Keislaman

Peristiwa Dibalik Malam Lailatul Qadar

2 Mins read

Pada saat di alam akhirat nanti, para nabi bersama umatnya masing-masing masuk ke dalam surga. Ada salah seorang nabi yang membawa pedang, tetapi tidak mempunyai pengikut satu pun, masuk ke dalam surga. Beliau adalah Sam’un. Beliau merupakan seorang nabi di dalam ajaran Islam yang dikenal dengan nama Sam’un Ghozi Alaihis Salam.

​Kisah nabi ini terdapat di dalam kitab-kitab klasik, seperti Mukasyafatul Qulub dan Qishashul Anbiya. Beliau adalah orang yang mempunyai kekuatan luar biasa yang tidak terkalahkan, yang kelemahannya terletak pada rambutnya. Hidupnya hampir setiap hari dilalui dengan berperang, terlebih dengan pedang ajaib yang selalu ia bawa saat berperang. Senjata ini terbuat dari tulang rahang unta bernama Liha Jamal.

​Nabi Sam’un memiliki mukjizat, yaitu dapat melunakkan besi dan merobohkan istana. Atas izin Allah pula, Nabi Sam’un memiliki mukjizat lainnya. Ketika ia haus dan lapar, senjata itu bisa mengeluarkan air maupun menumbuhkan daging untuk dimakan.

​Dalam kisah para nabi disebutkan, Nabi Sam’un sanggup beribadah selama 1.000 bulan yang diisi dengan shalat malam dan puasa pada siang harinya. Selama 1.000 bulan ia menjadi pembela agama tauhid yang berperang melawan musuh Allah hanya berbekal tulang rahang unta.

​Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafir saat itu, yakni Raja Israil. Akhirnya, Raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam’un. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, hingga atas nasihat para penasihatnya diumumkanlah: barang siapa yang dapat menangkap Nabi Sam’un akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah.

​Singkat cerita, istri Nabi Sam’un yang tergiur imbalan dari Raja Israil membantu percobaan pembunuhan terhadap Nabi Sam’un. Nabi Sam’un pun diikat oleh istrinya kala ia tertidur, lalu dibawa ke hadapan sang raja. Apa daya, Nabi Sam’un yang diberi anugerah kekuatan besar oleh Allah SWT bisa mengatasinya dengan baik; tali tersebut ia putus dengan mudah.

Baca...  Imam Syafi'i Dituduh Syiah Oleh Khalifah

​Begitu pun dengan percobaan kedua yang dilakukan sang istri. Ikatan rantai yang lebih kuat masih belum mampu untuk melumpuhkan Nabi Sam’un. Lalu, istrinya teringat bahwa suaminya pernah berkata bahwa kelemahannya terletak pada rambutnya sendiri. Pada malam yang ketiga, istrinya mengikat Nabi Sam’un dengan rambutnya. Alhasil, Nabi Sam’un tak berdaya.

​Mendengar kejadian itu, kaum kafir langsung mendatangi kediamannya dan menyerang Nabi Sam’un untuk menyiksanya. Nabi Sam’un yang masih dalam keadaan terikat itu lalu dibawa ke hadapan raja. Siksaan terus didapat Nabi Sam’un, bahkan kedua matanya dibutakan, serta beberapa bagian tubuhnya dipotong dan dipertontonkan kepada masyarakat.

​Diperlakukan demikian, Nabi Sam’un berdoa kepada Allah SWT. Ia memohon pertolongan atas kebesaran Allah. Doa Nabi Sam’un dikabulkan; istana raja beserta seluruh masyarakatnya hancur, termasuk istri dan para kerabat yang mengkhianatinya.

​Kemudian, Nabi Sam’un bersumpah kepada Allah SWT akan menebus semua dosanya dengan berjuang menumpas semua kebatilan dan kekufuran selama seribu bulan tanpa henti. Ketika Rasulullah SAW selesai menceritakan kisah Nabi Sam’un Ghozi AS yang berjuang fi sabilillah selama 1.000 bulan, salah satu sahabat Nabi berkata, “Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti Nabiyullah Sam’un Ghozi AS.” Kemudian Rasulullah diam sejenak. Dalam diam tersebut, turunlah wahyu kepada Rasulullah:

​اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

​Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar.

​وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ

​Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu?

​لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

​Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan.

​تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ

​Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.

Baca...  Sunah Menurut Para Ulama

​سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

​Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.

​Penulis: M. Bahrul Ilmi Syah Alam*

*) Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

1 posts

About author
Mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungangung
Articles
Related posts
Keislaman

​Menegur Tanpa Menghina: Etika Dakwah & Kritik di Media Sosial

6 Mins read
Pembahasan ayat ٱذْهَبَآ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ ٤٣ فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ ٤٤ ​”Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun!…
Keislaman

Bisakah Ekonomi Berjalan Tanpa Riba? Ini Penjelasan dan Solusinya

1 Mins read
Penulis: Akmal Husein (Anggota Rumah Berdaya 21, Program Pendidikan Kaum Muda) Editor: Adis Setiawan ​Ekonomi Islam merupakan sistem ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai…
Keislaman

Keistimewaan Surat Al-Waqiah dan Keutamaannya Menurut Ulama

3 Mins read
Al-Qur’an adalah cahaya penuntun yang menerangi jalan hidup umat manusia. Di antara sekian banyak surah yang terkandung di dalamnya, Surah Al-Waqi’ah memiliki…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *