Ketika menginjak bulan Ramadan kita selalu lupa tentang makna bulan Ramadan sebenarnya. Justru yang paling diingat adalah menahan lapar, amalan ibadah sehabis itu pergi ke masjid, menyiapkan taddarus entah tidak atau tidak bisa, pulang ke rumah selesai sampai menjelang magrhib.
Yang pada akhirnya selalu membanding-bandingkan agama lain, dengan berdalih mengkafir-kafirkan, tak peduli siapa orangnya, ataupun perbuatannya, tapi sibuk menyalahkan agama lain.
Masalah Israel pun sampai di piala dunia dimana Indonesia menjadi tuan rumah dan memusatkan berbagai tuan rumah, terutama di Bali. Sayangnya Gubernur Bali dan beberapa aliansi anti Israel lagi-lagi soal politik dan kemanusiaan.
Islam yang punya banyak aliran sebanyak ini, dan tidak pernah habis regenerasinya hingga detik ini.
Diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallâhu ‘anhuma, ia berkata: ‘ Pada masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam Ibuku datang kepadaku sementara ia masih musyrik. Aku lalu meminta fatwa kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam: ‘Ibuku datang kepadaku dan ia menginginkan suatu pemberian. Apakah Aku boleh memberinya?’ Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pun menjawab: ‘Ya, berilah ibumu’.” ( Muttaqun ‘Alaih).
Dan diperkuat rasa kemanusiaan umat Islam surat Al-Mumtahanah ayat 9 dengan sesama manusia non Islam;