Oleh:
Muhammad Askar Ghozaly (07020320057)
Muhammad Kholilur Rohman (07010324087)
Muhammad Muamar Khadafi (07010324088)
Abstract
This study analyzes the character and method of interpretation in Anwār al‑Tanzīl wa Asrār al‑Ta’wīl by al‑Baidhāwī with a focus on the short biography of the mufassir, the method, the style of interpretation (lughawī, fiqhī, and ʿilmī), as well as the strengths and limitations of the work. Based on a literature review of the primary text and secondary literature, it is found that al‑Baidhāwī adopted the manhaj tahlīlī which combines bi‑al‑maʾṡūr and bi‑al‑raʾy sources, emphasizing the analysis of nahwu‑balāghah, qirāʾāt, and the interpretation of kauniyah verses with rational references. The strength of his interpretation lies in his concise yet dense style and mastery of linguistic discipline; its main weaknesses include reliance on previous interpretations without detailed attribution and a tendency to include narrations without consistent assessment of the sanad. This abstract prepares the groundwork for case studies of interpretation of selected verses in further research.
Keywords: Tafsir Anwār Al-Tanzīl Wa Asrār al-Ta’wīl
Abstrak
Kajian ini menganalisis karakter dan metode penafsiran dalam Anwār al‑Tanzīl wa Asrār al‑Ta’wīl karya Al‑Baidhāwī dengan fokus pada biografi singkat mufasir, metode, corak penafsiran (lughawī, fiqhī, dan ʿilmī), serta kelebihan dan keterbatasan karya tersebut. Berdasarkan telaah pustaka terhadap teks utama dan literatur sekunder, ditemukan bahwa Al‑Baidhāwī mengadopsi manhaj tahlīlī yang menggabungkan sumber bi‑al‑maʾṡūr dan bi‑al‑raʾy, menonjolkan analisis nahwu‑balagah, qirāʾāt, serta penafsiran ayat‑ayat kauniyah dengan rujukan rasional. Kekuatan tafsirnya terletak pada gaya bahasa yang ringkas namun padat dan penguasaan disiplin kebahasaan; kelemahan utamanya meliputi ketergantungan pada tafsir sebelumnya tanpa atribusi rinci dan kecenderungan memasukkan riwayat tanpa penilaian sanad yang konsisten. Abstrak ini menyiapkan landasan untuk studi kasus penafsiran ayat terpilih dalam penelitian lanjutan.
Kata Kunci: Tafsir Anwār Al-Tanzīl Wa Asrār al-Ta’wīl
Pendahuluan
Al‑Qur’an sebagai teks religius berbahasa Arab menuntut pembacaan yang peka terhadap aspek kebahasaan, hukum, dan rasionalitas. Sejak periode klasik, berkembang berbagai manhaj tafsir; di antaranya pendekatan lughawī yang menempatkan analisis bahasa sebagai kunci pemaknaan. Al‑Baidhāwī menulis Anwār al‑Tanzīl wa Asrār al‑Ta’wīl dalam konteks tradisi tafsir klasik yang intens memadukan riwayat dan rasionalitas. Karya ini tetap menjadi rujukan karena penyajiannya yang ringkas dan luasnya jangkauan disiplin ilmu yang disentuh.
Laporan singkat ini bertujuan:
(a) memperkenalkan latar belakang kehidupan Al‑Baidhāwī yang relevan dengan orientasi tafsirnya;
(b) merumuskan corak dan metode utama dalam Anwār al‑Tanzīl;
(c) mengidentifikasi karakteristik utama yang menjadikan tafsir ini berpengaruh sekaligus problematis; dan
(d) menyiapkan dasar bagi analisis contoh‑contoh penafsiran terpilih dalam langkah riset lanjutan.
Ruang lingkup meliputi: biografi ringkas Al‑Baidhāwī, uraian metode (tahlīlī, bi‑al‑maʾthūr dan bi‑al‑raʾy), corak (lughawī, fiqhī, ʿilmī), serta kelebihan dan keterbatasan tafsir. Pendekatan yang dipakai adalah kajian pustaka (library research) terhadap teks Anwār al‑Tanzīl wa Asrār al‑Ta’wīl dan literatur analitik terkait, dengan tujuan menyediakan abstraksi tematik yang siap dipakai untuk memilih potongan teks (case study) pada tahap berikutnya.
Signifikansi penelitian singkat ini adalah untuk memetakan karakter metodologis dan corak tafsir Al‑Baidhāwī yang penting guna:
(a) memahami bagaimana mufasir klasik merespons tantangan lintas ilmiah;
(b) menilai kelayakan penggunaan tafsir ringkas dalam konteks pengajaran; dan
(c) menyiapkan kriteria kritis untuk analisis contoh penafsiran teks Al‑Qur’an yang akan dilakukan dalam laporan riset lanjutan.
Biografi
Nama lengkap Al-Baidhāwī adalah Nashiruddin Abu al-Khair ‘Abdullah bin ‘Umar bin Muhammad bin ‘Ali al-Baidhāwī al-Syafi’i. Beliau dilahirkan di Baidha’ sekitar awal abad ke-7 H, sebuah daerah yang berdekatan dengan kota Syiraz di Iran Selatan. Di kota inilah Al-Baidhāwī tumbuh dan berkembang, menimba ilmu di tempat tersebut dan di Baghdad hingga kemudian menjadi hakim agung di Syiraz mengikuti jejak ayahandanya. Bagi Al-Baidhāwī, Baghdad merupakan tempat memperkaya ilmu dan Syiraz menjadi tempat untuk mengaktualisasikannya dengan menjadi hakim agung. Hanya saja, akhirnya Al-Baidhāwī mundur dari jabatan tersebut untuk menekuni keilmuan di Tibriz.
Pendidikan Al-Baidhāwī dimulai saat ia masih kecil. Beliau banyak berguru kepada ayahnya, Imam Abu al-Qasim ‘Umar bin Muhammad bin ‘Ali, seorang hakim agung di Farsi di bawah Atabeg (gelar pejabat militer Bani Saljuk) Abu Bakr bin Sa’d (613–658 H/1226–1260 M). Dalam masalah pendidikan, sesungguhnya Al-Baidhāwī merupakan seorang penuntut ilmu yang giat dan pelajar yang alim. Berbagai cabang ilmu keislaman dipelajarinya secara mendalam, mulai dari ilmu fikih dan usul, mantik, filsafat, kalam, adab, ilmu-ilmu bahasa Arab dan sastra, serta ilmu-ilmu syarak dan hukum. Tak heran jika Al-Baidhāwī memiliki banyak predikat, tidak hanya sebagai seorang fakih, muhadis, ataupun mufasir, tetapi beliau juga merupakan seorang teolog dan ahli usul yang mahir di bidang debat dan etika berdiskusi.
Saat menjadi hakim di Syiraz, Al-Baidhāwī menghadapi kondisi politik yang kacau. Sultan Abu Bakr yang berkuasa saat itu lemah dan tidak mampu membangun tatanan masyarakat yang adil. Para elit hidup boros, sementara penguasa sering ikut campur dalam urusan hukum, bahkan berpotensi memaksa fukaha mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan syariat. Karena situasi ini, serta nasihat dari sahabatnya Syaikh Muhammad al-Kahtai, ia memilih mundur dari jabatan hakim. Setelah itu, ia pindah ke Tibriz dan fokus pada dunia keilmuan. Di kota inilah ia memperdalam usul fikih dan tafsir, hingga melahirkan karya agungnya Anwār al-Tanzīl wa Asrār al-Ta’wīl. Al-Baidhāwī menghabiskan sisa hidupnya di Tibriz hingga wafat pada tahun 685–691 H (1286–1292 M).
Corak Penafsiran
Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, Al-Baidhāwī sebenarnya tidak memiliki kecenderungan khusus menggunakan satu corak yang spesifik secara mutlak, misalnya bercorak fikih saja, bercorak lughawi, adabi wa ijtimai, atau filosofis saja. Secara garis besar tafsir ini cenderung mengandung tiga corak: corak fikih, ilmiah (‘ilmi), dan lughawi.
a. Corak Fikih
Tafsir Al-Baidhāwī memiliki corak fikih karena dalam penafsirannya ia banyak menyoroti ayat-ayat hukum (ayat al-ahkām). Pendekatan ini menunjukkan kecenderungan Al-Baidhāwī dalam memahami teks Al-Qur’an melalui kerangka fikih, yakni dengan mempertimbangkan kaidah-kaidah hukum Islam yang relevan. Dengan demikian, tafsirnya tidak hanya bersifat tekstual, tetapi juga aplikatif dalam konteks penerapan hukum syariat.
b. Corak Ilmiah (‘Ilmi)
Selain corak fikih, tafsir Al-Baidhāwī juga mengandung corak ‘ilmi (ilmiah). Hal ini tampak dari perhatiannya terhadap ayat-ayat kauniyah, yakni ayat-ayat yang membahas fenomena alam. Al-Baidhāwī berusaha mengaitkan kandungan ayat tersebut dengan pengetahuan ilmiah yang berkembang pada masanya. Sebagai contoh, ketika menafsirkan istilah syihāb (bola api), beliau menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan uap yang naik ke udara dan kemudian menyala, sebuah penafsiran yang memperlihatkan usaha integrasi antara teks wahyu dan pengetahuan rasional.
c. Corak Lughawi
Corak kebahasaan (lughawi) juga menjadi salah satu ciri menonjol dalam tafsir Al-Baidhāwī. Ia menekankan analisis linguistik dengan menjelaskan makna kata, hubungan antarfrasa, serta struktur kalimat untuk memperjelas maksud ayat. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa Al-Baidhāwī memahami pentingnya aspek bahasa Arab sebagai kunci dalam mengungkap makna terdalam Al-Qur’an. Misalnya, dalam penafsiran Surah As-Saffāt ayat 10, ia melakukan analisis gramatikal guna menunjukkan hubungan makna antarunsur bahasa dalam ayat tersebut.
Karya-karya
Produktivitas Al-Baidhāwī dalam menghasilkan karya tulis mencakup hampir semua bidang ilmu yang beragam: Mantik, Kalam, Fikih, Usul Fikih, Bahasa, Tasawuf, Sejarah, dan Tafsir. Di antara karya-karya Imam Al-Baidhāwī adalah sebagai berikut:
- Minhajul Wushul Ila ‘Ilmil Ushul: Buku ini merupakan salah satu buku rujukan utama dalam Usul Fikih.
- Al-Ghayat al-Quswa fi Dirayat al-Fatwa: Karya Al-Baidhāwī di bidang Fikih Syafi’i. Ringkasan kitab Al-Wasi’ yang ditulis oleh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali.
- Tawali’ al-Anwar fi Ushul al-Din: Karya Al-Baidhāwī dalam ilmu kalam.
- Al-Tahdhib fi al-Akhlaq: Sebuah kitab dalam ilmu tasawuf.
- Lub al-Albab fi ‘Ilm al-I’rab: Sebuah buku ringkasan dari buku Al-Kafiah fi al-Nahw yang ditulis oleh Ibn al-Hajib.
- Nizam al-Tawarikh: Sebuah buku sejarah dalam bahasa Persia.
- Syarah Matali’ al-Anwar fi al-Mantiq wa al-Hikmah: Matan adalah objek syarah yang ditulis oleh Taj al-Din al-Armawi.
- Tuhfat al-Abrar: Buku ini merupakan syarah atas buku Masabih al-Sunnah, karya Imam Al-Baghawi.
- Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil: Karya yang terakhir disebutkan ini terkenal dengan nama Al-Baidhāwī sendiri, yang dikenal dengan nama Tafsir Al-Baidhāwī.
