Keislaman

Kisah Ujian Terbesar Nabi Setelah Isra Mi’raj yang Mengguncang Masyarakat Mekkah

6 Mins read

Kamu pasti sudah dengar tentang Isra Mi’raj, kan? Tapi tahukah kamu, setelah perjalanan ajaib itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi ujian yang jauh lebih berat dari segala cobaan sebelumnya. Dunia keyakinan masyarakat pada saat itu terguncang parah. Simak ceritanya sambil seruput kopi dan ngemil pisang goreng yang masih hangat, woi!

​Isra Mi’raj memang selalu kita dengar sebagai perjalanan ajaib menuju alam langit, bertemu dengan para nabi terdahulu, dan menerima perintah untuk melaksanakan salat. Tapi tahun itu di Mekkah, cerita mengenai perjalanan tersebut berubah menjadi sumber perdebatan dan kecurigaan yang mendalam. Pagi hari yang biasanya penuh dengan suara tawaf dan bisikan doa di sekitar Ka’bah, berubah menjadi tempat di mana berbagai bentuk ejekan dan pertentangan berkembang dengan cepat. Semua dimulai dari sebuah kabar yang menyebar dengan kecepatan seperti kobaran api di padang pasir yang kering.

​”Muhammad menyatakan bahwa dirinya telah pergi ke Palestina dan kembali hanya dalam sekejap malam!” Begitulah informasi yang menyebar dari satu mulut ke mulut lainnya.

​Bagi masyarakat Mekkah pada masa itu, jarak antara kota mereka dengan Palestina membutuhkan waktu hingga satu bulan jika ditempuh dengan menggunakan unta sebagai alat transportasi. Mengatakan bahwa perjalanan tersebut dapat diselesaikan hanya dalam satu malam, bagi sebagian besar orang pada saat itu bukanlah mukjizat, melainkan pernyataan yang dianggap merendahkan akal sehat manusia.

​Kabar tersebut segera menyebar ke seluruh pelosok permukiman di Mekkah. Mulai dari pasar yang biasanya ramai dengan aktivitas perdagangan hingga rumah-rumah para bangsawan suku Quraisy. Orang-orang berhenti sementara waktu dari kegiatan dagangnya, serta berhenti membicarakan hal-hal sehari-hari seperti cuaca dan hasil panen. Semua perhatian masyarakat terfokus pada satu nama: Muhammad. Ada sebagian yang berpikir bahwa beliau mungkin telah salah menyampaikan informasi, namun ada juga yang langsung menyatakan bahwa beliau telah kehilangan akal sehat.

​Abu Jahal, salah satu tokoh yang secara konsisten berusaha menghalangi dan merusak penyebaran ajaran Islam, langsung menunjukkan ekspresi senyum puas. Bagi dirinya, ini adalah kesempatan emas untuk menghancurkan pengaruh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah masyarakat. Ia berkeliaran dari satu tempat ke tempat lain, menyebarkan kabar tersebut dengan nada yang penuh sindiran.

​”Muhammad telah habis! Kali ini tidak akan ada orang yang mau memercayainya lagi!” ucapnya sambil menepuk tangan dengan senyum yang tidak menyenangkan.

​Bukan hanya kalangan musyrikin yang terkejut dan heboh dengan kabar tersebut. Para pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merasa terkejut secara mendalam. Beberapa di antara mereka yang baru saja memeluk agama Islam—dengan iman yang masih seperti pohon muda yang belum memiliki akar kuat—mulai merasakan keraguan dalam hati. Mereka menjadi sasaran ejekan dari tetangga maupun teman-teman lama mereka.

Baca...  Sejarah Perang Khandaq Di Masa Nabi

​”Anda sekalian dikenal sebagai orang yang cerdas, mengapa masih memercayai pernyataan yang tidak masuk akal semacam ini?” Begitulah kata-kata yang terus menghantui mereka.

​Pagi itu benar-benar jadi hari yang kelam bagi umat Islam. Fenomena murtad atau riddah terjadi secara masif. Banyak orang yang baru saja mengucapkan kalimat syahadat memilih untuk kembali pada keyakinan kekafiran mereka. Hal ini tidak terjadi karena mereka tidak percaya pada keberadaan Tuhan, melainkan karena mereka tidak mampu menahan tekanan sosial serta pertentangan antara apa yang mereka dengar dengan akal sehat yang mereka miliki.

​Mereka menyatakan, “Jika beliau dapat menyampaikan hal yang tidak masuk akal seperti itu, maka mungkin saja seluruh ajaran yang beliau sampaikan juga tidak benar.”

​Mereka takut untuk terus menjadi sasaran ejekan dan takut dianggap sebagai orang yang bodoh serta mudah diperdaya. Barisan umat yang sebelumnya terus bertambah banyak, perlahan namun pasti mulai menyusut. Seolah ada kekuatan yang sedang menyaring mana di antara mereka yang benar-benar memiliki keimanan yang kuat dan mana yang hanya ikut-ikutan.

​Namun, ujian yang harus dihadapi tidak berhenti sampai di situ. Kalangan musyrikin mengetahui bahwa untuk menghancurkan agama Islam secara total, mereka perlu menghancurkan orang yang paling dipercaya dan memiliki kecerdasan tinggi di antara para pengikut Nabi. Orang tersebut adalah Abu Bakar. Mereka menyadari bahwa jika Abu Bakar dapat dibuat ragu, maka agama Islam akan benar-benar runtuh.

​Mereka datang secara bersama-sama ke rumah Abu Bakar. Rumah yang biasanya ramai dengan pembicaraan mengenai aktivitas perdagangan dan ajaran Islam, kini dipenuhi dengan wajah-wajah yang membawa niat untuk menyebarkan hasutan. Mereka berdiri di depan Abu Bakar dengan tatapan yang berusaha membuatnya merasa ragu.

​”Hai Abu Bakar, temanmu menyatakan bahwa dirinya telah terbang ke Palestina dalam semalam. Apakah Anda masih mau memercayainya?”

​Abu Bakar yang saat itu sedang merapikan barang dagangannya, berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah mereka dengan wajah yang tetap tenang, tanpa sedikit pun rasa takut atau keraguan di dalam hatinya. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan mengenai jarak dan waktu yang mereka ajukan. Sebaliknya, ia mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana namun menyentuh inti dari masalah yang terjadi.

​”Apakah benar Muhammad yang mengatakan itu?”

​”Ya, betul sekali beliau yang menyatakannya!” jawab mereka dengan suara yang penuh keyakinan, berpikir bahwa Abu Bakar akan segera berbalik arah setelah mendengar jawaban tersebut.

​Namun, mereka sangat keliru dalam pertimbangannya. Abu Bakar menghela napas dengan perlahan, kemudian mengangkat kepalanya dengan mata yang penuh keyakinan. “Jika beliau yang menyatakannya, maka hal tersebut pasti benar!” ucapnya dengan suara yang mantap dan jelas.

​Ia melanjutkan, “Sungguh, aku telah memercayainya pada hal yang jauh lebih mustahil daripada itu. Yakni berita dari alam langit yang datang kepadanya setiap saat, wahyu yang membuat hati menjadi tenang dan pikiran menjadi jernih.”

Baca...  Etika Ekologi Islam: Konservasi Alam dalam Tafsir Maqasidi Ibn ‘Asyur

​Bagi Abu Bakar, keyakinannya pada Nabi tidak hanya berdasarkan mukjizat Isra Mi’raj, melainkan karena ia telah menyaksikan betapa benar setiap kata yang keluar dari mulut Nabi selama ini.

​Abu Bakar mengajarkan cara berpikir yang lebih tinggi pada saat itu. Ia menyatakan, “Jika kita dapat memercayai bahwa Allah Ta’ala mampu menurunkan wahyu dari alam langit ke bumi dalam sekejap mata, mengapa kita harus meragukan bahwa Allah Ta’ala juga mampu membawa hamba-Nya melakukan perjalanan jauh dalam waktu yang sangat singkat?” Logika tersebut sederhana namun sangat mendalam, seperti aliran air yang mampu menghancurkan batu jika terus mengalir dengan konsisten.

​Sikap tegas Abu Bakar menjadi seperti jangkar yang kuat di tengah lautan yang dilanda badai besar. Para sahabat lainnya yang mulai merasa goyah dalam keyakinannya, setelah melihat keteguhan yang dimiliki Abu Bakar, perlahan mulai kembali merasa tenang. Rasa keraguan yang awalnya menguasai hati mereka mulai hilang satu per satu. Mereka kembali mengingat betapa baiknya sosok Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta betapa benar setiap ajaran yang beliau sampaikan.

​Barisan umat yang sebelumnya menyusut mulai kembali berkumpul dengan rapat. Orang-orang yang semula merasa ragu kini berdiri tegak bersama Abu Bakar dan para sahabat yang setia. Mereka tidak lagi memedulikan ejekan dan celaan yang datang dari sekitar. Yang ada di dalam hati mereka hanya satu keyakinan: bahwa segala sesuatu yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kebenaran yang tidak dapat disangkal.

​Atas dasar keyakinan yang total tersebut, Nabi kemudian memberikan gelar abadi kepada Abu Bakar: As-Siddiq, yang berarti orang yang selalu membenarkan kebenaran. Gelar tersebut tidak didapat karena ia sering melakukan salat yang panjang atau menjalankan puasa yang lama. Namun karena ia adalah orang pertama yang berdiri tegak dan memercayai Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat semua orang lain mengingkari serta meragukan pernyataan beliau.

​Namun, cerita mengenai peristiwa ini belum selesai sampai di situ. Tak lama kemudian, bukti nyata datang secara tak terduga. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai menggambarkan dengan sangat rinci mengenai pintu dan tiang Masjidil Aqsa yang berada di Palestina. Beliau dapat menjelaskan bentuknya, ukurannya, bahkan dekorasi yang ada di dalamnya dengan presisi yang luar biasa, seolah-olah beliau benar-benar melihatnya secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.

​Tak hanya itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mampu memprediksi kedatangan sebuah kafilah dagang yang sedang dalam perjalanan menuju Mekkah. Beliau menjelaskan dengan tepat kapan mereka akan tiba, bagaimana kondisi mereka selama perjalanan, bahkan jenis hewan yang mereka gunakan untuk mengangkut barang dagangan. Semua prediksi tersebut kemudian terbukti benar ketika kafilah tersebut tiba sesuai dengan apa yang telah beliau katakan.

Baca...  Sejarah Lengkap Nabi Khidhir Riwayat Ibnu Katsir

​Para penentang yang sebelumnya senang menyebarkan kabar bohong dan ejekan kini terdiam sepenuhnya. Logika yang selama ini mereka banggakan runtuh seperti benteng yang dihantam oleh badai besar. Mereka tidak memiliki kata-kata lagi untuk membantah kebenaran yang telah terbukti. Abu Bakar hanya tersenyum dengan perlahan, karena ia tahu bahwa pada akhirnya, kebenaran akan selalu menang atas kebohongan.

​Abu Jahal yang sebelumnya penuh dengan kepercayaan diri kini hanya dapat berdiri diam dan menyaksikan kejadian tersebut dengan wajah yang penuh dengan keterkejutan serta rasa frustrasi. Semua rencananya untuk menghancurkan agama Islam hancur berkeping-keping. Ia tidak dapat lagi menemukan alasan untuk meragukan atau menyalahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta ajaran yang beliau bawa.

​Kisah ini kemudian menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi seluruh umat Islam. Isra Mi’raj bukan hanya sekadar perjalanan fisik menuju alam langit, melainkan juga merupakan perjalanan rohani yang menguji seberapa kuat keyakinan yang kita miliki. Akal manusia memang memiliki batasan, namun iman dapat membawa kita untuk melampaui batasan tersebut dengan mudah.

​Kita sering larut dalam cerita Isra Mi’raj sebagai peristiwa langit. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik, langit terbelah, Sidratul Muntaha disentuh, lalu selesai. Merinding, takjub, lalu pulang. Padahal, yang paling berat justru bukan perjalanan ke atas, melainkan perjalanan turun. Setelah Isra Mi’raj, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke bumi, ke pasar, ke rumah, ke konflik manusia. Di situlah ujian sebenarnya dimulai.

​Ini bukan sekadar cerita mengenai peristiwa masa lalu yang hanya tinggal menjadi sejarah. Ini merupakan cermin bagi kita pada masa kini. Ketika dunia penuh dengan keraguan dan kebohongan, kita harus menjadi seperti Abu Bakar. Berdiri tegak dengan kuat, memercayai kebenaran, dan menjadi orang yang pertama kali membela apa yang kita yakini sebagai kebenaran.

​Hari ini, kita butuh semangat pasca-Isra Mi’raj lebih dari sekadar peringatan. Kita butuh salat yang mencegah, bukan sekadar menggugurkan. Kita butuh iman yang membumi, bukan melayang-layang tanpa arah. Kalau Isra Mi’raj hanya membuat kita kagum, tapi tidak berubah, maka kita gagal membaca pesannya. Karena mukjizat terbesar bukan perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke langit, tapi kemampuannya membawa langit masuk ke dalam kehidupan sehari-hari.

​Akhirnya, pasca-Isra Mi’raj selalu menanyakan satu hal sederhana namun menohok: setelah sujud, kita jadi siapa? Jika jawabannya masih sama, mungkin kita perlu mengulang perjalanan itu. Bukan dengan Buraq, tapi dengan kesadaran. Pelan-pelan. Dari sajadah. Dari hati.

10 posts

About author
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
Articles
Related posts
Keislaman

Mengenal Tarekat Rifaiah

3 Mins read
Kuliahalislam.Tarekat Rifaiah adalah nama sebuah tarekat yang didirikan di Irak pada abad ke-6 H. Pendirinya adalah Ahmad bin Ali Abul Abbas ar-Rifa’i…
Keislaman

Tuhan sebagai Sumber Pengetahuan Terpercaya: Perspektif Epistemologi Islam

4 Mins read
Sebagai makhluk theomorfis, manusia memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya, yaitu akal, kehendak bebas (free will), dan kemampuan berbicara. Akal membawa…
Keislaman

Di Balik Mukjizat Isra Mi'raj: Pesan Penghiburan Bagi Hati yang Luka

4 Mins read
Mari kita selami kisah agung Isra Mi’raj. Bukan sekadar perjalanan kilat, melainkan sebuah oase di tengah gurun kesedihan, sebuah pelukan Ilahi yang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights