Siapa yang tidak mengenal istilah self-love? Istilah yang kerap disandingkan sebagai bentuk mencintai diri ini telah menjadi teman akrab bagi kalangan anak muda. Di media sosial, pembahasan mengenai self-love telah menjadi konsumsi sehari-hari, baik melalui kutipan (quotes) motivasi di Instagram atau konten TikTok yang mudah diakses kapan saja.
Dalam pandangan psikologi, self-love diibaratkan sebagai fondasi dasar dari kesehatan mental yang baik. Ia merupakan titik pulih seseorang setelah menghadapi tantangan hidup seperti tekanan emosional, pikiran negatif, serta rasa tidak nyaman yang berimbas pada disfungsi harga diri dan kepercayaan diri.
Menurut Fahruddin Faiz, mencintai diri merupakan suatu strategi yang dimiliki untuk bisa menerima diri, bangga terhadap diri, dan merasa puas terhadap diri sendiri. Maknanya, dari tiga elemen inilah self-love akan terbentuk.
Ia juga menerangkan bahwa self-love dipahami sebagai cinta kepada diri sendiri yang merupakan kunci dari datangnya maslahat. Sebab, sebelum menebar cinta terhadap orang lain, lebih sopan lagi apabila kita memprioritaskan cinta kepada diri sendiri terlebih dahulu. Jika pengorbanan diri selalu diberikan kepada orang yang dicintai, seharusnya pengorbanan juga diberikan pada diri sendiri demi kesuksesan, keberhasilan, dan kesejahteraan hidup.
Secara tekstual, hal ini memang terlihat sederhana dan mudah untuk dijalankan. Namun, di tengah tekanan zaman yang progresif, terkadang situasi ini bergeser menjadi sebuah kesukaran. Hidup tak selamanya memihak; muncul rasa kecewa, marah, rasa tidak puas, dan banyak kegelisahan lainnya.
Secara filosofis, mencintai diri artinya meletakkan batasan diri. Gejolak emosi yang dialami tentunya valid untuk diakui, namun yang kurang dibenarkan adalah perilaku yang berlarut-larut di dalamnya. Begitu pun dengan self-love, cinta terhadap diri itu baik dan penting, namun tetap saja perilaku baik juga memiliki batas kenormalan.
Sebagian anak muda banyak yang belum menyadari makna dari self-love. Mereka mencampuradukkan self-love dengan indikasi perilaku yang berlebihan, seperti mengagumi diri secara berlebihan, serta kebanggaan dan pujian diri yang ekstrem. Alih-alih mencintai diri, mereka justru menampakkan sikap sombong serta merasa diri paling benar.
Fenomena ini marak terjadi, dipicu oleh media sosial yang memberikan ruang bebas untuk berekspresi sedrastis mungkin. Akhirnya, mereka pun hanyut dalam arus narsistik.
Baik self-love maupun narsistik memang sulit untuk dibedakan karena memiliki pola yang sekilas serupa, yakni memberikan perhatian terhadap diri sendiri. Rasa kagum, perasaan berharga, dan citra positif merupakan bagian dari self-love. Namun secara psikologis, self-love tidaklah sama dengan narsistik. Narsistik cenderung menggambarkan gaya yang berlebihan. Meski mencintai diri tergolong manusiawi, jika sampai melewati batas wajar, ia akan bergeser menjadi narsistik.
Seseorang dengan kepribadian narsis cenderung membutuhkan apresiasi dari orang lain. Kondisi ini disebut sebagai kemunduran harga diri. Sorotan yang menilai diri secara negatif, penolakan sosial, tekanan pola asuh, serta usaha atau pencapaian yang tidak pernah diapresiasi menjadi awal terbentuknya low self-esteem.
Dengan ketimpangan ini, seseorang cenderung akan mencari pengakuan melalui beragam cara. Artinya, ia yang narsis tidak mampu memberdayakan dirinya sendiri. Ia sangat bergantung pada orang lain untuk meningkatkan kepercayaan diri dan memodifikasi pola pikir agar senantiasa terlihat unik dan menjadi sorotan sosial.
Berbeda dengan self-love, konsep cinta diri ini justru menekankan seseorang untuk bersandar pada diri sendiri. Artinya, ia tidak terlalu membutuhkan penilaian orang lain. Dirinya sudah menjadi teman akrab untuk bisa merasa bangga, merasa dicintai, dan diperhatikan.
Narsistik lebih dari sekadar cinta terhadap diri. Theodore Millon, melalui pendekatan biososialnya, memandang individu yang narsis cenderung menganggap dirinya istimewa, paling penting, dan merasa dibutuhkan. Pola pikir seperti ini menimbulkan kekecewaan apabila ia memperoleh perlakuan yang biasa saja.
Ciri lain yang diungkapkan Millon ialah dunia alam bawah sadar. Orang yang narsis cenderung memiliki dunia yang ia ciptakan sendiri berdasarkan pikiran-pikirannya. Kehadiran dunia ini menciptakan realitas baru yang terlihat superior, cerdas, bahkan mendekati kata sempurna. Manifestasi dari dunia ini merupakan caranya untuk menyembunyikan “ruang kosong” yang muncul akibat ketidakselarasan dengan orang lain. Dengan begitu, orang narsis bisa tetap mempertahankan idealismenya untuk tetap sempurna bagi dirinya sendiri.
Lebih jauh lagi, Millon menegaskan bahwa narsis sebenarnya adalah gangguan kepribadian yang terlalu berpusat pada diri sendiri (self-centered). Seolah-olah dunia hanya berputar pada dirinya dan ia menjadi anti-kritik. Apabila ada yang mengkritik, ia akan merasa harga dirinya ditindas.
Sangat bersinggungan dengan self-love, bukan? Ia yang cinta pada dirinya sejatinya sadar bahwa ia adalah insan yang memiliki kekurangan dan kelebihan. Sehingga, kritikan dianggap sebagai bentuk terima kasih serta pengingat bagi dirinya untuk senantiasa bermuhasabah diri, bukan justru menganggap diri paling benar.
Tidak adanya rasa empati juga mencerminkan perilaku narsis ini. Ia memanfaatkan relasi sosial hanya untuk kepentingan pribadi: menambah popularitas, serta merasa senang apabila orang lain menyanjung dirinya. Oleh karenanya, bercengkerama dengan orang narsis artinya bersiap untuk menguras mental. Berhati-hatilah sebab ia tidak akan pernah peka.
Lain lagi dengan self-love, ia merupakan empati itu sendiri, baik terhadap diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Orang yang tulus mencintai diri, timbal baliknya akan dicintai orang lain. Konsep ini selaras dengan peribahasa “apa yang kita tanam, maka itulah yang kita tuai”. Pengakuan mencintai orang lain dimulai dari bagaimana kita mencintai diri serta peka terhadap diri sendiri.
Namun, yang perlu digarisbawahi ialah self-love tidak ditafsirkan sebagai upaya menjadi sombong. Meskipun seseorang menganggap dirinya hebat, hal itu tidak mengarah pada sikap angkuh. Ia membentuk dirinya melalui kebaikan cinta itu sendiri, lalu menebarkannya kepada orang lain.
Berbicara mengenai self-love dan narsistik sungguh tidak akan ada habisnya. Dua kepribadian ini patut dieksplorasi secara seksama agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun paradoks yang mengatasnamakan self-love, padahal sebenarnya sedang melakukan kenarsisan.
Adapun strategi dari Fahruddin Faiz untuk merefleksikan self-love adalah:
- Jadilah pribadi yang pemaaf, baik memaafkan diri sendiri, masa lalu, maupun orang lain.
- Bertindak sesuai kebutuhan. Orang yang bertindak hanya sesuai kemauan biasanya tidak akan pernah bahagia dan malah menstimulasi perilaku narsis.
- Memperhatikan pergaulan. Pentingnya memperhatikan dengan siapa kita berteman dapat meminimalisir terjadinya sifat narsistik.
- Mengapresiasi diri. Hal ini diperlukan, namun kembali lagi pada standar kebutuhan diri yang sewajarnya.

