Penulis: Raisul Amin Loamena*
Und Jüngst hörte ich ihn dies Wort sagen: „Gott ist tot: an seinem Mitleiden mit den Menschen ist Gott gestorben“. (Baru-baru ini kudengar kata-kata ini darinya: “Tuhan telah mati: karena belas kasih-Nya kepada manusia, Tuhan telah mati”). — Also Sprach Zarathustra, hlm. 348 (Nietzsche, 2008).
Pendahuluan
Panggung sejarah melalui Renaissance telah membuka lembar kematian Tuhan dan melakukan pembantaian terhadap sejarah panjang ontologis. Lahirnya Renaissance membentuk satu karakter dasar manusia-manusia pemberontak dengan satu iming-iming dan isyarat bahwa manusia merupakan satu makhluk yang memiliki potensi di luar batas.
Paham evolusi Darwin dan paham Humanisme yang mengambil tempat di panggung Renaissance benar-benar melahirkan satu corong kebrutalan manusia. Dari sumbangan evolusi Darwin-lah posisi Tuhan sebagai pencipta alam semesta dengan segala isinya menjadi absurd di mata sebagian besar ilmuwan sains. Sebagaimana yang diungkapkan oleh John F. Haught, evolusi Darwin menghantam persis jantung teologi dengan menyatakan bahwa segala sesuatu yang berada di alam semesta tumbuh berkembang secara evolutif dari hal yang sangat sederhana, secara acak, dan serba kebetulan (Haught, 2002).
Bahkan bagi Graham Ward, teologi adalah bentuk diskursus tentang cita yang diarahkan pada sesuatu yang lain dan mustahil. Sehingga teori evolusi Darwin telah mengubah wajah kehidupan dan melempangkan jalan menuju ateisme.
Sebagaimana yang dicatat oleh Christian Smith dan Robert D. Woodberry dalam esainya yang berjudul Sosiologi Agama, mereka merekam kekhawatirannya melalui ungkapan bahwa “tiga dasawarsa silam, para sosiolog maupun pemikir tidak banyak lagi mencurahkan pemikirannya pada agama sebagai kekuatan paling penting dalam kehidupan sosial, tidak pula agama dipandang sangat signifikan” (Ritzer, 2004).
Melalui studi antropologi Anthony Wallace, Christian Smith dan Robert D. Woodberry merangkum pandangan bahwa “masa depan evolusioner agama adalah kepunahan. Kepercayaan pada makhluk adikodrati dan kekuatan supranatural yang memengaruhi alam tanpa mematuhi hukum-hukum alam akan tergerus dan hanya menjadi kenangan sejarah yang menarik. Kepercayaan pada kekuatan supranatural ditakdirkan punah di seluruh dunia sebagai akibat dari meningkatnya keandalan dan persebaran ilmu pengetahuan ilmiah.”
Era Renaissance yang ditandai dengan ciri khas modernitas dan perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak lagi mampu dibendung menampilkan wajah kejamnya. Di hadapan modernitas, agama dan Tuhan menjadi produk yang tidak laku, layaknya barang bekas yang tidak terjual di pasar harian maupun mingguan.
Agama dan Tuhan yang dulunya merupakan sebuah produk manusia tentang segala keindahan dan keagungan serta menjadikan cinta sebagai kekuatan, kini menjadi puing-puing reruntuhan sisa peradaban yang hanya dibahas apabila diperlukan (Armstrong, 2017). Jika dulu untuk menunjukkan bukti kekaguman terhadap keindahan Tuhan dicurahkan lewat penyembahan, maka di senjakala modernitas, manusia telah menganggap Tuhan dan agama sebagai sumber utama yang membuat manusia celaka dan hidup dalam kemiskinan berkelanjutan.
Abad ke-19 menjadi penanda bahwa konsep Idealisme akhir yang dibangga-banggakan dari Plato di Yunani hingga Hegel seorang filsuf dari Jerman telah sepenuhnya ditamatkan oleh Friedrich Nietzsche. Seorang “anak kemarin sore” dengan begitu mudah mengakhiri masa keemasan dan kejayaan para pemikir terdahulu yang telah mengambil posisi dan kedudukan kuat dalam bingkai sejarah panjang filsafat dan ilmu pengetahuan (Sutarjo, 2013).
Tidak ada lagi Tuhan dan sebutan apa pun itu, kini manusialah yang menjadi pusat alam semesta. Pikiran-pikiran tradisional yang dianut sedemikian rupa seperti takhayul, agama, mitos, maupun metafisika tradisional diseret ke liang lahat untuk dikubur dalam-dalam agar tidak lagi tampak di permukaan bumi. Dengan sebuah aforismenya yang paling terkenal “Gott ist tot”, Nietzsche menegaskan bahwa hari ini Tuhan telah mati dan kita telah membunuh-Nya (Nietzsche, 2022).
Kritik tajam Nietzsche tersebut hadir untuk mengamputasi keyakinan-keyakinan yang membelenggu hidup manusia layaknya seekor unta yang mengangkat beban berat di padang pasir. Dalam karyanya Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche melihat agama sebagai bentuk yang paling sempurna dalam merendahkan harkat dan martabat seorang manusia, serta Tuhan merupakan festival penipuan terbesar dalam panggung sejarah hidup manusia (Nietzsche, 2008).
Sepanjang sejarah hidup manusia, bagi Nietzsche agama dan Tuhan telah membelenggu, mengamputasi, dan mengurung kebebasan berpikir umat manusia, sehingga tidak pernah ditemukan setidaknya satu dalil kuat untuk membela agama ini (Purwanto, 2005). Menurut Nietzsche, keyakinan formal terhadap sosok adikodrati justru hadir dan menuai problematika berkelanjutan, membuat manusia celaka, serta miskin, sehingga menempatkan agama sebagai sesuatu yang sentral terdengar begitu menggelikan. Kebebasan berekspresi dan kebebasan berpikir hampir tidak bisa diungkapkan, baik melalui lisan maupun tulisan.
Bahkan yang lebih buruk, agama telah menghalangi laju perkembangan ilmu pengetahuan. Ketika ilmu pengetahuan terhalang, manusia menjadi makhluk yang tidak berpotensi dan berada di bawah kendali. Oleh karenanya, sebelum manusia masuk lebih jauh dan menanamkan keyakinan itu secara kuat, hal-hal tersebut harus disingkirkan terlebih dahulu—bila perlu dibunuh dan dikubur sedalam-dalamnya, walaupun itu adalah Tuhan.
Untuk lebih memahami pemikiran Nietzsche, kita akan berkenalan terlebih dahulu dengan sosok Nietzsche dan mengintip dapur serta perpustakaan Filsafat Nietzsche di penghujung senjakala modernitas.
Biografi Singkat Nietzsche
Seorang manusia dengan ciri khas kontroversial bernama Friedrich Nietzsche lahir di Röcken, Saksonia, Jerman pada 15 Oktober 1844. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang sangat taat pada agama Kristen. Ayahnya seorang pendeta yang taat, begitupun kakek maupun kakek buyutnya (ayah dari ibunya).
Terlahir dari darah seorang pendeta tentunya mengisyaratkan bahwa dirinya telah dididik secara religius, walaupun kelak ia berambisi ingin membunuh Tuhan. Nietzsche memiliki seorang adik perempuan bernama Elisabeth. Adiknya inilah yang kelak memiliki peran khusus dalam karya-karya Nietzsche yang diterbitkan setelah kematiannya.
Pada tahun 1864, ia mengenyam pendidikan di Universitas Bonn untuk mempelajari teologi dan kesusasteraan klasik Yunani serta melakukan studi tentang filologi klasik. Saat itulah dirinya mulai meninggalkan agama Kristen. Dirinya berkenalan dengan pemikiran Schopenhauer saat menjadi mahasiswa.
Berkenalan dengan pemikiran Schopenhauer melalui karyanya yang berjudul Die Welt als Wille und Vorstellung (Dunia sebagai Kehendak dan Representasi) yang terbit pada tahun 1818 ternyata mengubah arah hidup Nietzsche dari filologi ke filsafat. Di sinilah awal kelana Nietzsche merajut jaring pemikiran filsafat yang menyenangkan.
Selain berkenalan dengan pemikiran Schopenhauer, ia juga mengagumi seorang komponis dari Jerman bernama Richard Wagner (1813–1883). Bahkan pada Januari 1872, Nietzsche menerbitkan buku berjudul The Birth of Tragedy yang secara khusus dipersembahkan untuk sahabatnya tersebut. Dalam lika-liku perjalanan hidupnya, Nietzsche telah menjadi Profesor Filologi Klasik di Universitas Basel, Swiss sejak berumur 24 tahun, walaupun kelak ia mengakhiri jabatannya pada tahun 1879 karena kesehatannya semakin terganggu.
Nietzsche memulai masa pemberontakannya serta “pembantaian” para pemikir terdahulunya pada periode 1876–1878 saat dirinya menulis dan menerbitkan bagian pertama dari karyanya yang berjudul Human, All Too Human (Manusiawi, Terlalu Manusiawi) dengan subjudul “Buku untuk Jiwa yang Bebas”, yang dipersembahkan untuk Voltaire sebagai bentuk pembebasan terhadap kultus idealisme Jerman. Sejak saat itu, dirinya mulai fokus menuliskan pemikiran-pemikirannya yang kontroversial.
Pada Juli 1881, ia menulis tentang catatannya di Sils-Maria, 6.000 kaki di atas permukaan laut dan jauh lebih tinggi dari segala hal manusiawi. Selain itu, dirinya menulis buku indah berjudul The Gay Science (Sains yang Menyenangkan), yang membahas tema-tema besar seperti Zarathustra, Kematian Tuhan, Manusia Unggul (Übermensch), Kehendak untuk Berkuasa (The Will to Power), dan Kekembalian yang Sama secara Abadi (The Eternal Recurrence of the Same) (Nietzsche, 2022).
Di tahun-tahun berikutnya, ia menulis buku di antaranya Thus Spoke Zarathustra, Beyond Good and Evil, On the Genealogy of Morality, The Case of Wagner, Nietzsche contra Wagner, The Antichrist, dan Ecce Homo (Nietzsche, 1896, 1929, 1995, 2004, 2008). Di usianya yang ke-55 tahun (menjelang 56), Nietzsche meninggal dunia akibat pneumonia pada tanggal 25 Agustus 1900. Demikian riwayat singkat hidup Nietzsche.
Mengintip Dapur dan Perpustakaan Pemikiran Nietzsche
Setelah mengulas biografi singkat Nietzsche, kita akan mengintip dapur serta perpustakaan pemikirannya. Sosok Nietzsche adalah sosok yang paling kontroversial di era modernitas. Dalam kurun waktu hidupnya, ia telah menggoyahkan kepercayaan tradisional masyarakat internasional dengan menawarkan pemikirannya yang radikal.
Nietzsche pertama-tama meletakkan posisi manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan tunggal dalam menentukan sikapnya. Namun ternyata kebebasan manusia tidak digunakan sebagaimana mestinya. Dalam nuansa kebebasan, seharusnya manusia bisa melakukan apa pun selama tidak berkaitan langsung dengan merenggut kemanusiaan orang lain. Namun karena ada kepercayaan akan kehidupan akhirat dan Tuhan yang menghukum siapapun yang berbuat dosa, maka kebebasannya dikurung seperti burung merpati yang tidak bisa keluar dari sangkarnya (Aryati, 2018).
Kenyataan tersebut memang terjadi di Abad Pertengahan, yakni kekuasaan gereja seolah-olah mengurung kebebasan manusia. Bahkan ilmu pengetahuan yang tidak sesuai dengan dogma gereja dianggap salah, sehingga pemikir yang mencoba memperkenalkan pemikirannya dianggap melawan Tuhan. Galileo Galilei menjadi satu contoh konkret dominasi iman Kristen yang menutup wajah ilmu pengetahuan (Hidayat, 2014).
Problem teologis, teks Alkitab, dan pengalaman Barat yang trauma terhadap hegemoni gereja selama berabad-abad menjadi faktor utama bagi Nietzsche menolak agama sebagai pengatur. Melihat agama dan Tuhan telah mengurung kebebasan manusia, dirinya lantas meninggalkan keyakinannya.
Saat itulah dia melancarkan serangannya kepada kaum agamawan. Melalui bukunya Thus Spoke Zarathustra, dirinya mengkritik keras tokoh agama melalui karakter Zarathustra (Nietzsche, 2008). Nietzsche mengungkapkan kekesalannya: jika teologi masih membelenggu dan mendominasi aturan serta nilai yang berlaku dalam masyarakat, maka filsafat dan ilmu pengetahuan tidak akan pernah berkembang.
Berdasarkan jejak sejarah Abad Pencerahan, agama secara alami bergerak konservatif, defensif, dan bersekutu dengan kekuasaan elit. Sebagai contoh, Gereja Katolik Prancis di abad ke-18 terbukti konservatif dan elitis (Armstrong, 2017).
Sebagaimana dikutip oleh Muhammad Legenhausen, pada Abad Pertengahan istilah extra ecclesiam nulla salus (tidak ada keselamatan di luar gereja) dan extra ecclesiam nullus propheta (tidak ada nabi di luar gereja) menjadi doktrin harian. Hal itulah yang mendorong Martin Luther menempelkan 95 tesis sebagai bentuk perlawanan terhadap penyimpangan gereja, yang kelak menimbulkan perang antar-pengikut Katolik dan Protestan.
Kenyataan pada abad ke-13 dan seterusnya menampilkan lembaga inkuisisi mendirikan peradilan khusus untuk menghukum dan membakar orang-orang yang dianggap menyimpang (Fitriyana, 2016). Peter de Rosa dalam bukunya Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy mencatat bahwa sikap itu menambah kemunafikan menjadi kejahatan gereja (it merely added hypocrisy to wickedness). Penggunaan penyiksaan dan pembakaran terhadap korban mendorong Nietzsche untuk menegaskan bahwa dominasi keyakinan tersebut harus dibumihanguskan.
Berangkat dari latar belakang tersebut, Nietzsche berkonsentrasi pada pengungkapan eksistensi manusia yang bebas. Pandangan yang berkonsentrasi pada eksistensi manusia meniscayakan bahwa manusia memegang peran sentral, sehingga norma, budaya, maupun agama tidak boleh membelenggu kehidupan manusia. Oleh karenanya, di perpustakaan pemikirannya, Nietzsche dikenal sebagai penganut aliran Nihilisme (Karimuloh, 2003).
Dalam corak pemikiran Nihilisme, orang-orang membaca bahwa ajaran ini menghendaki manusia melepaskan keyakinannya karena keyakinan tidaklah sepenuhnya benar. Namun jika ditinjau berdasarkan konsep pemikirannya, nihilisme mengharuskan manusia memiliki kebebasan dan menggunakannya. Meminjam pemikiran Jacques Derrida bahwa bahasa selalu mengambang dan multitafsir, pemikiran Nietzsche harus dipahami berdasarkan alur sejarah dan konteks keadaan pada waktu itu.
Berbekal argumentasi yang ketat dengan gaya aforisme dalam filsafatnya, Nietzsche mengukur kebebasan manusia baru bisa direalisasikan manakala manusia telah menolak sistem—baik sistem keyakinan, budaya, maupun doktrin tentang roh dan Tuhan. Jika sistem tersebut tidak dilepaskan, manusia akan terbelenggu oleh kondisi moral yang tidak menentu. Menurut Nietzsche, manusia harus terbebas dari makna absolut yang menjamin dirinya dan dunianya melalui penolakan terhadap metafisika lama yang membelenggu kreativitas manusia.
Ia berpendapat bahwa sistem mengekang pikiran, keyakinan, hingga tubuh. Oleh karena itu, gagasannya tentang nihilisme adalah gairah menolak sistem. Hal tersebut tidak hanya terlihat melalui argumentasinya, tetapi juga dari gaya tulisannya yang tidak sistematis dan berwujud aforisme.
Pada buku Der Wille zur Macht (Kehendak untuk Berkuasa) dan Die fröhliche Wissenschaft (Sains yang Menyenangkan), Nietzsche membuka gagasannya tentang nihilisme (Nietzsche, 2022). Apa yang dahulu dianggap bernilai, absolut, dan sakral kini mulai pudar dan runtuh. Nihilisme meliputi dua bidang utama: keagamaan (termasuk Tuhan dan moral) serta ilmu pengetahuan. Runtuhnya dua bidang ini membuat manusia kehilangan jaminan absolut, mengantarkan manusia pada situasi krisis.
Runtuhnya absolutisme akibat perkembangan nihilisme Nietzsche melahirkan kecenderungan voluntarisme (kebebasan berkehendak) (Munir, 1997, 2006). Konsep ini beririsan dengan pemikiran Arthur Schopenhauer (1788–1868) yang menyatakan bahwa kehendak merupakan energi dorong utama untuk hidup.
Schopenhauer menuturkan bahwa kesadaran hanyalah sebagian kecil dari hakikat manusia; hakikat utamanya adalah kehendak (dorongan, insting, emosi). Rasio hanya merupakan lapisan atas. Watak manusia ditentukan oleh kehendaknya yang bekerja tanpa henti. Bagi Schopenhauer, kehendak menjadi daya hidup bagi manusia dan alam semesta (kehendak untuk hidup).
Di perpustakaan Nietzsche, argumentasi Schopenhauer direifikasi menjadi kehendak untuk berkuasa (the will to power). Nietzsche menuturkan bahwa manusia tidak hanya memiliki kehendak untuk hidup, tetapi juga kehendak untuk berkuasa. Untuk membentengi argumentasinya, Nietzsche meniadakan segala sesuatu yang berkuasa di luar dirinya, termasuk Tuhan. Dengan kehendak berkuasa inilah manusia bisa menjadi manusia unggul (Übermensch) (Pradnyayanti & Safira, 2021; Safi’i, 2020).
Bagi Nietzsche, manusia bukanlah makhluk yang bersumber dari supranatural, sehingga yang penting dalam diri manusia adalah badannya, bukan jiwanya. Kekuatan fisik dibutuhkan agar manusia tumbuh lebih baik. Berdasarkan kekuatannya, manusia terbagi ke dalam dua kelompok: bermoral budak (Herdenmoral) dan bermoral tuan (Herrenmoral). Sebagai konsekuensi untuk menciptakan tipe manusia unggul, tujuan hidup manusia adalah untuk berkuasa dengan prasyarat mengubah sistem atas kemampuan sendiri dan mengenal diri sendiri secara objektif.
Dalam melacak kebenaran pada zamannya, Nietzsche melihatnya sebagai kebenaran metafora atau ilusi (Tandyanto, 2015). Dominasi wilayah keyakinan saat itu dianggap sebagai kebenaran final, padahal menurut Nietzsche, kebenaran tersebut hanyalah pengalihan (antropomorfisme) terhadap realitas. Kebenaran adalah ilusi yang telah dilupakan bahwa ia adalah ilusi.
Demikianlah Nietzsche. Di “dapur” pribadinya, ia dididik oleh keluarga pendeta Kristen. Namun, ia menyeret pembicaraan mengenai Tuhan ke “perpustakaan terbuka” agar dapat diperdebatkan secara objektif. Melalui pengujian tersebut, ia menyimpulkan bahwa dogma agama sering menjadi sumber penderitaan dan pengekangan. Solusinya, manusia harus bersikap bebas, lepas dari belenggu adikodrati, dan mencapai keunggulan diri menggunakan rasionya sendiri.
Menuju Gerbang Akhir Senjakala Modernitas: Pembunuhan Tuhan dan Pembantaian Ontologis Nietzsche
Modernisme merupakan anak kandung dari era Renaissance. Istilah Renaissance (bahasa Prancis) berasal dari kata rinascita (bahasa Italia) yang artinya kelahiran kembali, pertama kali diperkenalkan oleh Giorgio Vasari pada abad ke-16 untuk menggambarkan semangat kesenian Italia abad ke-14 hingga ke-16 yang bernapaskan kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno (Sutarjo, 2013).
Renaissance bukan sekadar kelahiran kembali kebudayaan kuno, melainkan kebangkitan kesadaran manusia sebagai individu rasional, otonom, serta memiliki kehendak bebas dan tanggung jawab. Manusia mandiri merupakan prototipe manusia modern yang berani memandang dirinya sebagai pusat alam semesta (antroposentris), bukan Tuhan (teosentris). Semboyan memento mori (ingatlah bahwa engkau akan mati) digantikan dengan carpe diem (nikmatilah kesenangan hidup).
Hubungan erat antara Renaissance dan modernitas telah mengikis keyakinan atas kuasa adikodrati. Di akhir senjakala modernitas, diskursus mengenai Tuhan dan agama yang dibicarakan sejak era Plato berakhir mengenaskan. Jauh sebelum era modern, pertanyaan ontologis mengenai apa yang ada dan apakah Tuhan itu ada dijawab melalui mitos dan teologi. Namun di era modern, pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab secara metodologis oleh ilmu pengetahuan, yang juga dipengaruhi oleh teori evolusi Darwin.
Paham evolusi Darwin dan Humanisme melahirkan corak pemikiran baru. Sebagaimana diungkapkan oleh John F. Haught, evolusi Darwin menghantam jantung teologi dengan menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta berkembang secara evolutif dari hal yang sederhana, secara acak, dan serba kebetulan (Haught, 2002). Bagi Graham Ward, teologi menjadi diskursus tentang cita-cita yang mustahil, sehingga teori evolusi membuka jalan lebar menuju ateisme (Francis, 2006).
Dalam teori evolusi, worldview berubah secara radikal melalui dua istilah utama: seleksi alam (natural selection) dan yang paling fit yang akan bertahan (survival of the fittest). Walaupun istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Herbert Spencer, diskursus evolusi meledak setelah dipopulerkan oleh Charles Darwin. Darwin dianggap memisahkan Tuhan dari tindakan penciptaan langsung.
Abad ini memberikan keyakinan penuh bahwa pertanyaan ontologis tentang Tuhan telah bergeser. Sebagaimana komentar Michel Foucault dalam sebuah wawancara mengenai kematian Tuhan dan pembantaian ontologis:
“…Manusialah yang akhirnya menyadari kebebasannya; kematian Tuhan menandai berakhirnya metafisika, walaupun pada akhirnya Tuhan tidak digantikan oleh manusia, dan ruang itu tetap kosong” (Foucault, 1999).
Referensi
- Anam, N. Dekonstruksi God-Consciousness Tuhan New Nietzsche Di Abad Post-Tuhan (Abad Kematian Massal Tuhan). Al-‘Adâlah, 14.
- Armstrong, K. (2017). Fields of Blood: Mengurai Sejarah Hubungan Agama dan Kekerasan. Mizan Pustaka.
- Aryati, A. (2018). Memahami Manusia Melalui Dimensi Filsafat (Upaya Memahami Eksistensi Manusia). El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis, 7(2), 79-94.
- Fitriyana, N. F. N. (2016). Inkuisisi Gereja Katolik Terhadap Umat Islam di Spanyol. Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena Agama, 17(2), 213-230.
- Foucault, M. (1999). Agama, Seksualitas, Kebudayaan: Esai, Kuliah Dan Wawancara Terpilih Michel Foucault. (Ed. Jeremy R. Carrete). Yogyakarta: Jalasutra.
- Francis, K. A. (2006). Charles Darwin and the Origin of Species. Bloomsbury Publishing USA.
- Haught, J. F. (2002). God After Darwin: Tuhan Sesudah Darwin, Teologi Evolusioner.
- Heelas, P. (2003). Tentang Diferensiasi dan Dediferensiasi: Sebuah Kata Pengantar. Dalam P. Heelas, dkk. (Ed.), Agama Sudah Mati?. Jakarta: Mediator.
- Hidayat, S. (2014). Sacred Science vs. Secular Science: Carut Marut Hubungan Agama dan Sains. Kalam, 8(1), 87-102.
- Karimuloh, A. (2003). Kritik Nietzsche Terhadap Metafisika Dalam Pemikiran Filsafat.
- Mas’udi, M. Posmodernisme Dan Polemik Keberagamaan Masyarakat Modern (Antitesis Posmodernisme Atas Dinamika Kehidupan Modernisme). Fikrah, 2(2), 61-70.
- Misbahuddin, M. G. Metafisika: Nasr dan Nietzsche (Studi Komparasi) (Skripsi Sarjana).
- Munir, M. (1997). Filsafat Voluntarisme. Jurnal Filsafat, 1(1), 15-24.
- Munir, M. (2006). Voluntarisme (Filsafat Kehendak) dalam Filsafat Barat. Jurnal Filsafat, 16(3), 309-321.
- Muslih, M. (2018). Konsep Tuhan Nietzsche dan Pengaruhnya terhadap Pemikiran Liberal. Kalimah: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, 16(2), 136-157.
- Nietzsche, F. (1896). The Case of Wagner: The Twilight of the Idols; Nietzsche Contra Wagner; The Antichrist (Vol. 11). Macmillan & Company.
- Nietzsche, F. (1929). Beyond Good and Evil. Modern Library.
- Nietzsche, F. (1995). On the Genealogy of Morality. Cambridge University Press.
- Nietzsche, F. (2004). Ecce Homo (1888). Dalam On the Genealogy of Morals and Ecce Homo (hlm. 197-344).
- Nietzsche, F. (2008). Thus Spoke Zarathustra: A Book for Everyone and Nobody. Oxford University Press.
- Nietzsche, F. (2022). The Gay Science. DigiCat.
- Pradnyayanti, L. P. S., & Safira, D. M. A. I. (2021). Kehendak Untuk Berkuasa Dan Manusia Unggul Dalam Perspektif Friedrich Nietzsche. Vidya Darsan: Jurnal Mahasiswa Filsafat Hindu, 2(2), 143-150.
- Purwanto, M. R. (2005). Filsafat Eksistensial Nietzsche dan Wacana Agama: Studi Filsafat Nietzsche dan Kontribusinya dalam Dekonstruksi Wacana Agama.
- Ritzer, G. (2004). Teori Sosiologi Modern. Pustaka Pelajar.
- Safi’i. (2020). Memahami Konsep Manusia Unggul Versi Friedrich Nietzsche dan Muhammad Iqbal. SeAP (Southeast Asian Publishing).
- Sutarjo, A. R. (2013). Sejarah Pemikiran Barat: Dari yang Klasik Sampai yang Modern. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
- Tandyanto, Y. (2015). Membaca ‘Kebenaran’ Nietzsche. Melintas, 31(2), 130-153.
*) Penulis adalah mahasiswa aktif Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) Universitas Muhammadiyah Bima. Selain berfokus pada studi Ilmu Hukum Tata Negara, ia juga aktif menulis opini dan artikel filsafat.

