Sebelum kita berdebat panjang lebar mengenai gaji para pejabat, mari sejenak kita fokuskan perhatian pada nasib guru honorer. Belakangan ini, muncul sebuah ungkapan di masyarakat yang menusuk lebih dalam daripada sembilu. Ungkapan tersebut terdengar seolah-olah logis, namun sejatinya menyimpan kedalaman kebencian yang tersembunyi. Simak penjelasannya sembari menikmati secangkir kopi di tengah cuaca hujan ini.
Logika Sesat: “Mengapa Tidak Keluar Saja?”
Dari pelosok desa hingga kota besar, ungkapan itu terus bergema: “Jika merasa menjadi guru honorer dengan gaji kecil, mengapa tidak keluar saja!”
Kalimat itu terucap seolah-olah keluar dari pekerjaan adalah pilihan termudah. Seolah-olah kehidupan guru hanya berputar di sekitar angka pada slip gaji. Mereka yang berkata demikian melupakan bahwa para guru ini memiliki cerita mendalam di balik setiap keputusan untuk tetap berdiri tegak di depan kelas.
Ungkapan itu terlontar begitu saja, seperti ludah yang dilemparkan tanpa arah. Sering kali kalimat ini diucapkan oleh orang yang tidak pernah merasakan beratnya tanggung jawab mengajar puluhan anak. Mungkin mereka tidak pernah merasakan gaji yang hanya cukup untuk makan tiga kali sehari, namun tidak cukup untuk biaya pendidikan anak sendiri. Atau, bisa jadi diucapkan oleh orang yang menganggap profesi guru hanya sebatas berbicara dan mencoret-coret buku tulis.
Victim Blaming dalam Dunia Pendidikan
Tidak hanya itu, ungkapan tersebut kerap menyusul narasi lain yang lebih menyakitkan: “Makanya jangan jadi guru.”
Seolah-olah profesi yang menjadi sandaran masa depan bangsa ini adalah pilihan terakhir bagi orang yang “kepepet” atau tidak memiliki jalan lain. Seolah menjadi guru adalah tanda kegagalan, bukan sebuah panggilan hati.
Logika semacam ini bukan hanya salah arah, melainkan masuk dalam kategori victim blaming (menyalahkan korban). Ketika sistem yang sudah lama rusak memaksa guru bekerja dengan upah tidak layak, justru mereka yang memilih bertahanlah yang disalahkan. Seolah-olah guru sendirilah yang membuat sistem menjadi buruk, bukan sistem yang menjebak mereka.
Masalah struktural yang kompleks—mulai dari kebijakan negara yang tidak jelas, status honorer tanpa jaminan masa depan, hingga alokasi anggaran pendidikan yang selalu kurang—mendadak direduksi menjadi satu cemoohan sepele: “Itu kan pilihanmu.”
Ini adalah bentuk penyederhanaan masalah (oversimplification) yang ekstrem. Masalah yang sudah menahun dipaksa selesai dengan solusi tunggal: keluar atau diam. Seolah tidak ada jalan tengah, tidak ada upaya memperbaiki sistem, dan tidak ada cara untuk membuat profesi guru menjadi layak serta dihargai.
Dilema Antara Panggilan Hati dan Realitas
Seolah-olah kehidupan hanya memiliki dua pilihan: hitam atau putih. Padahal bagi sebagian besar guru honorer, kehidupan adalah warna abu-abu yang melelahkan. Warna yang mengaburkan batas antara kesabaran dan keputusasaan, antara cinta pada profesi dan kebutuhan akan penghidupan layak.
Mereka tetap tersenyum di depan murid, meski isi kepala penuh kecemasan dan masa depan terasa buram. Di sanalah letak keberanian sejati seorang guru: mendidik harapan orang lain, saat dirinya sendiri sedang berhemat harapan.
Tidak semua orang yang bertahan adalah tanda kelemahan. Banyak guru tetap tinggal karena mereka sadar, jika mereka keluar, mungkin tidak ada orang lain yang mau datang ke sekolah terpencil itu. Tidak ada orang lain yang mau bersabar mengajar anak-anak yang belum lancar membaca pada usia yang seharusnya sudah bisa.
Sebaliknya, tidak semua guru yang keluar adalah salah. Ada yang terpaksa mencari pekerjaan lain demi biaya pengobatan orang tua, biaya kuliah anak, atau karena gaji guru tak lagi cukup sekadar untuk sahur dan berbuka. Keluar bukan tanda menyerah, melainkan ikhtiar bertahan hidup.
Sistem yang Memperlakukan Manusia Seperti Barang
Masalah utamanya bukanlah manusia yang menjadi guru, melainkan sistem yang memperlakukan mereka seperti barang habis pakai. Sistem yang mengharapkan dedikasi selangit tanpa imbalan layak. Sistem yang menuntut kualitas pendidikan tinggi, namun enggan menyediakan fasilitas dan upah yang memadai.
Empati tidak dimulai dari sok bijak memberikan nasihat menyakitkan. Empati dimulai dari kesediaan mendengar. Mendengar bagaimana mereka bangun pagi buta untuk menempuh perjalanan jauh ke sekolah, bagaimana mereka menyisihkan uang pribadi untuk membeli alat tulis muridnya, serta dilema memilih antara membeli obat atau buku pelajaran baru.
Sebelum kita beri semangat, seorang guru harus merasa dihargai terlebih dahulu. Mereka harus dianggap sebagai insan penting pembangun peradaban, bukan pekerja kasar yang bisa diganti kapan saja. Mereka adalah manusia dengan kebutuhan dan impian, bukan mesin yang bekerja demi angka statistik semata.
Nilai yang Tak Terbeli dengan Uang
Ada panggilan profesi yang tak terukur materi. Ada kepuasan batin saat melihat anak didik yang dulunya tidak bisa menghitung akhirnya mendapat nilai baik, atau saat murid pemalu berani berbicara lantang di depan kelas. Binarnya mata murid saat memahami pelajaran adalah “bayaran” yang tak ternilai.
Namun, ada juga keterbatasan lapangan kerja yang membuat mereka tak bisa sembarangan keluar. Banyak guru honorer yang usianya tak lagi muda, dengan ijazah pendidikan yang spesifik. Memulai karier baru dari nol bukanlah opsi yang mudah.
Mereka bertahan karena ada nilai yang ingin dijaga: bahwa pendidikan adalah kunci mengubah nasib, dan setiap anak berhak mendapatkannya. Terutama, ada generasi bangsa yang perlu dibina. Guru honorer mungkin miskin harta, namun mereka kaya hati dan cinta tulus pada anak-anak bangsa.
Pertanyaan untuk Kita Bersama
Guru honorer adalah orang-orang yang selama ini direndahkan karena gajinya kecil, padahal merekalah yang mencetak calon dokter, insinyur, pengusaha, hingga pemimpin masa depan.
Oleh karena itu, hentikan pertanyaan: “Mengapa Anda tidak keluar dari menjadi guru honorer?” Pertanyaan itu memosisikan mereka seolah bodoh dan salah langkah.
Pertanyaan yang seharusnya kita teriakkan bersama adalah: “Sistem macam apa yang membuat orang baik—yang mencintai pendidikan—harus hidup dalam kondisi tidak adil seperti ini?”
Mengapa negara mampu membiayai hal-hal yang kurang mendesak, namun gagap mengalokasikan anggaran untuk guru? Mengapa kebijakan guru selalu rumit? Mengapa masyarakat memaklumi gaji kecil guru, namun marah besar saat kualitas pendidikan menurun?
Ini bukan masalah guru yang enggan keluar, ini masalah sistem yang enggan berubah. Sistem yang gemar mencari kambing hitam ketimbang berbenah diri.
Hingga detik ini, sinisme itu masih terdengar. Mari berhenti menyakiti hati mereka dengan lisan kita. Sudah saatnya kita bergerak menuntut perubahan nyata bagi pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya ini.

