KeislamanTokoh

Haji Samanhudi Pendiri Sarekat Dagang Islam

3 Mins read

Kuliahalislam.Haji Samanhudi, lahir di Karanganyar, Solo tahun 1868 dan wafat di Klaten, 28 Desember 1956. Dia merupakan pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) di Solo yang kemudian berubah menjadi partai besar dan berpengaruh di zaman pergerakan hingga di zaman kemerdekaan yaitu Partai Sarekat Islam Indonesia.

Ayahnya bernama Haji Muhammad Zen, seorang pengusaha batik di Lawiyan. Nama kecilnya adalah Supandi Wiryowikoro. Keluarga ini pindah dari Karanganyer ke Lawiyan, Solo, ketika Wiryowikoro masih berusia 2 tahun. Namanya berubah menjadi Haji Samanhudi Setelah dia menunaikan ibadah haji ke Mekah pada tahun 1904.

Pendidikan pertamanya adalah mengaji Al-Qur’an dan kemudian dilanjutkan dengan mempelajari pengetahuan agama dari Kyai Jojerno di Surabaya. Dia masuk sekolah rakyat selama 6 tahun di Solo ketika ia berusia 13 tahun, kemudian melanjutkan ke HIS di Madiun tetapi tidak sampai tamat.

Dia membantu ayahnya dalam berdagang batik sampai dia dapat berdiri sendiri pada usia 19 tahun. Pada usia itu ia menikah. Usahanya dapat dikembangkan dengan baik dan mengalami kemajuan.

Pada awal tahun 1900-an, cabang-cabang perusahannya sudah tersebar di berbagai kota seperti Tulungagung, Bandung, Purwokerto, Surabaya, Banyuwangi dan Parakan. Di Solo saja pabrik batiknya mempekerjakan kurang lebih 200 orang. Ketika itu di Solo, dia dapat digolongkan dalam kelompok orang-orang kaya.

Sepulangnya dari ibadah haji pada tahun 1905, dia menaruh minat yang besar untuk mendirikan organisasi yang bersifat sosial, umpamanya organisasi yang memberi bantuan dalam upacara perkawinan, keselamatan dan upacara kematian dengan nama “Mardhi Budhi”, di mana dia sendiri duduk sebagai ketuanya.

Sesudah berdiri Budi Utomo (BU) pada tahun 1908, Haji Samanhudi ingin mendirikan organisasi yang besar dan lebih baik lagi. Sementara itu, di Jakarta atas usaha Raden Mas Tirtoadisuryo, didirikan pula satu perhimpunan dagang dengan nama “Sarekat Dagang Islamiyah” yang bertujuan untuk memajukan perdagangan penduduk Bumiputera.

Sebab menurut orang Jakarta ketika itu yang dinamakan orang “Islam” adalah orang Bumiputera pada umumnya. Bersama-sama dengan Syekh Ahmad Banejed dan R.M Tiroadisuryo, dia mendirikan pula sebuah persekutuan dagang yang lain dengan nama “Sarekat Dagang Islam (SDI)”, yang menarik perhatian para saudagar-saudagar lain terutama saudagar di Solo.

Pada tahun 1911 di Solo ada satu perhimpunan yang bernama “Kong Sing”. Perhimpunan ini mempunyai dua golongan anggota yaitu golongan Cina dan golongan Jawa. Kerukunan di antara dua golongan itu tidak dapat bertahan lama. Anggota dari bangsa Jawa kemudian memisahkan diri di bawah pimpinan Haji Samanhudi karena dia bermaksud mendirikan perhimpunan sendiri.

Mereka ingin mendirikan organisasi yang sama yaitu cabang Sarekat Dagang Islam di Bogor. Pada satu waktu, dia pergi ke Bandung untuk usaha dagang dan tinggal di sana beberapa lama. Di sana dia bertemu dengan R.M Tirtoadisuryo, yang dapat memberi semangat perjuangan kepadanya.

Akan tetapi karena dia tidak mengetahui apakah SDI yang di Bogor telah mendapat pengakuan dari pemerintah atau belum, maka dia mendirikan perhimpunan tersendiri dengan nama yang sama. Dalam mendirikan Sarekat Dagang Islam Solo itu, dia berserikat dengan M. Asmodimejo, M. Kertotaruno, M. Sumewerdoyo, dan Haji M. Abdulrajak, semuanya pedagang di Solo. Dia lama organisasi yang baru berdiri itu, Haji Samanhudi duduk sebagai ketua.

Sesuai dengan situasi dan kondisi sosial pada waktu itu, tidak ada dua faktor yang melatarbelakangi berdirinya organisasi ini. Pertama, kompetisi yang meningkat dalam bidang perdagangan batik terutama dengan golongan Cina dan sikap superioritas orang-orang Cina terhadap orang-orang Indonesia sehubungan dan berhasilnya Revolusi Cina pada tahun 1911.

Kedua, adanya perasaan tertekan di kalangan masyarakat Indonesia di Solo. Organisasi ini dimaksudkan menjadi benteng bagi orang-orang Indonesia yang umumnya terdiri atas pedagang batik di Solo terhadap orang-orang Cina dan para bangsawan. Organisasi ini pertama-tama diarahkan pada usaha-usaha untuk memperbaiki pedagang Bumiputera dalam persaingannya dengan golongan pedagang Cina ketika itu.

Organisasi ini dalam waktu singkat mendapat banyak pengikut terutama dari golongan pedagang muslim. Pada tanggal 19 november 1912, nama organisasinya diubah menjadi Sarekat Islam dan segera memasuki wilayah kegiatan lebih luas terutama dalam lingkungan politik.

Dalam perubahan seperti itu, Haji Samanhudi tetap memegang pimpinan gerakan itu sebagai ketua sampai tahun 1914. Kemudian dia digantikan oleh H.O.S Tjokroaminoto yang telah bergabung dengan Sarekat Islam di Surabaya pada bulan Mei atas ajakan dari pendirinya yaitu Haji Samanhudi, yang memang mencari orang-orang yang telah pernah mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan yang lebih berpengalaman untuk memperkuat organisasinya itu.

Pada tahun 1914 itu juga, pemimpin-pemimpin Sarekat Islam mengadakan pertemuan di Yogyakarta untuk membentuk pengurus pusat. Dalam pertemuan itu dia diputuskan duduk dalam kepengurusan sebagai ketua kehormatan sedangkan H.O.S Tjokroaminoto sebagai ketua dan Gunawan sebagai wakil ketua.

Selama pimpinan gerakan itu berada ditangannya, Haji Samanhudi berjuang dengan tenaga dan hartanya untuk menghidupkan dan memajukan gerakan itu. Hampir seluruh biaya organisasi keluar dari uang pribadinya, mulai dari biaya kongres sampai dengan biaya rutin administrasi.

Oleh karena pengorbanan yang sangat besar itu dia kemudian jatuh miskin. Pada tahun 1953 pemerintah memperhatikan nasibnya dengan memberikan kepadanya pensiun kehormatan sejumlah Rp. 750 perbulan, bersama dengan Kiyai Hajar Dewantara dan Abdul Muis.

Tidak lama setelah itu, dia berangkat ke Jakarta dengan maksud mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, mengunjungi kawan-kawan lama dan berziarah ke makam Haji Agus Salim. Pada tanggal 28 Desember 1956, dia bawa berpulang ke rahmatullah di Klaten. Dalam upacara pemakamannya hadir pembesaran-pembesar negara. Presiden mengirimkan kawat belasungkawa atas wafatnya Haji Samanhudi.

150 posts

About author
Redaktur Kuliah Al Islam
Articles
Related posts
Keislaman

Sumpah Dalam Islam

3 Mins read
Kuliahalislam.Sumpah menurut pengertian syariat adalah menahkikan atau menguatkannya dengan menyebut nama Allah atau salah satu sifat-Nya (Tahqiq al-amr au ta’kiduhu bizikr ismi…
KeislamanSejarah

Perkembangan Sarekat Islam Di Indonesia

8 Mins read
Kuliahalislam.Sarekat Islam (SI) merupakan sebuah organisasi politik Indonesia yang paling menonjol pada awal abad ke-20, didirikan pada 10 September 1912. Sarekat Islam…
EsaiFilsafatKeislaman

Menjadi Pribadi Muslim Modern: Berpikir Irfani, Bertindak Burhani, Beramal Bayani

2 Mins read
KULIAHALISLAM.COM- Kita hidup sebagai manusia yang bersosialisasi dalam berbagai generasi dengan karakteristik dan cara berpikir yang berbeda-beda. Dari generasi Baby Boomers hingga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights