BIMA — Momen Hari Santri Nasional 2026 yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” dimaknai oleh Akademisi Universitas Muhammadiyah (UM) Bima, Salmin, M.Pd., sebagai panggilan jihad melawan narkoba di Bima.
Menurut Salmin, di tengah kemeriahan seremonial Hari Santri, ada ancaman nyata yang sedang menghancurkan generasi muda di Kota dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, yakni narkoba. Ia menegaskan, Hari Santri harus menjadi momentum luar biasa untuk deklarasi Bima Bebas Narkoba.
Pandangan Al-Qur’an: Narkoba Adalah Jalan Menuju Kebinasaan
Dalam pandangan Al-Qur’an, narkoba termasuk dalam kategori khamr—sesuatu yang memabukkan dan merusak akal. Allah SWT berfirman dengan tegas:
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Maidah: 90)
Salmin menjelaskan, ayat ini menjadi dalil qath’i bahwa segala yang merusak akal dan menimbulkan ketergantungan adalah haram. Islam menjaga akal (hifzhul aql) sebagai salah satu Maqashid Syariah. Orang yang akalnya rusak karena narkoba, maka hilanglah kemanusiaannya.
Pandangan Akademisi Salmin, M.Pd.: Narkoba Melahirkan Kejahatan Berantai
Dihubungi terpisah, Akademisi UM Bima, Salmin, M.Pd., mengatakan dampak narkoba jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkan.
”Ketika seseorang sudah terpapar narkoba, di momen Hari Santri ini kita harus jujur, banyak kejahatan lahir dari sana. Karena akalnya hilang, ia bisa melakukan pemerkosaan, merusak diri sendiri, menjadi pemboros harta keluarga, bahkan tega membunuh teman dan keluarganya sendiri. Ini fakta sosial yang terjadi,” tegas Salmin, Rabu (22/10/2026).
Dampak paling nyata di dunia pendidikan, lanjut Salmin, adalah putus sekolah dan putus kuliah. Mahasiswa yang awalnya cerdas, santun, dan berprestasi, ketika terjerat narkoba akan kehilangan masa depan. Pendidikan putus, cita-cita hancur, dan akhirnya menjadi beban masyarakat.
”Sebagai pendidik, saya sangat miris. Satu anak kena narkoba, satu keluarga hancur, satu kampung kehilangan generasi. Maka pesantren dan kampus harus menjadi benteng pertama,” ujarnya.
Pandangan Pendidikan: Bima Harus Jadi Contoh Nasional Desa Bebas Narkoba
Salmin menegaskan, dari perspektif pendidikan, Bima harus berani menjadi yang terbaik dan menjadi contoh nasional dalam menjaga lokalitas yang bersih narkoba.
Menurutnya, nilai kearifan lokal Bima yaitu “Maja Labo Dahu” (rasa malu dan takut berbuat salah) sejalan dengan nilai kesantrian. Inilah modal sosial yang harus dihidupkan kembali di sekolah, pesantren, dan kampus.
”Bima harus menjadi laboratorium terbaik gerakan santri bebas narkoba. Kita mulai dari masjid, dari pesantren, dari kampus UM Bima, dari RT/RW. Jika Bima bisa bersih, Indonesia akan melihat Bima sebagai contoh. Ini sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045 yang butuh SDM unggul, bukan SDM yang rusak karena narkoba,” jelasnya.
Ajakan Nasional: Santri, Polisi, dan Masyarakat Harus Bersatu
Di akhir pernyataannya, Salmin, M.Pd., mengajak semua pihak untuk bersatu melawan narkoba. Perang melawan narkoba tidak bisa diserahkan hanya kepada kepolisian.
”Kita harus bantu pihak yang berwenang. Kepolisian, BNN, TNI tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat. Masyarakat harus berani melapor, pesantren harus berani mendidik, kampus harus berani mengedukasi. Jadilah santri yang baik, santri yang tidak hanya saleh ritual, tapi juga saleh sosial, berani mengatakan tidak pada narkoba,” pungkasnya.
Ia berharap, peringatan Hari Santri tahun ini tidak hanya meninggalkan foto-foto kegiatan, tetapi meninggalkan gerakan berkelanjutan: Deklarasi Pesantren Bersinar (Bersih Narkoba), pembentukan Satgas Santri Anti Narkoba di setiap desa, dan penguatan pendidikan karakter di semua jenjang pendidikan di Bima.
Sumber: Wawancara Akademisi UM Bima, Salmin, M.Pd.

