Suatu sore yang sunyi, di sebuah ruang tahanan yang sempit, seorang ulama duduk dengan tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada amarah yang meledak-ledak. Padahal, ia sedang dipisahkan dari kebebasannya, dari mimbar, dan dari ruang dakwah yang dicintainya. Namanya Buya Hamka.
Bagi sebagian orang, penjara adalah tempat meluapkan dendam. Namun, bagi Hamka, penjara justru menjadi ruang sunyi untuk berbicara lebih jujur—dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan. Dari ruang itulah lahir tulisan, tafsir, dan doa. Ia tetap berbicara, bukan dengan suara keras, melainkan dengan kejernihan hati.
Tahun-tahun berlalu. Sejarah mencatat satu peristiwa yang membuat banyak orang terdiam: Hamka diminta menjadi imam salat jenazah orang yang dahulu memenjarakannya. Banyak yang menunggu penolakan, atau setidaknya sindiran. Namun, Hamka datang, memimpin salat, dan pulang tanpa pidato apa pun. Pada momen itu, sikap berbicara lebih lantang daripada kata-kata.
Di situlah tampak bahwa seni bicara tidak selalu hadir dalam bentuk ucapan. Terkadang, ia hadir sebagai sikap, sebagai diam yang penuh makna.
Buya Hamka memahami satu hal penting: kata-kata adalah cermin batin. Jika hati dipenuhi ego, kata akan melukai. Jika hati jernih, kata akan menenangkan. Karena itu, dalam ceramah maupun tulisan-tulisannya, Hamka tidak pernah terburu-buru menghakimi.
Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka tidak sekadar menjelaskan ayat, tetapi mengajak pembaca berjalan pelan-pelan. Bahasanya sederhana, namun tetap dalam. Ia menulis seolah sedang berbincang—bukan menggurui dari atas mimbar. Kebenaran disampaikan dengan adab, bukan dengan paksaan.
Bagi Hamka, berbicara bukan tentang menunjukkan siapa yang paling benar, melainkan tentang bagaimana kebenaran bisa diterima tanpa melukai hati.
Tidak banyak tokoh yang mampu menjaga tutur kata ketika dirinya disakiti. Hamka adalah pengecualian. Ia difitnah, disingkirkan, bahkan dipenjara. Namun, ia tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk mengeraskan bahasa. Prinsip hidupnya sejalan dengan firman Allah Swt.:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Hamka tidak hanya mengutip ayat ini, tetapi menghidupkannya. Ia paham bahwa kebenaran yang disampaikan dengan emosi hanya akan melahirkan penolakan. Maka, ia memilih hikmah, bahkan ketika situasi memberinya alasan untuk marah.
Di tengah dunia digital hari ini—ketika komentar lebih cepat daripada pemikiran, dan opini lebih lantang daripada perenungan—teladan Buya Hamka terasa semakin relevan. Media sosial sering kali menjadikan kata sebagai senjata, bukan sebagai jembatan. Dalam situasi seperti ini, seni bicara ala Hamka mengajarkan pentingnya menahan diri, memilih kata, dan menyadari bahwa setiap tulisan meninggalkan jejak.
Bagi mahasiswa dan generasi muda yang aktif di ruang publik, teladan Hamka adalah pengingat bahwa dakwah dan komunikasi tidak selalu harus keras agar didengar. Justru ketenangan, empati, dan kejujuran batin sering kali lebih sampai ke hati.
Namun, pelajaran dari Hamka tidak berhenti pada soal kelembutan bahasa. Ia juga mengajarkan keberanian moral dalam berbicara. Lembut bukan berarti takut; tenang bukan berarti diam terhadap ketidakadilan. Dalam banyak tulisannya, Hamka tetap tegas menyampaikan sikap, tetapi tanpa kehilangan adab. Ia mengkritik tanpa mencaci, menasihati tanpa merendahkan.
Inilah keseimbangan yang jarang dimiliki: antara keberanian menyampaikan kebenaran dan kerendahan hati dalam menyampaikannya. Hamka sadar bahwa kata-kata yang lahir dari kesombongan hanya akan memancing perlawanan, sementara kata-kata yang lahir dari kejujuran batin akan menemukan jalannya sendiri ke dalam hati manusia.
Buya Hamka telah lama berpulang, tetapi kata-katanya masih hidup. Bukan semata karena indahnya bahasa, melainkan karena ketulusan dan keluasan jiwanya. Ia menunjukkan bahwa bicara yang baik bukan lahir dari kepintaran, tetapi dari kematangan hati.
Di dunia yang semakin bising, seni bicara ala Buya Hamka mengajak kita untuk kembali pelan-pelan: menjaga niat, memilih kata, dan menjadikan lisan—baik lisan nyata maupun lisan digital—sebagai jalan kebaikan, bukan sumber luka.

