Esai

Gejolak Krusial Inter Umat Beragama

2 Mins read

KULIAHALISLAM.COM – Akhir-akhir ini menjelang perayaan hari besar keagamaan umat Islam yakni idul fitri, kembali muncul gejolak polemik perdebatan antar komunitas keagamaan dilingkup regional desa dan kampung. Peristiwa ini seolah-olah menjadi siklus tahunan yang sengaja dipelihara, diangkat dan disebarkan dalam media sosial dan warga masyarakat hanya untuk memicu polemik kegaduhan ditengah interaksi antar umat beragama, lebih-lebih aktivitas internal beragama Umat Islam.

Akhirnya, melalui gejolak polemik yang menyasar aktivitas umat beragama itupun beredar luar ditengah warga, dan warga hanya bisa menerima kenyataan itu tanpa sikap kritis, peduli simpatik dan belajar dari kasus-kasus perayaan umat keagamaan sebelumnya.

Setiap perayaan hari besar keagamaan khususnya tradisi keagamaan umat Islam di Indonesia, selalu saja muncul gejolak dinamika polemik antar atau inter umat beragama terkait dalam hal pemahaman keagamaan maupun pelaksanaan teknis Perayaan Hari Raya besar umat Islam di Indonesia. Seperti, hari raya idul Fitri, hari raya idul adha, peringatan tahun Baru Islam, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, perayaan isra mi’raj, dan sebagainya.

Melalui tradisi perayaan hari besar keagamaan Islam tersebut selalu muncul penolakan, pelarangan, diskriminasi dan persekusi baik dalam hal pembatasan perizinan, pemojokan anggota komunitas tertentu dan tindakan sewenang-wenang, semena-mena, menebar ketakutan ancaman terhadap kelompok yang berbeda dengan kelompok yang lainnya.

Selain itu, kasus krusial dari tradisi perayaan seperti hari raya besar Umat Islam adalah dengan munculnya tindakan pembakaran rumah ibadah, perusakan simbol dan identitas, dan pembredelan atau persekusi anggota lembaga afiliasi yang bersangkutan tersebut.

Efek sekelompok orang-orang berkomunitas organisasi yang menolak perizinan untuk penyelenggaraan sholat idul Fitri/hari Besar Islam tersebut, mengindikasikan bahwa mereka beragama secara mengandalkan hawa nafsu syahwat, berdasar seleranya masing’, bertindak sewenang-wenang otoritas atas nama pemerintah daerah setempat, pun semena-mena terhadap kelompok yang berbeda dengan ciri gerakan kelompok mereka.

Baca...  Dampak Ilmu Kalam Terhadap Permasalahan Radikalisme dan Sekularisme Serta Perannya dalam Menyelesaikan Masalah 

Karena itu, masalah pemahaman toleransi berkeyakinan dan beragama antar internal umat Islam beragama belum sepenuhnya pulih, paham dan mengerti terkait pemberian fasilitas, penjagaan dan perlindungan hak-hak umat beragama dalam menyelenggarakan ritualistik perayaan hari Raya besar Islam.

Disatu sisi, interaksi sosial antar dan inter umat beragama nampak baik nyaman, rukun, damai, dan harmonis ditengah masyarakat wilayah seluruh Indonesia. Setiap kali muncul agenda kegiatan keagamaan dan menyangkut dialog interaktif terkait persoalan kebangsaan selalu mengundang, melibatkan partisipasi aktif, dan merangkul perwakilan anggota lintas lembaga organisasi keagamaan dan komunitas tertentu. Namun, melalui interaksi sosial yang nampak rukun dan damai antar lembaga organisasi keagamaan atau kemasyarakatan tersebut masih menyisihkan persoalan, kerapuhan hubungan, gejolak dan dinamika yang terjadi. Yang suatu waktu tertentu akan muncul konflik, gesekan dan tindakan brutalitas antar anggota lembaga dan komunitas keagamaan tersebut.

Karena itu, perlunya sikap kedewasaan dan kerukunan yang kokoh lagi luas agar mampu menghadapi setiap muncul dinamika polemik perdebatan khilafiyah umat beragama dalam bermasyarakat, bernegara dan berbangsa.

Disisi lain, mereka cenderung menggunakan kekuasaan ditingkat lokalitas dan kampung, pemerintah daerah setempat dengan tebang pilih, diskriminasi dan bahkan persekusi terhadap kelompok yang berbeda dengan dirinya. Artinya, mereka menggunakan kekuasaan lokal setempat untuk memukul kelompok lain, sembari memperbolehkan aktivitas kelompok yang sehaluan dengan gerakan kelompoknya masing-masing.

Mereka meminjam kekuasaan publik hanya sebagai sarana untuk menyerang, menyasar dan mendiskreditkan segala aktivitas organisasi/komunitas keagamaan lainnnya. Pemerintah lokal desa setempat mengenakan busana kekuasaan demokratis tetapi cenderung bertindak otoritarianisme sewenang-wenang despotik dan tiranik menindas rendahkan warga masyarakat.

85 posts

About author
Alumni Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang. Sekarang menempuh studi Magister Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis adalah Redaktur Pelaksana Kuliah Al-Islam
Articles
Related posts
Esai

Tafsir Al-Qur’an Digital di Indonesia: Inovasi atau Masalah?

3 Mins read
Transformasi digital yang berlangsung secara masif dalam dua dekade terakhir telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali praktik keagamaan. Di…
Esai

Kuliah, Organisasi, atau Kerja? Cara Bijak Menentukan Prioritas

2 Mins read
Menjadi mahasiswa di era sekarang bukan hanya soal datang ke kelas dan mengerjakan tugas. Banyak mahasiswa dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit:…
Esai

​Iqra' tapi Guru Tak Digaji: Refleksi Kesejahteraan Guru Hardiknas 2026

3 Mins read
Pada tanggal 2 Mei 2026, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional yang ke-118. Angka tersebut bukan sekadar hitungan tahun; ia adalah cermin seberapa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *