Keislaman

Takwa yang Sebenar-benarnya: Tafsir QS Ali Imran 102 & Kontekstualisasinya

5 Mins read

Kata takwa adalah kata yang paling sering disebut di dalam al-Qur’an. Takwa  disebutkan lebih dari 250 kali dalam berbagai bentuk kata, menandakan urgensinya dalam kehidupan seorang Muslim.[1] Takwa menjadi syarat diterimanya amal, menjadi kunci keluar dari kesulitan, dan menjadi tolak ukur kemuliaan seseorang dihadapan Allah SWT. Di antara ayat yang paling tegas memertintahkan untuk bertakwa adalah QS. Āli ʿImrān  ayat 102.

Masalahnya, di zaman sekarang kita banyak melihat masyarakat yang menjadikan agama hanya sebagai simbolik saja. Kita melihat orang korupsi yang tampak Sholeh, kejujuran yang dikalahkan oleh kepentingan, dan pecitaan di media social yang menjadikan pandangan kita terhadap orang Sholeh berbeda. Melihat fenomena ini, muncul pertanyaan apakah kita sudah melakukan ketakwan sesuai yang diperintahkan di dalam al- quran? Di dalam artikel ini kita akan membahas takwa menurut QS. Āli ʿImrān ayat 102 secara tahlili, dan kontektualisasi di zaman sekarang ini.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri kepada Allah).”

Jika kita lihat, ayat ini mengajak kita untuk merenung, apakah kita sudah benar-benar bertakwa? Namun untuk memahami takwa yang benar, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu takwa.

Secerara Etimologis takwa berasal dari akar kata “waqa” (وق ى), yang berarti melindungi diri atau menjaga diri.[2]

Adapun menurut konteks agama, takwa  dapat diartikan sebagai usaha menjaga diri dari segala sesuatu yang dilarang oleh Allah dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya.[3] Namun takwa yang diperintahkan di dalam al-Qur’an tidak hanya berthenti di situ saja, melainkan takwa yang sebenarnya melalui frasa haqqa tuqatih jika dilihat ayat di atas, al-Qur’an tidak hanya sekedar memerintahkan takwa biasa, tapi menuntut takwa dengan sebenar-benarnya melalui frasa haqqa tuqatih.

Penafsiran Frasa Ḥaqqa Tuqātih

Para mufasir menafsirkan frasa ḥaqqa tuqātih dengan redaksi yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Berikut penjelasannya:

Riwayat Ibnu Mas’ud dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa takwa yang sebenar-benarnya berarti Allah ditaati sehingga tidak didurhakai, diingat sehingga tidak dilupakan, dan disyukuri sehingga tidak diingkari.[4] Tiga unsur ini, yaitu ketaatan, zikir, dan syukur, menggambarkan takwa sebagai sikap hidup yang menyeluruh, bukan ritual yang terpisah-pisah.

Baca...  Stop Post Pamer! Menguatkan Akidah Tawādu’ Melawan Kibr Digital dalam Perspektif Tafsir Al-Qurthubī

Pendapat lain, Ibnu Abi Hatim menyebut riwayat semisal dari Murrah al-Hamdani, ar-Rabi’ bin Khutsaim, ‘Amr bin Maimun, Ibrahim an-Nakha’i, al-Hasan, Thawus, Qatadah, Abu Sinan, dan as-Suddi. Dari Anas diriwayatkan: “Seorang hamba belum bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa hingga ia menjaga lisannya.”[5]

Penafsiran dalam Kitab Mafātīḥ al-Ghayb.

Ar-Razi menjelaskan bahwa ḥaqqa tuqatih bermakna bahwa Allah wajib ditakuti dan dijaga dari pelanggaran terhadap perintah-Nya. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala tentang ḥaqqul yaqin (keyakinan yang sebenar-benarnya) dalam Surah al-Wāqiʿah ayat 95.[6] Dengan kata lain, takwa yang hakiki lahir dari keyakinan yang mantap, sebab seseorang hanya akan menjaga diri dari pelanggaran bila ia benar-benar yakin akan kebesaran dan pengawasan Allah.

Pendapat Ibnu Abbas dalam Kitab Tafsir al-Qurthubi.

Ibnu Abbas menafsirkan ḥaqqa tuqatih sebagai berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad, tidak terpengaruh oleh celaan para pencela, dan menegakkan keadilan karena Allah walaupun terhadap diri sendiri, orang tua, dan anak-anak.[7] Penafsiran ini menempatkan takwa pada ranah sosial, takwa diuji ketika kebenaran berhadapan dengan kepentingan pribadi dan keluarga.

