setiap rakaat, namun tidak boleh lupa membaca al-fatihah pada setiap rakaat, sesuai sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam :
مَنْ صَلَّى صَلَاةً، لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ، فَهِيَ خِدَاجٌ– ثَلاَثًا – غَيْرُ تَمَامٍ.
” Orang yang salat tidak membaca al-fatihah maka salatnya tidak sah”, (H.R Muslim). Ditambah lagi Hadis Qudsi,
,
قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي – فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل
Allah berfirman, “Saya membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua.Untuk hamba-Ku apa yang dia minta. Apabila hamba-Ku membaca, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”
Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.”Apabila hamba-Ku membaca, “Ar-rahmanir Rahiim.” Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku mengulangi pujian untuk-Ku.”Apabila hamba-Ku membaca, “Maaliki yaumid diin.” Apabila hamba-Ku membaca, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.”
Dalam riwayat lain, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.”Apabila hamba-Ku membaca, “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in.”
Allah Ta’ala berfirman, “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”Apabila hamba-Ku membaca, “Ihdinas-Shirathal mustaqiim….dst. sampai akhir surat.”
Allah Ta’ala berfirman, “Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta.”.(HR. Ahmad 7291, Muslim 395 dan yang lainnya)
Allah berkata, Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku dan bukan berkata Aku membagi ” Al Fatihah”, karena al-fatihah adalah dasar sah salat dan Ummul Kitab. Kalau kita perhatikan antara bismillah dan al-fatihah, maka ditemukan ada tiga nama Allah yang disebut berulang-ulang yaitu Allah, ar-Rahman dan ar-Rahim. Kita katakan : Sebenarnya tidak ada pengulangan dalam Alquran. Kalaupun ada, maka maknanya akan berbeda dengan kalimat yang sebelumnya karena pembicaranya adalah Allah yang meletakkan lafaz pada tempat yang benar dan makna yang sesuai.
Mari kita ikuti penjelasannya. Pertama, tentang lafaz Allah pada bismillah maknanya mohon bantuan dengan kekuatan Allah untuk mensukseskan suatu pekerjaan. Hal ini sangat berbeda dengan Alhamdulillah yang berisikan rasa terima kasih kepada Allah setelah kita bekerja. Manusia tidak dapat mengungkapkan rasa syukur kepada Allah kecuali kita menggunakan lafaz al-Jalalah (Allah). Karena lafaz Allah tersebut mencakup seluruh sifat-sifat Allah yang mulia, sehingga tak perlu diungkapkan dengan Al-Hamdu al-Qahhar, al-Hamdu li al-Wahhab atau yang lainnya, tapi cukup mengucapkan Alhamdulillah yang mencakup kesempurnaan sifat-sifat-Nya.
Perbedaan kedua antara bismillah yang bermakna meminta bantuan pada Allah atas sesuatu yang tidak mampu dilakukan, sedangkan lafaz Alhamdulillah sebagai pujian bagi Allah atas apa yang telah dilakukan-Nya. Selain perbedaan yang terdapat pada lafaz al-Jalalah (Allah) juga kita temui perbedaan yang signifikan pada ar-Rahman dan ar-Rahim pada al-Hamdu li Allah rabbi al-‘Alamin.
Pada bismillah kedua lafaz itu mengingatkan kita kepada rahmat Allah dan keampunan-Nya. Sehingga kita tidak malu dan gentar untuk minta bantuan dengan nama Allah. Sekalipun kita telah melakukan maksiat. Allah mengingatkan agar kita memohon pertolongan dengan nama-Nya dalam seluruh aktivitas. Misalnya, jika seseorang terlanjur melakukan maksiat dan berkata bagaimana mungkin saya minta bantuan dengan nama Allah, sedangkan saya telah berbuat maksiat? Jawabannya masuklah keharibaan Allah lewat pintu rahmat-Nya, tentu Ia mengampunimu.
