KeislamanPendidikan

Merajut Toleransi Sejak Sekolah Lewat Sejarah Islam

6 Mins read

​Saat ini kita hidup di zaman yang serba cepat, serba instan, dan luar biasa terhubung berkat kemajuan teknologi. Namun, ada sebuah ironi besar yang sedang kita hadapi bersama: meskipun jarak fisik tidak lagi menjadi penghalang untuk berkomunikasi, jarak hati dan pikiran kita justru terasa semakin menjauh. Di dunia maya, perbedaan pendapat yang sepele bisa dengan sangat cepat memicu perang komentar yang berujung pada saling hujat dan kebencian. Mozaik bangsa kita yang terdiri dari beragam suku, agama, dan budaya ini ibarat sebuah kaca jendela yang indah; jika tidak dirawat dengan hati-hati, gesekan kecil yang terus-menerus terjadi bisa membuatnya retak dan pecah berkeping-keping.

​Krisis kedewasaan sosial yang kita hadapi hari ini adalah masalah yang serius. Kita tidak bisa hanya mengandalkan hukum atau aturan negara. Menghukum orang yang menyebarkan ujaran kebencian di media sosial itu ibarat memadamkan api yang sudah terlanjur membakar rumah. Itu tindakan yang perlu, tetapi tidak mencegah orang lain untuk kembali menyalakan korek api. Hukum hanya bekerja di bagian akhir, ketika konflik sudah terjadi. Lalu, di mana letak solusi yang sebenarnya?

​Jawabannya ada di bagian paling awal kehidupan anak-anak kita, yaitu pendidikan karakter sejak usia dini. Di titik inilah kita perlu menengok kembali apa yang sebenarnya terjadi di ruang-ruang kelas madrasah dan sekolah dasar kita. Selama ini, pelajaran yang dianggap paling bertanggung jawab untuk mengajarkan kerukunan sering kali hanya dibebankan pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Padahal, ada satu mata pelajaran yang menyimpan potensi luar biasa namun jarang dimanfaatkan secara maksimal untuk membentuk karakter rukun: Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).

​Bagi sebagian besar siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI), pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam sering kali dianggap sebagai pelajaran yang membosankan. Hal ini wajar terjadi jika kita melihat bagaimana materi ini biasanya disampaikan. Jika diajarkan dengan pendekatan yang tepat, materi SKI sesungguhnya bukan sekadar cerita masa lalu tentang orang-orang yang hidup ribuan tahun silam. Lebih dari itu, SKI adalah kompas penunjuk arah yang menceritakan tentang bagaimana kita seharusnya hidup berdampingan dengan damai.

​Lebih dari Sekadar Menghafal Tahun dan Nama

​Langkah pertama yang harus kita ubah secara drastis adalah cara pandang kita terhadap pelajaran sejarah. Mengacu pada pedoman kurikulum yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (2020), siswa kelas V MI memang diwajibkan untuk menyelami berbagai peristiwa penting di masa kenabian. Sayangnya, praktik mengajarnya di lapangan sering kali masih sangat kaku dan hanya berfokus pada ingatan jangka pendek. Anak-anak dijejali rentetan nama tokoh, menghafal tahun-tahun peperangan, atau disuruh mengingat rute perjalanan, lalu kepintaran mereka dievaluasi berdasarkan kemampuan menghafal semua detail tersebut.

​Ketika sejarah hanya diturunkan derajatnya menjadi ujian hafalan, roh dari kisah kebaikan tersebut hilang tak berbekas. Seorang anak kelas V SD mungkin bisa mendapat nilai seratus saat ditanya di kertas ujian, “Kapan peristiwa hijrah terjadi?”. Namun, anak yang sama mungkin gagal mempraktikkan pelajaran moral dari peristiwa hijrah itu saat ia bermain bersama teman-temannya di jam istirahat. Ia tahu sejarahnya secara tekstual, tapi tidak paham maknanya secara sosial.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Menuju Kebahagiaan Akhirat (1)

​Inilah kebiasaan lama yang perlu kita ubah segera. Sejarah harus dikembalikan pada tujuan aslinya sebagai cermin untuk merefleksikan nilai-nilai kebaikan dan budi pekerti, bukan sekadar bank soal untuk syarat kelulusan ujian semester. Pelajaran sejarah harus bisa menyentuh hati anak-anak, bukan hanya membuat kepala mereka lelah karena banyak menghafal angka.

