Hidup yang terus berputar membuat kita sebagai umat Islam terkadang berjalan tidak sesuai rencana. Bisa baik dan buruk setiap perjalanannya. Namun lingkungan yang membentuk kepribadian kita mempengaruhi pola hidup, pola berpikir terus berjalan.
Alhasil yang dulunya baik-baik saja berubah menjadi buruk. Sama halnya hal-hal buruk masa lampau, tiba-tiba jadi baik. Mengapa bisa begitu? Apa faktor mempengaruhi seseorang untuk berubah.
Coba kita analisis baik-baik penjelasan Abi Sumardi pada kultumnya acara Kajian Remaja Masjid Nurul Huda yang diadakan di Masjid Nurul Huda, Perumahan Korpri, Gayamsari, Kecamatan Sukoharjo, Sukoharjo, Jawa Tengah menyingung soal lingkungan.
Ia berpendapat bahwa lingkungan Adalah faktor berpengaruhnya perubahan umat islam bila tidak diimbangi dengan keimanan. Abi menilai kerusakan seseorang akan berpengaruh bila mana lingkungan pertemanannya telah menghasutnya.
Semakin menghasut semakin pula pola pikirnya tidak baik secara keislaman. Oleh karena itu, Abi Sumardi menjelaskan 3 hal orang yang terhalang hidayahnya Selasa (26/08/25). Berikut penjelasannya :
Kawan yang buruk
Abi Sumardi mengutip kisah dari Abu Talib yang terhalang 3 unsur salah satunya Adalah Kawan yang buruk. Baginya, Kawan yang buruk disebabkan karena berinteraksi orang yang tidak tepat. Keberadaan ini menurut Abi Sumardi harus dihindari menyebabkan terjerumusnya segala keburukan yang sangat menghawatirkan. Abi Sumardi juga mengambil Surat Al-Furqon ayat 27 berbunyi :
وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَـٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًۭا
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit kedua tangannya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.“
Tentu ini menjadi sangat riskan mengingat masih banyak umat islam terjebak dalam lingkaran berbahaya. Dan patut kita bantu agar Kembali ke jalan semestinya yakni Allah SWT.
Begitu pula Ustaz Amri selaku pembimbing kajian remaja Masjid Nurul Huda menambahkan lingkungan yang buruk perlu dijauhi serta kembali menguatkan diri kepada Allah SWT.
Mengagungkan Nenek Moyang
Nenek moyang telah menjerusmuskan umat Islam ke dalam tempat yang tidak semestinya. Abi Mardi menilai nenek moyang juga disebabkan kearifan lokal yang banyak menyesatkan keimanan.
Seperti halnya : sedekah bumi dan bau-bau bersifat kesyirikan. Sebenarnya bila saya benarkan bukan kearifan lokalnya yang salah melainkan. Melainkan orang-orang yang salah memahami. Karena pada zaman dulu umat Islam berbondong-bondong menampilkan kesaktian yang sering disalahgunakan.
Akibatnya banyak orang-orang atau muridnya mengambil nama baiknya ini untuk membuktikan dirinya bisa lebih baik. Maka zaman saat itu kesaktian menjadi sakral dipergunakan.
Seolah-olah dia hebat karena dirinya. Padahal dalam Islam, kesaktian merupakan anugerah diberikan Allah SWT yang orang-orang Tassawuf menjulukinya Karomah (Kemuliaan). Yang dulunya dianggap bernilai, malah mencermakan Islam seakan-akan bukan sesuai syariat Islam.
Kearifan lokal diantaranya nyadran, sedekah bumi, dan lain-lainya memiliki tujuan untuk Kembali jalan Allah SWT. Nyadran sebagai bentuk rasa Syukur kepada Allah SWT dengan melibatkan alam dan makanan yang patut disyukuri.
Sedekah bumi memiliki makna menanamkan kecintaan kita terhadap ekologi (alam) telah diciptakan Allah SWT. Karena merawat alam adalah bagian meningkatkan ketakwaan Allah SWT.
Menghargai alam tanpa menyakiti. Menikmati hasil ciptaan Allah SWT dijadikan sebagai makanan, minuman dan keberkahan. Agar harapannya Allah SWT memberikan luar biasa untuk alam. Dan alam harus kita jaga bersama. Sayangnya banyak yang mensalahtafsirkan sedekah bumi sebagai kesyirikan kepada Allah SWT.
Takut Celaan Manusia
Celaan manusia bagi Abi Mardi bagian dari 3 hal orang yang terhambat hidayahnya Allah SWT. Semakin mendengar celaan manusia maka semakin pula keimanan kita menipis kata Abi Mardi.
Mungkin fenomena ini sangat realistis mengingat banyak yang mencari kesempatan ini sebagai guyonan. Disisi lain, pengaruh psikologis pada seseorang pun berbeda-beda. Ada yang langsung down mendengar ucapannya.
Ada yang tidak peduli ucapannya. Semua tergantung pada diri sendiri. Meskipun kita belajar dari Nabi Muhammad ketika berdakwah beliau sama sekali tidak mengubris kaum kafir Qurais selalu menerornya bahkan beliau dalam Riwayat lain dikatakan pernah dilempari kotoran.
Tapi belum kita bandingkan juga dengan orang-orang zaman sekarang. Sekarang bisa dituntut keadilan sampai kemenangan korban perlu disampaikan ruang hukum.
Di Eropa timur misalnya celaan adalah makanan sehari-hari mereka. Ujung-ujungnya rasis terhadap warna kulitnya. Ini perlu diganungkan dengan kepedulian kita sebagai umat islam. Jangan biarkan hal ini terjadi sepanjang tahunnya.
Kesimpulannya
Penjelasan Abi Mardi ini mengingatkan kita keimanan bisa menjadi penguat kita sepanjang hari bahkan seumur hidup. Bila keimanan kita dikuatkan, kita tak perlu lagi khawatir dalam segala aspek kehidupan. Tetap disyukuri dan dinikmati setiap harinya terus berputar. Maka Ustaz Amri juga mengingatkan kita pentingnya memilki keimanan yang kokoh.
Kalau keimanan kita kokoh kita tidak akan gentar dalam segala urusan mulai : bidang politik, bidang keagamaan hingga bidang apapun itu. Dan prioritas kedua menurut Ust Amri Adalah mendakwahnya islam. Kalau kita tidak mendakwahannya, kita mudah terombang-ambing dan mudah terpengaruh.
Sumber : Halaqoh Remaja Masjid Nurul Huda Selasa (26/08/25).