Di sebuah desa kecil di lereng gunung, hiduplah seorang gadis bernama Sari. Ia baru berusia dua belas tahun ketika tragedi menghantam keluarganya. Ayahnya, seorang nelayan, tenggelam dalam badai laut yang ganas. Ibunya, yang tak kuasa menanggung duka, meninggal dunia tak lama setelahnya karena penyakit yang dibiarkan tanpa pengobatan. Sari ditinggalkan sendirian di rumah kayu reyot, dikelilingi oleh kegelapan malam yang seolah tak pernah berakhir.
βMalam-malam itu, Sari sering terbangun dengan keringat dingin. Angin yang berembus melalui celah-celah dinding rumahnya membawa suara desisan yang menyerupai bisikan hantu. Ia takut pada kegelapan, pada bayangan yang menari-nari di dinding, dan pada kesunyian yang menggigit tulang. Sekolahnya pun ia tinggalkan karena tak ada lagi yang peduli untuk membimbingnya ke sana. Desa itu sendiri seolah mati suri; penduduknya sibuk dengan urusan masing-masing, tak ada yang mau repot dengan anak yatim piatu seperti Sari.
βSuatu malam, hujan deras turun. Sari meringkuk di sudut rumah, memeluk lututnya erat-erat. Petir menyambar, menerangi ruangan sekejap mata, dan ia seolah melihat wajah ayahnya dalam kilasan cahaya itu. “Ayah,” bisiknya dengan air mata mengalir deras. Ia merasa dunia ini hanyalah kegelapan tanpa akhir, tempat harapan tak pernah kunjung datang.
βKeesokan harinya, Sari memutuskan untuk pergi ke hutan di belakang desa. Ia mendengar kabar dari warga bahwa di sana terdapat pohon tua yang konon bisa memberikan keajaiban. Dengan tas kecil berisi roti basi, ia berjalan menyusuri jalan setapak yang licin. Hutan itu gelap; pepohonan rimbun menutupi langit, membuat siang hari pun terasa seperti malam. Ia tersesat. Ranting-ranting menusuk kulitnya, dan suara binatang liar membuatnya gemetar. “Ini akhirnya,” pikirnya putus asa. Ia duduk di bawah pohon besar, menangis hingga kelelahan.
βNamun, di tengah kegelapan itu, sebuah keajaiban terjadi. Dari kejauhan, ia melihat titik cahaya kecil. Awalnya, ia mengira itu hanya khayalan. Cahaya itu semakin dekat, bergerak perlahan. Ternyata itu adalah ribuan kunang-kunang yang beterbangan, menerangi hutan dengan cahaya hijau keemasan. Mereka berkumpul di sekitar pohon tua, menciptakan aurora mini yang indah. Sari terpana. Ia merasa hangat, seolah cahaya itu menyentuh jiwanya.
βDi antara kerumunan kunang-kunang itu, muncul seorang wanita tua. Namanya Nenek Mira, seorang penyembuh yang tinggal di tepi hutan. Ia mendengar tangis Sari dan datang untuk menolong. “Anakku, kegelapan bukanlah akhir,” kata Nenek Mira sambil tersenyum tenang. Ia menceritakan kisahnya sendiri: dahulu ia kehilangan suami dan anak-anaknya dalam wabah penyakit, tetapi ia menemukan cahaya dengan cara membantu orang lain. Nenek Mira kemudian mengajari Sari cara meracik obat dari tanaman hutan dan membawanya pulang ke rumahnya yang sederhana.
βBersama Nenek Mira, Sari belajar untuk hidup kembali. Ia membantu mengumpulkan rempah-rempah, merawat kebun kecil, dan bahkan mulai bersekolah lagi di desa tetangga. Kunang-kunang itu, yang ternyata sering muncul pada malam-malam tertentu, menjadi simbol harapan baginya. Mereka mengingatkannya bahwa di tengah kegelapan terdalam, selalu ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan.
βTahun-tahun berlalu. Sari tumbuh menjadi wanita yang kuat, membantu Nenek Mira menyembuhkan penduduk desa. Ia tak lagi takut pada kegelapan karena ia tahu cahaya sejati selalu ada di dalam dirinya. Dan pada malam-malam ketika hutan kembali gelap, kunang-kunang itu tetap datang, menerangi jalan bagi siapa saja yang tersesat.