​Mencari Akar Kedamaian dalam Sejarah Islam

​Jika kita mau membuka lembaran sejarah Islam dengan pikiran yang lebih terbuka, kita akan menemukan contoh-contoh kerukunan yang luar biasa mengagumkan, yang sangat cocok diterapkan di Indonesia. Salah satu peristiwa paling bersejarah yang wajib dikupas tuntas di ruang kelas adalah momen penyusunan Piagam Madinah. Seperti yang dicatat secara rinci oleh Al-Mubarakfuri (2015) dalam karya monumentalnya, Sirah Nabawiyah, Piagam Madinah bukanlah sekadar aturan biasa. Kesepakatan ini dirancang khusus untuk merekatkan masyarakat kota Madinah yang saat itu sangat beragam baik dari segi suku, klan, maupun agama dan sangat rawan terpecah belah oleh konflik berdarah.

​Melalui Piagam Madinah, Nabi Muhammad SAW merangkul semua kelompok tanpa terkecuali. Kaum Muslim dari Mekkah, penduduk asli Madinah, komunitas Yahudi, hingga kelompok yang masih memegang kepercayaan leluhur mereka, semuanya disatukan di bawah satu payung kesepakatan untuk saling menjaga dan melindungi wilayah mereka bersama.

​Cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid (2019), dalam berbagai catatannya mengenai peradaban Islam, pernah menggarisbawahi kehebatan satu poin dalam piagam ini yang sangat indah dan mendahului zamannya. Klausul itu dengan tegas menyatakan bahwa kaum Yahudi berhak atas agama mereka, dan kaum Muslimin berhak atas agama mereka. Jauh sebelum dunia Barat berteriak lantang tentang hak asasi manusia dan kebebasan beragama, Islam di Madinah sudah mencontohkan bagaimana menghargai perbedaan. Toleransi di Madinah saat itu bukan sekadar membiarkan orang lain hidup, tetapi juga membela tetangga yang berbeda keyakinan jika mereka diganggu oleh pihak luar.

​Kisah lain yang tak kalah menyentuhnya adalah peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan Kota Mekkah), yaitu momen kembalinya umat Islam ke kota Mekkah setelah bertahun-tahun terusir. Biasanya, dalam sejarah peradaban mana pun, pihak yang menang perang akan membalas dendam habis-habisan kepada pihak yang dulu menindas mereka. Kota akan dihancurkan, dan penduduknya akan dihukum tanpa ampun.

​Namun, Nabi Muhammad SAW justru menunjukkan kebesaran hatinya yang luar biasa. Alih-alih menghukum dan memenjarakan kaum Quraisy yang selama belasan tahun telah menyakiti, merampas harta, dan mengusir umat Islam, Nabi justru memberikan pengampunan massal yang tidak terbayangkan sebelumnya (Al-Mubarakfuri, 2015). Ucapan beliau kala itu yang menyatakan bahwa tidak ada celaan bagi mereka pada hari itu adalah sebuah pelajaran mahal. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita semua bahwa kekuatan sejati seorang manusia bukan terletak pada kemampuannya untuk membalas dendam, melainkan pada keberaniannya untuk memaafkan kesalahan orang lain.

Baca...  Makna Keadilan dalam Al-Qur'an: Al-Adl, Al-Qist, & Al-Mizan

​Membawa Kisah Besar ke Dunia Anak-Anak

​Tantangan terbesarnya sekarang ada di tangan para guru di garis depan: bagaimana menceritakan kisah yang begitu besar dan politis seperti Piagam Madinah atau Fathu Makkah agar mudah dipahami oleh nalar anak usia 9 atau 10 tahun? Pakar pendidikan karakter terkemuka, Thomas Lickona (2012), dalam bukunya Educating for Character, secara tegas mengingatkan bahwa mengajarkan karakter dan perilaku yang baik itu harus menyentuh perasaan (moral feeling) dan dipraktikkan langsung (moral action), bukan sekadar dipahami lewat teori di papan tulis.

​Konsep dari Lickona ini sangat sejalan dengan pemikiran Prof. Muhaimin (2014) mengenai pengembangan kurikulum pendidikan agama. Menurut Muhaimin (2014), pendidikan agama tidak boleh hanya sekadar transfer pengetahuan sejarah (transfer of knowledge), tetapi harus membumi dan terasa manfaatnya dalam keseharian anak. Guru tidak bisa mengajarkan isi Piagam Madinah seperti sedang memberi kuliah hukum kepada mahasiswa. Kisah ini harus diterjemahkan ke dalam bahasa dan dunia anak-anak.

​Misalnya, guru bisa mengibaratkan lingkungan Madinah sebagai “ruang kelas” yang berisi teman-teman dari berbagai latar belakang keluarga, daerah, dan budaya. Guru bisa memancing diskusi yang seru dan interaktif dengan bertanya: “Kalau Nabi Muhammad saja mau melindungi teman-teman Yahudi di Madinah, bagaimana cara kita melindungi dan menghargai teman sebangku yang mungkin berbeda agama, suku, atau punya kekurangan fisik?”

​Dari pertanyaan sederhana inilah, anak-anak akan sadar bahwa mau meminjamkan alat tulis kepada teman yang kesusahan, menolak ikut-ikutan mengejek teman yang berbeda, atau mengajak bermain anak yang sering menyendiri, adalah wujud nyata dari meneladani kehebatan Piagam Madinah di masa kini. Sejarah tiba-tiba menjadi hidup dan relevan bagi mereka.

​Contoh lainnya bisa diterapkan pada kisah pengampunan di Fathu Makkah. Saat ini, kita tahu bahwa masalah bullying atau perundungan sangat marak dan meresahkan di tingkat sekolah dasar. Kisah memaafkan dari Mekkah ini bisa menjadi obat penawar yang sangat ampuh. Saat anak-anak diajak merasakan betapa pemaafnya Nabi Muhammad SAW terhadap orang yang pernah sangat jahat kepadanya, mereka diajak untuk belajar mengendalikan ego dan tidak gampang terpancing emosi amarah.

​Memaafkan teman yang tidak sengaja menjatuhkan tempat minum, tidak membalas ketika diejek, atau menahan diri untuk tidak membalas pukulan saat bermain bola, adalah cara anak-anak SD dan MI meniru kehebatan tokoh yang mereka pelajari di kelas Sejarah Kebudayaan Islam. Mereka diajarkan bahwa menjadi anak yang kuat itu bukan berarti anak yang jago berkelahi, melainkan anak yang jago memaafkan temannya.

Baca...  Gus Ulil Ngaji Ihya: Khutbah Al-Muhasibi tentang Bahaya Harta

​Membangun Benteng Kedamaian Sejak Dini

​Menjadikan pelajaran sejarah sebagai laboratorium kerukunan adalah sebuah langkah yang sangat mendesak untuk kita lakukan saat ini juga. Anak-anak kita hidup di era digital, di mana lewat layar sentuh ponselnya mereka sangat mudah terpapar tontonan, komentar, atau bacaan yang mengajarkan permusuhan dan rasa benci. Jika ruang kelas di madrasah dan sekolah tidak mampu menyediakan benteng pertahanan berupa nilai-nilai kebaikan yang kuat, generasi kita berikutnya bisa tumbuh menjadi pribadi yang egois, mudah marah, dan mudah menyalahkan orang lain yang berbeda dengan mereka.

​Kita harus selalu ingat bahwa kondisi ruang kelas SD atau MI hari ini adalah gambaran nyata wajah masyarakat Indonesia sepuluh atau dua puluh tahun lagi. Jika sedari kecil anak-anak kita hanya diajarkan untuk menghafal sejarah secara kering demi mendapatkan nilai rapor yang bagus, kita akan kehilangan momen emas untuk membentuk kepribadian mereka. Waktu berharga di kelas terbuang sia-sia hanya untuk mencetak anak yang pintar secara ingatan, tetapi rapuh secara empati dan karakter toleransinya.

​Namun sebaliknya, jika para pendidik dan orang tua berhasil menanamkan benih toleransi, kasih sayang, simpati, dan sikap pemaaf yang dicontohkan dengan begitu indah dalam sejarah Islam, sesungguhnya kita sedang menabung kedamaian untuk masa depan bangsa ini. Kita sedang mendidik para calon pemimpin, calon pekerja, dan calon anggota masyarakat yang kelak akan membuat Indonesia menjadi tempat yang jauh lebih sejuk untuk ditinggali.

​Merawat kerukunan di tengah lautan perbedaan di Indonesia memang bukan tugas yang mudah. Ia membutuhkan kerja keras dan dukungan dari semua pihak, mulai dari keluarga di rumah, lingkungan masyarakat, hingga pembuat kebijakan di pemerintahan. Namun, langkah pertamanya harus dimulai dari tempat yang paling dasar: bangku sekolah. Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam memiliki peran dan panggilan sejarahnya sendiri. Ia harus bangkit, tidak lagi sekadar menjadi dongeng pengantar tidur tentang masa lalu, melainkan menjelma menjadi peta jalan yang menuntun anak-anak kita menjadi generasi yang damai, ramah, dan memanusiakan sesamanya.

​DAFTAR PUSTAKA

  • ​Al-Mubarakfuri, S. R. (2015). Sirah Nabawiyah: Ar-Rahiq Al-Makhtum. Jakarta: Qisthi Press.
  • ​Kementerian Agama Republik Indonesia. (2020). Buku Guru & Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam MI Kelas V. Jakarta: Direktorat KSKK Madrasah.
  • ​Lickona, T. (2012). Educating for Character: Mendidik untuk Membentuk Karakter, Bagaimana Sekolah Dapat Mengajarkan Sikap Hormat dan Tanggung Jawab. Jakarta: Bumi Aksara.
  • ​Madjid, N. (2019). Islam, Doktrin, dan Peradaban. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • ​Muhaimin. (2014). Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta: Rajawali Pers.
1 posts

About author
Mahasiswa S1 program studi Pendidikan Agama Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Saat ini penulis sedang fokus mendalami kajian kurikulum pendidikan dasar, pembentukan karakter anak, dan literasi sejarah keagamaan.
Articles
Related posts
KeislamanPendidikan

Penerapan Metode Ibrah untuk Tauhid Anak Melalui Kisah Al-Qur'an

4 Mins read
PENDAHULUAN ​Pendidikan tauhid merupakan landasan paling utama dalam membentuk kepribadian dan kehidupan spiritual seorang anak. Di tengah arus modernisasi dan kebebasan informasi…
KeislamanPendidikan

Menanamkan Iman Anak di Era Digital: Strategi Orang Tua & Guru

7 Mins read
Ingatan masa kecil saya selalu kembali pada riuhnya suasana Subuh di rumah. Setiap kali azan berkumandang, Umi tidak pernah absen membangunkan saya…
KeislamanPendidikan

Relevansi Metode Pendidikan Keimanan Anak Al-Ghazali di Era Digital

4 Mins read
Pendahuluan ​Pendidikan akidah dan akhlak memegang peranan penting dalam membentuk karakter dasar seorang anak, khususnya pada masa transisi pertumbuhan di tingkat Sekolah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *