KULIAHALISLAM.COM- Bagi mereka yang tumbuh di era 2000-an, nama Anis Matta identik dengan refleksi spiritual yang dalam di majalah Tarbawi—sebuah majalah yang sezaman dengan majalah sabili, namun lebih menitikberatkan pembahasan tentang tazqiyatun nifas dan tarbiyatul islam. Melalui rubriknya, ia menggali sisi kemanusiaan kita sebagai muslim yang paling sublime dan titik nadir. Namun, Anis Matta tidak membiarkan dirinya terjebak dalam kontemplasi narasi belaka. Ia memahami bahwa kesalehan individu harus bertransformasi menjadi kekuatan kolektif yang menggerakkan peradaban. Oleh sebabnya tak heran ia membersamai Gerakan tarbiyah—Gerakan yang diilhami dari Ikhwanul Muslimin Mesir; sekaligus turut membidani kelahiran Partai Keadilan (PK) —yang kemudian menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Bahkan kepiawaiannya dalam berpolitik teruji dalam manuvernya ketika menjadi mas’ul (pemimpin) PKS, diera hantaman isu korupsi. Banyak pengamat yang mengira, PKS akan hancur lebur pasca hantaman isu korupsi dan gratifikasi yang melanda partai berlogo bulan sabit kembar ini.
Sebagai politisi ideolog, Ia membawa semangat “Gelombang Ketiga”—sebuah visi yang memaksa Muslim Indonesia untuk berhenti merasa sebagai “penumpang” sejarah dan mulai menjadi “sopir” bagi arah baru bangsa. Dalam bukunya, Gelombang Ketiga Indonesia, ia menuliskan sebuah kalimat yang membakar kesadaran kaum muda: “Kita tidak sedang membangun sebuah partai, kita sedang membangun sebuah bangsa. Dan bangsa yang besar tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari besarnya tekanan sejarah yang mampu ia lalui.”— [Anis Matta, “Gelombang Ketiga Indonesia”, 2014].
Transformasinya dari seorang penulis ideolog menjadi pemimpin partai politik (PKS sebelumnya, dan kini Ketua Umum Partai Gelora) adalah bukti bahwa ia adalah seorang praktisi sejarah kontemporer. Ia tidak hanya bicara tentang “apa”, tetapi “bagaimana” Islam menjadi solusi di tengah krisis identitas global. Ketokohan Anis Matta tidak lepas dari sorotan para ulama dan cendekiawan Islam kontemporer. Fenomena ketokohannya dianggap sebagai jawaban atas kebutuhan pemimpin yang memiliki kedalaman literasi sekaligus kecakapan teknokrasi.
Prof. Dr. Din Syamsuddin, Cendekiawan Muhammadiyah, pernah mengapresiasi kapasitas intelektual Anis yang mampu melampaui sekat-sekat kelompok. Beliau memandang Anis sebagai sosok yang mampu mengartikulasikan nilai Islam dalam bahasa modern yang universal. Argumentasi ini diperkuat oleh perspektif Yusuf al-Qaradawi mengenai Fiqh al-Waqi’ (fikh realitas). Dalam konteks gerakan Islam modern, Qaradawi menekankan:”Kejayaan Islam di masa depan bergantung pada para aktivis yang mampu membaca realitas zaman dengan mata hukum Tuhan, namun menyampaikannya dengan lidah kemanusiaan yang universal.” [Yusuf al-Qaradawi, “Fiqh al-Awlawiyat” (Fikih Prioritas)]. Anis Matta memegang teguh nilai ini; sebuah integritas yang menghubungkan teks suci dengan realitas sosial yang pahit. Ia meyakini bahwa kontribusi Muslim di Indonesia harus menjadi rahmatan lil ‘alamin, sebuah visi yang menempatkan Indonesia sebagai jangkar baru dunia Islam.
Secara pribadi, kita tertarik pada cara Anis Matta membedah konsep “Akhir Zaman”. Jika pada umumnya sejarawan sering memotret kekuatan sejarah yang dingin, Anis justru menghadirkan hangatnya harapan. Ia menolak narasi akhir zaman yang bersifat eskapis (melarikan diri dari realitas) atau penuh ketakutan. Baginya, akhir zaman adalah momentum bagi Muslim Indonesia untuk memberikan kontribusi terbaiknya. Ia mendorong pemuda Islam untuk menguasai “Diplomasi Peradaban”. Baginya, Muslim Indonesia memiliki keunggulan unik: moderasi yang kuat dan basis intelektual yang tumbuh. Dalam karyanya yang fenomenal, Menikmati Demokrasi, ia mengingatkan: “Pemenang sejarah bukanlah mereka yang paling kuat fisiknya, melainkan mereka yang paling mampu menjaga stamina mimpinya di tengah kelelahan zaman.” [Anis Matta,2002].
Lantunan ide-ide Anis Matta tersebut seolah memberikan alasan bagi setiap pemuda untuk bangga bergerak. Ia tidak hanya bicara tentang memenangkan suara di kotak pemilu, tetapi tentang memenangkan peradaban di ruang pemikiran. Di tangannya, diplomasi bukan sekadar jabat tangan formal di forum internasional, melainkan pertukaran ide yang bermartabat untuk menjaga kedaulatan umat dan bangsa.
Anis Matta adalah pengingat kita sebagai muslim modern bahwa di “akhir zaman” yang penuh ketidakpastian ini, narasi dan dialektika masih memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Ia adalah konseptor yang percaya bahwa masa depan Indonesia dan Islam adalah satu tarikan napas yang sama. Darinya kita belajar, bahwa setiap gagasan besar, wajib diperjuangkan secara totalitas. Sebagai penutup ada baiknya kita renungi filosofinya tentang kerja keras dan doa —yang pernah tertuang pada tulisannya di majalah tarbawi: “Jangan biarkan kebisingan dunia menenggelamkan suara hati nuranimu. Sebab di akhir zaman ini, cahaya yang paling terang adalah cahaya ilmu yang diamalkan dengan penuh cinta.”

