KeislamanTafsir

Analisis Makna Ketauhidan dalam QS. Al-Baqarah 163: Perspektif Tafsir Al-Mīzān dan Para Ulama

2 Mins read

Makna ketauhidan dalam QS Al-Baqarah 163 merupakan salah satu fondasi paling fundamental dalam membangun konsep akidah Islam. Ayat ini menegaskan bahwa satu-satunya Tuhan yang layak disembah hanyalah Allah, Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Meskipun ayat ini sering dikutip, kita memerlukan pemahaman mendalam untuk memperkokoh akidah. Pemahaman yang benar akan menghadirkan kekuatan spiritual serta membentuk sudut pandang keberagamaan yang sehat.

Kandungan Ayat dan Terjemahannya

Ayat 163 dari Surat Al-Baqarah berbunyi:

 “Wa ilāhukum ilāhun wāḥid, lā ilāha illā Huwa ar-Raḥmān ar-Raḥīm.”

Artinya: “Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Dalam satu kalimat singkat, Al-Qur’an menggabungkan afirmasi keesaan Tuhan dengan sifat kasih sayang-Nya. Hal ini menghadirkan konsep tauhid yang tidak hanya tegas, tetapi juga penuh kehangatan.

Perspektif Tafsir Al-Mizan: Pendekatan Al-Qur’an dan Filsafat

Muhammad Husain al-Tabataba’i dalam Tafsīr al-Mīzān mengupas makna ketauhidan dalam QS Al-Baqarah 163 menggunakan metode tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an. Metode ini menjelaskan satu ayat dengan bantuan ayat lainnya. Cara klasik ini memperkuat konsistensi makna dan memastikan penafsir tidak keluar dari kerangka pesan wahyu itu sendiri. Secara ilmiah, pendekatan ini memberi legitimasi kuat karena menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber utama pemaknaan, bukan sekadar tafsiran subjektif.

Selain metode tafsir murni, al-Tabataba’i juga membawa perspektif filsafat Islam, khususnya Hikmah Muta’āliyyah. Ia memadukan aspek teks, konteks, rasionalitas, dan spiritualitas. Menurutnya, keesaan Allah bukan sekadar “angka satu”, melainkan keesaan hakiki yang tidak dapat disamai makhluk.

Allah tidak terdiri dari bagian-bagian, tidak terpecah, dan tidak bergantung pada apa pun. Sifat-sifat Allah—seperti ilmu, kekuasaan, dan hidup—bukanlah bagian terpisah, melainkan menyatu sempurna dalam Dzat-Nya. Meskipun pendekatan filosofis ini memperkaya pemahaman, sebagian ulama menilai metodenya terlalu metafisik sehingga berpotensi menjauh dari makna literal ayat.

Baca...  Style Busana Mahasiswi UIN, Background Islam Namun di Luar Kampus Terlihat Sama Saja

Komparasi Pandangan Ulama Lain

Untuk memperkaya wawasan mengenai makna ketauhidan dalam QS Al-Baqarah 163, berikut adalah pandangan dari mufassir lainnya:

1. Tafsir Ibnu Katsir: Penegasan Tauhid Uluhiyyah

Ibnu Katsir memberikan penekanan kuat pada aspek tauhid uluhiyyah, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Beliau menolak tegas semua bentuk syirik. Menurutnya, ayat ini membatalkan keyakinan kaum musyrik yang mempersekutukan Tuhan dalam penciptaan maupun pengaturan alam. Pandangannya sangat lugas dan didasarkan pada hadis serta riwayat para sahabat.

2. Tafsir Al-Mishbah: Pendekatan Kontekstual

Quraish Shihab menawarkan pendekatan yang lebih reflektif. Menurutnya, ayat ini mengajak manusia menggunakan akal melalui bukti-bukti ciptaan-Nya. Tauhid tidak cukup hanya diyakini dalam hati, namun harus dipahami melalui tanda-tanda alam. Dengan pendekatan bahasa, psikologi, dan sosial, Quraish Shihab menjadikan ayat ini terasa lebih dekat dengan pembaca modern.

3. Tafsir Al-Azhar: Nuansa Moral dan Praktis

Buya Hamka membawakan nuansa moralitas dan pengalaman hidup. Ia menekankan bahwa Allah adalah satu-satunya Pemberi kehidupan. Bagi Hamka, ayat ini mengajarkan manusia untuk mengesakan Allah dalam ibadah dan perilaku sehari-hari. Contohnya terlihat dalam kejujuran, keteguhan hati, dan keberanian menghadapi cobaan. Penafsirannya bersifat sangat praktis dan memotivasi.

Kesimpulan: Tauhid sebagai Fondasi Kehidupan

Seluruh pandangan di atas bertemu dalam satu titik: tauhid adalah inti ajaran Islam. Keesaan Allah bukan sekadar konsep teologis, melainkan fondasi moral, spiritual, dan sosial.

Dengan memahami makna ketauhidan dalam QS Al-Baqarah 163, manusia diarahkan untuk tidak bergantung pada selain-Nya. Kita diajarkan untuk tidak takut kepada sesama makhluk dan tidak terjebak oleh ilusi “tuhan-tuhan kecil” seperti harta, kekuasaan, atau ego.

Selain itu, penempatan sifat Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm pada akhir ayat menunjukkan bahwa keesaan Allah tidak terpisah dari kasih sayang-Nya. Tauhid adalah ajaran yang memerdekakan manusia dari ketakutan. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Esa, dekat, dan sangat menyayangi hamba-Nya.

Baca...  Talaq dan Iddah dalam Alquran
2 posts

About author
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya.
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Menata Logika dari Masjid ke Angka: Integrasi Manajemen Pendidikan Islam dan Matematika Awal di Raudhatul Athfal

4 Mins read
​1. Tata Kelola RA yang Berorientasi pada Kognisi Anak ​Tata kelola Raudhatul Athfal (RA) sering dipahami sebatas urusan administratif: perizinan, pengelolaan yayasan,…
EsaiKeislaman

Panduan Lengkap Waktu Sholat 5 Waktu: Cara Penentuan, Perbedaan Tiap Kota, dan Tips Menjaganya di Tengah Kesibukan

5 Mins read
Sholat lima waktu adalah tiang agama dan ibadah yang menjadi penanda ritme harian seorang Muslim. Di tengah jadwal kerja, sekolah, kuliah, dan…
Keislaman

Apakah Sunnah Nabi Merupakan Wahyu dari Allah ?

2 Mins read
​Al-Qur’an al-Karim merupakan kalam Allah yang “lafaz” dan “makna”-nya berasal dari Allah. Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad tidak memiliki peran dalam penyusunannya,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

Kemaksuman Ahlul Bait dalam Tafsir Majma‘ Al-Bayān: Analisis Isi dan Validitas Metodologis