Ketika kamu berbuat maksiat berlindunglah dengan rahmat Allah dari “Keadilan-Nya”. Karena bentuk dari keadilan Allah ialah ditegakkannya pembalasan terhadap perbuatan hamba-hambanya, baik Perbuatan yang kecil maupun yang besar,
وَوُضِعَ ٱلْكِتَٰبُ فَتَرَى ٱلْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَٰوَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلْكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحْصَىٰهَا ۚ وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
Arab-Latin: Wa wuḍi’al kitābu fa taral-mujrimīna musyfiqīna mimmā fīhi wa yaqụlụna yā wailatanā māli hāżal-kitābi lā yugādiru ṣagīrataw wa lā kabīratan illā aḥṣāhā, wa wajadụ mā ‘amilụ ḥāḍirā, wa lā yaẓlimu rabbuka aḥadā
Artinya: Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun”,(Q.S Al-Kahfi ayat 49).
Seandainya tidak ada rahmat Allah yang melebihi keadilan-Nya, tentu tidak akan tersisa satu nikmat pun bagi manusia dan tidak akan ada manusia yang hidup di muka bumi ini,
وَلَوْ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِظُلْمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Arab-Latin: Walau yu`ākhiżullāhun-nāsa biẓulmihim mā taraka ‘alaihā min dābbatiw wa lākiy yu`akhkhiruhum ilā ajalim musammā, fa iżā jā`a ajaluhum lā yasta`khirụna sā’ataw wa lā yastaqdimụn
Artinya: Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya, (Q.S an-Nahl ayat 61).
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda : “Seseorang tidak masuk surga hanya semata-mata amal ibadahnya, kecuali bila rahmat Allah dilimpahkan kepadanya. Sahabat berkata : “Termasuk engkau juga ya Rasulullah?”. Nabi menjawab : “Ya, saya juga”, (H.R Imam Ahmad dan Tirmidzi).
Manusia diciptakan dalam keadaan lemah dan berkeluh kesah, dosa manusia banyak dan beragam, misalnya jika dia menjadi hakim terkadang dia berlaku zalim. Manusia juga selalu berburuk sangka dan bila bercerita terkadang berdusta. Tentunya dosa itu berbeda tingkatan antara satu dengan yang lain. Tidak ada seorangpun yang dapat mengaku dirinya sempurna walau dia sangat taat sekalipun. Kesempurnaan itu hanya milik Allah sesuai sabda rasulullah shallallahu alaihi wasallam ” Setiap anak Adam pernah bersalah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang mau bertaubat”, (H.R Imam Ahmad dan Tirmidzi).
Dalam Surah Ibrahim ayat 34, Alquran menceritakan pada kita tentang karakter manusia. “Dan Dia telah memberikan kepadamu ( keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan Jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah, (Q.S Ibrahim ayat 34).
Allah mengajarkan kita agar jangan sampai maksiat yang pernah dilakukan itu menjadi penyebab utama untuk tidak melakukan pekerjaan dengan bismillah. Artinya, Ia mengajarkan kita mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim agar kita tahu bahwa pintu pertolongan masih terbuka karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah bersifat ar-rahman dan ar-rahim. Sedangkan kalimat ar-rahman dan Ar-rahim dalam al-fatihah didahului sebelumnya dengan ” alhamdulillahirobbilalamin”.
Kata رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ artinya Tuhan (Rabbun) sekalian alam dan Dialah Tuhan yang menciptakanmu dan memberikan nikmat tak terhitung. Engkau memuji-Nya atas nikmat-nikmat yang engkau dapati dari sifat rububiyah-Nya. Sifat itu tidak mengandung kekerasan tetapi berisikan Rahmat yang amat banyak.
Allah Rabbun bagi mukmin dan kafir, Dia menciptakan manusia dan memberi nikmat-nikmat-Nya kepada mereka. Matahari misalnya bersinar untuk mukmin dan kafir, cahayanya bukan untuk mukmin saja. Hujan turun kepada penyembah Allah dan juga kepada kaum kafir. Udara dapat dihirup oleh mukmin yang beriman dan orang musyrik.
