KeislamanTafsir

Menagih Amanah Pemimpin: Tafsir An-Nisa Ayat 58 & Bencana Sumatera

3 Mins read

Tidak sedikit dari kita beranggapan bahwa bencana di Sumatera saat ini murni disebabkan oleh faktor alam, seperti curah hujan yang tinggi. Namun, di balik itu semua, timbul satu pertanyaan besar: mengapa banjir di Sumatera menghanyutkan gelondongan pohon yang potongannya tampak begitu halus, bahkan sebagian memiliki nomor seri? Ini adalah indikasi kasat mata yang sulit dibantah.

​Sumatera sedang menangis, namun respons yang datang dari pusat kekuasaan terasa sunyi, lambat, dan menyakitkan. Ribuan warga di berbagai titik—seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—kini hidup di bawah tenda darurat, dikepung lumpur, tanah longsor, atau sisa banjir. Ironisnya, di tengah kondisi “lumpuh total” ini, kita justru menyaksikan birokrasi yang lamban dan perdebatan administratif tak berujung, seolah menjadikan nyawa manusia sekadar objek tawar-menawar.

​Kondisi semakin memprihatinkan ketika inisiatif masyarakat dipersulit. Beberapa pemengaruh (influencer) yang berinisiatif membuka donasi (open donation) justru dihadapkan pada regulasi izin yang ketat, dengan ancaman denda hingga kurungan tiga bulan jika melanggar. Sungguh miris. Ketika bantuan tertahan dan status bencana nasional tak kunjung disematkan karena alasan prosedural, rakyat pun bertanya: “Sebercanda itukah kalian mengurus nyawa kami?”

​Ketidakhadiran negara secara cepat dan tepat di saat krisis bukan sekadar kelalaian manajemen. Dalam kacamata Islam, ini adalah pengkhianatan terhadap mandat langit.

​Ultimatum Langit dalam Surah An-Nisa Ayat 58

​Allah SWT memberikan peringatan keras kepada para pemegang kekuasaan dalam Q.S. An-Nisa [4]: 58:

​۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

Artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Baca...  Sejarah Umar bin Khattab

​Asbabun Nuzul dan Munasabah Ayat

​Ayat ini turun terkait peristiwa Fathu Makkah. Kala itu, Rasulullah SAW meminta kunci Ka’bah dari Utsman bin Thalhah. Sayidina Ali bin Abi Thalib dan Abbas r.a. sempat berharap kunci tersebut diserahkan kepada mereka (keluarga Nabi) untuk menggabungkan kehormatan memberi minum jemaah haji (siqayah) dan memegang kunci Ka’bah (hijabah).

​Namun, Allah menurunkan ayat ini, memerintahkan Rasulullah mengembalikan kunci itu kepada Utsman bin Thalhah selaku pemilik sah dan orang yang paling berhak, meskipun saat itu ia belum memeluk Islam (sebagian riwayat menyebutkan ia masuk Islam setelah kejadian ini).

​Secara munasabah (korelasi), ayat ini terletak setelah ayat-ayat yang membahas orang-orang yang dengki dan ingkar. Hal ini menegaskan bahwa keadilan dan penunaian amanah adalah antitesis dari sifat kemunafikan dan kerusakan sosial. Keadilan adalah pilar utama yang menopang tatanan masyarakat, terutama dalam situasi genting.

​Bedah Tafsir: Menyoal Lambatnya Penanganan Bencana

​Bagaimana ayat ini “menampar” lambatnya penanganan bencana di Sumatera? Mari kita bedah melalui pandangan empat mufassir terkemuka:

  1. Imam Al-Qurtubi dalam kitabnya, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, menegaskan bahwa ayat ini adalah Ummahatul Ahkam (induk hukum-hukum) yang mencakup seluruh urusan agama dan dunia. Beliau menekankan bahwa khitab (seruan) ayat ini utamanya ditujukan kepada Ulil Amri (penguasa). Bagi Al-Qurtubi, menahan hak rakyat—yang dalam konteks ini berupa bantuan logistik, evakuasi, dan dana pemulihan—adalah bentuk kezaliman. Jika penguasa lambat karena sibuk dengan urusan lain, mereka telah mencederai esensi amanah itu sendiri.
  2. Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menekankan bahwa amanah wajib ditunaikan kepada pemilik sahnya. Lebih jauh, beliau menafsirkan perintah berhukum dengan adil sebagai seruan universal. Prinsip keadilan dan penunaian amanah bersifat mutlak dan tidak boleh dicederai oleh diskriminasi, baik karena perbedaan keyakinan, asal-usul, maupun etnis. (Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, [Ciputat, Lentera Hati: 2002], jilid II, hlm. 481).
  3. Sayyid Quthb dalam Fī Zhilāli Al-Qur’ān memberikan definisi amanah yang sangat relevan dengan kehidupan sosial. Baginya, amanah adalah tentang menepati janji dan menjaga interaksi sesama. Ini mencakup pengembalian hak rakyat, kejujuran timbal balik antara rakyat dan penguasa, serta kewajiban menjaga wilayah tempat tinggal dari kehancuran ekologis. (Sayyid Quthb, Fī Zhilāli Al-Qur’ān, Jilid 2, hlm. 397).
  4. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menggarisbawahi bahwa keadilan adalah fondasi tak tergantikan dalam pemerintahan. Ia menjadi perisai agar kaum lemah tetap mendapatkan haknya. Ketika keadilan tegak, tangan-tangan kuat penguasa akan tertahan dari menindas rakyat tak berdaya, sehingga tercipta rasa aman. (Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munīr, jilid 3, hlm. 139).
Baca...  Membongkar Salah Kaprah Ayat yang Dikaitkan dengan Terorisme

​Refleksi Kepemimpinan Umar bin Khattab r.a.

​Dalam sebuah atsar yang masyhur, Khalifah Umar bin Khattab r.a. pernah berkata dengan penuh kekhawatiran:

​لَوْ أَنَّ بَغْلاً عَثَرَ فِي الْعِرَاقِ، لَخَشِيتُ أَنْ يَسْأَلَنِيَ اللهُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: لِمَ لَمْ تُسَوِّ لَهُ الطَّرِيقَ يَا عُمَرُ؟

“Seandainya ada seekor bagal (keledai) terperosok di jalanan Irak (karena jalan rusak), aku takut Allah akan meminta pertanggungjawabanku di hari kiamat: ‘Mengapa engkau tidak meratakan jalan untuknya, wahai Umar?'”

​Jika keselamatan seekor hewan di tempat yang jauh saja menjadi beban pikiran Umar sebagai pemimpin, bagaimana dengan ribuan nyawa manusia di Sumatera yang terancam karena kerusakan hutan dan keterlambatan bantuan?

​Nabi SAW pun telah mengingatkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

​كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

​Kesimpulan: Amanah Bukan Sekadar Privilese

​Intisari pelajaran dari Q.S. An-Nisa [4]: 58 terkait bencana Sumatera adalah bahwa penanganan krisis memerlukan kecepatan, yang merupakan inti dari penunaian amanah. Kelambatan identik dengan kezaliman, sebab bantuan yang terlambat mencerminkan amanah yang cacat dan hilangnya kepekaan kemanusiaan.

​Birokrasi tidak boleh mengalahkan empati. Aturan semestinya diterobos demi menyelamatkan nyawa, sesuai kaidah Adh-dharuratu tubihu al-mahzhurat (kondisi darurat membolehkan hal-hal yang dilarang/terhambat aturan). Jabatan adalah beban tanggung jawab yang menuntut kepekaan, bukan sekadar privilese untuk dinikmati.

​Sumatera yang lemah hari ini adalah cermin retaknya amanah di kursi kekuasaan. Pemerintah tidak boleh lagi “bercanda” dengan waktu. Menunda penetapan status darurat dan menahan bantuan masif dengan alasan administratif adalah pelanggaran terang-terangan terhadap perintah Allah.

​Ingatlah, di balik setiap detik keterlambatan, ada hisab panjang yang menanti. Semoga para pemegang kebijakan segera sadar bahwa kursi yang mereka duduki terbuat dari mandat rakyat yang sedang menunggu pertolongan.

10 posts

About author
Mahasiswa S1 Universitas PTIQ Jakarta, Ilmu Al-Qur'an danTafsir.
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya Ulumuddin: Cara Ampuh Mengobati Sifat Pelit

2 Mins read
Kita tahu bahwa penyebab utama manusia memiliki sifat pelit adalah cinta yang berlebihan terhadap harta dunia. Harta sering kali menjadi sumber penyakit,…
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Hakikat Sifat Dermawan: Ngaji Ihya Ulumuddin Bersama Gus Ulil

2 Mins read
Sudah maklum bahwa dalam hal kebutuhan hidup duniawi, manusia cenderung mementingkan diri sendiri. Banyak yang tidak menyadari bahwa pada hakikatnya manusia adalah…
Keislaman

Etika Muslim di Ruang Publik Media Sosial

2 Mins read
Ruang publik saat ini tidak lagi hanya terdiri dari mimbar podium dan ruang rapat, tetapi juga meluas ke media sosial—tempat setiap individu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights