Esai

Peradaban Negeri Tetangga : New Zealand (1)

3 Mins read

Saat mendengar kata New Zealand, hal yang terbayang adalah sebuah negara damai yang dipenuhi oleh domba. Hal itu tidak salah, karena populasi domba di sana memang jauh lebih banyak daripada penduduknya. Populasi dombanya sekitar 10.000.000 ekor, sedangkan penduduknya hanya 4.000.000 jiwa.

​Untuk urusan kedamaian pun tak perlu diragukan. Temanku memilih tinggal di sana juga karena jatuh cinta dengan kedamaiannya. 17 tahun yang lalu, ia memutuskan untuk meninggalkan Indonesia beserta segala kenyamanannya. Baju berdasi sebagai seorang manajer perusahaan asing pun ia tinggalkan. Ia memboyong kedua anaknya yang masih duduk di kelas 1 dan 4 Sekolah Dasar (SD). Sementara sang istri tetap tinggal di Jakarta dan bolak-balik Indonesia–New Zealand setiap 3 bulan sekali.

​Tadinya saya heran dengan keputusannya, tetapi kini saya menjadi paham setelah mendengar cerita kehidupan di sana—kehidupan yang menurut saya bak negeri dongeng belaka.

​Dari cerita yang kudengar, banyak hal yang bisa kusingpulkan tentang New Zealand. Menurutku, New Zealand adalah negeri yang humanis, tidak gila harta, berbudaya malu tinggi, sangat menghargai privasi, efisien, dan pemerintahnya sangat peduli (care) dengan rakyatnya. Ada banyak hal yang berbeda dengan negara kita.

​Di sana, tenaga kerja dihargai bukan semata-mata karena ijazahnya, melainkan lebih pada kemampuannya dalam bekerja. Hingga hampir dapat dikatakan tidak ada istilah pekerja kasar, karena pada hakikatnya seluruh pekerjaan itu sama. Oleh karena itu, seorang sarjana pun tidak akan malu melakukan pekerjaan serabutan meskipun harus menjadi tukang sapu, selama pekerjaan itu baik dan memberikan penghasilan yang cukup.

​Di sana, tenaga manusia sangat dihargai, bahkan melebihi tenaga mesin. Untuk sekadar tukang cat saja, upahnya mencapai Rp250.000 per jam. Sementara untuk sekadar membersihkan talang air yang kotor karena dedaunan, temanku harus merogoh kocek Rp5 juta sehari. Itu pun tidak jadi dikerjakan begitu melihat lokasinya yang agak tinggi, dengan pertimbangan keselamatan.

Baca...  Buya Syafi'i Ma'arif Yang Disalahpahami 

​Saat mendengar cerita itu, yang terbayang adalah para buruh pemanjat kelapa di negeri kita, yang demi upah Rp1.000 saja harus mempertaruhkan nyawa. Terbayang pula para buruh yang selalu berdemo untuk menuntut hak-haknya.

​Melihat mahalnya tenaga kerja, aku sempat mencoba memberi usul agar mengambil tenaga kerja yang murah dari Indonesia saja. Namun, jawabannya tidak mungkin. New Zealand tidak seperti Indonesia yang pintunya terbuka begitu saja bagi ribuan tenaga asing meskipun pengangguran di negeri sendiri mencapai jutaan orang. New Zealand tidak sembarangan mengizinkan tenaga asing masuk karena pemerintahnya sangat melindungi rakyatnya.

​Oleh karena itu, tingginya upah tenaga kerja membuat harga bangunan di sana menjadi sangat mahal. Akibatnya, jarang ada orang yang memiliki rumah sendiri.

​Bagi mereka yang berhasil membangun rumah, rumah tersebut akan diproduktifkan agar dapat membiayai dirinya sendiri. Kamar-kamar dibuat lebih banyak untuk disewakan kepada mereka yang belum memiliki rumah.

​Begitu pula dengan asisten rumah tangga (ART). Di sana, memiliki ART bukan lagi barang mewah, melainkan hal yang supermewah. Jadi, saat temanku diwawancarai tentang kehidupannya di Indonesia yang memiliki dua pengasuh anak dan satu tukang masak, orang-orang di sana menganggapnya sebagai orang yang sangat kaya. Hal itu sangat masuk akal jika kita menghitung gaji ART di sana bila bekerja 24 jam seperti di negeri kita.

​Sebab itulah para wanita di sana enggan untuk melahirkan, hingga pemerintah perlu beriklan dan memberikan bonus tinggi bagi wanita yang bersedia melahirkan. Risiko wanita yang melahirkan di sana adalah harus berhenti bekerja, karena tidak sanggup membayar jasa pengasuh anak.

​Dalam hati, saya merasa malu saat mendengar cerita tersebut karena ternyata kita termasuk bangsa yang boros dan manja. Saya teringat pada rumahku yang kubiarkan kosong, juga kebiasaan kelas menengah di negeri kita yang rata-rata mengoperkan seluruh pekerjaan rumah tangga kepada ART.

Baca...  Inilah Jawaban Gus Musta'in Mengenai Moderasi Beragama

​Di sana, orang-orang terbiasa mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya dan jarang makan di luar karena harganya sangat mahal. Sistem di negara tersebut telah memaksa mereka untuk hidup hemat dan mandiri. Setiap orang harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Suka atau tidak suka, seorang ibu juga harus merawat anaknya sendiri.

​Sebuah budaya yang mengingatkanku pada pesan syair seorang penyair ternama, Hafiz Ibrahim:

​“Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.”

​Artinya: “Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anak-anaknya. Jika engkau mempersiapkannya dengan baik, maka sama halnya engkau mempersiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.”

​Apa yang kudengar saat itu tiba-tiba membawa ingatanku pada Rasulullah SAW—saat beliau menambal bajunya sendiri, serta saat tangan Fatimah r.a. melepuh karena menggiling gandum. Rasulullah tidak ingin merepotkan orang lain, bahkan kepada istrinya sendiri.

​“Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandalnya, dan mengerjakan segala apa yang (layaknya) para suami lakukan di dalam rumah.” (HR. Ahmad)

​Penghargaan yang sangat tinggi dari negara terhadap tenaga manusia ini pada akhirnya membentuk masyarakat New Zealand yang jauh dari kecenderungan untuk saling memperbudak.

​Oleh: Barid Baroroh

2490 posts

About author
Kuliah Al Islam - Mencerdaskan dan Mencerahkan
Articles
Related posts
EsaiKisahSejarah

Pesona di Antara Dua Cinta: Refleksi atas Syair Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi

8 Mins read
Sastra, dalam segala bentuknya, adalah cermin paling jujur dari jiwa manusia. Ia tidak hanya merekam apa yang terlihat, tetapi juga apa yang…
Esai

Membangun Kesadaran Beribadah Anak dengan Penguatan Positif

14 Mins read
​PENDAHULUAN ​Pendidikan Islam memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar memberikan pengetahuan tentang ajaran agama. Pendidikan ini juga diarahkan untuk mengembangkan keimanan,…
Esai

Hijrah Mindset: Mengapa Rasulullah Memilih Proses daripada Jalan Pintas?

6 Mins read
Bayangkan sebuah pohon raksasa diperintahkan tumbuh dalam satu malam. Akarnya belum sempat mencari air, batangnya belum mengeras, tetapi ia harus langsung menopang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *