Esai

Refleksi Milad ke 58 Tahun IMM: Bagaimana Menguatkan Kemandirian Kader?

2 Mins read
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merayakan miladnya 14 maret ini. Sejak berdiri pada 14 Maret 1964, berarti ikatan ini telah memasuk usianya ke 58 tahun. Usia yang tidak lagi muda, sudah banyak hal yang ditorehkan dan diberikan tentunya dalam sumbangsih mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah dan ikut andil dalam menumbuhkan sumberdaya manusia bangsa Indonesia.
Dalam miladnya ke 58 tahun ini IMM mengusung tema “Menguatkan Kemandirian” sebuah tema yang sangat relevan dengan keadaan pergerakan mahasiswa hari ini. Keadaan yang dirasa sangat urgen untuk menjadi perhatian bersama, bahwa mahasiswa atau kader hari ini haruslah memperhatikan kemandirian dalam setiap aspek kehidupan. Jangan sampai kader berpangku tangan, malas, lemah dan dan berputus asa dalam setiap keterbatasan.

Bill Gates pernah berkata, “Kalau Anda lahir miskin, itu bukan salah Anda, tapi kalau Anda meninggal miskin, pasti itu karena salah Anda sendiri” (Bill Gates). Kata miskin dalam quote dari Bill Gates tersebut berlaku dalam semua aspek kehidupan kita. 

Bisa berarti miskin iman, miskin ilmu, miskin keterampilan, miskin ibadah, miskin amal saleh, miskin kesehatan, miskin wawasan, miskin kebahagiaan, miskin semangat melayani, miskin percaya diri, miskin sikap positif, miskin semangat/antusiasme, miskin kesabaran, miskin bersyukur, miskin kerendahan hati, miskin keikhlasan, miskin silaturahmi, miskin kemandirian dan sebagainya.
Padahal Baginda Nabi Muhammad SAW sudah berpesan kepada kita “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah” (HR. Muslim). Artinya Nabi Muhammad sendiri menganjurkan kita untuk menguatkan kemandirian. Dan Allah pun memerintahkan kita untuk mandiri “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11) 

Kuntowijoyo berpendapat, bahwa Masalah pokok yang dihadapi bangsa adalah kemiskinan dan kesenjangan. Al-Quran menyebut kemiskinan dengan dhuafa (lemah) dan kesenjangan dengan mustadhafin (teraniaya). Maka tugas kita sebagai kader Muhammadiyah sekaligus kader bangsa adalah merubah keadaan tersebut. Berikhtiar semampu mungkin untuk meningkatkan perekonomian bangsa, minimalnya keadaan ekonomi keluarga.

Kita harus mengambil pelajaran dari pengajaran yang diberikan Allah kepada Siti Maryam. Bagaimana dekatnya Allah kepadanya (Maryam), tetap Allah memintanya untuk berikhtiar agar bisa mendapatkan rezeki. Allah SWT berfirman kepadanya, “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam [19]: 25)

Dengan menguatkan kemandirian, harapannya kader dapat istiqamah untuk berjuang menjadi “Khoirul ummah”, yang dia bermanfaat bagi semua manusia. Selain itu, dengan kemandirian pula seorang kader dapat memegang idealismenya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. 

Ia tidak mudah terbeli dengan tawaran-tawaran remeh yang menjatuhkan harkat martabat dirinya. Karena bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki integritas. Selain mempuni dalam Religiusitas, Intelektualitas dan memiliki jiwa Humanitas, juga harus selesai dengan kemandirian dalam segala aspek kehidupan.
Baca...  Ilmu Kalam Terhadap Persoalan Radikalisme dan Sekularisme
2562 posts

About author
Kuliah Al Islam - Mencerdaskan dan Mencerahkan
Articles
Related posts
EsaiKeislamanPendidikan

KHGT dan Masa Depan Ummat: Antara Benteng Waktu dan Navigasi Ummat di Akhir Zaman

2 Mins read
Oleh Achmad P Nugroho* KULIAHALISLAM.COM-Salah satu yang menjadi rujukan Muhammadiyah dalam melakukan puasa 1 ramadhan 1447 H pada 18 Februari 2026 adalah…
Esai

Pati Unus: Kisah Pangeran Sabrang Lor dan Perjuangan Melawan Portugis

2 Mins read
Pati Unus, yang dikenal luas dengan julukan Pangeran Sabrang Lor, merupakan salah satu tokoh sentral dalam sejarah Kerajaan Demak. Ia adalah putra…
Esai

Menciptakan Habitus Membaca: Belajar dari Teori Pierre Bourdieu

3 Mins read
Guru saya, Romo Haryatmoko SJ, mengisahkan sahabatnya. Mereka berdua bertemu di suatu pameran buku. Sahabatnya itu membawa anaknya yang masih berusia tujuh…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights