Pendidikan merupakan sarana utama dalam membentuk cara berpikir dan pemahaman peserta didik terhadap ilmu pengetahuan. Namun, dalam praktiknya sering ditemukan tantangan ketika proses evaluasi pembelajaran lebih menekankan pada hafalan dibandingkan pemahaman yang mendalam.
Padahal, evaluasi kognitif seharusnya mampu menggambarkan sejauh mana peserta didik dapat memahami, mengolah, serta menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Berbagai kajian pendidikan menegaskan bahwa pembelajaran yang efektif harus didukung dengan evaluasi yang sistematis dan berjenjang agar perkembangan kognitif peserta didik dapat terpantau dengan baik.
Prinsip ini sejatinya telah dikenal dalam tradisi pendidikan Islam, di mana proses penyampaian ilmu tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada cara membangun pemahaman yang mendalam dan bermakna.
Salah satu rujukan yang sangat relevan dengan persoalan tersebut dapat ditemukan dalam hadis tentang dialog Nabi Muhammad saw. dengan Malaikat Jibril yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari.
Hadis ini tidak hanya membahas ajaran pokok tentang iman, Islam, dan ihsan, tetapi juga menampilkan metode pembelajaran yang terstruktur melalui metode tanya jawab. Hal ini menunjukkan adanya proses pengujian pemahaman yang sejalan dengan konsep evaluasi kognitif dalam pendidikan modern.
Untuk melihat secara langsung bagaimana dialog tersebut berlangsung dan nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya, berikut disajikan bunyi hadis sebagaimana tercantum dalam Shahih Bukhari:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ مَا الْإِيمَانُ قَالَ الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ قَالَ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ تَلَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ } الْآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ جَعَلَ ذَلِك كُلَّهُ مِنْ الْإِيمَانِ
(HR. Shahih Bukhari No. 48)
Terjemahan:
Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] berkata: Telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Ibrahim] telah mengabarkan kepada kami [Abu Hayyan At Taimi] dari [Abu Zur’ah] dari [Abu Hurairah] berkata: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari muncul kepada para sahabat, lalu datang Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam yang kemudian bertanya: “Apakah iman itu?” Beliau menjawab: “Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari berbangkit.” (Jibril ‘Alaihis salam) berkata: “Apakah Islam itu?” Beliau menjawab: “Islam adalah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun, kamu dirikan shalat, kamu tunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa di bulan Ramadan”. (Jibril ‘Alaihis salam) berkata: “Apakah ihsan itu?” Beliau menjawab: “Kamu menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya dan bila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu.” (Jibril ‘Alaihis salam) berkata lagi: “Kapan terjadinya hari kiamat?” Beliau menjawab: “Yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari yang bertanya. Tapi aku akan terangkan tanda-tandanya, (yaitu): jika seorang budak telah melahirkan tuannya, jika para penggembala unta yang berkulit hitam berlomba-lomba membangun gedung-gedung selama lima masa, yang tidak diketahui lamanya kecuali oleh Allah.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: {Sesungguhnya hanya pada Allah pengetahuan tentang hari kiamat} (Luqman: 34). Setelah itu Jibril ‘Alaihis salam pergi, kemudian beliau berkata: “Hadapkan dia ke sini.” Tetapi para sahabat tidak melihat sesuatupun, maka Nabi bersabda: “Dia adalah Malaikat Jibril datang kepada manusia untuk mengajarkan agama mereka.” Abu Abdullah berkata: “Semua hal yang diterangkan Beliau dijadikan sebagai iman.” (HR. Shahih Bukhari No. 48).
Analisis dan Implementasi dalam Pendidikan
Jika dicermati lebih dalam, hadis tentang dialog Nabi Muhammad saw. dengan Malaikat Jibril tidak hanya berbicara tentang ajaran agama Islam, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana kita sebagai insan pembelajar memahami ilmu.
Dialog dalam hadis ini menjadi pengingat bagi realitas pendidikan di era sekarang, di mana peserta didik sering kali dihadapkan pada materi yang rumit tanpa diajak memahami esensinya secara mendalam. Dalam hadis ini, kita justru melihat sebuah proses pembelajaran bertahap.
Malaikat Jibril tidak menyampaikan informasi secara langsung (ceramah), melainkan mengajukan pertanyaan (metode inkuiri) dari yang paling dasar. Sementara itu, Nabi Muhammad saw. menjawab dengan penjelasan yang jelas dan runtut sehingga bisa dipahami oleh para sahabat.
Urutan pembahasan iman, Islam, dan ihsan seolah mengingatkan kita bahwa belajar tidak bisa dilakukan secara instan. Pemahaman tentang suatu ilmu harus dibangun dari dasar yang kuat sebelum melangkah ke tingkatan yang lebih tinggi.
Iman menjadi fondasi keyakinan, Islam menjadi wujud nyata keimanan seseorang yang dibuktikan dalam perbuatan, dan ihsan menjadi kesadaran batin yang mengarahkan sikap serta perilaku seseorang.
Urutan ini sangat relevan jika diterapkan pada pembelajaran masa kini. Siswa sering kali dituntut untuk menghafal banyak hal, tetapi kurang diajak untuk berpikir kritis. Dalam sesi pembelajaran, guru tak jarang lebih sering menyampaikan materi dengan metode ceramah satu arah yang membuat siswa jenuh.
Hadis ini seakan mengkritik cara belajar yang terburu-buru, yang seolah-olah hanya mengejar nilai akademis tanpa melihat kualitas pemahaman peserta didik. Seharusnya, para guru mengajarkan siswanya untuk berpikir kritis—aspek yang nyatanya sering terlupakan dalam proses pendidikan.
Dalam pembelajaran, peserta didik tidak hanya mencari jawaban benar atau salah dalam soal pilihan ganda, tetapi perlu diberi ruang untuk berpikir, bertanya, dan merenung dari materi yang sudah disampaikan.
Oleh karena itu, nilai-nilai yang terkandung dalam hadis ini dapat diimplementasikan dalam proses pembelajaran dan evaluasi di sekolah. Guru dapat menyusun materi pelajaran secara bertahap (scaffolding), dimulai dari materi dasar sebelum menuju materi yang lebih kompleks.
Misalnya, dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, siswa terlebih dahulu memahami makna iman, kemudian mempelajari praktik ibadah dalam Islam, dan selanjutnya diajak memahami nilai ihsan dalam kehidupan sehari-hari.
Evaluasinya pun harus disusun berjenjang, bisa dimulai dari soal esai untuk mengetahui pemahaman dasar hingga tugas praktik yang bisa diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.
Dalam praktik evaluasi pembelajaran, guru dapat menerapkan prinsip Taksonomi Bloom dengan menyusun soal yang tidak hanya menguji hafalan (C1), tetapi juga menguji pemahaman dan penerapan (C2-C3).
Contohnya, siswa tidak hanya diminta menyebutkan rukun iman, tetapi mereka juga diminta menjelaskan bagaimana keimanan dapat tercermin dalam kehidupan mereka.
Jika nilai-nilai dalam hadis ini diterapkan dalam pendidikan, evaluasi tidak lagi sekadar alat memberi nilai, tetapi menjadi sarana untuk mengukur sejauh mana peserta didik benar-benar belajar.
Siswa tidak hanya dinilai dari apa yang mereka hafal, tetapi dari bagaimana mereka memahami, menghubungkan, dan menerapkan pengetahuan tersebut. Dengan cara inilah pendidikan menjadi lebih bermakna dan mampu membentuk pribadi siswa yang memiliki akhlakul karimah.
Referensi
Hadis Tazkia. “Shahih Bukhari: 48.” hadits@tazkia.ac.id. Diakses dari https://hadits.tazkia.ac.id/search/hadits?q=shahih+bukhari+48.
Mahmudi, Ihwan, Muh. Zidni Athoillah, Eko Bowo Wicaksono, dan Amir Reza Kusuma. “Taksonomi Hasil Belajar Menurut Benyamin S. Bloom.” Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) 2, no. 9 (2022): 3507–14.
Tamrin, dan Faridathul Munawwarah. “Tekhnik Dan Instrumen Assessmen Ranah Kognitif Peserta.” AL-LIQO: Jurnal Pendidikan Islam 4, no. 1 (2019): 121–39.

