Timor-Leste kini dikenal dunia sebagai negara merdeka yang berdaulat. Namun, di balik kemerdekaan tersebut, tersimpan sejarah Timor-Leste yang panjang, penuh penderitaan, dan perjuangan berdarah. Salah satu babak paling kelam adalah masa penjajahan Portugis yang berlangsung selama hampir 400 tahun, mulai dari abad ke-16 hingga tahun 1975.
Dalam periode yang sangat panjang ini, masyarakat mengalami penindasan, kekerasan, dan ketidakadilan yang merasuk ke hampir setiap sendi kehidupan. Kolonialisme ini tidak hanya merampas kekayaan alam, tetapi juga mengekang kemajuan fundamental di bidang pendidikan, ekonomi, infrastruktur, hingga hukum dan budaya.
Krisis Pendidikan dan Pembodohan Sistematis
Dampak paling destruktif dari penjajahan Portugis adalah tertutupnya akses pendidikan bagi warga pribumi. Selama empat abad, pendidikan formal seolah menjadi hak eksklusif segelintir orang, terutama keturunan bangsawan atau kaum berada.
Mayoritas rakyat tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Bahkan, bagi mereka yang beruntung bisa bersekolah, kurikulum yang diajarkan sangat terbatas dan hanya berfokus pada keterampilan dasar bertahan hidup.
Pemerintah kolonial menerapkan kebijakan yang sengaja menghambat perkembangan intelektual rakyat. Mereka khawatir, jika masyarakat menjadi cerdas, hal itu akan menjadi ancaman bagi kekuasaan kolonial. Akibatnya, rakyat dibiarkan hidup dalam ketidaktahuan demi melanggengkan kekuasaan penjajah.
Eksploitasi Ekonomi dan Kemiskinan Terstruktur
Perekonomian selama masa penjajahan sepenuhnya dikendalikan oleh kepentingan asing. Portugis menguras kekayaan alam demi keuntungan sepihak, sementara penduduk lokal terjerat dalam kemiskinan. Sistem ini menciptakan ketergantungan akut pada kekuasaan luar dan mematikan potensi ekonomi lokal.
Banyak warga dipaksa menjadi buruh kasar tanpa kendali atas tanah air mereka sendiri. Mereka bekerja di sektor pertanian dan perkebunan tanpa imbalan yang layak. Rakyat Timor-Leste, pada dasarnya, diposisikan sebagai “budak ekonomi” yang dieksploitasi tanpa memahami kekuatan ekonomi global yang sedang mempermainkan nasib mereka.
Infrastruktur yang Terabaikan
Pembangunan fisik selama era Portugis sangatlah minim. Pemerintah kolonial tidak memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang dapat menunjang kesejahteraan rakyat. Fasilitas vital seperti jembatan, jalan raya, sekolah, dan layanan umum lainnya sangat langka.
Kondisi ini menghambat mobilitas dan melumpuhkan perkembangan sosial-ekonomi. Banyak wilayah pedalaman terisolasi dan sulit dijangkau, membuat masyarakat semakin terpuruk dalam keterbelakangan yang berkepanjangan.
Dualisme Hukum dan Dominasi Kepentingan Kolonial
Sistem hukum di masa penjajahan Portugis sangat terbatas dan bias. Masyarakat pribumi dibiarkan buta terhadap hukum modern dan hanya bergantung pada hukum adat yang sederhana. Hukum tertulis yang berlaku saat itu dirancang bukan untuk melindungi hak rakyat, melainkan untuk mengamankan kepentingan penjajah.
Warisan ini masih terasa hingga kini. Meskipun telah merdeka, sistem hukum nasional Timor-Leste masih banyak mengadopsi peninggalan kolonial, termasuk penggunaan bahasa Portugis sebagai bahasa hukum utama. Hal ini kerap menyulitkan masyarakat awam yang lebih familiar dengan bahasa lokal atau hukum adat dalam mencari keadilan.
Hegemoni Gereja dan Tergerusnya Budaya Lokal
Selain aspek fisik, penjajahan juga mengubah lanskap budaya secara drastis. Salah satu warisan terbesar Portugis adalah dominasi Gereja Katolik. Agama ini diperkenalkan sebagai instrumen untuk menguasai dan mengubah struktur sosial masyarakat.
Hingga saat ini, sekitar 98% penduduk Timor-Leste beragama Katolik—sebuah bukti tak terbantahkan dari pengaruh kolonial. Namun, dominasi ini menyebabkan budaya lokal dan kepercayaan nenek moyang sering kali terpinggirkan karena dianggap tidak sejalan dengan ajaran gereja. Akibatnya, sebagian masyarakat kehilangan koneksi dengan akar budaya asli mereka.
Refleksi: Sejarah Tidak Selalu Hitam dan Putih
Meski Timor-Leste telah merdeka, masih banyak kepingan sejarah yang belum mendapatkan perhatian layak, terutama bagi Generasi Z. Salah satunya adalah tragedi tahun 1958 di Bebui Uatolari, serta nasib para pejuang yang terlupakan selama masa Portugis.
Generasi muda perlu memahami bahwa sejarah tidak selalu hitam dan putih. Misalnya, menilik peristiwa tahun 1999 saat Timor-Leste masih di bawah pengaruh Indonesia. Meskipun terjadi kekerasan militer, fakta sejarah mencatat bahwa ada pihak-pihak yang tulus membantu rakyat Timor-Leste.
Beberapa tokoh yang kala itu dicap sebagai “musuh”, nyatanya memiliki peran heroik dalam menyelamatkan banyak nyawa, termasuk para pejabat tinggi Timor-Leste saat ini.
Memahami sejarah Timor-Leste secara utuh—baik masa Portugis maupun Indonesia—adalah kunci untuk membangun masa depan yang lebih bijaksana, tanpa melupakan jasa mereka yang telah berkorban.

