Pernahkah kita melihat seseorang mendapatkan sesuatu yang sebenarnya sudah baik, tetapi tetap merasa kecewa hanya karena orang lain memperoleh hasil yang lebih memuaskan? Atau, pernahkah kita mengalaminya sendiri? Ketika kita mendapatkan nilai tinggi, tetapi masih merasa kurang karena teman kita meraih angka yang sedikit lebih tinggi; atau ketika kita berhasil mencapai sesuatu yang selama ini diperjuangkan, tetapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena ternyata masih ada hal lain yang belum tercapai.
Perasaan seperti ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Terkadang, kita tidak benar-benar gagal. Kita hanya merasa gagal karena hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan ekspektasi atau apa yang kita bayangkan sebelumnya. Kita sudah mencapai sesuatu, tetapi pikiran kita justru sibuk merisaukan hal-hal yang belum berhasil digenggam.
Fenomena menarik mengenai hal ini pernah terlihat dalam dunia olahraga. Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwa atlet peraih medali perunggu sering kali terlihat lebih bahagia daripada atlet peraih medali perak—padahal secara posisi, medali perak berada di tingkat yang lebih tinggi. Salah satu penjelasan atas fenomena ini berkaitan dengan counterfactual thinking, yaitu kecenderungan seseorang untuk membayangkan bagaimana keadaan akan berbeda jika suatu peristiwa terjadi dengan cara yang lain.
Bagi peraih medali perak, bayangan tentang peluang emas yang terlepas membuat pencapaian yang sudah diraih terasa kurang memuaskan. Sementara itu, peraih medali perunggu mungkin lebih berfokus pada kemungkinan terburuk, yaitu tidak mendapatkan medali sama sekali. Perbedaan cara memandang hasil secara relatif tersebut tentu memengaruhi bagaimana seseorang merasakan keberhasilannya. Tentu saja, bukan berarti seluruh peraih medali perak pasti lebih sedih daripada peraih perunggu. Namun, penelitian tersebut memberikan gambaran menarik bahwa perasaan kita tidak selalu ditentukan oleh apa yang berhasil didapatkan, melainkan juga dipengaruhi oleh apa yang kita pikir seharusnya bisa kita capai.
Lalu, mengapa kita begitu sulit merasa cukup? Apakah kebahagiaan memang harus menunggu sampai kita menjadi yang terbaik? Atau jangan-jangan, ada sesuatu yang perlu diubah dari cara kita memaknai keberhasilan?
Jauh sebelum manusia sibuk membandingkan pencapaian melalui angka, peringkat, dan pengakuan sosial, Aristoteles telah membahas pertanyaan mendasar tentang apa yang membuat kehidupan manusia menjadi baik. Dalam karyanya, Nicomachean Ethics, ia memperkenalkan konsep eudaimonia, yang sering diterjemahkan sebagai kebahagiaan atau kehidupan yang berkembang dengan baik (flourishing).
Bagi Aristoteles, kebahagiaan bukan sekadar perasaan senang ketika mendapatkan apa yang diinginkan. Kebahagiaan berkaitan erat dengan bagaimana manusia menjalani kehidupan melalui aktivitas yang selaras dengan kebajikan. Dengan kata lain, kehidupan yang baik tidak hanya dinilai dari akumulasi hasil yang kita kumpulkan, tetapi juga dari karakter dan cara seseorang menjalani kesehariannya.
Jika pemikiran ini dibawa ke konteks masa kini, kita bisa melihat bahwa pencapaian memang memiliki nilai penting. Mendapatkan nilai tinggi, memenangkan perlombaan, atau berhasil menggapai cita-cita tentu dapat memberikan kebahagiaan. Namun, pencapaian tersebut tidak seharusnya menjadi satu-satunya tolok ukur untuk menilai apakah hidup kita sudah berjalan dengan baik.
Bayangkan seorang siswa memperoleh nilai 90 dalam sebuah ujian. Ia sudah belajar dengan sungguh-sungguh dan berhasil memahami materi yang sebelumnya terasa sulit. Namun, ketika mengetahui temannya memperoleh nilai 95, ia mendadak merasa bahwa usahanya belum cukup. Nilai 90 yang tadinya membanggakan seketika berubah menjadi sebuah bentuk kegagalan.
Dalam keadaan seperti itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar mengapa ia tidak mendapatkan nilai yang lebih tinggi, melainkan bagaimana ia memahami keberhasilan itu sendiri. Apakah ia belajar untuk mengembangkan kapasitas dan pengetahuannya, atau justru menjadikan angka sebagai alat utama untuk membuktikan bahwa dirinya lebih unggul daripada orang lain?
Pemikiran Aristoteles mengajak kita untuk menyadari bahwa kehidupan yang baik membutuhkan lebih dari sekadar kemenangan. Proses belajar, pembentukan karakter, dan usaha tulus untuk mengembangkan potensi diri memiliki nilai yang sama pentingnya. Seseorang bisa saja mendapatkan nilai tertinggi, tetapi pencapaian itu belum tentu menunjukkan bahwa ia telah menjalani kehidupan yang baik dalam seluruh aspeknya.
Di sisi lain, terdapat pandangan yang sangat menarik untuk dipertemukan dengan gagasan Aristoteles, yaitu filsafat Stoik yang dikembangkan oleh Epiktetos. Dalam buku Enchiridion, Epiktetos menekankan pentingnya membedakan hal-hal yang berada di dalam kendali kita dan hal-hal yang berada di luar kendali kita.
Gagasan ini tentu bukan berarti mengajarkan kita untuk bersikap pasrah terhadap keadaan atau berhenti berusaha. Sebaliknya, kita diajak untuk memahami secara jernih di mana porsi usaha kita seharusnya diarahkan. Dalam sebuah perlombaan, misalnya, seorang atlet dapat mengatur jadwal latihan, mempersiapkan diri secara matang, dan berusaha memberikan penampilan terbaiknya. Namun, ia tidak memiliki kuasa penuh untuk mengendalikan kualitas lawan atau hasil akhir yang turut dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal.
Hal serupa berlaku dalam dunia akademis. Kita bisa menyusun jadwal belajar yang disiplin, mencari referensi tambahan, dan memperbaiki cara memahami materi. Namun, kita tidak dapat menjamin secara mutlak bahwa nilai kita akan selalu lebih tinggi daripada orang lain. Ketika seluruh harga diri dan rasa berharga dalam diri digantungkan pada hal-hal di luar kendali kita, setiap ketidakpastian akan terasa seperti ancaman bagi diri sendiri.
Melalui pemikiran Epiktetos, kita diajak untuk mengalihkan perhatian dari hasil akhir semata kepada kualitas pilihan dan usaha yang dapat kita pertanggungjawabkan. Menerima hasil bukan berarti kita harus menyangkal rasa kecewa. Kita tetaplah manusia yang wajar merasa sedih ketika kenyataan tak sejalan dengan harapan. Namun, setelah mengakui perasaan tersebut, kita masih memiliki kebebasan untuk menentukan cara meresponsnya: mengevaluasi kekurangan, memperbaiki strategi, dan kembali melangkah tanpa harus terus-menerus menghakimi diri sendiri.
Jika Aristoteles mengajak kita merumuskan kehidupan seperti apa yang sepatutnya kita bangun, Epiktetos membimbing kita untuk mengelola cara pandang dalam menilai serta merespons setiap hasil yang diperoleh. Keduanya membantu kita memahami bahwa keinginan untuk menjadi lebih baik tidak harus berujung pada hilangnya kemampuan untuk merasa cukup.
Ambisi pada dasarnya bukanlah sesuatu yang keliru. Keinginan untuk meraih hasil terbaik, meningkatkan kompetensi, atau menggapai cita-cita justru menjadi motor penggerak seseorang untuk terus berkembang. Kendati demikian, ambisi bisa berubah menjadi beban yang melelahkan ketika setiap pencapaian diperlakukan sekadar sebagai batu loncatan tanpa henti menuju standar berikutnya.
Ketika kita mendapatkan nilai 80, kita ingin mencapainya di angka 90. Setelah menyentuh angka 90, kita ingin menjadi yang tertinggi di kelas. Begitu target itu tercapai, kita langsung mencari standar lain yang lebih tinggi untuk dikejar. Akhirnya, kita terus berlari, tetapi tidak pernah benar-benar merasa sampai.
Dari sinilah relevansi pemikiran kedua tokoh tersebut menjadi nyata, namun perlu dipahami secara proporsional. Jika ajaran Epiktetos disederhanakan secara ekstrem menjadi anjuran untuk bersikap masa bodoh terhadap hasil, kita bisa kehilangan motivasi dan daya juang. Sebaliknya, jika pemikiran Aristoteles hanya direduksi sebagai tuntutan untuk tiada henti berprestasi, kita bisa terjebak dalam perangkap perfeksionisme yang melelahkan.
Oleh karena itu, kita tidak harus memilih antara ambisi dan penerimaan diri. Kita dapat terus berjuang menggapai hal-hal penting dalam hidup, sembari belajar menjaga agar harga diri dan kebahagiaan kita tidak sepenuhnya disandarkan pada garis akhir. Mendapatkan medali perak tidak serta-merta menjadikan seseorang gagal. Mendapatkan nilai yang lebih rendah daripada teman pun tidak menghapus ilmu dan pemahaman yang sudah kita peroleh.
Mungkin kita tidak perlu berhenti menginginkan medali emas, nilai terbaik, atau peluang yang lebih luas. Memiliki ambisi bukanlah sebuah kesalahan. Yang perlu kita pertanyakan secara jujur adalah apakah ambisi tersebut benar-benar membantu kita merajut kehidupan yang bermakna, atau justru membuat kita terjebak dalam perasaan tidak pernah cukup.
Dalam hal ini, kita juga perlu mengubah arah kompas perbandingan. Alih-alih terus-menerus mengukur diri berdasarkan pencapaian orang lain, ada baiknya kita melihat sejauh mana diri kita telah bertumbuh dibandingkan dengan diri kita di masa lalu. Apakah hari ini kita sudah memahami satu hal baru yang kemarin belum kita ketahui? Apakah kita telah berusaha lebih gigih, lebih sabar, atau lebih berani dari sebelumnya?
Gagasan untuk menjadikan hari ini lebih baik daripada kemarin sering kali disampaikan sebagai pesan moral yang sarat akan kebijaksanaan. Sebagai sebuah refleksi, pesan tersebut mengingatkan kita bahwa tolok ukur pertumbuhan tidak harus selalu berwujud kemenangan atas orang lain. Kita dapat menjadikan diri kita yang kemarin sebagai cermin untuk melihat proses perkembangan, tanpa harus mengabaikan kenyataan bahwa setiap individu memiliki garis waktu dan jalurnya masing-masing.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting yang perlu kita ajukan mungkin bukan lagi, “Mengapa aku tidak menjadi yang terbaik?” melainkan, “Apakah hari ini aku sudah bertumbuh dibandingkan dengan diriku yang kemarin?” Sebab, jika setiap keberhasilan hanya berhenti sebagai alasan untuk menetapkan standar yang lebih tinggi atau merasa tertinggal dari orang lain, kita akan terus berjalan maju tanpa pernah benar-benar merasa sampai. Kita mungkin semakin dekat dengan puncak, tetapi justru semakin jauh dari kemampuan untuk menikmati dan menghargai perjalanan kita sendiri.

