Keislaman

Cara Muktazilah Memahami Takdir Manusia

5 Mins read

Tuhan bukan penentu takdir manusia, melainkan sepenuhnya karena usahanya sendiri: cara Mu’tazilah memahami takdir manusia.

Pembahasan mengenai takdir sejak dulu selalu menjadi topik panas yang selalu memancing rasa ingin tahu manusia setiap kali seseorang merasa takdir dalam hidupnya berjalan diluar dugaan ataupun Ketika suatu peristiwa yang menyenangkan muncul tanpa memberi tahu.

Dalam tradisi Islam sendiri, persoalan takdir menjadi pembahasan yang menjadi perdebatan Panjang oleh para teolog, filosof, hingga mufasir klasik. Dari semua aliran yang pernah muncul, Mu’tazilah adalah salah satu yang paling berani menyuarakan pandangan berbeda, terutama soal hubungan antara kehendak Tuhan dan kebebasan manusia.

Untuk memahami gagasan mereka, kita harus mulai dari pemahaman mendasar dalam Islam: bahwa Allah adalah pengatur segala urusan di muka bumi ia maha esa tak pernah tertidur ataupun lengah sedikitpun dalam mengatur seluruh isi bumi ini.

Al-Qur’an menggambarkan dengan sangat detail betapa luas dan menyeluruhnya kekuasaan Tuhan terhadap alam semesta. Ia mengatur perjalanan matahari dan bulan, menegakkan langit tanpa tiang, menghidupkan dan mematikan makhluk, dan bahkan selembar daun yang jatuh pun sudah diatur olehnya.

Dalam QS. Yunus ayat 3 dijelaskan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi lalu mengatur seluruh urusan tanpa ada satu pun yang dapat menandingi keputusan-Nya. QS. Ar-Ra’d ayat 2 memperlihatkan bahwa matahari dan bulan masing masing beredar sesuai waktu yang ditentukan, sementara QS. As-Sajdah ayat 5 menyebutkan bahwa setiap urusan naik kepada-Nya dalam satu hari yang setara seribu tahun menurut hitungan manusia.

Gambaran ini menunjukkan bahwa Allah dengan kuasanya dapat mengatur alam semesta dengan sistem yang sangat rapi dan terkendali, bahkan sampai sesuatu yang sangat kecil pun berada dalam genggamannya. Secara logika, jika segala sesuatu sudah diatur oleh Allah, maka muncul pertanyaan yang tidak dapat dihindari: apakah manusia masih bisa menentukan takdirnya sendiri?

Pertanyaan inilah yang menjadi bahan bakar perdebatan para ulama’ imam besar dan para pakarnya selama berabad-abad. Sebagian besar jumhur ulama mengakui bahwa manusia memiliki hak untuk berikhtiar ia dapat berusaha sebaik semaksimal mungkin dalam hidupnya kemudian menyerahkan semua kepada Allah tuhan seluruh alam, tetapi ikhtiar tersebut tidak sepenuhnya lepas dari kekuasaan dan kehendak Allah melainkan tetap dalam pengawasannya.

Namun Mu’tazilah datang membawa pemahaman yang jauh lebih tegas. Dimana terdapat dalam salah satu ajaran dasar teologinya yaitu Al’adl yang berarti Tuhan Maha Adil. Adil adalah sebutan yang paling jelas untuk menunjukkan kesempurnaan.

Karena Tuhan Maha Sempurna, sudah pasti Dia adil. Namun yang dimaksud adil disini adalah bahwa tuhan tidak berperan apapun dalam penentuan takdir seorang hamba melainkan manusia sendirilah yang memiliki hak sepenuhnya dalam segala perbuatannya, jadi ia diberi kebebasan penuh tergantung pada dirinya sendiri mau berbuat kebaikan atau keburukan.

Baca...  Rihlah Pengembaraan Muslim Mengelilingi Dunia

Meski demikian, Mu’tazilah menegaskan bahwa Tuhan tetap berada pada posisi moral yang sempurna. Tuhan tidak menghendaki kecuali sesuatu yang baik, dan setiap perintah-Nya sudah pasti mengarah pada kebaikan. Sebaliknya, segala yang dilarang Tuhan adalah sesuatu yang pada hakikatnya buruk.

Oleh karena itu, perbuatan buruk yang dilakukan oleh manusia merupakan real hakiki dari manusia itu sendiri dan sama sekali tidak bisa disandarkan kepada tuhan sedikitpun. Karena Tidak mungkin Tuhan menciptakan perbuatan buruk pada manusia, lalu menghukum manusia atas perbuatan yang bukan pilihannya. Itu, menurut mereka, akan membuat Tuhan tampak tidak adil.

Karena itu, demi menjaga kesucian dan kemurnian sifat Tuhan, Mu’tazilah menyimpulkan bahwa manusia sendirilah pencipta perbuatannya, baik maupun buruk. Sebagaimana yang tertera dalam kitab Tafsir Al- kasysyaf yang bercorak Mu’tazilah karya Imam Az-zamakhsyari dalam Qur’an surat Fussilat ayat 46

﴿ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهٖ ۙوَمَنْ اَسَاۤءَ فَعَلَيْهَا ۗوَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ ۔ ٤٦ ﴾ ( فصّلت/41: 46)

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan siapa yang berbuat jahat, maka (akibatnya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba(-Nya)”. (Fussilat/41:46)

Didalam kitab tafsirnya Az-zamakhsyari menjelaskannya sebagai berikut:

فَلِنَفْسِهِ فنفسه نفع فَعَلَيْها فنفسه ضرّ وَما رَبُّكَ بِظَلَّامٍ فيعذب غير المسيء

Maka (kebaikan itu) bagi dirinya sendiri yakni, manfaatnya kembali kepada dirinya. Dan (keburukan itu) atas dirinya sendiri yakni, bahayanya kembali kepada dirinya. Dan Tuhanmu tidaklah zalim’yakni, Dia tidak akan mengazab selain orang yang berbuat buruk. Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa segala perbuatan manusia baik ataupun buruk maka akan Kembali kepada dirinya sendiri.

Disebutkan juga dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 186 pada lafadz

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ …… .الأيةۗ ( البقرة/2: 286)

Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya…… (Al-Baqarah/2:286)

Didalam kitab tafsirnya Al-kasysyaf dijelaskan sebagai berikut

وقرأ ابن أبى عبلة وسعها بالفتح لَها ما كَسَبَتْ وَعَلَيْها مَا اكْتَسَبَتْ ينفعها ما كسبت من خير ويضرها ما اكتسبت من شر، لا يؤاخذ بذنبها غيرها ولا يثاب غيرها بطاعتها. فإن قلت: لم خص الخير بالكسب، والشر بالاكتساب؟ قلت: في الاكتساب اعتمال، فلما كان الشر مما تشتهيه النفس وهي منجذبة إليه وأمّارة به، كانت في تحصيله أعمل وأجدّفجعلت لذلك مكتسبة فيه. ولما لم تكن كذلك في باب الخير وصفت بما لا دلالة فيه على الاعتمال. أى لا تؤاخذنا بالنسيان أو الخطأ إن فرط منا

Baca...  Antara Gadget dan Iman: Metode Pengajaran Akidah Untuk Mengadapi Tantangan Generasi Z di Era Digital

Teks tersebut menjelaskan bahwa terdapat perbedaan diksi antara “kebaikan” dan “kejahatan” pada ayat “لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ”, Ayat tersebut menegaskan bahwa seseorang memperoleh manfaat dari kebaikan yang ia usahakan dan menanggung akibat dari kejahatan yang ia perbuat sendiri. Tidak ada seorang pun yang akan dibebani atas dosa orang lain, begitu pula tidak ada seorang pun yang memperoleh pahala atas apa yang orang lain kerjakan.

Penggunaan kata “kasaba” untuk kebaikan dan “iktasaba” untuk kejahatan memuat makna tersirat: pada “iktisab” yang bermakna kejahatan terdapat suatu usaha yang lebih berat untuk memeperolehnya, karena kejahatan adalah sesuatu yang diinginkan oleh hawa nafsu dan manusia cenderung mengusahakannya.

Maka, dalam hal kejahatan, seseorang dapat lebih giat dan bersungguh-sungguh dalam meraihnya, sehingga diksi yang digunakan adalah bentuk usaha aktif atau dalam ilmu nahwu bisasa disebut fiil mudhori’ yang bermakna sdang atau akan dilakukan. Berbeda dengan”kasaba” yang bermakna kebaikan ia tertulis dalam bentuk fiil madhi yang bermakna telah dilakukan atau masa lampau.

Maksudnya adalah jika kebaikan itu sudah pasti sifatnya seperti kewajiban sholat lima waktu, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya, atau bisa disimpulkan bahwa segala sesuatu yang baik kan pasti ada dalil dan perintahnya baik dalam Al-Qur’an, hadis, Ijma’,qiyas dan sumber hukum islam yang lainnya.

Berbeda dengan kejahatan tidak ada satupun sumber hukum yang memerintahkan kita untuk melakukan kejahatan. Oleh karena itu mu’tazilah berpendapat bahwa segala seuatu yang dilakukan oleh manusia itu tergantung keputusannya sendiri secara mutlak. Tidak ada campur tangan tuhan sedikitpun dalam hal tersebut.

Cara pandang semacam ini tentu saja membuat Mu’tazilah terlihat sangat berani, bahkan radikal, di hadapan aliran teologi lainnya. Mereka menempatkan manusia seolah-olah menjadi pencipta takdir seutuhnya dalam hidupnya sendiri. Namun bagi Mu’tazilah, keberanian ini justru bentuk penghormatan kepada Tuhan.

Jika Tuhan Mahaadil, maka logis jika manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas perbuatannya apalagi perbuatan buruknya. Tuhan tidak mungkin menghukum seseorang yang perbuatannya ditentukan oleh Tuhan sendiri. Oleh karena itu, mereka menilai bahwa perbuatan buruk tidak mungkin berasal dari Tuhan, dan tidak layak disandarkan kepada-Nya.

Perbuatan buruk berasal dari manusia sendiri, sebagaimana kebaikan pun merupakan hasil usahanya sendiri.Mereka menilai bahwa membiarkan manusia sebagai pencipta perbuatannya tidak berarti merampas kekuasaan Tuhan.

Baca...  Risalah Rasul Menurut Ulama

Tuhan tetap Mahakuasa, tetapi kekuasaan itu mencakup pemberian kebebasan kepada manusia. Tuhan tidak kehilangan sedikit pun kekuasaan dengan memberi manusia kebebasan untuk memilih.

Namun dengan begitu bukan berarti segala kejadian di bumi ini bukan Allah yang mengaturnya seperti kelahiran dan kematian, kejutan alam yang tak terduga seperti tanah longsor, gunung Meletus, banjir dsb, tetap Tuhan lah pengatur dan pencipta seluruh alam tetapi menurut mu’tazilah setiap Tindakan manusia baik atau buruknya itu dihasikan oleh kemauan dari dirinya sendiri(hanya pada bagian ini saja) tidak mencakup apa saja yang terjadi di muka bumi ini.

Implikasi dari pemikiran ini sangat besar. Pertama, manusia memiliki tanggung jawab moral mutlak. Jadi Tidak ada alasan untuk mengatakan “sudah takdir” Ketika ia melakukan kesalahan. Karena Setiap tindakan adalah pilihannya sendiri. Kedua, keadilan Tuhan tetap terjaga secara utuh dan sangat konsisten.

Tidak ada hukuman tanpa kejahatan, dan tidak ada pahala tanpa kebaikan. Ketiga, akal menjadi alat yang sangat penting dalam memahami perintah dan larangan Tuhan. Karena manusia yang memutuskan sendiri, ia harus memikirkan setiap tindakannya secara matang.

Keempat, seluruh hukum syariat dianggap masuk akal karena Tuhan tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang buruk atau mustahil dilakukan. Jika pandangan teologis lain menyebutkan bahwa takdir adalah garis besar yang telah ditentukan sejak awal, maka Mu’tazilah memandang bahwa takdir hidup manusia adalah cerita yang ditulis oleh manusia itu sendiri dengan pena pilihan dan kehendaknya, Tuhan hanya menyediakan kertas, dan memberikan aturan lalu menilai hasil akhirnya. Tetapi setiap paragraph tetap berasal dari tangan manusia. Dan di situlah letak keadilan Tuhan yang sesungguhnya menurut Mu’tazilah.

Daftar Pustaka

Muhyidin, Muhyidin, and Nasihin Nasihin. “Rasionalitas Teologi Mu’tazilah.” Ummul Qura: Jurnal Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Lamongan 15, no. 2 (October 2020): 77–85. https://doi.org/10.55352/uq.v15i2.157.

Mahmūd bin ‘Umar bin Aḥmad al-Zamakhsyarī, al-Kasysyāf ‘an Ḥaqāʾiq Ghawāmiḍ at-Tanzīl wa-ʿUyūn al-Aqāwīl fī Wujūh at-Taʾwīl, tahqīq dan tertib Muṣṭafā Ḥusain Aḥmad, Kairo: Dār ar-Rayyān li al-Turāts; Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, cet. III, 1407 H/1987 M, jld. 3, h. 203.

Al-Zamakhsyarī, Mahmūd bin ‘Umar bin Aḥmad. al-Kasysyāf ‘an Ḥaqāʾiq Ghawāmiḍ at-Tanzīl wa-ʿUyūn al-Aqāwīl fī Wujūh at-Taʾwīl, tahqīq dan tertib Muṣṭafā Ḥusain Aḥmad, Kairo: Dār ar-Rayyān li al-Turāts; Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, cet. III, 1407 H/1987 M, jilid 1, halaman 332.

4 posts

About author
Alumni Pondok Pesantren Putri Walisongo, sekarang menjadi mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Articles
Related posts
Keislaman

Tuhan sebagai Sumber Pengetahuan Terpercaya: Perspektif Epistemologi Islam

4 Mins read
Sebagai makhluk theomorfis, manusia memiliki sesuatu yang agung di dalam dirinya, yaitu akal, kehendak bebas (free will), dan kemampuan berbicara. Akal membawa…
Keislaman

Di Balik Mukjizat Isra Mi'raj: Pesan Penghiburan Bagi Hati yang Luka

4 Mins read
Mari kita selami kisah agung Isra Mi’raj. Bukan sekadar perjalanan kilat, melainkan sebuah oase di tengah gurun kesedihan, sebuah pelukan Ilahi yang…
Keislaman

Berdirinya Dan Runtuhnya Kesultanan Riau

2 Mins read
Kuliahalislam.Kesultanan Riau merupakan Kesultanan yang terletak di Kepulauan Riau. Kesultanan ini adalah pecahan sekaligus lanjut dari Kesultanan Johor-Riau (Kesultanan Johor) yang berpusat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
KeislamanNgaji Ihya’ Ulumuddin

Gus Ulil Ngaji Ihya' Ulumuddin: Riwayat Kedermawanan dari Sahabat dan Tabi’in

Verified by MonsterInsights