Keislaman

Hawa Nafsu Menurut Quraish Shihab

2 Mins read

Sudah mafhum bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat surat Asy-Syams ayat 7-8 yang berbunyi:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۝ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا

Artinya: “Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syam [91]: 7-8).

Quraish Shihab mengatakan setiap muslim dituntut untuk mengembangkan dan menyucikan jiwa, serta dilarang membunuh nafsu. Kenapa demikian? Karena nafsu dibutuhkan pada tempatnya.

Misalnya, Anda tidak memiliki nafsu makan, maka Anda akan mati. Begitu juga jika Anda tidak mempunyai nafsu semangat untuk berjuang, maka Anda akan terjajah. Karena itu, janganlah pernah membunuh nafsu, melainkan harus mengendalikannya.

Anda tahu! Nafsu berbeda rayuannya dengan setan. Nafsu dalam rayuannya ingin menjerumuskan dan hanya menginginkan apa yang menjadi tumpuan harapannya. Nafsu bagaikan anak kecil. Imam Syarafuddin Al-Bushiri dalam syairnya yang indah pernah mengatakan:

النَفْسُ كَالطِفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى # حُبِّ الرَضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

Artinya: “Hawa nafsu itu seperti anak kecil, jika kau biarkan menyusu sampai dewasa, Dia akan terus menyusu. Tapi jika engkau memisahkannya dia akan berhenti.”

كَمْ حَسَّنَتْ لَذَّةً لِلْمَرْءِ قَاتِلَةً # مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنَّ السُمَّ فيِ الدَسَمِ

Artiinya: “Betapa sering nafsu menjadikan sesuatu yang nikmat namun mematikan itu terlihat baik. Sampai-sampai orang tidak tahu bahwasannya ada racun di dalam lemak.”

Itu sebabnya, jika Anda menjanjikan kepadanya sesuatu, walaupun Anda ingin menggantinya dengan sesuatu yang lain, maka ia tidak akan pernah menerimanya. Sekali lagi, ia hanya menginginkan apa yang diinginkannya.

Iya. Nafsu bagaikan anak kecil yang apabila Anda bertekad untuk menyapinya, maka Anda akan berhasil. Akan tetapi, jika sang ibu lemah dan hilang tekadnya ketika anak usia 2 tahun, maka sang anak akan terus menyusu dan menyusu. Demikian juga Nafsu.

Baca...  Tamparan Logika Al-Ghazali terhadap Kesombongan Nasab Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin

Tak hanya itu, nafsu manusia diibaratkan seperti air laut. Semakin banyak diminum, maka manusia akan semakin haus. Ia akan mendorong manusia merasa gatal dan mendorongnya untuk menggaruk luka-lukanya, dan semakin digaruk akan menyebabkan bahaya dan infeksi.

Sementara setan dalam rayuannya ia akan merayu Anda. Jika Anda enggan mengikuti rayuannya, ia akan beralih kepada yang lain. Yang terpenting buat setan adalah Anda merugi. Kalau setan tidak dapat merugikan Anda, maka Anda tidak meraih keberuntungan buat setan.

Syahdan. Prof Quraish Shihab menegaskan, dalam kehidupan dewasa ini banyak sekali rayuan-rayuan. Globalisasi menawarkan kepada umat manusia sekian banyak ide. Maka, berhati-hatilah di dalam menerima tawaran-tawaran itu. Kendalikanlah nafsu Anda dan pilihlah yang terbaik, serta tolaklah jika tidak sesuai dengan agama dan budaya, tak terkecuali ilmu dan akal.

Jika nafsu dikendalikan dan dikelola dengan baik, maka akan melahirkan manusia-manusia yang berakhlak mulia. Seperti sifat marah, jika dibiarkan, akan bisa mengakibatkan talak atau perceraian rumah tangga. Namun, jika sifat marah dikendalikan, maka akan menjelma menjadi ketegasan dalam kebaikan.

Bisa dibayangkan, jika nafsu dibiarkan tanpa kendali, sosok manusia yang diciptakan dengan sempurna itu, akan menjadi beringas. Bahkan digambarkan dalam Al-Qur’an seperti binatang buas. Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 179 yang berbunyi:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ ۝١٧٩

Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf [7]: 179).

392 posts

About author
Penulis Lepas dan Pemerhati Isu Sosial Politik.
Articles
Related posts
JurnalKeislaman

Analisis Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Fasilitas Kredit Pemilikan Motor Bagi Karyawan

1 Mins read
ANALISIS HUKUM EKONOMI SYARIAH TERHADAP FASILITAS KREDIT PEMILIKAN MOTOR BAGI KARYAWAN Studi atas Perjanjian KPM dengan Bunga Nol Persen dan Tenor Enam…
KeislamanKisah

Seni Mencukur Jenggot: Makna Tersembunyi di Balik Tradisi Qalandariyah

7 Mins read
Dalam khazanah literatur klasik Islam, nama Ibnu Bathutah berdiri sebagai salah satu penjelajah paling legendaris yang pernah tercatat dalam sejarah peradaban manusia….
KeislamanKesehatan

Perbandingan Pandangan Agama tentang Kematian & Spiritual Keperawatan

5 Mins read
I. Pendahuluan Kematian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dan memiliki makna yang berbeda dalam setiap agama. Pandangan mengenai…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

Ustaz Zainal Abidin Jelaskan Pentingnya Ilmu Tajwid Pada Umat Islam