Metode Tafsir Al-Baidhāwī
Tafsir Anwār al-Tanzīl Wa Asrār al-Ta’wīl, yang dikenal sebagai Tafsir Al-Baidhāwī, adalah karya Al-Baidhāwī yang ditulis dengan bahasa yang ringkas namun mendalam dan indah, sehingga mendapat banyak komentar dari para ulama. Kitab ini terdiri dari empat juz dalam dua jilid yang diterbitkan di Beirut pada tahun 2003; jilid satu memuat surat Al-Fatihah sampai Al-An’am, sementara jilid dua berisi surat Al-A’raf sampai An-Nās. Kitab ini menarik perhatian para cendekiawan yang membuat catatan pinggir (hāsyiyah) terhadapnya.
Metode yang digunakan Al-Baidhāwī dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah metode tahlili (analisis), yaitu menafsirkan ayat dari berbagai segi secara berurutan sesuai dengan mushaf Utsmani, mulai dari surat Al-Fatihah hingga surat An-Nās. Dari segi sumber, kitab ini menggabungkan pendekatan tafsir bi al-ma’tsūr (berdasarkan ayat Al-Qur’an, hadis Nabi, pendapat sahabat dan tabi’in) dan bi al-ra’yi (berdasarkan akal dan ijtihad pribadi). Terkadang, Al-Baidhāwī juga menafsirkan Al-Qur’an hanya dengan bersandar pada akal pikirannya sendiri dan langsung memasukkan pemikirannya tersebut ke dalam tafsirnya.
Dari paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam Tafsir Anwār al-Tanzīl Wa Asrār al-Ta’wīl, Al-Baidhāwī menggunakan metode utama tahlili, yakni membedah ayat Al-Qur’an secara mendalam dari berbagai aspek seperti makna kosakata, makna kalimat, maksud setiap ungkapan, dan kaitan antarbagian ayat (munasabah), dengan urutan mengikuti mushaf Utsmani. Namun, Al-Baidhāwī juga memakai metode muqaran (perbandingan) dengan membandingkan pendapat berbagai kelompok Islam seperti Muktazilah, Khawarij, dan Ahlus Sunnah dalam menafsirkan ayat tertentu, meski akhirnya beliau lebih condong (mentarjih) pada pandangan Ahlus Sunnah.
Contohnya adalah tafsir beliau terhadap surat Al-Baqarah ayat 2–3:
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
Dalam tafsirnya, Al-Baidhāwī menjelaskan makna kata “iman” dan “munafik” berdasarkan pandangan Ahlus Sunnah, Muktazilah, dan Khawarij, namun akhirnya beliau mentarjih pandangan Ahlus Sunnah. Dari sisi pendekatan, Al-Baidhāwī menggunakan kombinasi pendekatan tafsir bi al-ma’tsūr dan tafsir bi al-ra’yi. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan ayat Al-Qur’an, hadis, pendapat sahabat, dan qaul tabi’in dalam penafsirannya. Selain itu, Al-Baidhāwī juga mengandalkan ra’yu (pandangan akal) dan ijtihadnya tanpa selalu bersandar pada dalil naqli, seperti terlihat pada tafsir surat An-Naml ayat 22:
فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيْدٍ فَقَالَ اَحَطْتُّ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَاٍ ۢ بِنَبَاٍ يَّقِيْنٍ
“Maka tidak lama kemudian (datanglah burung Hud-hud), lalu ia berkata: ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.’”
Al-Baidhāwī menyampaikan kisah Isrāiliyyāt tentang Nabi Sulaiman a.s. yang menyelesaikan bangunan Baitulmaqdis dan bersiap menunaikan ibadah haji, lalu mengembara dari Makkah ke Sana’a. Namun, beliau tidak menyebutkan kualitas riwayat tersebut dan sekaligus menafikannya, dengan mengatakan bahwa mungkin ada keajaiban kekuasaan Allah yang lebih besar.
Karakteristik
Karakteristik tafsir Anwār at-Tanzīl Wa Asrār al-Ta’wīl memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:
Kelebihan:
- Merupakan ringkasan dari kitab tafsir Al-Kasysyaf karya Al-Zamakhsyari, sehingga dengan keringkasannya memudahkan pembaca dalam memahami isi tafsir.
- Tafsir ini dibuat sebagai buku pedoman untuk pengajaran di sekolah tinggi atau masjid, sehingga isinya ringkas, padat, dan memuat penjelasan yang terbaik dan paling masuk akal dibandingkan kitab tafsir sebelumnya.
- Imam Al-Baidhāwī menulis tafsirnya secara sistematis dengan menyebutkan keseluruhan ayat, surah demi surah, dan dalam bentuk penggalan ayat demi ayat atau kalimat demi kalimat sesuai urutan mushaf Utsmani, dimulai dari surah Al-Fatihah hingga surah An-Nas.
- Sebelum menafsirkan ayat dalam suatu surah, beliau menyampaikan latar belakang kronologis turunnya surah tersebut, apakah Makkiyah atau Madaniyah, disertai penjelasan jumlah ayat.
- Selain merujuk pada Al-Kasysyaf, tafsir ini juga mengambil referensi dari kitab Mafātih al-Ghaib karya Fakhruddin al-Rāzī dan karya Al-Rāghib al-Aṣfahānī, dengan pembahasan yang mencakup aspek bahasa, filsafat, teologi, serta kebahasaan.
- Dalam aspek akidah, Al-Baidhāwī menyesuaikan penafsirannya dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah, tidak secara penuh mengikuti pandangan Muktazilah dari Al-Kasysyaf.
- Bahasa tafsir ini singkat, padat, dan ringkas sehingga memuat banyak ilmu dalam ruang yang tidak terlalu besar, cocok sebagai bahan ajar.
Kekurangan:
- Terdapat kisah-kisah Isrāiliyyāt dalam tafsir ini, yaitu cerita atau riwayat dari tradisi Yahudi dan Nasrani yang kadang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Meski demikian, Al-Baidhāwī biasanya hanya memasukkan riwayat Isrāiliyyāt yang diterima dan yang sahih, sementara riwayat yang ditolak juga ada sebagai pembanding.
- Pencantuman hadis dalam tafsir ini tidak selalu disertai dengan penelitian kualitas hadis dan sering kali tidak disebutkan sumber atau sanad hadis tersebut, sehingga kualitas riwayat menjadi kurang jelas.
- Ketergantungan yang cukup besar pada kitab tafsir sebelumnya seperti Al-Kasysyaf dan kitab-kitab ulama lain, tanpa selalu mencantumkan referensi sumber dengan lengkap.
- Penyajian ayat-ayat yang ditafsirkan tidak diberi nomor ayat secara jelas, sehingga agak sulit bagi pembaca untuk mencari dan merujuk pada ayat tertentu secara cepat.
Pandangan Ulama Terhadap Al-Baidhāwī
Al-Baidhāwī dikenal sebagai seorang ulama yang sangat produktif dan dihormati, yang memiliki banyak karya dan pengaruh besar dalam ilmu Islam. Ia dianggap sebagai seorang ahli fikih, hadis, tafsir, usul fikih, dan juga seorang qadhi (hakim).
Beberapa ulama menyebutkan bahwa:
- Qadhi Syuhbah menyatakan bahwa Al-Baidhāwī adalah seorang yang memiliki banyak karya dan seorang ulama besar di Azerbaijan serta menjadi qadhi di Syiraz.
- Imam Al-Subki menyebutkan bahwa Al-Baidhāwī adalah seorang imam yang cerdas, ahli debat, saleh, dan rajin beribadah.
- Ibnu Habib memuji bahwa karya-karyanya mudah dipahami, ringkas tapi mendetail, serta selalu mendapatkan pujian karena kejelasan dan metode yang efektif.
- Maulana Al-Musyi menyebutkan bahwa Al-Baidhāwī memiliki keahlian dalam berbicara dan menguasai berbagai ilmu, menunjukkan keindahan dalam studi ilmiah dan keilmuan.
- Prof. Dr. Mani’ ‘Abd Halim menilai bahwa Al-Baidhāwī adalah seorang yang sangat saleh dan zuhud terhadap kehidupan dunia.
Contoh Penafsiran
Contoh penafsiran Al-Baidhāwī dalam Anwār al-Tanzīl wa Asrār al-Ta’wīl dapat dilihat pada berbagai ayat Al-Qur’an, di mana ia menerapkan pendekatan tahlili dengan sumber bi al-ma’tsūr dan bi al-ra’yi.
1. Penafsiran QS. Al-Fatihah
Al-Baidhāwī memulai tafsirnya dengan surah Al-Fatihah yang ia anggap sebagai ringkasan seluruh Al-Qur’an (umm al-kitab). Dalam penafsirannya, ia menjelaskan ayat-ayat secara tahlili dengan corak lughawi yang kuat. Ia menggabungkan bi al-ma’tsūr dengan kutipan dari sahabat seperti Ibnu Abbas dan bi al-ra’yi dengan penjelasan gramatikal.
2. Penafsiran QS. Al-Baqarah: 2–3
Al-Baidhāwī menjelaskan makna “iman kepada yang gaib” dengan membandingkan pandangan teologi: Muktazilah, Khawarij, dan Ahlus Sunnah. Ia mentarjih pandangan Ahlus Sunnah dengan corak teologis, sambil menambahkan dimensi lughawi: kata “ghaib” berarti yang tersembunyi dari indra.
3. Penafsiran Ayat Tajsim (Antropomorfisme)
Pada QS. Al-A’raf: 54 (Tsumma istawa ‘ala al-’arsyi), Al-Baidhāwī menyajikan takwil Asy’ari: “Istawa” bukan “duduk” harfiah, tapi “menguasai” atau “berkuasa” mutlak atas singgasana (kekuasaan ilahi).
Kesimpulan
Al-Baidhāwī merupakan seorang ulama besar asal Persia yang hidup pada abad ke-7 Hijriah. Tafsir Al-Baidhāwī ditulis dengan metode tahlili yang menggabungkan pendekatan bi al-ma’tsūr dan bi al-ra’yi. Corak penafsirannya mencakup aspek fikih, ilmiah, serta lughawi. Kelebihan tafsir ini terletak pada kemampuannya merangkum berbagai tafsir klasik secara ringkas namun padat, meskipun memiliki kekurangan dalam hal pencantuman sanad hadis dan riwayat Isrāiliyyāt.
Daftar Pustaka
Al-Baidhāwī, Nashr al-Din abi Said Abdullah bin Umr bin Muhammad al-Syairazi. Anwār Al-Tanzīl Wa Asrār al-Ta’wīl. Beirut: Dar al-Ihya at-Thurots al-‘Araby, 1418 H.
Baidowi, Ahmad. “Al-Baidhawi dan Kitab Tafsirnya Anwar At-Tanzil Wa Asrar Al-Ta’wil.” Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Esensia 8, no. 1 (2007).
Faradits, Aghnia. “Tafsir Al-Baiḍāwī Pada Era Afirmasi Islam Klasik: Kajian Atas Anwār Al-Tanzīl Wa Asrār Al-Ta’wīl.” Studia Quranika: Jurnal Studi Quran 10, no. 1 (Juli 2025).
Haq, Elmia Zarchen, dan Khoirul Umami. “Telaah Kitab Tafsir Bercorak Lughawi Di Abad Pertengahan.” Al Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir 2, no. 1 (2022).
Idris. “Epistemology of Al-Baydawi (Analysis of The Method And Style From Anwar Al-Tanzil wa Asrar Al-Ta’wil’s Book).” Dirosatuna Journal of Islamic Studies 6, no. 2 (2023).
Jamarudin, Ade. “Tafsir Al-Baidlawi: Kitab Induk di Antara Berbagai Kitab Tafsir.” Jurnal Ushuluddin XVII, no. 1 (Januari 2011).
Karlina, Nina. “Metode Dan Corak Tafsir Al-Baidhawi (Studi Analisis Terhadap Tafsir Anwār al–Tanzil wa Asrār al-Ta’wil).” Skripsi, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2011.
Mohamad, Mazlan Ibrahim Ahmed Kamel. “Israiliyyat dalam Kitab Tafsir Anwar Baidhawi.” Jurnal [Nama Jurnal Tidak Lengkap] 2, no. 26 (2004).