Nikmat pemberian Allah pada sifat Rububiyah-Nya berlaku di dunia untuk semua makhluk. Allah Rabb ( Tuhan pendidik dan pemberi), bagi hamba yang taat dan maksiat. Lebih dari itu, sifat Allah yang mau menerima Taubat merupakan bentuk lain dari Rahmat-Nya. Jadi kesimpulannya, pada al-fatihah kalimat Ar Rahman Ar Rahim bermakna rahmat Allah yang dilimpahkan melalui sifat Rububiyah kepada seluruh makhluk-Nya. Sedangkan pada Bismillah, Dia menangguhkan hukuman bagi orang yang melakukan maksiat bahkan membuka pintu bagi mereka yang ingin bertaubat. Allah mendahulukan Rahmat daripada mur@ka-Nya. Ini juga Rahmat yang mesti disyukuri.
Begitu juga ar-rahman pada bismillah berbeda dengan arrahim pada Alhamdulillah (al-Fatihah). Perbedaan itu secara ringkas ialah ar-rahman pada Bismillah, bahwa sifat ar-rahman dan Ar Rahim membuka pintu Pertolongan Allah sedangkan Ar Rahman pada Alhamdulillah bermakna rahmat Allah yang dilimpahkan-Nya melalui sifat rububiyah kepada seluruh makhluk-Nya.
Setelah jelas perbedaan 3 nama Allah ( Allah, Ar Rahman dan Ar Rahim) pada bismillah dan Alhamdulillah, sekarang kita lanjutkan kajian firman Allah : alhamdulillahirobbilalamin, maksudnya adalah Allah terpuji bagi zat-Nya, sifat-Nya dan nikmat-Nya yang maha luas. Lebih dari itu Allah terpuji sebelum Ia menciptakan orang yang memuji-Nya.
Termasuk dalam kategori rahmat Allah bahwa Ia mengajarkan ungkapan syukur dalam dua kalimat saja yaitu Alhamdulillah. Sangat berbeda ketika kita mengungkapkan rasa terima kasih kepada manusia, mungkin memerlukan waktu yang lama untuk menyusun untaian kata-kata indah sebagai pujian dan terima kasih. Terkadang kata dibuang dan diganti dengan kalimat lain. Diungkapkan dalam bentuk puisi atau pidato.
Sebenarnya agama Islam melarang mengucapkan terima kasih secara berlebihan pada makhluk, karena dapat membuat orang yang dipuji merasa sombong dan hipokrit. Sebaiknya pujian bagi manusia diungkapkan dengan kalimat sederhana. Allah mengajarkan kalimat pujian untuk-Nya dengan ” Alhamdulillah”. Jika tidak diberitahukan tentu susah bagi manusia untuk memilih dan menyusun kalimat yang lain meskipun ia seorang ahli serta dan ortator.
Manusia tidak akan sanggup memilih kalimat pujian yang sesuai dengan keagungan-Nya. Bagaimana mungkin manusia dapat memuji Allah dengan sempurna sedangkan akal manusia amat sangat lemah untuk menghitung nikmat Allah? Oleh sebab itu Nabi Muhammad menggambarkan kepada kita, betapa lemahnya manusia memuji kesempurnaan Ilahi dengan sabdanya : ” Ya Allah tidak terhitung pujian kami pada-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri”.
Kalimat alhamdulillah mudah diucapkan oleh semua lapisan tingkat keilmuan manusia. Artinya, Allah memberikan kesempatan yang sama dalam memuji-Nya, baik kepada orang bodoh ataupun pintar. Seandainya tidak ada ungkapan Alhamdulillah, tentu berbeda tingkat pujian antara satu dengan yang lain sebagai efek perbedaan kemampuan bahasa dan ilmu. Misalnya, oleh yang buta huruf tidak akan dapat memilih kalimat yang tepat untuk pujian. Berbeda dengan ahli sastra, mereka dapat menyusun kalimat yang baik sehingga bisa memuji-Nya. Namun berkat ada ungkapan Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan yang sama baik bagi orang yang bodoh maupun pintar.
Allah mengajarkan kita cara memuji-Nya, supaya kita senantiasa memuji-Nya dan Dia tetap dipuji. Sebelum menciptakan kita, Allah terlebih dahulu menciptakan faktor-faktor yang menjadi alasan utama Kenapa kita harus memuji-Nya. Di antara faktor itu adalah faktor penciptaan, ASI, rezeki tanpa usaha, tanda-tanda kebesaran Allah, Manhaj-Nya, sifat pemberian-Nya, yang tak pernah meminta, keberadaan-Nya dan terakhir kehidupan kita ini bahkan cobaan pun merupakan satu indikasi yang menyebabkan mengapa kita harus bersyukur.
Kita mulai dari faktor pertama, Allah menciptakan langit, bumi, udara dan air, menyediakan makanan bagi penduduk bumi sampai hari kiamat. Ini semua adalah nikmat yang sudah ada sebelum penciptaan Nabi Adam. Ketika Nabi Adam tercipta, sudah tersedia kebutuhan sandang, pangan dan papan serta kebutuhan hidup lainnya. Itu karena kalau kebutuhan primer itu belum tersedia manusia akan binasa dan mati kelaparan serta kehausan.
Suatu hal yang menakjubkan, bahwa nikmat Allah sudah tersedia dalam rahim ibu ketika pembentukan janin. Takala tiba kelahiran, Allah menyediakan susu di payudara sang ibu yang terkenal dengan istilah ASI. ASI dapat dikonsumsi kapan saja dan otomatis terhenti ketika masa menyusui selesai. Kemudian ayah dan ibu memberi makan dan susu. Semua ini berlangsung sebelum anak pandai mengucapkan Alhamdulillah.
Lebih dari itu semua kita juga menemukan faktor lain yaitu Allah menyediakan nikmat-nikmat yang dapat digunakan manusia tanpa harus bekerja terlebih dahulu. Bahkan sebagian nikmat itu diperoleh di luar kemampuan makhluk. Cahaya matahari misalnya, kesuburan bumi, proses turunnya hujan dan perpindahan udara, semua ini diperoleh tanpa usaha makhluk sedikitpun.
Tanda-tanda kebesaran Allah itu membuktikan kepada kita betapa agungnya sang Pencipta. Alam Raya dengan matahari, bulan dan bintang, tata surya dan planet semua tercipta di luar kemampuan manusia. Tidak seorangpun berani mengaku dapat menciptakan matahari, langit, bumi dan atmosfer atau menciptakan dirinya sendiri.
Tanda-tanda kebesaran Allah itu senantiasa ada dan bergerak dari timur ke barat, dari siang hingga malam, musim hujan ataupun panas. Ringkasnya semua tanda-tanda kebesaran Allah itu bergerak dan berputar untuk tetap mengingatkan kita akan keagungan sang pencipta. Sehingga kita tetap ingat dengan nikmat Allah, lalu mensyukurinya. Suatu kesyukuran juga bahwa Ia telah memberikan keimanan yang bersifat Fitrah kemudian didukung oleh keimanan lewat tanda-tanda kebesaran Allah di alam ini.
Terkadang manusia terpanah pada makhluk dan lupa kepada khaliknya, misalnya ketika anda melihat bunga yang indah di taman lantas berkata : ” Alangkah indahnya bunga ini”. Sebenarnya, bunga yang dipuja itu tidak dapat memberikan sifat kecantikan pada dirinya, yang dapat memberikan keindahan pada bunga itu adalah Allah. Manusia dilarang untuk memuji makhluk karena pujian hanya kepada sang pencipta. Dia diperintahkan untuk mengucapkan Alhamdulillah atas keindahan yang terdapat pada makhluk-Nya.
Selain yang tidak kalah pentingnya untuk diungkapkan adalah, Allah menurunkan Manhaj-Nya untuk menunjukkan kepada kita jalan yang baik dan menjauhkan kita dari jalan yang sesat. Manhaj Allah memberikan jalan kepada kita agar hidup sesuai dengan syariat-Nya. Suatu hal yang mengagumkan adalah bahwa dalam syariat itu tidak kita temukan diskriminasi. Semua Manhaj dalam pandangan Allah adalah sama.
Manhaj Allah berisikan syariat yang benar, ketetapan yang benar dan keputusan yang benar karena semua itu bersumber dari Allah. Adapun syariat ciptaan manusia tidak akan lepas dari kepentingan pribadi, golongan atau nafsu. Maka kita temukan undang-undang dan peraturan buatan manusia sering membersihkan ketidakadilan dan terkadang tidak mendidik.
Misalnya, di negara komunis yang mendapatkan fasilitas dan kekayaan hanya segelintir elit partai sementara rakyat tetap miskin dan merana. Demikian juga halnya dengan Negara kapitalis mendapat keistimewaan fasilitas dalam mengembangkan ekonomi. Fasilitas ini dalam banyak hal sering menghisap darah rakyat. Oleh sebab itu kita temukan di negara-negara kapitalisme, para konglomerat yang berjumlah kecil itu hidup makmur namun rakyat yang berjumlah banyak tetapi hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan. Inilah model undang-undang yang dibuat oleh manusia. Semua itu terjadi karena adanya kepentingan pribadi dan campur tangan hawa nafsu.
Berbeda dengan Manhaj Allah, ia memberikan rasa keadilan bagi seluruh manusia agar dapat hidup dengan tenang dan istiqomah jauh dari hawa nafsu. Ringkasnya, ini merupakan satu faktor dari faktor-faktor Kenapa kita harus bersyukur kepada Allah. Faktor lain, Allah senantiasa memberi dan tidak pernah meminta sedangkan manusia dengan undang-undang ciptaannya berusaha mengeksploitasi yang bodoh dan lemah karena manusia sangat rakus terhadap harta, sementara Allah tidak butuh kepada manusia sebab kekayaan yang lagi ada di tangan-Nya. ” Dan tidak ada suatu pun melainkan pada sisik Kamilah khazanahnya dan kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu”, (Q.S al-Hijir ayat 21).
Allah menginginkan agar manusia berdoa dan meminta tolong kepada-Nya serta merendahkan diri di hadapan-Nya. Bila manusia ingin minta bantuan kepada seorang pejabat tentu harus melalui birokrasi, penentuan jam bertemu dengan lama pertemuan. Namun coba pikirkan, pintu Allah tetap terbuka untuk manusia selama-lamanya. Manusia bisa langsung menghadap Allah kapan saja dan di mana saja. Tepatnya ketika mengangkat tangan ke langit dan berdoa, Ia langsung kabulkan permohonan itu ” Dan Tuhanmu berfirman: berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”, (Q.S al-Baqarah ayagt 186).
Bahkan Allah mengetahui apa yang ada dalam jiwa dan Allah selalu memberi segala kebutuhan hidup kita tanpa harus dipinta terlebih dahulu. Dari Hadis Qudsi : “Orang yang sibuk mengingat atau berzikir hingga lupa meminta maka Kuberikan kepadanya hal yang lebih baik daripada permintaan orang yang berdoa”, (HR Bukhari dan Bazzar). Dari hadis ini Kita wajib bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya bahkan terkadang diberi tanpa harus diminta.
Faktor lain menyebabkan kenapa kita harus memuji Allah ialah kebaikan Allah yang wajib Al Wujud ( wajib ada). Kalau kalau Allah tidak ada, tentu manusia akan berbuat zalim dan seenaknya di muka bumi ini. Namun karena Allah ada, berikut dengan keadilan dan kekuatan-Nya, maka ini merupakan suatu nikmat. Karena Allah akan menghukum orang-orang yang zalim dan menjadikannya sebagai pelajaran bagi yang lain. Mungkin orang tersebut dapat lolos dari hukuman dunia namun Allah pasti akan menghukumnya di akhirat dengan azab neraka dan ia pun tidak bisa lolos. Hingga orang yang dizalimi tadi tahu dan puas bahwa yang menzalimi itu akan disiksa di dalam api neraka.
Jika kita mau jujur dalam hidup ini, maka sewajarnya seluruh gerak dan langkah harus diakhiri dengan rasa syukur. Misalnya, ketika kita tidur, Allah mengangkat nyawa dan Allah kembalikan di saat terjaga. Ini juga faktor Kenapa kita wajib bersyukur. “Allah memegang jiwa orang ketika mati dan memegang jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya, maka dia tahanlah jiwa orang yang telah ditetapkan kematiannya dan dilepas jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir”, (Q.S al-Zumar ayat 42).
Ketika terbangun dari tidur kita lalu pergi menuju tempat kerja dengan mengendarai mobil pribadi atau dengan transportasi lainnya. Bila kita berbincang dengan teman, Allah memberikan kekuatan lisan untuk berbicara. Bagaimana jadinya, jika Allah menciptakan kita dalam keadaan bisu. Allah juga memudahkan kita mencari rezeki yang halal, ini semua nikmat yang perlu disyukuri.
Dengan demikian manusia harus bersyukur selamanya bahkan di saat cobaan datang. Terkadang manusia memandang jelek cobaan itu tetapi hal itu baik menurut Allah, (Q.S An Nisa ayat 19). Engkau memuji Allah karena seluruh keputusan-Nya baik. Kita tidak banyak tahu sedangkan Allah Maha luas pengetahuan-Nya. Kita telah mengetahui banyak hal tentang fakta-fakta yang menyebabkan kita harus bersyukur.
Sekarang bagaimana perasaan hamba ketika mengucapkan kata syukur itu. Ketika manusia mengucapkan Alhamdulillah dalam dirinya timbul bermacam-macam perasaan yang kesemuanya mencakup penghambaan, kecintaan, pujian, syukur dan penghormatan kepada Allah. Pesan tersebut datang dari dalam jiwa dan bersemayam di dalam hati kemudian terekspresi lewat panca indra dalam kehidupan sehari-hari. Kesimpulannya, Alhamdulillah bukan hanya sekedar lafaz yang diulang-ulang oleh lisan akan tetapi mesti dipikirkan terlebih dahulu makna nikmat kemudian masuk ke dalam hati dan terekspresi kepada anggota tubuh.
Kita pernah menemukan bagaimana salat yang khusyuk dapat menggetarkan jasad manusia dan mencucurkan air mata. Lebih dari itu getaran jiwa dapat pula dirasakan oleh orang yang di sekelilingnya. Satu hal yang menarik bahwa ungkapan syukur akan menambah nikmat Allah pada manusia sesuai dengan firman Allah ” Dan ( Ingatlah juga), tak kala Tuhanmu memaklumkan : ” Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih”, (Q.S Ibrahim ayat 7).
Jika kita bersyukur atas nikmat yang banyak maka Allah pun akan menambahnya lagi. Setiap kali manusia bersyukur, maka nikmat Allah pun akan terus bertambah. Demikianlah kajian tentang faktor-faktor mengapa kita harus bersyukur. Sebenarnya amat banyak faktor tersebut dan tidak dapat dituliskan satu persatu dalam kitab ini.
Kita ketahui bersama bahwa Alfatihah dimulai dengan Alhamdulillah namun Kenapa harus dilanjutkan dengan kata Rabbal belum ‘alamin? jawabannya kalimat Alhamdulillah bermakna pujian kepada Allah yang bersifat uluhiyah. Kalimat Allah dimaksud sebagai zat yang disembah. Penyembahan adalah taklif ( beban). Taklif itu dari Allah untuk hamba-hamba-Nya. Maka pujian pujian itu pertama kali hanya pantas diungkapkan untuk Allah yang bersifat uluhiyah, berikutnya pujian tersebut juga pantas diungkapkan untuk Allah yang bersifat rububiyah.
Taklif itu susah dilaksanakan oleh sebagian orang, seandainya dia tahu nilai taklif dalam kehidupan, niscaya mereka akan memuji Allah. Karena taklif tersebut tidak bertentangan dengan esensi kehidupan bahkan dapat menopang dan menyerasikan kehidupan di dunia. Ringkasnya Alhamdu (pujian) pertama untuk Allah yang disembah yang menyampaikan tata cara menyembah-Nya dan pujian yang kedua untuk Tuhan sekalian alam.
Kita memuji Allah atas pemberian uluhiyah dan rububiyah-Nya karena Allah menciptakan alam ini tidak lepas dari aturan-Nya, sehingga manusia akan merasa tenang. Begitu juga bintang dan tata surya tidak sanggup untuk berbenturan satu dengan lainnya. Bumi pun tidak akan mampu menghambat perkembangan tumbuhan begitu juga atmosfer yang tidak mampu menjauh dari bumi yang dapat menghancurkan manusia.
Di sini Allah memberikan ketenangan pada hamba-Nya, bahwa Allah penguasa alam ini. Tidak ada kekuatan yang dapat menandingi-Nya. Perlu kita syukuri bahwa Allah menjadikan kita khalifah di alam ini. Mukmin tidak khawatir dan takut menghadapi masa depan. Bila tidak ada makanan dia yakin Allah akan memberikan rezeki karena dia tahu Allah adalah Rabb al ‘alamin. Bila ia mendapat musibah hatinya pun tenang karena dia tahu bahwa Allah akan menghilangkan musibah itu karena Allah adalah Rabb al ‘alamin. Bila Dia mendapat nikmat maka ia tetap ingat Allah karena Allah adalah Rabb al ‘alamin.
Adapun uluhiyah diterima di akhirat karena dunia adalah tempat cobaan bagi orang yang beriman. Sedangkan akhirat adalah tempat balasan yang diterima dari ujian yang dilaksanakan. Jadi, orang yang tidak beriman kepada Allah masih tetap mendapatkan pemberian rububiyah bersama-sama dengan Mukmin di dunia. Sedangkan di akhirat pemberian uluhiyah hanya diberikan bagi Mukmin saja karena nikmat Allah diperuntukkan khusus bagi penduduk surga, sesuai Q.S al-A’raf ayat 32.
Pujian bagi Allah bukan di dunia saja tetapi di akhirat juga. Pujian di dunia atas pemberian rububiyah-Nya kepada semua makhluk dan di akhirat atas pemberian uluhiyah-Nya yang dikhususkan bagi Mukmin. “Mereka berkata : ‘ segala puji bagi Allah yang menepati janji-Nya yang mewariskan bumi kepada kita, berkeliling di surga ke mana saja kita mau, maka itu sebaik-baiknya pahala bagi orang yang beramal”, (Q.S al-Zumar ayat 74 dan Q.S Yunus ayat 10).
Bila kita tafsirkan kalimat Ar Rahman dan Ar Rahim, diantara faktor kesyukuran kita adalah karena Allah bersifat ar-rahman dan Ar Rahim. Allah memberikan nikmat-Nya di dunia bagi setiap hamba-Nya dengan pemberian rububiyah bagi yang kafir maupun yang Mukmin. Nikmat manusia akan terputus tak kala dia mati. Allah tidak menghitung nikmat bagi seluruh hamba di dunia. Nikmat Allah tidak terhitung dan tidak terkira meskipun dengan peralatan canggih.
Tidak pernah kita mendengar seseorang mengaku dapat menghitung nikmat Allah. Selama itu di luar kemampuannya tentu manusia tidak sanggup untuk melakukannya. Mari kita analisa tentang alam ini yang merasa risih pada manusia yang berbuat maksiat. Alam ini diciptakan untuk tunduk dan membantu manusia karena alam ini istiqomah dengan aturan Allah. Karena Allah ia manusia yang dibantunya telah melakukan maksiat dia pun merasa risih.
Ali bin Abu Thalib berkata : “Bila seseorang Mukmin wafat, menangislah dua tempat, satu tempat di bumi dan satu tempat di langit. Dia itu tempat salat dan sujudnya di mana Bumi merasa bahagia bila Mukmin tersebut telah salat di atasnya. Dan satu tempat lagi di langit yaitu jalur tempat naik amal Saleh”.

