Opini

MOLINAS: Motor Listrik Subsidi atau Plester Daya Beli Rakyat?

3 Mins read

13 Agustus 2026. Prabowo meluncurkan MOLINAS—Motor Listrik Nasional. Targetnya 2 juta unit per tahun. Ekosistem industri dalam negeri. Hemat devisa. Indonesia Incorporated. Semua kata-kata itu kedengaran seperti lagu kebangsaan versi otomotif.

​Tapi pas aku dengerin, yang kebayang bukan bangsa yang berjaya. Yang kebayang malah tetangga sebelah rumah: bapak-bapak tukang ojek yang tiap hari mikirin bensin, yang dulu ngidam Vario 125, sekarang lihat harganya udah nyentuh 24 juta.

​Terus dia lihat iklan motor listrik 10 jutaan. Dia senyum. Tapi senyumnya bukan karena bahagia. Senyumnya karena “yaudah deh, ini aja yang sanggup.”

​Itu lho yang bikin aku mikir: ini beneran kemajuan, atau ini cuma plester?

Dulu Bisa, Sekarang Nggak

Aku ingat tahun 2019–2020. Honda BeAT baru keluar, harganya sekitar 16–17 juta. Tukang ojek, buruh pabrik, karyawan minimarket—semua masih bisa nabung, masih bisa kredit DP 2 juta, bawa pulang motor baru. Itu normal waktu itu.

​Sekarang? Agustus 2026. BeAT paling murah 19 juta. Scoopy 23 juta. Vario 125 hampir 25 juta. Dan itu harga OTR doang. Belum pajak, belum asuransi wajib, belum pelat nomor. Siap jalan? Rata-rata 25 jutaan, bro.

​25 juta. Buat orang yang gaji UMR 4–5 juta sebulan, itu setengah tahun kerja tanpa makan.

​Sementara motor listrik subsidi? 10 jutaan, setelah pemerintah ngasih potongan 7 juta. Jadi pilihannya bukan lagi “mau yang mana?”, tapi “yang mana yang sanggup?”

​Kamu pikir orang pilih motor listrik karena cinta lingkungan? Nggak, bro. Mereka pilih karena yang bensin udah nggak sanggup dibeli.

Daya Beli yang Ngumpet di Balik Angka

Aku nggak mau banyak-banyak tabel, tapi ada beberapa angka yang harus kamu rasain.

Baca...  Kesalehan Digital, Sebuah Keniscayaan Zaman

​Indeks Keyakinan Konsumen—semacam barometer kepercayaan rakyat buat belanja—turun dari 127 di awal 2026 jadi 117 di pertengahan tahun. Masih positif sih, tapi arahnya ke bawah terus. Kayak orang sakit yang masih bisa jalan, tapi makin pucat.

​Inflasi 3,34%. Bunga kredit 5,75%. Gaji? Stagnan. Harga motor? Naik terus. BeAT aja naik 175 ribu awal tahun ini. Kecil? Iya, tapi kalau setiap tahun naik dan gaji nggak naik, lama-lama yang kecil jadi besar.

​Dan ini yang paling nyelekit: penjualan motor 2025 memang rekor 5 tahun terakhir—6,4 juta unit. Tapi pertumbuhannya cuma 1,3%, turun drastis dari 19% di 2023.

​Artinya? Pasar masih hidup, tapi napasnya sesak. Orang masih beli motor, tapi makin mikir keras. Makin banyak yang pilih yang murah. Makin banyak yang pilih bekas. Atau pilih motor listrik subsidi.

​Bukan karena maju. Karena terpaksa.

Motor Listrik yang Mati Begitu Subsidi Diputus

Ini yang lucu. Tahun 2024, pemerintah juga pernah bagi-bagi subsidi motor listrik. Penjualan naik, ramai, semua orang bilang “masa depan EV Indonesia cerah.”

​Terus Januari 2025, subsidi diputus. Tebak apa yang terjadi?

​Penjualan motor listrik langsung anjlok 28%, dari 77 ribu unit jadi 55 ribu unit. Kayak orang dipaksa lari pakai sepatu baru, terus sepatunya dicopot. Langsung jatuh.

​Nah, kalau MOLINAS ini beneran produk bagus, kenapa harus ditopang 7 juta rupiah dari kantong negara supaya laku? Kalau beneran kompetitif, kenapa pas subsidi hilang orang langsung kabur?

​Jawabannya sederhana: karena tanpa subsidi, produknya nggak sanggup berdiri sendiri.

Lima Infeksi yang Bakal Merebak

Plester yang dibiarkan, lukanya bakal infeksi. Dan infeksi MOLINAS ini bisa menyebar ke seluruh tubuh ekonomi.

  • Pertama, ketergantungan. Rakyat diajarin buat nggak berharap lebih. Industri diajarin buat nggak perlu berinovasi. Cukup manja-manjaan sama subsidi. Yang rugi? Konsumen yang nggak punya pilihan beneran.
  • Kedua, luka fiskal. 2 juta unit kali 7 juta subsidi = 14 triliun rupiah. Bisa buat bangun ribuan kilometer jalan di desa. Bisa buat naikin gaji guru honorer. Tapi dipakai buat nutupin fakta bahwa motor bensin udah kelewat mahal.
  • Ketiga, barang sekali pakai. Motor 10 jutaan, baterai umur 3–5 tahun. Ganti baterai? 3–5 juta. Kalau daya beli makin turun, motor itu cuma jadi besi tua di garasi—bengkel resmi jarang, sparepart mahal. Bukan solusi berkelanjutan, ini solusi sekali pakai.
  • Keempat, distorsi pasar. Pemerintah nggak perbaiki iklim bisnis supaya produsen bisa jual motor bagus di harga wajar. Mereka biarin harga naik terus, terus kasih alternatif murah. Ini bukan pilihan bebas, ini keterpaksaan berbungkus kebijakan. Kayak restoran yang naikin harga nasi padang jadi 50 ribu, terus bilang “kita sediakan nasi kucing gratis.” Ya makan nasi kucing lah, lapar bro.
  • Kelima, dan ini yang paling berbahaya: normalisasi kemiskinan. Generasi baru dibiasakan untuk nggak pernah berharap lebih. Dulu ngidam Vario, sekarang “syukur masih ada motor listrik 10 juta.” Ini bukan sikap bersyukur. Ini sikap pasrah yang dipoles jadi patriotisme.
Baca...  Maraknya Kasus Pelecehan Seksual di Indonesia

Sejarah yang Berulang

Kamu ingat Timor? Mobil nasional tahun 90-an. Disubsidi, diproteksi, dihebohkan. Akhirnya mati.

​Kamu ingat Esemka? Mobil nasional yang ternyata rakitan China. Hype besar, sekarang hilang.

​Sekarang MOLINAS. Polanya sama: produk nasional, disubsidi, dibilang kemajuan. Tapi belum pernah diuji tanpa suntikan duit rakyat.

​Kalau beneran jago, kenapa harus ditopang?

Jadi, Maju atau Mundur?

Pertanyaannya bukan “apakah MOLINAS bagus untuk lingkungan?”

​Pertanyaannya: mengapa di negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, rakyatnya nggak sanggup beli motor bensin entry level seharga 15 juta?

​Jawabannya bukan karena teknologi listrik lebih canggih. Jawabannya adalah karena daya beli runtuh, dan pemerintah memilih kasih plester murah daripada ngobatin lukanya.

​MOLINAS bukan bukti Indonesia maju. MOLINAS adalah bukti bahwa Indonesia gagal jagain rakyatnya—lalu menutupinya dengan kata-kata indah: transisi energi, industri nasional, Indonesia Incorporated.

​Kalau kemajuan sejati, ia nggak butuh 7 juta rupiah dari kantong negara buat dipaksa dibeli.

​Agustus 2026. Buat kamu yang masih bisa mikir, sebelum dibiasakan untuk nggak berharap lagi—menurutmu, ini kemajuan, atau cuma plester yang dibungkus rapi?

3 posts

About author
Ahmad Rahmatulloh adalah penulis independen yang aktif menulis tentang refleksi kehidupan, kesehatan mental, kesadaran diri, dan nilai-nilai kemanusiaan. Baginya, menulis merupakan ikhtiar untuk mengajak pembaca mengenali diri, merawat kesehatan batin, dan menemukan makna hidup di tengah perubahan zaman. Ia merupakan penulis buku Diri Yang Selama Ini Terlupa, Anjing Hitam, Perjalanan Ke Dalam Diri, dan Menuju Cahaya. Melalui karya-karyanya, ia berupaya menghadirkan tulisan yang sederhana, reflektif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Articles
Related posts
FilsafatOpiniPolitik

Merajut Kemanusiaan di Era Digital: Ketika Lisan dan Jari Menentukan Arah

5 Mins read
Perkembangan peradaban manusia dewasa ini ditandai oleh paradoks yang kian tajam. Di satu sisi, teknologi komunikasi dan media sosial telah meruntuhkan batas-batas…
OpiniPolitik

Merawat Kebebasan di Lorong Kekuasaan dan Ketakutan

5 Mins read
Dalam lanskap diskursus politik kontemporer, relasi antara yang memerintah dan yang diperintah senantiasa berada dalam ketegangan yang konstan. Narasi kekuasaan sering kali…
OpiniPendidikan

Epistemologi Teori Komitmen Dr. Hosaini dan Arah Baru Modernisasi Pesantren

6 Mins read
Dinamika peradaban global dewasa ini menuntut dunia pendidikan untuk terus-menerus melakukan kalibrasi epistemologis. Di tengah arus globalisasi yang kian hegemonik, institusi pendidikan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *