Perkembangan dunia digital berlangsung sangat pesat, membawa perubahan yang mengalir perlahan hingga makin deras dalam kehidupan manusia. Perubahan ini tidak lagi hanya dipandang sebagai kemajuan teknologi semata, melainkan telah mengubah berbagai aspek pola hidup masyarakat. Makin tinggi kemampuan seseorang beradaptasi terhadap perkembangan digital, makin cepat pula ia memperoleh informasi. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) dalam ekosistem Internet of Things (IoT) saat ini dapat dianggap berada di puncak panggung transformasi digital dunia. Menurut Alavi et al. (2024) dan Leoni et al. (2024), AI berperan sebagai teknologi pendukung dalam memperoleh, mengolah, menyintesis, menciptakan, dan menerapkan pengetahuan, sehingga mengubah cara individu maupun organisasi dalam mengelola dan memanfaatkan pengetahuan. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak hanya memengaruhi cara manusia mengelola pengetahuan secara umum, tetapi juga mulai memasuki ruang literasi spesifik, termasuk ilmu keagamaan. Dalam konteks Islam, kemudahan akses terhadap teknologi berbasis AI membuka cara baru bagi masyarakat untuk mencari, memahami, dan mengeksplorasi pengetahuan keislaman. Al-Qur’an, hadis, tafsir, fatwa, maupun berbagai sumber pembelajaran Islam kini makin mudah diakses melalui mesin pencari, aplikasi digital, hingga platform berbasis AI. Kondisi ini menjadikan AI berpotensi sebagai sarana pendukung literasi Islam, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan pengguna dalam menilai ketepatan, otoritas, dan kredibilitas informasi keagamaan yang diperoleh.
Bentuk Inovasi AI dalam Menunjang Literasi dan Pembelajaran Islam
AI telah diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk bidang agama. Melalui berbagai platform teknologi, tercipta berbagai inovasi seperti Natural Language Processing (NLP) yang dimanfaatkan untuk mengenali serta menganalisis teks Al-Qur’an, sekaligus mempermudah pencarian berbagai sumber penafsiran. Selain itu, hadir pula Quranic AI Tools yang memfasilitasi pemrosesan dan pencarian ayat, tafsir, serta hadis secara cepat.
Beberapa perangkat dan platform AI yang memfasilitasi literasi Islam meliputi:
- Aplikasi Al-Qur’an dan Hadis: Platform seperti Qur’an.com dan Tarteel AI memanfaatkan AI untuk membantu pengguna membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an melalui visualisasi serta analisis yang interaktif.
- Chatbot dan Asisten Virtual Keagamaan: Platform seperti AskTheSyeikh, IslamicBot, Alim App, dan Muslim Assistant hadir untuk membantu menjawab pertanyaan seputar ajaran agama secara praktis, informatif, dan cepat.
- Penerjemah dan Aksesibilitas: Untuk mempermudah latihan pelafalan bahasa Arab (qira’ah) serta menyediakan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dan anak-anak berkebutuhan khusus, terdapat fitur speech recognition, text-to-speech, dan speech-to-text yang mendukung pembelajaran inklusif (Anandal et al., 2024).
- Pengenalan Karakter Optik (OCR): Naskah kuno dan kitab klasik (kitab kuning) kini dapat disalin serta didigitalisasi menggunakan teknologi image-to-text berbasis AI untuk membantu pemahaman dan analisis mendalam.
Manfaat AI dalam Aksesibilitas dan Efisiensi Belajar Agama
Salah satu manfaat utama AI dalam literasi Islam adalah kemampuannya memperluas akses sekaligus meningkatkan efisiensi dalam memperoleh pengetahuan keagamaan. Melalui teknologi berbasis AI, pengguna dapat menelusuri, merangkum, menerjemahkan, dan memperoleh penjelasan awal mengenai berbagai topik keislaman secara lebih cepat. Hal ini memberikan ruang belajar yang fleksibel karena proses pencarian pengetahuan tidak lagi sepenuhnya dibatasi oleh waktu, tempat, maupun ketersediaan sumber belajar konvensional.
Dalam pendidikan Islam, pemanfaatan AI berpotensi mendukung pembelajaran yang lebih personal dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Penerapan AI dalam pendidikan Islam dapat memperluas akses terhadap pengetahuan agama serta meningkatkan pemahaman dan efisiensi belajar (Amilusholihah & Ramadhan, 2025). Integrasi AI berpotensi meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran Al-Qur’an (Sukmawati, 2024), sedangkan penggunaan model AI seperti ChatGPT berkontribusi terhadap peningkatan literasi digital mahasiswa Pendidikan Agama Islam, khususnya dalam aktivitas pencarian informasi dan riset secara daring (Agustin et al., 2024). Secara teknis, perpustakaan digital seperti Shia Source dan Al-Manhal memanfaatkan AI untuk mengelola dan mencari literatur agama secara efektif. Selain itu, model AI juga mendukung analisis perkembangan belajar serta menyediakan laporan dan rekomendasi pembelajaran tahap lanjut yang dipersonalisasi. Dengan demikian, AI berfungsi sebagai alat pendukung yang membuat proses belajar agama menjadi lebih mudah diakses, cepat, dan adaptif, meskipun penggunaannya tetap memerlukan filter kritis dalam menilai validitas sumber keagamaan.
Tantangan Etis dan Prinsip Keislaman dalam Penggunaan AI
Di balik kemudahan yang ditawarkan, integrasi AI dalam literasi Islam menghadapi sejumlah tantangan, antara lain bias informasi, privasi data, potensi disinformasi, serta risiko berkurangnya interaksi antarmanusia secara langsung. Dalam bidang akademik, pemanfaatan AI membutuhkan batasan etika penulisan yang tegas guna mencegah praktik kecurangan akademik dan plagiarisme, sehingga transparansi penggunaan AI, verifikasi sumber, serta pencantuman atribusi menjadi hal yang sangat vital.
Dalam perspektif Islam, AI pada hakikatnya merupakan alat bantu yang tidak dapat menggantikan otonomi, tanggung jawab moral, dan kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Posisi AI perlu dibedakan secara tegas dari peran ulama dan ahli keilmuan Islam (seperti ahli Al-Qur’an, hadis, fikih, dan tafsir). AI dapat membantu mencari, mengorganisasi, menerjemahkan, membandingkan, atau merangkum informasi, tetapi tidak memiliki kapasitas untuk menggantikan otoritas keilmuan, kedalaman pemahaman, pertimbangan konteks, maupun tanggung jawab moral seorang pakar agama.
Hal ini penting mengingat pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, melainkan juga pembentukan sikap, motivasi, istiqamah, akhlak, dan penghayatan nilai. Dalam ibadah mahdhah (ibadah yang tata cara, waktu, dan syaratnya telah ditetapkan secara khusus dalam syariat, seperti salat, puasa, dan haji), seseorang tidak cukup hanya membaca informasi teknis, tetapi memerlukan bimbingan langsung agar melaksanakannya dengan benar dan konsisten. Sementara itu, pada ibadah ghairu mahdhah (aktivitas kehidupan luas seperti bekerja, bermuamalah, dan berinteraksi sosial), pemahaman mengenai konteks, kemaslahatan, dan etika menjadi sangat mendasar.
Kajian Islam sebagai disiplin ilmu maupun pembentuk nilai kemanusiaan tidak dapat sepenuhnya dibangun melalui interaksi dengan teknologi semata. Proses talaqqi (belajar secara langsung dari guru/ulama) memungkinkan terjadinya dialog, klarifikasi, koreksi pemahaman, dan pembentukan adab. Pendidikan agama memerlukan keteladanan (uswah) nyata yang memperlihatkan bagaimana ilmu diwujudkan dalam perilaku, suatu dimensi manusiawi yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Oleh sebab itu, penggunaan AI dalam literasi Islam harus ditempatkan dalam kerangka augmentasi (penguatan), bukan substitusi (penggantian).
Pengintegrasian AI dalam literasi keislaman perlu berlandaskan pada empat prinsip utama syariat:
- Tauhid: Menjadikan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah.
- Keadilan: Memastikan akses teknologi yang merata serta mencegah bias informasi yang dapat merugikan pihak tertentu.
- Amanah: Mengelola data dan informasi secara valid, jujur, dan bertanggung jawab tanpa menyebarkan kebohongan.
- Kemaslahatan: Mengarahkan penggunaan AI untuk mendatangkan manfaat dan kesejahteraan bagi umat manusia.
Kesimpulan
Penerapan AI dalam literasi Islam membawa perubahan positif yang signifikan, mulai dari mempermudah studi Al-Qur’an dan hadis, meningkatkan efisiensi pencarian literatur, hingga mendukung personalisasi proses belajar. Kendati demikian, AI tetaplah alat pendukung dan tidak dapat menggantikan peran manusia sebagai khalifah yang mempelajari serta mengajarkan Al-Qur’an secara utuh. Dalam menghadapi tantangan seperti bias informasi dan risiko plagiarisme, literasi digital harus dipadukan dengan nilai-nilai etika keislaman (tauhid, keadilan, amanah, dan kemaslahatan). Pendekatan penggunaan AI yang bijak dan etis diharapkan mampu melahirkan generasi penerus yang cerdas secara intelektual sekaligus memiliki akhlak mulia.
Pustaka
Agustin, F. A. P., Wulandari, O., & Rusydiyah, E. F. (2024). Enhancing digital literacy through Chat GPT: The impact on Islamic education research skills among students at State Islamic University. Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman, 35(2), 181–198. https://doi.org/10.33367/tribakti.v35i2.5391
Alavi, M., Leidner, D. E., & Mousavi, R. (2024). A knowledge management perspective of generative artificial intelligence. Journal of the Association for Information Systems, 25(1), 1–12. https://doi.org/10.17705/1jais.00859
Amilusholihah, A., & Ramadhan, N. J. H. (2025). Exploring the implementation of artificial intelligence in Islamic education: A systematic literature review. Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam, 5(1), 3–17. https://doi.org/10.24260/ngaji.v5i1.95
Anandal, F., Dartim, D., & Yusutria, Y. (2024). The role of artificial intelligence in Islamic education for inclusive children. Iseedu: Journal of Islamic Educational Thoughts and Practices, 8(1), 41–46. https://doi.org/10.23917/iseedu.v8i1.8841
Leoni, L., Gueli, G., Ardolino, M., Panizzon, M., & Gupta, S. (2024). AI-empowered KM processes for decision-making: Empirical evidence from worldwide organisations. Journal of Knowledge Management, 28(11), 320–347. https://doi.org/10.1108/JKM-03-2024-0262
Sukmawati, A. (2024). Pemanfaatan artificial intelligence untuk meningkatkan efisiensi pembelajaran Al Quran. Dinamika Penelitian: Media Komunikasi Penelitian Sosial Keagamaan, 24(1), 53–72. https://doi.org/10.21274/dinamika.2024.24.01.53-72