Perbedaan Pandangan tentang Cakupan Takwa.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ayat ini kemudian dijelaskan atau dinasakh oleh firman Allah dalam QS. at-Taghābun ayat 16, “bertakwalah kepada Allah semampumu”, sehingga tuntutan takwa disesuaikan dengan kesanggupan manusia.[8] Pendapat lain memandang bahwa ayat ini tidak dihapus, melainkan dipahami selaras dengan ayat tersebut. Takwa yang sebenar-benarnya adalah mengerahkan seluruh kemampuan tanpa kelalaian.[9]

Penafsiran Frasa Wa Lā Tamūtunna illā wa Antum Muslimūn

Bagian kedua ayat ini, “janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”, bukan perintah untuk menentukan waktu kematian, melainkan perintah untuk menjaga keislaman dan ketakwaan secara terus-menerus hingga akhir hayat. Sebab kematian datang tanpa pemberitahuan, maka seorang mukmin dituntut untuk senantiasa berada dalam keadaan berserah diri kepada Allah. Dengan demikian, takwa bukan musiman, ia tidak hanya hadir pada bulan tertentu, di tempat tertentu, atau di hadapan penonton tertentu, tetapi menjadi keadaan yang konsisten (istiqamah).[10]

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kedermawanan Itu Harus Dipaksa

Kontekstualisasi: Krisis Integritas dan Budaya Pencitraan di Era Digital

Jika penafsiran para ulama di atas dibawa ke realitas hari ini, tampak bahwa persoalan integritas pada hakikatnya adalah persoalan takwa yang belum ḥaqqa. Setidaknya ada tiga titik temu.

Pertama, ketaatan yang tidak dilupakan versus korupsi. Ibnu Mas’ud menjelaskan bahwa Allah harus diingat sehingga tidak dilupakan. Korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan manipulasi anggaran pada dasarnya terjadi ketika kesadaran akan pengawasan Allah (muraqabah) hilang dan digantikan oleh rasa aman karena tidak terlihat oleh manusia. Pelakunya bisa jadi rajin beribadah, tetapi ibadahnya tidak mengikat perilakunya di ruang kerja. Inilah takwa yang terpotong: sah secara ritual, tetapi tidak menjadi sekat (wiqāyah) yang melindungi dari penyimpangan.

Kedua, keadilan walau atas diri sendiri versus nepotisme dan budaya permisif. Tafsir Ibnu Abbas menuntut penegakan keadilan walaupun terhadap diri sendiri, orang tua, dan anak-anak. Pada konteks modern, hal ini berhadapan langsung dengan nepotisme, praktik “orang dalam”, serta sikap permisif terhadap pelanggaran yang dilakukan kerabat atau kelompok sendiri. Takwa yang sebenar-benarnya menuntut kesediaan untuk berkata benar meskipun merugikan lingkaran terdekat, dan tidak terpengaruh oleh celaan pencela yang menyebut sikap jujur sebagai “tidak setia kawan”.

Ketiga, konsistensi hingga akhir hayat versus pencitraan di media sosial. Frasa “janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim” menegaskan bahwa takwa adalah keadaan yang dijaga terus-menerus, bukan penampilan yang disesuaikan dengan penonton. Di era media sosial, kesalehan mudah menjadi konten: amal ditampilkan untuk memperoleh sorotan dan pengakuan, sementara perilaku di ruang yang tidak terlihat berbeda. Ketika kesalehan diukur dari jumlah tanda suka, ia berpindah dari ranah ikhlas ke ranah citra. Takwa yang hakiki justru menuntut kesesuaian antara apa yang tampak dan apa yang tersembunyi.

Āli ʿImrān ayat 102 menuntut takwa yang tidak setengah-setengah. Penafsiran para ulama menunjukkan bahwa takwa yang sebenar-benarnya mencakup dimensi spiritual dan sosial sekaligus. Ibnu Mas’ud menekankan ketaatan, zikir, dan syukur. Ar-Razi menekankan keyakinan yang melahirkan kehati-hatian dari pelanggaran. Ibnu Abbas menekankan keberanian menegakkan keadilan, sedangkan riwayat Anas mengingatkan pentingnya menjaga lisan. Perbedaan pandangan tentang hubungan ayat ini dengan QS. at-Taghābun ayat 16 pun bertemu pada satu titik, takwa bukanlah kesempurnaan tanpa cela, melainkan pengerahan kemampuan secara maksimal tanpa kelalaian. Adapun frasa penutup ayat menegaskan bahwa takwa harus dijaga secara konsisten hingga akhir hayat.

