Opini

Generasi Yang Lelah Sebelum Bertanding: Mengapa Anak Muda Makin Takut Gagal?

2 Mins read

Generasi yang lelah sebelum bertanding: mengapa anak muda makin takut gagal? Tidak ada yang lebih ironis daripada hidup di era yang serba mudah, tetapi justru membuat banyak anak muda merasa sulit bernafas.

Kita tumbuh dalam dunia yang penuh peluang, namun pada saat yang sama penuh jebakan ekspektasi. Kesempatan terbentang luas, tapi kaki sering gemetar sebelum melangkah. Seolah ada dinding kaca yang tidak terlihat, tapi keras, yang menghalangi niat untuk mencoba.

Banyak anak muda hari ini merasa lelah bahkan sebelum bertanding. Ada yang baru mulai kuliah, tapi sudah cemas tentang masa depan kerja. Ada yang kerja baru setahun, tapi sudah takut dianggap “tidak sukses”. Ada yang mau memulai usaha kecil-kecilan, tapi pikiran langsung melayang pada kemungkinan gagal. Kegagalan seperti momok yang terus membayangi, padahal perjalanan belum dimulai.

Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba. Ada tekanan halus yang tiap hari merayap dari layar ponsel. Setiap kali membuka media sosial, kita disuguhi parade pencapaian. Teman sebaya membeli rumah, padahal usia baru dua puluh lima. Ada yang keliling dunia dengan paspor penuh cap, sementara kita pagi ini saja bangun telat. Ada yang tampil percaya diri dalam berbagai forum, sementara kita masih berdebat dengan diri sendiri hanya untuk menekan tombol “kirim” di email.

Pada titik tertentu, hidup seperti kompetisi yang tak pernah kita daftarkan secara sadar. Semua perlombaan berjalan serentak, dan kita tiba-tiba jadi pesertanya. Lalu muncul rasa takut gagal yang tidak rasional: takut membuat malu diri sendiri, takut ketinggalan, takut dicap tidak cukup hebat. Dalam budaya yang memuja hasil akhir, proses sering dianggap tidak penting. Akibatnya, orang tidak berani memulai.

Baca...  Belajar dari Gus Dur: Islam yang Membumi

Budaya yang mengerdilkan proses

Rasa takut gagal ini tumbuh subur di lingkungan yang menganggap kegagalan sebagai aib. Banyak dari kita dibesarkan dengan standar kesuksesan yang kaku: harus mapan pada usia tertentu, harus berhasil pada percobaan pertama, harus terlihat hebat meski sebenarnya sedang belajar. Tekanan sosial yang terbentuk dari nilai-nilai “harus berhasil” membuat banyak anak muda merasa tidak punya ruang untuk keliru.

Ekspektasi keluarga, meski sering dibungkus niat baik, juga bisa berubah menjadi tekanan. Ungkapan seperti “yang penting punya masa depan cerah” terdengar sederhana, tetapi ketika diberi secara terus-menerus, ia menjadi beban yang menua sebelum waktunya. Tidak semua jalan hidup lurus dan cepat. Namun realitas ini jarang mendapat tempat dalam percakapan keluarga.

Yang sering kita lupakan, generasi sekarang bukan sedang malas. Mereka hanya hidup di tengah kebisingan standar sosial yang menuntut kecepatan, performa, dan citra. Dalam hiruk pikuk itu, sulit sekali menemukan suara diri sendiri. Sulit berhenti sejenak untuk merenungkan apa sebenarnya yang diinginkan dari hidup.

Dunia yang ramai, ruang aman yang sepi

Di tengah dunia yang sibuk memamerkan pencapaian, ruang aman untuk berproses menjadi makin sepi. Media sosial lebih sering memuja hasil akhir ketimbang usaha yang panjang dan melelahkan. Tidak banyak ruang yang merayakan jatuh-bangun, padahal di situlah manusia dibentuk. Ketika ruang aman semakin sempit, ketakutan tumbuh dengan sendirinya.

Kita butuh lingkungan yang menjadikan kegagalan sebagai bagian alami dari tumbuh. Bukan sebagai stigma. Kita butuh masyarakat yang mengapresiasi langkah kecil, bukan hanya puncak prestasi. Dan yang paling penting, kita butuh keberanian untuk melihat hidup dari kaca mata diri sendiri, bukan dari penilaian orang lain.

Baca...  Di Ambang Migas: Negara Wajib Melindungi Pulau Kangean

Perlahan-lahan, satu langkah kecil sudah cukup untuk mematahkan rasa takut itu. Ketika seseorang berani mencoba, meski perlahan, ia sedang membangun ruang aman untuk dirinya sendiri. Ruang di mana kesalahan bukan akhir, tetapi bagian dari perjalanan.

Generasi ini sebenarnya tidak takut gagal. Mereka hanya ingin dijamin bahwa ketika jatuh, mereka tidak akan ditertawakan atau direndahkan. Mereka ingin diberikan kesempatan untuk bangkit tanpa dihitung-hitung. Mereka ingin diakui bahwa menjadi manusia biasa dengan proses belajar yang panjang adalah sesuatu yang manusiawi.

Pada akhirnya, keberanian terbesar bukanlah memenangkan semua hal. Keberanian terbesar adalah tetap melangkah meski bayangan gagal mengikuti dari belakang. Selama kita masih bergerak, kita belum kalah.

22 posts

About author
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Islam Malang dan Alumni PP Darurrahman, Pangarangan, Sumenep, Alumni PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
Articles
Related posts
Opini

Penyebab Kemiskinan di Kabupaten Sampang: Analisis Kebijakan dan Korupsi

2 Mins read
Penyebab kemiskinan yang menimpa suatu daerah bukan hanya bersumber dari minimnya akses lapangan pekerjaan, melainkan wujud dari ketidakseriusan pemerintah daerah dalam menanganinya….
Opini

Banjir Jember dan Kerusakan Lingkungan: Analisis Penyebab Utama

3 Mins read
​Beberapa hari lalu, akun TikTok Jember 24 Jam mengunggah video banjir bandang. Dalam rekaman itu, tampak banjir menenggelamkan rumah-rumah warga di Jember….
Opini

Colosseum Digital sebagai Sanksi Sosial: Ketika Jempol Menjelma Menjadi Palu Hakim

3 Mins read
Hadirnya fenomena “No Viral, No Justice” sebenarnya adalah sinyal bagi sistem hukum kita untuk berbenah. Di satu sisi, viralitas telah menjadi alat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Opini

Sekolah Full Day: Antara Ambisi Pendidikan dan Tubuh Anak yang Kelelahan

Verified by MonsterInsights