A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu sarana penting dalam membentuk kepribadian dan karakter peserta didik. Melalui pendidikan, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar memahami nilai-nilai moral, menghargai orang lain, dan membangun hubungan sosial yang baik. Dalam kehidupan masyarakat yang memiliki beragam latar belakang suku, budaya, bahasa, dan agama, sikap toleransi menjadi salah satu nilai penting yang perlu ditanamkan sejak dini. Toleransi membantu seseorang memahami bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan yang harus disikapi dengan bijaksana, bukan dijadikan alasan untuk merendahkan atau menjauhi orang lain.
Di lingkungan pendidikan, sikap toleransi dapat diwujudkan melalui berbagai perilaku sederhana, seperti menghargai pendapat teman, tidak melakukan perundungan karena perbedaan, bekerja sama tanpa membeda-bedakan latar belakang, serta menyelesaikan perselisihan dengan cara yang baik. Meskipun terlihat sederhana, sikap tersebut membutuhkan proses pembelajaran dan pembiasaan yang berkelanjutan. Peserta didik perlu mendapatkan pemahaman bahwa menghormati orang lain tidak berarti harus menghilangkan keyakinan yang dimiliki, melainkan menunjukkan sikap yang adil, santun, dan bertanggung jawab ketika berhadapan dengan perbedaan.
Salah satu mata pelajaran yang dapat berperan dalam menanamkan nilai toleransi adalah Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Mata pelajaran ini mempelajari perjalanan sejarah, perkembangan peradaban Islam, perjuangan tokoh-tokoh Islam, serta berbagai peristiwa yang memberikan pelajaran bagi kehidupan manusia. Pembelajaran SKI seharusnya tidak hanya berorientasi pada kemampuan peserta didik menghafal nama tokoh, tempat, dan urutan peristiwa sejarah. Lebih dari itu, sejarah dapat menjadi sumber pembelajaran moral yang membantu peserta didik memahami nilai-nilai kebaikan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana dinyatakan bahwa pembelajaran sejarah memiliki hubungan erat dalam pembentukan karakter, karena peristiwa masa lalu dapat dijadikan bahan refleksi untuk menghadapi persoalan masa kini. Peserta didik dapat mempelajari bagaimana suatu masyarakat menghadapi perbedaan, menyelesaikan konflik, membangun kerja sama, dan menciptakan kehidupan yang lebih tertib. Dalam konteks ini, SKI memberikan kesempatan kepada guru untuk menghubungkan peristiwa sejarah Islam dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang masa lalu, tetapi menjadi sumber inspirasi untuk membentuk perilaku yang lebih baik pada masa sekarang.
Salah satu contoh yang relevan untuk dibahas adalah Piagam Madinah pada masa Nabi Muhammad saw. Piagam tersebut dikenal dalam kajian sejarah Islam sebagai kesepakatan yang mengatur hubungan dan tanggung jawab berbagai kelompok dalam masyarakat Madinah. Masyarakat Madinah memiliki latar belakang sosial dan keagamaan yang beragam sehingga kehidupan bersama membutuhkan aturan, komitmen, dan tanggung jawab. Melalui pembahasan sejarah ini, peserta didik dapat diajak memahami pentingnya keadilan, kesepakatan bersama, tanggung jawab sosial, serta penghormatan terhadap keberadaan kelompok lain. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bahan refleksi untuk membangun hubungan yang harmonis di lingkungan sekolah maupun masyarakat (Hasanah et al., 2022).
Pentingnya pendidikan toleransi juga ditegaskan dalam Declaration of Principles on Tolerance yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1995. Dokumen tersebut menjelaskan bahwa toleransi berkaitan dengan sikap menghormati, menerima, dan menghargai keberagaman manusia. Pendidikan dipandang sebagai sarana penting untuk mengembangkan pemahaman, solidaritas, dan penghormatan terhadap perbedaan. Prinsip tersebut menunjukkan bahwa pembentukan sikap toleran tidak cukup dilakukan melalui penyampaian nasihat, tetapi perlu didukung oleh proses pendidikan yang membantu peserta didik memahami perbedaan dan belajar menyikapinya secara bertanggung jawab (UNESCO, 1995).
Oleh karena itu, pembelajaran SKI perlu dilaksanakan dengan pendekatan yang mendorong peserta didik berpikir kritis, berdiskusi, mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah, dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Guru memiliki peran penting dalam mengarahkan pembelajaran agar peserta didik tidak hanya mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu, tetapi juga memahami nilai yang dapat dipetik dari peristiwa tersebut. Misalnya, setelah mempelajari Piagam Madinah, peserta didik dapat diajak mendiskusikan cara menghargai pendapat teman, pentingnya menaati kesepakatan kelas, serta cara menyelesaikan perbedaan tanpa kekerasan.
Berdasarkan uraian tersebut, artikel ini membahas peran Sejarah Kebudayaan Islam dalam membentuk sikap toleransi peserta didik melalui pemahaman terhadap peristiwa sejarah, penanaman nilai-nilai keteladanan, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan ini didasarkan pada gagasan bahwa pembelajaran sejarah akan lebih bermakna apabila pengetahuan yang diperoleh peserta didik dapat dihubungkan dengan pembentukan karakter. Dengan demikian, belajar dari sejarah tidak hanya membantu peserta didik mengenal perjalanan peradaban Islam, tetapi juga mendorong tumbuhnya sikap saling menghormati, adil, bijaksana, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.
B. Pembahasan
1. Sejarah Kebudayaan Islam sebagai Sumber Pembelajaran Nilai Toleransi
Sejarah Kebudayaan Islam merupakan mata pelajaran yang mempelajari perjalanan kehidupan umat Islam, mulai dari masa Nabi Muhammad saw., perkembangan masyarakat Islam, hingga pertumbuhan peradaban Islam di berbagai wilayah. Melalui mata pelajaran ini, peserta didik dapat memahami bagaimana ajaran Islam berkembang dalam kehidupan masyarakat serta bagaimana para tokoh Islam menghadapi berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan. Oleh karena itu, SKI memiliki potensi besar untuk menjadi sarana pembentukan karakter, termasuk dalam menanamkan sikap toleransi.
Dalam pembelajaran sejarah, peserta didik sering kali berhadapan dengan berbagai peristiwa yang mengandung pelajaran moral. Peristiwa tersebut dapat digunakan untuk membantu mereka memahami pentingnya kejujuran, tanggung jawab, keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut akan lebih bermakna apabila tidak hanya dipelajari sebagai teori, tetapi juga dikaitkan dengan pengalaman peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran SKI dapat menjadi jembatan antara pengetahuan sejarah dan pembentukan perilaku.
Toleransi sendiri dapat dipahami sebagai kesediaan untuk menghormati dan menerima keberadaan orang lain yang memiliki perbedaan pandangan, latar belakang, budaya, atau keyakinan. Toleransi tidak berarti seseorang harus meninggalkan keyakinan pribadinya. Sebaliknya, toleransi mengajarkan bahwa keyakinan dapat dijalankan dengan tetap menghargai hak orang lain untuk hidup secara damai. Sejalan dengan hal tersebut, UNESCO (1995) menjelaskan bahwa toleransi berkaitan dengan penghormatan, penerimaan, dan penghargaan terhadap keberagaman manusia. Pemahaman ini relevan dengan pendidikan karena peserta didik perlu belajar menghadapi perbedaan secara terbuka dan bertanggung jawab.
Dalam konteks pembelajaran SKI, penanaman toleransi dapat dilakukan melalui kegiatan membaca sumber sejarah, menganalisis tindakan tokoh, mendiskusikan latar belakang suatu peristiwa, dan mengambil pelajaran dari keputusan yang dibuat pada masa lalu. Peserta didik dapat diarahkan untuk memahami bahwa kehidupan masyarakat tidak selalu terdiri atas individu yang memiliki pandangan sama. Perbedaan merupakan kenyataan sosial yang membutuhkan sikap bijaksana agar tidak menimbulkan permusuhan.
Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran SKI tidak cukup diukur berdasarkan kemampuan peserta didik mengingat nama tokoh atau menjawab soal tentang kronologi sejarah. Pemahaman sejarah juga perlu tercermin dalam cara mereka memperlakukan teman, menyampaikan pendapat, dan menyelesaikan perbedaan. Apabila pembelajaran mampu mendorong perubahan cara berpikir dan perilaku ke arah yang lebih baik, maka sejarah telah berfungsi sebagai sumber pembelajaran karakter yang bermakna.
2. Piagam Madinah sebagai Teladan dalam Menumbuhkan Toleransi
Salah satu materi sejarah Islam yang dapat digunakan untuk membahas toleransi adalah Piagam Madinah. Piagam ini berkaitan dengan upaya Nabi Muhammad saw. membangun kehidupan masyarakat Madinah setelah hijrah. Masyarakat pada masa itu terdiri atas kelompok-kelompok dengan latar belakang sosial dan keagamaan yang beragam. Keadaan tersebut membutuhkan aturan bersama agar hubungan antarkelompok dapat berjalan dengan lebih teratur dan tanggung jawab sosial dapat dilaksanakan (Hasanah et al., 2022).