Baca...  Dialektika Adam dan Homo Sapiens: Kajian Jawahirul Qur'an

Dalam konteks sekarang, korupsi, nepotisme, dan budaya pencitraan di media sosial menunjukkan adanya jarak antara ibadah dan perilaku, serta antara yang tampak dan yang tersembunyi. Karena itu, ayat ini dapat diterapkan melalui beberapa langkah. Pertama, menghidupkan muraqabah, yaitu kesadaran bahwa setiap keputusan diawasi Allah meskipun tidak terlihat manusia. Kedua, berani menegakkan keadilan walaupun merugikan diri sendiri dan kerabat, serta tidak gentar terhadap celaan. Ketiga, menjaga lisan, yang di era digital mencakup tulisan dan unggahan, serta meluruskan niat agar amal tidak menjadi bahan pencitraan. Keempat, menjaga istiqamah melalui muhasabah rutin, lingkungan yang saleh, dan majelis ilmu.

Dengan demikian, pertanyaan yang perlu terus kita ajukan kepada diri sendiri bukan sekadar “apakah aku sudah bertakwa?”, melainkan “apakah takwaku sudah sebenar-benarnya?”

[1] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu‘Jam al-Mufahras Li Alfāẓ al-Qur’Ān al-Karīm (Dar al-Fikr, 1999), kata kunci “takwā”.

[2] Abul Fadhal Jamaluddin Muhammad bin Mukrim Ibnu Manzhur, Lisān Al-‘Arab, vol. 15 (Dar Shadir, 1997), hal. 310.

[3] Syekh Ibnu Athaillah Ibnu Athaillah, Syekh Ibnu Athaillah, Menyelam Kesamudra Ma’rifat Dan Hakekat (Amelia Computindo, 2007), hal, 197.

[4] Ismail bin Umar Ibnu Katsir, Tafsīr Al-Qurʾān al-ʿaẓīm, jil. 2, ed. Sami bin Muhammad as-Salamah (Dār Ṭayyibah, 1999), hlm 86-87.

[5] Ibnu Katsir, Tafsīr Al-Qurʾān al-ʿaẓīm, vol. 2.

[6] Muhammad bin Umar Fakhruddin ar-Razi Ar-Razi, Mafātīḥ Al-Ghayb (Al-Tafsīr al-Kabīr), Ke-3 (Dār Iḥyāʾ al-Turāth al-ʿArabī, 1420), jil. 8, hlm 312.

[7] Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi and Muhammad bin Ahmad, Al-Jāmiʿ Li-Aḥkām al-Qurʾān Wa-al-Mubayyin Limā Taḍammanahu Min al-Sunnah Wa-Āy al-Furqān, jil. 5, ed. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki (Muʾassasah ar-Risālah, 2006), hlm 238, hlm 640.

[8] Ar-Razi, Mafātīḥ Al-Ghayb (Al-Tafsīr al-Kabīr).

[9] Moh Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbāh: Pesan, Kesan, Dan Keserasian al-Qur’an, Cet. 6 (Lentera Hati, 2005),vol. 2,  hlm 167-168.

[10] Shihab, Tafsir Al-Mishbāh.

1 posts

About author
Kontributor Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

​Peran Sejarah Kebudayaan Islam dalam Menumbuhkan Toleransi Peserta Didik

10 Mins read
​A. Pendahuluan ​Pendidikan merupakan salah satu sarana penting dalam membentuk kepribadian dan karakter peserta didik. Melalui pendidikan, peserta didik tidak hanya memperoleh…
KeislamanPendidikan

Menata Logika dari Masjid ke Angka: Integrasi Manajemen Pendidikan Islam dan Matematika Awal di Raudhatul Athfal

4 Mins read
​1. Tata Kelola RA yang Berorientasi pada Kognisi Anak ​Tata kelola Raudhatul Athfal (RA) sering dipahami sebatas urusan administratif: perizinan, pengelolaan yayasan,…
EsaiKeislaman

Panduan Lengkap Waktu Sholat 5 Waktu: Cara Penentuan, Perbedaan Tiap Kota, dan Tips Menjaganya di Tengah Kesibukan

5 Mins read
Sholat lima waktu adalah tiang agama dan ibadah yang menjadi penanda ritme harian seorang Muslim. Di tengah jadwal kerja, sekolah, kuliah, dan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *