Keislaman

Menyingkap Hakikat Wahyu dari Allah

4 Mins read

Wahyu adalah apa yang dibisikkan ke dalam sukma, yang diilhamkan, dan merupakan isyarat cepat yang lebih mirip pada sesuatu yang dirahasiakan daripada dilahirkan; sesuatu yang dituangkan dengan cara cepat dari Allah ke dalam dada para nabi-Nya. Wahyu merupakan kebenaran yang langsung disampaikan Allah kepada para nabi-Nya.

​Dalam Al-Qur’an, terdapat lafal wahyu dan lafal-lafal yang diambil daripadanya lebih kurang 70 kali dan dipakai dalam beberapa arti. Misalnya, dalam Surah Maryam ayat 11 dipakai dalam arti “isyarat”, dalam Surah An-Nahl ayat 68 dipakai dalam arti “ilham”, dan dalam Surah Asy-Syura ayat 13 diartikan sebagai “wasiat”. Wahyu diperuntukkan bagi para nabi dan rasul. Hal ini berbeda dengan ilham yang juga dapat berlaku pada manusia biasa.

​Allah telah menerangkan di dalam Al-Qur’an cara memberitahukan para nabi-Nya mengenai apa yang dikehendaki-Nya, dengan firman-Nya:

“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.” (Q.S. Asy-Syura [42]: 51).

​Dari kandungan ayat tersebut, dapat dipahami bahwa Allah menurunkan wahyu-Nya kepada nabi dan rasul dengan tiga cara:

  1. Allah memberi pengetahuan dengan tidak memakai perantaraan. Pengetahuan itu tiba-tiba dirasakan seseorang dan timbul dalam dirinya secara tiba-tiba sebagai suatu cahaya yang menerangi jiwanya. Mimpi nabi yang benar (sadiqah) termasuk dalam bagian ini. Wahyu serupa ini telah diterima Nabi Ibrahim a.s., yaitu tentang perintah Allah untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail a.s. Hal ini juga terjadi pada diri Nabi Muhammad saw. di masa permulaan turunnya wahyu.
  2. Memperdengarkan suara dari belakang tabir dan nabi mendengar wahyu dari belakang tabir itu. Hal ini diperoleh Nabi Musa a.s. di Bukit Tursina (Sinai) dan Nabi Muhammad saw. ketika melakukan Isra Mikraj.
  3. Mengutus Malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai Ar-Ruh Al-Amin atau Ruhulqudus.

​Dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 192–195, Allah berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.”

​Malaikat Jibril kadangkala mendekati Nabi Muhammad saw. dengan menyerupai seorang laki-laki yang tampan. Di saat lain, Malaikat Jibril memperlihatkan dirinya dalam bentuk yang asli yang memiliki 600 sayap.

​Nabi Muhammad saw. juga pernah menerima wahyu yang datang dengan suara keras menyerupai suara lonceng. Karena wahyu itu terasa berat, maka keluar peluh di dahinya meskipun cuaca dingin. Atas dasar inilah sementara orientalis menuduh Nabi Muhammad saw. ditimpa penyakit sawan (epilepsi).

​Wahyu pada hakikatnya tidak dapat diketahui oleh manusia biasa selain oleh nabi dan rasul yang mendapat wahyu itu sendiri. Wahyu merupakan pembicaraan tersembunyi yang dapat ditangkap dengan cepat. Wahyu tidak tersusun dari huruf yang memerlukan gelombang suara. Hasbi Ash-Shiddieqy mengatakan bahwa wahyu berarti menerima pembicaraan secara rohani, kemudian pembicaraan itu berbentuk dan tertulis dalam hati.

​Wahyu merupakan limpahan ilmu yang dituangkan Allah ke dalam hati para nabi dan rasul. Dengan demikian, terukirlah ibarat-ibarat atau gambaran-gambaran, lalu dengan ibarat-ibarat itu tersusunlah pembicaraan yang rapi. Syekh Muhammad Abduh juga mengambil arti wahyu sebagai ‘irfan (pengetahuan).

​Syekh Muhammad Rasyid Ridha mengatakan wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi-Nya adalah suatu ilmu yang dikhususkan untuk mereka dengan tidak dipelajari. Pengetahuan itu diperoleh dengan tidak lebih dahulu berpikir atau berijtihad yang disertai perasaan halus yang muncul dengan sendirinya. Adapun yang menuangkan ke dalam jiwa mereka itu adalah Allah Yang Mahakuasa.

​Kumpulan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. disebut Al-Qur’an yang merupakan pembawa rahmat bagi semesta alam dan petunjuk bagi manusia dalam hidup dan kehidupannya. Dalam hal ini Allah berfirman: “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya di dadamu dan membuatmu pandai membacanya. Apabila kamu telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu.” (Q.S. Al-Qiyamah [75]: 17–18).

​Menurut Syekh Muhammad Abduh, wahyu mempunyai dua fungsi pokok. Fungsi pokok pertama timbul dari keyakinan bahwa jiwa manusia akan terus ada dan kekal sesudah tubuh kasarnya mati. Keyakinan akan adanya hidup kedua setelah hidup pertama ini bukan hasil dari pemikiran yang sesat dari akal dan bukan pula satu khayalan, karena umat manusia dalam keseluruhan—kecuali dalam sebagian kecil yang tak berarti—sepakat menyatakan bahwa jiwa akan tetap hidup sesudah ia meninggalkan tubuh.

​Sungguhpun akal dapat mengetahui alam gaib, namun tidak akan sampai pada hakikat yang sebenarnya. Untuk mengetahui penjelasan tentang alam gaib yang penuh rahasia inilah maka nabi-nabi dikirim Allah kepada umat manusia.

Fungsi wahyu yang kedua mempunyai kaitan erat dengan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Manusia harus hidup berkelompok. Untuk terwujudnya hidup sosial yang rukun dan damai, para anggotanya harus membina hubungan antara mereka atas dasar cinta dan mencintai. Tetapi pada dasarnya kebutuhan manusia akan sesuatu tidak terbatas sehingga selalu muncul konflik dan pertentangan.

​Untuk mengatasi masalah itu, telah diusahakan menukar prinsip cinta dengan keadilan, tetapi manusia tidak sanggup meletakkan dasar-dasar kuat untuk keadilan yang dapat diterima oleh semua orang. Untuk mengatur masyarakat manusia dengan baik, maka dibutuhkan wahyu yang dibawa oleh para nabi dan rasul.

​Dengan demikian, wahyu menolong akal untuk mengetahui alam akhirat serta kehidupan manusia di sana dan untuk mengetahui sifat kesenangan, kesengsaraan, dan bentuk perhitungan (pengadilan Allah) yang akan dihadapinya di akhirat kelak. Selanjutnya, wahyu menolong akal dalam mengatur masyarakat atas dasar prinsip-prinsip umum yang dibawanya dan dalam mendidik manusia untuk hidup damai dan tenteram dengan sesamanya.

​Wahyu membawa syariat yang mendorong manusia untuk melaksanakan kewajiban seperti kejujuran, kebenaran, dan menepati janji. Sungguhpun akal dapat mengetahui adanya Tuhan dan dapat mengetahui bahwa manusia wajib beribadah dan berterima kasih kepada-Nya, tetapi akal tidak sanggup mengetahui semua sifat-sifat Tuhan dan tidak dapat mengetahui cara yang paling baik untuk beribadah kepada Allah. Dalam hal ini, wahyulah yang dapat menjelaskan kepada akal cara beribadah, berterima kasih, dan bersyukur kepada Allah.

​Akal juga tidak dapat mengetahui perincian kebaikan dan kejahatan. Di antara perbuatan manusia ada yang tidak dapat diketahui oleh akal, apakah baik atau buruk. Dalam hal ini, baik buruknya perbuatan ditentukan oleh perintah dan larangan Tuhan. Perbuatan yang diperintahkan Tuhan adalah baik dan yang dilarang adalah jahat.

​Hanya Tuhanlah yang mengetahui apa sebab perbuatan demikian baik atau buruk. Fungsi lain dari wahyu adalah menguatkan pendapat akal dan meluruskannya melalui sifat sakral dan absolut yang terdapat dalam wahyu. Sifat sakral dan absolut inilah yang membuat orang mau tunduk kepada sesuatu.

​Memang akal manusia dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan, kewajiban berbuat baik serta menjauhkan perbuatan jahat, dan selanjutnya akal dapat membuat hukum dan peraturan mengenai kewajiban-kewajiban itu serta dapat mengajak manusia lain mematuhinya. Tetapi sungguhpun demikian, akal tidak dapat memaksa umat manusia untuk tunduk pada hukum dan peraturan yang dibuatnya itu.

​Oleh karena itu, manusia berhajat pada konfirmasi dari kekuatan gaib yang lebih tinggi. Konfirmasi itu datang dalam bentuk wahyu yang membawa pengetahuan yang mampu menenteramkan jiwa manusia.

231 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Hakikat Sifat Dermawan: Ngaji Ihya Ulumuddin Bersama Gus Ulil

2 Mins read
Sudah maklum bahwa dalam hal kebutuhan hidup duniawi, manusia cenderung mementingkan diri sendiri. Banyak yang tidak menyadari bahwa pada hakikatnya manusia adalah…
Keislaman

Etika Muslim di Ruang Publik Media Sosial

2 Mins read
Ruang publik saat ini tidak lagi hanya terdiri dari mimbar podium dan ruang rapat, tetapi juga meluas ke media sosial—tempat setiap individu…
Keislaman

Kajian Shahih Bukhari #1: Permulaan Wahyu dan Cara Turunnya kepada Rasulullah ﷺ

2 Mins read
Permulaan wahyu merupakan momen paling agung dalam sejarah Islam, karena di situlah risalah kenabian dimulai dan hubungan langsung antara langit dan bumi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Keislaman

Konsep Kebahagiaan Ibn Arabi dalam Perspektif Wahdatul Wujud

Verified by MonsterInsights