Piagam Madinah sering dipelajari sebagai salah satu contoh penting dalam sejarah pembentukan masyarakat yang memiliki kesepakatan dan tanggung jawab bersama. Dalam pembelajaran SKI, materi ini dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan keadilan, komitmen terhadap kesepakatan, dan penghormatan terhadap hak pihak lain. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun sikap toleransi di tengah keberagaman.
Relevansi Piagam Madinah dengan pendidikan masa kini terlihat dari pentingnya membangun lingkungan yang menghargai perbedaan. Di sekolah, peserta didik berasal dari keluarga dan lingkungan sosial yang tidak selalu sama. Mereka mungkin memiliki kebiasaan, kemampuan, cara berpikir, serta pendapat yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengejek, mengucilkan, atau merendahkan teman. Sebaliknya, peserta didik perlu belajar bahwa setiap orang memiliki martabat yang patut dihormati.
Pembelajaran tentang Piagam Madinah dapat dilakukan dengan mengajak peserta didik mendiskusikan pertanyaan sederhana, seperti mengapa masyarakat membutuhkan aturan bersama, apa akibatnya apabila seseorang tidak menghormati kesepakatan, dan bagaimana cara menjaga hubungan baik ketika terjadi perbedaan pendapat. Pertanyaan tersebut mendorong peserta didik untuk memahami sejarah melalui proses berpikir, bukan sekadar menghafal informasi.
Sebagai contoh, guru dapat memberikan situasi ketika anggota kelompok memiliki pendapat berbeda mengenai pembagian tugas. Peserta didik kemudian diminta mencari penyelesaian yang adil bagi seluruh anggota. Dari kegiatan tersebut, guru dapat menghubungkan pengalaman mereka dengan nilai tanggung jawab, musyawarah, dan penghormatan terhadap kesepakatan yang dipelajari melalui sejarah Islam.
Penelitian mengenai internalisasi nilai toleransi berbasis Piagam Madinah juga menempatkan strategi pembelajaran dan peran guru sebagai unsur penting dalam menghubungkan nilai sejarah dengan pembentukan sikap peserta didik (Rif’ah et al., 2026). Hal ini menunjukkan bahwa materi sejarah perlu disertai metode pembelajaran yang membantu peserta didik memahami dan mempraktikkan nilai yang dipelajari.
Meskipun demikian, Piagam Madinah tidak seharusnya hanya dijadikan bahan untuk menghafal isi atau menyebutkan tokoh yang terlibat. Guru perlu mengajak peserta didik memahami konteks sejarahnya secara proporsional, kemudian mendiskusikan nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan sekarang. Melalui cara tersebut, pembelajaran sejarah menjadi lebih kontekstual dan mampu memberikan inspirasi bagi pembentukan sikap toleran.
3. Peran Guru SKI dalam Membentuk Sikap Toleransi Peserta Didik
Guru memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran SKI. Guru bukan hanya bertugas menyampaikan informasi tentang peristiwa masa lalu, melainkan juga membantu peserta didik memahami makna dari peristiwa tersebut. Dalam pendidikan karakter, penjelasan materi perlu disertai proses pembiasaan, diskusi, refleksi, dan keteladanan agar nilai yang dipelajari dapat berkembang menjadi sikap.
- Pertama, guru berperan sebagai pemberi pemahaman. Guru perlu menjelaskan materi sejarah secara jelas dan menghubungkannya dengan persoalan yang dapat ditemui peserta didik. Ketika membahas kehidupan masyarakat Madinah, misalnya, guru dapat menjelaskan pentingnya kesepakatan bersama, keadilan, dan tanggung jawab dalam menjaga hubungan antarkelompok. Peserta didik kemudian diarahkan untuk memahami bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan di lingkungan sekolah.
- Kedua, guru berperan sebagai fasilitator diskusi. Pembelajaran yang hanya berpusat pada penjelasan guru dapat membuat peserta didik kurang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan mengembangkan pemikirannya. Oleh sebab itu, guru dapat menggunakan diskusi kelompok, studi kasus, bermain peran, atau analisis cerita sejarah. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar mendengarkan pendapat teman, menyampaikan pandangan dengan sopan, serta mempertimbangkan pendapat orang lain sebelum mengambil keputusan.
- Ketiga, guru berperan sebagai teladan. Sikap guru dalam berinteraksi dengan peserta didik dapat memberikan pengaruh terhadap cara mereka memperlakukan orang lain. Guru yang bersikap adil, tidak merendahkan peserta didik, memberikan kesempatan berbicara secara seimbang, dan menyelesaikan masalah tanpa mempermalukan seseorang telah menunjukkan praktik toleransi secara langsung. Keteladanan semacam ini membuat nilai yang disampaikan dalam pembelajaran lebih mudah dipahami karena peserta didik dapat melihat penerapannya dalam kehidupan nyata.
- Keempat, guru berperan dalam membangun kebiasaan positif di lingkungan kelas. Nilai toleransi perlu dilatih secara berulang melalui kegiatan sehari-hari. Guru dapat membiasakan peserta didik bekerja sama dalam kelompok yang beragam, menghargai giliran berbicara, tidak mengejek kesalahan teman, serta menyelesaikan perselisihan melalui dialog. Apabila terjadi perilaku yang merendahkan orang lain, guru perlu memberikan pembinaan yang mendidik agar peserta didik memahami akibat tindakannya dan belajar memperbaiki perilaku tersebut.
- Kelima, guru berperan melakukan refleksi dan penilaian sikap. Setelah pembelajaran sejarah, peserta didik dapat diminta menuliskan pelajaran yang diperoleh dan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Guru juga dapat mengamati perilaku peserta didik ketika berdiskusi atau bekerja sama. Penilaian tersebut sebaiknya tidak hanya berfokus pada jawaban tertulis, tetapi juga memperhatikan proses interaksi dan perubahan perilaku yang dapat diamati.
Penelitian tentang strategi guru SKI dalam menginternalisasikan nilai toleransi berbasis Piagam Madinah menunjukkan relevansi pendekatan pembelajaran yang menghubungkan nilai historis dengan praktik pendidikan (Rif’ah et al., 2026). Dengan demikian, guru perlu merancang pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengalami, mendiskusikan, dan menerapkan nilai toleransi.
Melalui berbagai peran tersebut, guru SKI dapat membantu peserta didik memahami bahwa sejarah memiliki hubungan dengan kehidupan mereka. Peserta didik diharapkan tidak hanya mengenal keteladanan tokoh Islam, tetapi juga mampu menjadikannya sebagai inspirasi untuk membangun hubungan sosial yang lebih baik.
4. Penerapan Nilai Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari Peserta Didik
Nilai toleransi yang dipelajari melalui SKI perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar tidak berhenti sebagai pengetahuan di dalam kelas. Penerapan tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu hubungan peserta didik dengan teman, guru, keluarga, dan masyarakat. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk sikap menghargai perbedaan.
Di lingkungan sekolah, toleransi dapat diwujudkan dengan menghormati pendapat teman ketika berdiskusi, tidak memaksakan kehendak dalam kerja kelompok, dan memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk berpartisipasi. Peserta didik juga perlu memahami bahwa perbedaan kemampuan akademik bukan alasan untuk merendahkan seseorang. Teman yang mengalami kesulitan belajar seharusnya dibantu, bukan dijadikan bahan ejekan. Sikap tersebut mencerminkan kepedulian dan penghargaan terhadap sesama.
Selain itu, toleransi dapat diterapkan ketika peserta didik menghadapi perbedaan kebiasaan dan latar belakang keluarga. Mereka perlu belajar berkomunikasi dengan sopan, menghindari prasangka, serta tidak menyebarkan komentar yang menyakiti orang lain. Dalam kehidupan digital, nilai yang sama dapat diwujudkan dengan tidak melakukan perundungan melalui media sosial, tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, dan tidak menggunakan perbedaan sebagai alasan untuk menghina orang lain.
Pembelajaran SKI dapat mendukung penerapan tersebut melalui kegiatan yang dekat dengan pengalaman peserta didik. Misalnya, guru meminta peserta didik membuat refleksi singkat tentang pengalaman ketika pendapatnya berbeda dengan pendapat teman. Peserta didik kemudian diminta menjelaskan cara menyelesaikan perbedaan tersebut secara baik. Kegiatan ini membantu mereka mengenali perilaku yang sudah tepat dan memahami hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
Guru juga dapat mengadakan simulasi musyawarah untuk menentukan aturan kelas. Dalam kegiatan tersebut, setiap peserta didik memperoleh kesempatan menyampaikan usulan, mendengarkan pendapat teman, dan menerima keputusan yang telah disepakati bersama. Melalui pengalaman tersebut, peserta didik dapat memahami bahwa perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan pertengkaran. Perbedaan justru dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik apabila dikelola melalui komunikasi dan sikap saling menghormati.
Dalam penerapannya, toleransi juga perlu dipahami secara tepat. Menghormati perbedaan bukan berarti membenarkan tindakan perundungan, ketidakadilan, atau kekerasan. Peserta didik tetap perlu memahami batas antara menghargai orang lain dan membiarkan perilaku yang merugikan. Sikap toleran harus berjalan bersama dengan keberanian menolak tindakan yang tidak adil melalui cara yang santun dan bertanggung jawab.
Pendidikan toleransi juga tidak dapat dibebankan hanya kepada guru SKI. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi. Nilai yang dipelajari di kelas akan lebih mudah berkembang apabila peserta didik menemukan contoh perilaku yang sejalan di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, kerja sama antara guru, orang tua, dan pihak sekolah diperlukan untuk membangun lingkungan yang aman, adil, dan menghargai keberagaman.
Dengan penerapan yang konsisten, pembelajaran SKI dapat membantu peserta didik mengembangkan kebiasaan menghormati orang lain. Keberhasilan pembelajaran tidak hanya terlihat dari kemampuan menjelaskan isi sejarah, tetapi juga dari kesediaan peserta didik mendengarkan, bekerja sama, menghindari perilaku diskriminatif, dan menyelesaikan konflik secara damai. Nilai sejarah dengan demikian menjadi bagian dari pengalaman hidup, bukan sekadar materi pelajaran yang dilupakan setelah ujian.
C. Kesimpulan
Sejarah Kebudayaan Islam memiliki peran penting dalam membentuk sikap toleransi peserta didik karena di dalamnya terdapat berbagai peristiwa dan keteladanan yang dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan. Pembelajaran SKI tidak seharusnya hanya berorientasi pada penguasaan fakta sejarah, seperti nama tokoh, tempat, dan urutan peristiwa, tetapi juga perlu membantu peserta didik memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai keadilan, tanggung jawab, persaudaraan, musyawarah, dan penghormatan terhadap sesama dapat menjadi dasar untuk membangun perilaku yang baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Piagam Madinah merupakan salah satu contoh sejarah Islam yang dapat digunakan untuk menjelaskan pentingnya kesepakatan bersama dan tanggung jawab dalam kehidupan masyarakat yang beragam (Hasanah et al., 2022). Melalui pembelajaran tersebut, peserta didik dapat memahami bahwa perbedaan tidak harus menjadi sumber pertentangan, melainkan perlu dikelola dengan sikap saling menghormati dan perilaku yang adil. Nilai-nilai sejarah akan lebih mudah dipahami apabila guru menghubungkannya dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik, seperti perbedaan pendapat, kerja sama kelompok, dan penyelesaian konflik di kelas.
Keberhasilan penanaman toleransi melalui SKI juga dipengaruhi oleh peran guru dalam memberikan pemahaman, memfasilitasi diskusi, menunjukkan keteladanan, membangun kebiasaan positif, serta melakukan refleksi terhadap perilaku peserta didik (Rif’ah et al., 2026). Pembelajaran yang melibatkan diskusi, analisis peristiwa sejarah, bermain peran, dan kegiatan refleksi dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami sekaligus mempraktikkan nilai toleransi. Meskipun demikian, pembentukan sikap tidak dapat berlangsung secara instan. Proses tersebut membutuhkan pembiasaan yang konsisten dan dukungan dari lingkungan keluarga, sekolah, serta masyarakat.
Dengan demikian, belajar dari sejarah merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan yang harmonis membutuhkan sikap saling menghargai dan tanggung jawab bersama. SKI dapat menjadi sarana pendidikan karakter yang menghubungkan pemahaman masa lalu dengan kebutuhan kehidupan masa kini. Apabila nilai-nilai sejarah diterapkan dalam perilaku sehari-hari, peserta didik diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang menghormati perbedaan, bersikap adil, menghindari tindakan diskriminatif, dan turut menciptakan lingkungan yang damai. Pada akhirnya, keberhasilan pembelajaran SKI tidak hanya tercermin dari bertambahnya pengetahuan sejarah, tetapi juga dari berkembangnya sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan.
DAFTAR PUSTAKA
Hasanah, H., Arbi, A., & Nurmin, N. (2022). Piagam Madinah dan peradaban toleransi. Toleransi: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama. https://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/toleransi/article/download/20967/8578
Rif’ah, Abu Hasansyabana, & Ahmad Ripa’i. (2026). Strategi guru SKI dalam internalisasi nilai toleransi berbasis Piagam Madinah di MIN 16 Banjar. Tarbiyah Darussalam: Jurnal Ilmiah Kependidikan dan Keagamaan, 10(1), 211–226. https://jurnal.iaidarussalam.ac.id/index.php/tarbiyah/article/download/737/377
UNESCO. (1995). Declaration of principles on tolerance. https://www.unesco.org/en/legal-affairs/declaration-principles-tolerance

