Sejarah

Mengenal Sejarah Tradisi Grebeg Maulud Agung di Tulungagung

3 Mins read

Penulis: Layalia Zahro’ul Azizah*

​Tradisi merupakan adat atau kebiasaan yang diterapkan sejak zaman dahulu, diturunkan secara turun-temurun, dan dilestarikan oleh masyarakat. Tradisi yang hingga saat ini masih dilestarikan di Tulungagung terletak di Desa Majan—yang kerap disebut Bumi Kasepuhan Perdikan. Desa Majan berada di Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, tepatnya 4 km di sebelah utara ibu kota Kabupaten Tulungagung, dengan mayoritas penduduk beragama Islam.

​Di Desa Majan inilah peradaban sejarah Islam di Tulungagung dimulai pada abad ke-17, tepatnya tahun 1727. Agar generasi muda masyarakat Tulungagung dapat memahami sejarah dan tradisi setempat, KHR Hasan Mimbar melaksanakan syiar agama atas perintah Eyang Pakubuwono II pada tahun 1727. Ia membawa pusaka yang disebut Pusaka Kiai Golok pemberian leluhur—berupa pusaka dari Raja Mataram II—sebagai bentuk syiar Islam di Kadipaten Ngrowo pada tahun tersebut.

​Desa Majan memiliki sejarah unik dan menjadi satu-satunya di Tulungagung, bahkan di Jawa Timur, yang mempunyai keistimewaan “merdeka sebelum merdeka, dan merdeka setelah merdeka.” Pada era penjajahan Belanda, desa ini mengelola pemerintahannya secara mandiri dengan nama Perdikan Majan. Setelah kemerdekaan tahun 1945, sistem otonom ini masih berjalan hingga dilakukannya pertemuan antara Gubernur Jawa Timur dan Bupati Tulungagung pada tahun 1979. Pertemuan tersebut menyepakati bahwa Desa Majan melebur ke dalam NKRI menjadi desa dan pemerintahan biasa, meski adat istiadatnya tetap dipertahankan.

​Sebelum mengenal tradisi Grebeg Maulud Agung, perlu diketahui bahwa adat ini merupakan peninggalan bersejarah bagi Desa Majan. Tradisi ini diadakan setiap tahun oleh keluarga besar Yayasan Sentono Dalem Majan (Yasendam) sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur. Tradisi dipelopori oleh inti keluarga besar KHR Hasan Mimbar, di antaranya sesepuh Yasendam KHR Moh. Yasin serta Ketua Umum Yasendam Dr. Raden Mohammad Ali Sodik, M.Pd.I., M.H.

Baca...  Sejarah Umar bin Khattab

​Kata grebeg berasal dari bahasa Jawa gembrebeg, yaitu suara keras yang timbul ketika Kiai Ageng Raden Khasan Mimbar keluar dari dalam pendapa untuk mengajak masyarakat Tulungagung bersalawat di Masjid Agung Al-Mimbar. Momen ini ditandai dengan dikeluarkannya Pusaka Kanjeng Kiai Golok—hadiah Raja Mataram untuk syiar agama Islam dan pernikahan di Kadipaten Ngrowo pada tahun 1727 Masehi.

​Keluarga Kiai Ageng Raden Khasan Mimbar kemudian membagikan tumpeng kepada masyarakat yang hadir. Tumpengan ini dikawal oleh pasukan genjring yang menampilkan seni bela diri diiringi bunyi jedor dan salawat. Seiring berjalannya waktu, sebutan gembrebeg berubah menjadi grebeg. Di Indonesia, upacara grebeg dilaksanakan di tiga wilayah, yakni Yogyakarta, Solo, dan Kasepuhan Perdikan Majan Tulungagung.

​Ketiga daerah tersebut memiliki hubungan kekeluargaan dari trah Panembahan Senopati R. Sutawijaya (Raja Mataram I). Warga Desa Majan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan serangkaian ritual tradisi, salah satunya penjamasan pusaka yang dikenal dengan nama “Jamasan Pusaka Kanjeng Kiai Golok”.

​Pusaka tersebut merupakan peninggalan KHR Hasan Mimbar. Selain tradisi jamasan dan kirab pusaka, Desa Majan menyimpan kebudayaan dan aset peninggalan KHR Hasan Mimbar lainnya, seperti tahlil naluri khas Tegalsaren, bedug, kentongan, mimbar tertutup, masjid, hingga manuskrip teks kuno.

