KeislamanNgaji Jawahirul Qur’an

Gus Ulil Ngaji Jawahirul Qur’an: Hermeneutika Ghazalia

3 Mins read

Anda tahu bahwa kandungan Alqur’an dibagi menjadi dua. Pertama kandungan ushul (pokok dan batang tubuh Alqur’an), kedua kandungan rawatib (yang sifatnya cabang-cabang). Karena itu, tak heran jika Alqur’an diibaratkan seperti samudera (serta isinya Alqur’an seperti batu-batu mulia). Dan hamba Allah yang mendapatkan kitab suci bertugas menyelam ke dalam lautan Alqur’an untuk mendapatkan bebatuan mulia.

Tak hanya itu, kata Gus Ulil, ada juga kandungan-kandungan Alqur’an yang kategorinya adalah al-shadaf (cangkang atau kulit luar yang di dalamnya ada isi). Kemudian ada kandungan al-lubab (batu belerang yang merah).

Demikian juga, di dalam Alqur’an, kita akan menemukan perlambang atau simbol yang oleh Imam Al-Ghazali diserupakan dengan mimpi. Anda ketika bermimpi pasti akan melihat sesuatu. Sebab itu, orang tidur ketika melihat (mimpi) sesuatu, maka tidak boleh dimaknai apa adanya.

Misalnya, ketika raja Mesir bermimpi melihat tujuh sapi yang kurus memakan tujuh sapi yang gemuk. Tentu saja, setelah bangun dari tidurnya ia akan bertanya-tanya, “Ini apa maksudnya?” Kata Gus Ulil, mimpi ini tidak boleh dimaknai secara harfiah atau apa adanya, melainkan harus ditafsirkan.

Sama, ketika Anda menemukan simbol-simbol di dalam Alqur’an, maka Anda tidak boleh memaknai secara sembarangan. Dalam hal ini, harus ditafsiri seperti orang yang bermimpi melihat akan sesuatu.

Kenapa demikian? Karena di dalam simbol ada makna-makna yang tersembunyi. Dengan kata lain, ketika Anda membaca simbolisme dalam Alqur’an, maka Anda seperti orang yang bermimpi (membutuhkan orang lain untuk menafsirkannya).

Kenapa Alqur’an mengandung simbol?

Sebagai pembaca kitab “Jawahirul Qur’an”, Anda mungkin melihat hakikat-hakikat, atau makna-makna yang terkandung dalam Alqur’an, dalam bentuk gambar-gambar ini. Karena tidak diungkapkan secara jelas, Anda menjadi bodoh.

Baca...  Bahtera Nabi Nuh Bukan Sekadar Kapal: Menyingkap Rahasia Teologi Kebatinan Syi'ah Ismailiyyah

Ketahuilah bahwa mengungkapkan hal-hal alam malakut melalui perlambang-perlambang ini mirip dengan seseorang yang tertidur dan melihat tablet raksasa yang disebut “lauhul mahfudz”, juga dikenal sebagai cloud data besar, yang terdiri dari simbol-simbol rahasia yang terkunci.

Itu sebabnya, ketika Anda terbangun dan mengingat hal itu, Anda harus menafsirkannya. Jika Anda benar-benar mengetahuinya, kondisi terbangun (sadar) ada dalam keadaan tertidur, dan hanya ketika Anda wafatlah Anda terbangun sepenuhnya.

Bukankah semua manusia di dunia ini tertidur, dan hanya saat mereka bangun dari kematian barulah mereka sepenuhnya terbangun. Dengan demikian, mereka tidak lagi melihat gambar-gambar di alam malakut, dan mereka akan mengetahui intinya.

Lebih dari itu, mereka juga akan mengetahui gambar-gambar dalam Alqur’an dan hadits yang merupakan cangkang dan kulit dari ruh-ruh tersebut. Karena itulah akhirnya mereka bisa memahami ajaran Rasulullah SAW.

Seperti seorang pria yang bermimpi menjadi muadzin dan bertanya kepada Ibnu Sirin, “Apa arti mimpi itu?” dan Ibnu Sirin memberi tahu dia bahwa perlambang dalam mimpi itu akan membuatnya menjadi muadzin di masa depan. Setelah menjadi muadzin, pria itu menemukan bahwa perlambang itu benar.

Dan dia akan mengetahui semua rahasia (perlambang) di dunia ketika dia wafat sendirian, tanpa bantuan dari orang lain yang memiliki pengetahuan ruhani yang tajam. Kadang-kadang, saat manusia hampir mati, mereka memiliki kesempatan untuk mengetahui sedikit dari rahasia-rahasia itu. Kita tidak akan celaka jika kita taat kepada nabi dan rasul-Nya serta kepada Allah Swt. sebelum kita mati.

“Andai kami bisa kembali ke dunia dan mengulang waktu maka kami akan melakukan hal yang berbeda agar kami tidak celaka,” kata mereka setelah meninggal. Selain itu, pernyataan, “Ah celakalah aku karena menjadikan orang jahat sebagai temanku, seandainya aku bisa kembali ke dunia dan memperbaikinya.”

Baca...  Mengenal Hakikat Manakib Dalam Islam

Selain itu, seperti yang dikatakan orang kafir di akhirat ketika mereka melihat orang yang beriman, “Andai hari ini aku jadi tanah dan punah sepunahnya maka aku tidak perlu masuk neraka.”

Salah satu penyesalan lain adalah, “Wahai Tuhanku, aku dulu pernah melihat dan mendengar kebenaran tapi tidak mau mengikutinya dan celakalah kami sekarang karena sesungguhnya jika kami tahu maka kami akan mengikutinya karena semuanya adalah kebenaran dan kami mengingkarinya karena kami tidak tahu hakikatnya.”

Selain itu, Ibn Sirin memberikan penjelasan tentang isyarat dalam Alqur’an yang mengacu pada tempat kembali, yaitu akhirat. Bahkan saya sendiri, Kata Imam Al-Ghazali, menjelaskan hal ini dengan perlambang batu giok—batu mulia berwarna hijau.

Karena alam kodrati dan alam gaib saling terkait dan terkait seperti kulit dan isi, ketahuilah bahwa selama Anda hidup di dunia nyata, Anda sedang tertidur, dan Anda akan bangun setelah Anda meninggal.

Dengan demikian, jika Anda ingin menyaksikan kebenaran secara langsung (jelas) itu terjadi setelah Anda mati dan sebelum Anda meninggal, maka Anda tidak akan dapat memahaminya. Kenapa? Karena kebenaran ini dibungkus dalam metafora, atau perlambang, yang menutup kebenaran alam gaib.

Syahdan. Oleh karena pandangan dirimu yang tertutup terhadap indera fisik dirimu, yang sepenuhnya bergantung pada indera tubuh lahir, engkau tidak mengetahui keadaan sesungguhnya (makna kebenaran) dari simbol-simbol yang ada di Alqur’an. Selain itu, engkau tidak memahami ruh dirimu dan hanya memperhatikan badanmu. Wallahu a’lam bisshawab.

208 posts

About author
Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Penulis juga kontributor tetap di E-Harian Aula digital daily news Jatim.
Articles
Related posts
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya’ Ulumuddin: Kedermawanan Itu Harus Dipaksa

2 Mins read
Suatu waktu, Imam Abu Hasan Al-Busyanji hendak masuk ke dalam toilet. Ia kemudian memanggil muridnya dan berkata, “Tolong lepaskan gamisku ini dan…
KeislamanNgaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad

Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad fi al-I’tiqad: Buruknya Sifat Prasangka

3 Mins read
Kita tahu bahwa prasangka adalah asumsi yang biasanya bersifat negatif. Karena keterbatasan informasi tentang kelompok atau individu, seseorang dapat berprasangka buruk akibat…
KeislamanNgaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad

Gus Ulil Ngaji Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad: Menilik Kepemimpinan Politik Islam

2 Mins read
Kita mengenal posisi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dalam menyikapi persoalan imamah (kepemimpinan), yakni memilih kepala negara atau pemimpin adalah sebuah kewajiban. Gus…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights