Nabi Muhammad, di usianya yang sudah menginjak 40 tahun, tiba-tiba mendapatkan “pencerahan”. Seharusnya demikian, orang yang sudah mencapai usia matang, harus “mlungsungi” alias selubung-selubung gelap, kotor, kasar, yang berupa kerakusan, tamak, egois, watak tiran, harus sudah pudar diri dirinya. Seharusnya demikian.
Namun pada faktanya tidak, pemimpin bangsa kita sebaliknya, semakin tua semakin tamak dan semakin “cinta dunia”. Usia mereka sudah semakin tua, senja, tetapi watak mereka masih stagnan: seperti bocah TK.
Nama dari sesuatu yang mencerahkan itu adalah: wahyu. Wahyu itu berisi agar Muhammad menunaikan perintah kenabian. Awalnya ia menyangkal hal itu. “Bacalah, bacalah, bacalah,” isi wahyu itu.
Muhammad hidup dan besar di tengah peradaban yang tidak mengenal tradisi baca-tulis. Tradisi Bangsa Arab—terutama Quraisy saat itu—hanya mengenal tradisi ucap-dengar. “Aku tidak bisa membaca,” jawabnya kepada sesosok makhluk yang belum ia kenal sebelumnya.
Rasa takut mulai merasuk ke dalam batinnya. Keringat mulai menetes-netes dari pelipisnya. Seluruh tubuhnya bergetar. Ia, akhirnya pulang, meminta istri tercintanya, Khadijah, menyelimuti.
Yang menarik bagi saya adalah ayat yang pertama kali turun merupakan ajakan untuk “membaca” bukan ajakan untuk melaksanakan atau berdisiplin dengan ritual-ritual keagamaan seperti misalnya: salat, puasa, sedekah, dan lain-lain.
Padahal, hari ini, islam yang dikenal oleh masyarakat ya ritual-ritualnya itu. Orang tidak mampu berhaji, tapi nekat berangkat dengan menjual aset yang dapat menjaga anak-cucunya selamat dari kemiskinan—yang juga dapat menjerumuskan dalam kekufuran—demi mendapatkan gelar “haji”, sehingga mendapatkan pengakuan simbolis di masyarakat muslim.Ini aneh, ritual yang seharusnya untuk meningkatkan kesadaran ketuhanan, justru pudar, tereduksi habis-habisan untuk prestise sosial.
Jadi, bukan untuk itu islam turu. Islam turun—berangkat dari indikasi ayat yang mengajak, mula-mula, para penganut islam awal—untuk pintar, cerdas, dan bertakwa. Misi Islam yang pertama adalah meruntuhkan berhala materialisme.
Berhala inilah yang menyebabkan satu kelompok aristokrat arab secara zalim menindas kelompok miskin yang tidak terdidik. Abu Jahal, bapaknya “kebodohan”, disebut begitu bukan karena dia memang benar-benar bodoh. Tidak demikian. Dia adalah aktor “intelektual” di balik penyerangan dan siasat untuk meredam serta menghentikan strategi penyadaran Muhammad terhadap Bangsa Arab.
Jika kita sekarang bertanya-tanya: siapa nian aktor di balik pembunuhan Munir, maka kita jika pertanyaan itu dilontarkan untuk mempertanyakan “siapa yang menatarapi siasat busuk untuk menghentikan dakwah Muhammad”, jawabannya jelas: Abu Jahal!
Kebodohan Abu Jahal adalah karena ia menutup kecerdasannya itu dengan ambisi kotor untuk memperkaya dan menjadikannya orang nomor wahid di Arab.
Tidak boleh ada sosok lain selain dia yang bersinar, walau, dengan cara-catra yang kotor: menindas orang lain. Cara-cara itulah yang dipraktikkannya untuk memperkokoh dan memperkukuh kedudukannya sebagai golongan aristokrat Arab. Jika kita sering mendengar masyarakat Arab Jahiliah harus membunuh anak-anak perempuan mereka demi sesuap nasi, ya, salah satu sebab strukturalnya adalah manusia-manusia seperti Abu Jahal dan Kawan-kawannya inilah yang telah melakukan monopoli pasar.
Uang ada, beredar, tapi hanya di kantong-kantong mereka saja. Sedangkan kebanyakan masyarakat Arab saat itu diselimuti kebodohan. Kebodohan ini tidak akan hilang jika mereka berdisiplin salat, tetapi, kebodohan yang sudah sangat akut itu hanya akan hilang jika Dibakar dengan ilmu. Ya, ilmu adalah musuh dari kebodohan—dan pembodohan.
Muhammad pertama-tama mengajarkan hal yang paling fundamental: semua manusia itu setara. Tak ada beda antara Arab dan bukan Arab. Maka, berbudakan di atas dunia harus dihapuskan. Di era itu, perbudakan sudah menjadi kultur. Orang biasa memiliki budak, bahkan lebih dari satu, terutama mereka yang berduit.
Maka untuk menghilangkan tradisi ini, sungguh sangat sulit, Muhammad perlu melakukan reformasi secara bertahap (gradual) dengan menetapkan—kelak ketika sudah hijrah ke Madinah—sangsi bagi pelanggar-pelanggar syariat. Muhammad mengajarkan hak asasi manusia yang, di Barat, dikenal belum lama.
Penyadaran akan “hak” mereka sebagai anggota masyarakat dan manusia inilah yang membuat gelombang perlawanan itu muncul yang mula-mula memicu banyak kalangan tertindas (di antaranya budak) memilih join dengan “gerakan” Muhammad. Memang tak perlu dimungkiri jika kalangan budaklah yang awalnya “meramaikan” komunitas baru ini.
Kebodohan yang akut itu dimanfaatkan oleh aristokrat Arab untuk memperdaya Bangsa Arab.
Dengan cara itu, mereka akan diam saja ketika ditindas. Mereka bahkan tidak sadar ketika mereka ditindas. Mengapa? Karena kecerdasan mereka dibajak. Tidak ada semacam gerakan pencerahan untuk kalangan muda. Kalangan muda Arab saat itu hanya disibukkan dengan aktifitas berdagang saja.
Ini adalah satu aktifitas untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka yang sangat melelahkan karena harus berdagang dan kulakan barang ke Syam (Utara) dan Yaman (Selatan). Mereka berdagang, paling cepat, satu bulan. Sebagian malah ada yang tidak kembali karena dijarah dan dibunuh oleh suku-suku badui (nomaden).
Kerusakan moral berupa minum-minuman khamr (arak), judi, membunuh anak perempuan, zina, memakan riba, dan seabrek kebusukan moral yang lain tidak menjadi masalah para aristokrat Arab. Kerusakan moral, umpamanya, karena judi dan mabuk-mabukan justru semakin memudahkan mereka memonopoli ekonomi, sosial, dan politik.
Apa yang dapat diharapkan dari anak-anak muda dan orang dewasa yang gemar mabuk dan judi? Tidak ada. Kebodohan itu “dimonetisasi” oleh orang semacam Abu Jahal dan Kawan-kawan untuk semakin memperkokoh posisi mereka.
Rakyat yang sengsara secara ekonomi, cukup diberi “candu” saja, tak perlu diajak berpikir!
Melihat kesemrawutan sosial itulah, Muhammad, di awal-awal sebelum mendapatkan wahyu melakukan perenungan dalam. Ia beberapa kali menyepi serta melakukan perenungan yang sangat dalam untuk mendiagnosa masalah sosial mereka serta berupaya menemukan obat yang manjur untuk menyembuhkan penyakit sosial itu.
Pada dasarnya, Muhammad adalah orang yang “suci”.
Selama hidupnya ia tak pernah melakukan penyimpangan moral. Hidupnya, ya, macam para rahib yang menjaga kesucian diri mereka. Bisa jadi “laku” hidup Muhammad yang demikian karena ia mendapatkan ajaran-ajaran moral dari kakeknya, Ibrahim, agama samawi. Tetapi itu juga merupakan petunjuk bahwa kecerdasannya di atas rata-rata.
Sebab salah satu syarat kenabian adalah ia harus cerdas, fathonah. Kecerdasan dan solusi langit itulah yang menyelamatkan bangsanya dari kerusakan yang parah. Kemudian gerakan barunya, islam, merupakan paduan yang harmonis antara akal dan wahyu. “Agama,” kata Budayawan Emha Ainun Nadjib, “alat utamanya adalah akal, bukan kitab bukan sunnah.”
Pada titik inilah, Muhammad, dapat pula kita sebut sebagai sekolah aktifis yang revolusioner. Gerakannya memadukan kesadaran ketuhanan, kecerdasan akal, kepekaan rasa, keindahan laku, dan ketaktisan strategi.
Ia membebaskan manusia dari tiran aristokrat Arab, dengan strategi yang sangat jitu: pendidikan! Ia bergerak, menanggalkan “selimut kenyamanannya” yang selama ini berusaha meninabobokkannya karena sebelum ia diangkat sebagai Nabi, hidupnya tidak kurang-kurang.
Kaya, istri cantik, anak-anak jelita, status sosial yang mentereng, dan kekuasaan simbolik yang dipegang sebagai seorang Al-Amin. Ia tinggalkan itu semua demi keadilan sosial, ekonomi, politik yang dapat dinikmati oleh semua pihak.
Hari ini, ketika rezim “orde sangat baru” dianggap lahir kembali, pelakukan penguasa baru terhadap para aktifis kemanusiaan mirip dengan perlakukan aristokrat Arab kepada Nabi Muhammad. Dari mulai persekusi, ancaman, terror, dan percobaan pembunuhan, menjadi isu utama.
Padahal kehadiran mereka justru ingin menjadi suluh yang ingin menerangi rumah yang mulai gelap. Tetapi mereka denial, mereka anggap rumah itu masih terang, padahal, ternyata, kamar-kamar mereka saja yang terang; yang lain, gelap! Tulisan ini juga menjadi penanda bahwa, Kanjeng Nabi Muhammad, bersama mereka yang selalu vokal dalam menyuarakan kebenaran walaupun harus membayarnya dengan nyawa.

