KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Jika Ulama Memberikan Ilmu Hanya Karena Allah SWT

3 Mins read

Jika Imam Abul Hasan Al-Asy’ari—panutan teologi kaum Sunni—dianggap sebagai sumber kemunduran sains di dunia Islam karena ajarannya yang menentang teori kausalitas (nadzariyyah al-illiyyah) atau hukum sebab-akibat, maka Al-Ghazali kerap dianggap sebagai penyebab kematian filsafat di dunia Islam. Ya, penganggit kitab Ihya’ Ulumuddin ini sering dituduh sebagai biang keladi matinya nalar filosofis.

​Sudah lama terdengar narasi dari sebagian pengamat bahwa Al-Ghazali adalah sumber kemunduran dunia Islam, dari dulu hingga sekarang. Melalui Ihya’ Ulumuddin, ia dianggap menanamkan mentalitas pasrah dan mengajak umat menyingkir dari dunia (uzlah yang ekstrem). Inilah, kata mereka, yang menyebabkan peradaban Islam terpuruk.

​Orang yang berpendapat demikian mungkin karena pengetahuannya belum sebanding dengan sang Hujjatul Islam, atau barangkali mereka belum membaca karya-karyanya secara menyeluruh (parsial). Selain itu, sangat mungkin ada motif ingin menaikkan status sosial di hadapan masyarakat kala itu dengan cara mengkritik tokoh besar. Padahal, kita sepakat bahwa Al-Ghazali adalah seorang ahli matematika yang sangat bijak.

​Ia dikenal sebagai fakih, filsuf, sufi, sekaligus reformator keagamaan dan sosial yang sangat berpengaruh dalam sejarah Islam. Saking alimnya Imam Al-Ghazali, gurunya sendiri, Imam Al-Juwaini, menyifatkannya sebagai “lautan dalam yang tak bertepi”.

​Maka, tidak mengherankan jika ada yang mencecar dan menghina Al-Ghazali, bahkan memframingnya sebagai tokoh yang tidak pantas dihormati. Padahal, andaikan para pengkritik itu menanamkan dan menyebarkan ilmu karena Allah SWT, mustahil terjadi hasad-menghasad (saling dengki).

​Tentu ada kritik yang membangun, seperti yang dilakukan Ibnu Rusyd. Namun, banyak pengkritik lain yang lebih didasari rasa hasad ketimbang kritik objektif. Poin inilah yang menjadi hasil ngaji Ihya semalam dan menjadi topik tulisan kali ini. Apa pendapat Anda?

Baca...  Hakikat Ujian dan Cobaan Bagi Orang beriman

​Faktanya, jika seseorang menyebarkan ilmu semata-mata karena Allah, rasa hasad tidak akan pernah muncul. Oleh karena itu, jika ada ulama yang hasad karena urusan keilmuan, itu pasti karena alasan lain (duniawi), bukan karena Allah SWT.

​Menurut Gus Ulil, ilmu itu berbeda dengan kekayaan materi. Jika seseorang memiliki harta dalam jumlah tertentu, orang lain secara otomatis “tersingkir” karena tidak memiliki hak atas harta tersebut. Sifat harta yang eksklusif inilah yang memicu munculnya kelas sosial dan menyebabkan hasad antara si kaya dan si miskin.

​Sebaliknya, ilmu yang dimiliki seseorang tidaklah eksklusif. Orang lain bisa memiliki atau mengakses ilmu yang sama. Mengapa demikian? Karena ilmu dapat dipelajari, dikuasai, lalu diajarkan kepada orang lain. Hebatnya, ilmu yang diajarkan tidak akan berkurang dari pemilik pertamanya. Inilah perbedaan mendasar antara harta dan ilmu.

​Menurut Gus Ulil, jika hati seseorang sudah terpikat (fanatik) pada satu sosok alim, biasanya ia berhenti memuliakan orang lain dan menjadi “fans berat”. Akibatnya, jika seseorang menjadi pengikut Kiai A dan tidak memuliakan Kiai B, maka Kiai B berpotensi merasa hasad atau iri kepada Kiai A yang mendapatkan kehormatan di hati masyarakat.

​Inilah salah satu pemicu munculnya hasad: adanya persaingan ingin menjadi tokoh yang dikenal publik. Sebaliknya, jika hati seorang alim gembira hanya karena Allah SWT (mencari makrifat-Nya), hasad tidak akan muncul.

​Yang jelas, harta tidak dapat dimiliki bersama; selama masih di tangan A, ia tidak bisa di tangan B. Berbeda dengan ilmu yang dapat dimiliki secara permanen di hati seseorang, lalu diajarkan kepada orang lain tanpa sedikit pun hilang atau berkurang dari hati sang pengajar.

Baca...  Menolak Radikalisme dan Materialisme dengan Tasawuf Al-Ghazali

​Harta benda memiliki batas. Sementara ilmu tidak bertepi; selalu ada bagian—bahkan kewajiban—bagi orang lain untuk menguasainya. Jika satu orang menguasainya, tidak menutup peluang bagi orang lain untuk menguasainya juga. Lebih dari itu, orang yang berilmu akan menjadi ahli pikir yang senantiasa merenungkan nikmat Allah SWT di bumi dan langit.

​Dengan cara ini, ilmu Allah SWT terasa sangat luas. Nikmat berpikir adalah nikmat terbesar. Ketika seseorang menyadari betapa besarnya Allah, mereka tidak akan merasa terdesak atau tersaingi oleh orang lain. Keagungan-Nya dapat diakses oleh semua hamba, jadi tidak ada alasan untuk merasa tersinggung atau hampa.

​Selain itu, tidak akan ada hasad dalam hati orang yang mengakui kebesaran Allah SWT. Sebab, jika seseorang telah memiliki makrifat, makrifat itu tidak akan berkurang meski dibagi.

​Mereka lebih suka bersahabat dengan makrifatnya daripada takut kehilangannya. Ini berarti, nikmat yang diberikan kepada orang-orang yang memahami keagungan Allah SWT dan terus mempelajari keajaiban-Nya, jauh lebih besar daripada sekadar membayangkan kenikmatan fisik seperti pohon-pohon di surga kelak.

​Salah satu sifat orang arif adalah ketenangan dan kebahagiaan batin. Orang yang bijak akan mudah mendapatkan manfaat dari pengetahuan mereka. Selama mata lahir seorang arif terpejam, ruhnya (mata batin) akan selalu senang melihat kebenaran dan menikmati pengetahuan.

​Ini menunjukkan bahwa sesama orang alim tidak akan saling hasad jika mereka benar-benar memahami makrifat. Begitulah keadaan para arifun, baik di dunia maupun di akhirat. Sikap inilah yang harus dicontoh oleh generasi muda saat nilai keagamaan mulai bergeser. Sebagaimana pesan Gus Dur, nilai kemanusiaan—yang kini mulai kehilangan taringnya—sangat penting untuk diteladankan kembali di era kontemporer ini. Wallahu a’lam bis-shawab.

191 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
KeislamanOpini

Trilogi Pendidikan Spiritual yang Tak Sekadar Kalender

3 Mins read
Hari ini, mari kita bahas tentang Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. Ini bukan sekadar tentang pergantian tanggal atau kewajiban puasa semata, melainkan sebuah…
Keislaman

Kisah Ujian Terbesar Nabi Setelah Isra Mi'raj yang Mengguncang Masyarakat Mekkah

6 Mins read
Kamu pasti sudah dengar tentang Isra Mi’raj, kan? Tapi tahukah kamu, setelah perjalanan ajaib itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi…
Keislaman

Mengenal Tarekat Rifaiah

3 Mins read
Kuliahalislam.Tarekat Rifaiah adalah nama sebuah tarekat yang didirikan di Irak pada abad ke-6 H. Pendirinya adalah Ahmad bin Ali Abul Abbas ar-Rifa’i…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Berita

Helmy Yahya: Gen Z Motor Utama Kedermawanan Indonesia

Verified by MonsterInsights