​Prosesi acara berpusat di Pendopo Agung Kasepuhan Perdikan Majan menuju Masjid Jami’ Al-Mimbar Majan.

​Warga Desa Majan sangat antusias menyambut hari mulia kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diperingati setiap 12 Rabiulawal (Maulid). Tak hanya masyarakat setempat, acara ini juga dimeriahkan oleh sesepuh Yasendam, organisasi Sarinah, Dinas Kebudayaan Pemkab Tulungagung, Direktur RS Campurdarat, Bupati dan Wakil Bupati Tulungagung, serta tokoh penting lainnya.

​Rangkaian kegiatan yang digelar meliputi Diba’an, Santunan Anak Yatim, Ishari, Jamasan Pusaka Kanjeng Kiai Golok, hingga Arak-arakan Tumpeng dan Genjring Rudar Majan.

Baca...  Resensi Buku The Lost Art Of Scripture Karya Karen Armstrong

​Dalam rangkaian Tradisi Grebeg Maulud pada 28 September hingga 10 Oktober 2023, diselenggarakan pula Festival Salawat Al-Banjari Pelajar se-Tulungagung, Lomba Permainan Tradisional, penampilan Jo Klithik & Jo Kluthuk, Jalan Sehat Tradisional, Jam’iyah Ikatan Seni Hadrah Indonesia Khusus (ISKHI) se-Jawa Timur, Salawat Bersama Al-Khidmah Tulungagung, serta Sholawat Nariyah Akbar bersama Gus Shon & JSN Al-Mughits.

​Acara ini menekankan pentingnya melestarikan budaya lokal dari masa ke masa. Tradisi ini menjadi kehormatan dan kebanggaan tersendiri bagi warga Desa Majan atas inisiasi keluarga besar Sentono Dalem Majan.

​Ketua Umum Perdikan Majan, Dr. Raden Mohammad Ali Sodik, M.Pd.I., M.H., menuturkan, “Acara ini sudah menjadi bagian dari cagar budaya, sehingga pemerintah daerah ikut serta melestarikan Jamasan Pusaka Kanjeng Kiai Golok. Di Tulungagung terdapat dua pusaka utama: pertama, Raden Kiai Golok milik KHR Hasan Mimbar; kedua, Pusaka Kiai Upas yang juga milik Majan (Raden Mas Tumenggung Adipati Prenggodiningrat). Dengan demikian, generasi penerus tidak melupakan sejarah dan peninggalan para leluhur yang diperlihatkan secara langsung.”

​Seiring berjalannya waktu, perayaan berlangsung semakin meriah dan minat masyarakat terus meningkat. Tradisi Islam-Jawa ini terus dipertahankan oleh Kasepuhan Perdikan Majan hingga kini. Meski mengalami penyesuaian zaman, tradisi ini tetap dinilai sebagai warisan kebudayaan penting yang dipelihara secara konsisten.

​Di era modern saat ini, peran aktif generasi muda sangat dibutuhkan untuk memberikan edukasi kebudayaan daerah, terlibat dalam kegiatan keagamaan, serta mengayomi masyarakat yang masih awam terhadap literasi budaya. Indonesia, khususnya tanah Jawa, memiliki kekayaan adat istiadat yang sangat bernilai untuk terus dilestarikan.

​*) Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Editor: Adis Setiawan

1 posts

About author
Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prodi Bahasa dan Sastra Arab
Articles
Related posts
OpiniSejarah

Empat Muqaddimah, Empat Cermin Zaman: Dari Krisis Peradaban hingga Krisis Epistemik

6 Mins read
Kita tahu ada sesuatu yang ganjil dalam tradisi keilmuan Islam klasik: sejumlah pembukaan kitab (yang semestinya hanya berfungsi sebagai pengantar) justru tumbuh…
OpiniSejarah

Tragedi Masalembo: Dari Tampomas II ke Virgo Transport 8

4 Mins read
Perairan Masalembo kembali menuntut korban. KM Virgo Transport 8 terbalik di Laut Jawa pada Minggu dini hari, 13 September 2026, membawa 243…
EsaiSejarah

Suara yang Dibungkam: Farag Fouda, Khilafah, dan Tragedi Kebebasan Berpikir

9 Mins read
Langit Kairo pada 8 Juni 1992 tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Debu kota yang padat, kebisingan klakson yang tak pernah berhenti, dan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *