Pendahuluan
Seorang anak kelas empat MI suatu hari bertanya kepada gurunya, “Bu, kenapa kita Islam, padahal Islam datangnya dari Arab? Kita kan orang Indonesia.” Pertanyaan polos ini sebenarnya menyentuh persoalan yang dalam: bagaimana seorang anak memandang dirinya sebagai Muslim sekaligus sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Pertanyaan tentang “siapa aku” dan “dari mana asalku” adalah pertanyaan identitas, dan jawaban yang diterima anak sejak dini akan memengaruhi rasa percaya dirinya bertahun-tahun kemudian.
Erikson (1968) menjelaskan bahwa pembentukan identitas adalah proses panjang sepanjang perkembangan manusia. Masa sekolah dasar menjadi tahap ketika anak mulai membandingkan dirinya dengan orang lain dan mencari tempat di lingkungannya. Pada tahap ini, anak membutuhkan cerita yang membuatnya merasa berharga dan memiliki akar. Di sinilah Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dapat berperan. SKI bukan hanya menceritakan peristiwa di tanah Arab, tetapi juga bagaimana Islam tumbuh, berakar, dan berbaur dengan budaya setempat, termasuk di Nusantara melalui dakwah Walisongo.
Esai ini membahas peran SKI dalam membangun identitas keislaman siswa SD/MI, khususnya melalui kisah Walisongo sebagai jembatan antara “menjadi Muslim” dan “menjadi Indonesia”. Pembahasan mencakup makna identitas keislaman bagi anak, nilai-nilai yang dapat dipetik dari dakwah Walisongo, tantangan pembelajarannya, dan langkah praktis bagi guru.
Memahami Identitas Keislaman pada Anak Usia Sekolah Dasar
Identitas keislaman tidak sama dengan sekadar tahu rukun Islam atau hafal doa. Identitas keislaman adalah rasa memiliki dan rasa bangga sebagai Muslim yang tampak dalam cara anak berpikir, bersikap, dan bergaul. Anak yang memiliki identitas keislaman yang sehat mampu berkata, “Aku Muslim, dan aku senang menjadi Muslim,” tanpa merasa harus merendahkan orang lain.
Dalam rumpun Pendidikan Agama Islam di madrasah, Akidah Akhlak menanamkan keyakinan dan akhlak, Fikih mengajarkan tata cara ibadah, dan Al-Qur’an Hadis memperkenalkan sumber ajaran (Kementerian Agama RI, 2019). SKI melengkapi ketiganya dengan menjawab pertanyaan lain: bagaimana umat Islam menjalani ajaran itu dalam perjalanan sejarahnya? Dengan mengenal sejarah, anak memahami bahwa dirinya adalah bagian dari rangkaian panjang umat yang telah berjuang, berkarya, dan berbuat baik. Rasa “tidak sendirian” ini penting bagi anak, sebab identitas tumbuh subur ketika seseorang merasa menjadi bagian dari suatu kisah yang lebih besar.
Walisongo sebagai Jembatan antara Keislaman dan Keindonesiaan
Bagi anak Indonesia, kisah Walisongo memiliki kedekatan khusus. Tokoh-tokohnya berada di tanah yang sama dengan tempat anak hidup, nama-nama tempatnya mungkin pernah dikunjungi keluarga, dan jejak dakwahnya masih terasa dalam tradisi sehari-hari. Dengan demikian, anak melihat bahwa Islam bukan sesuatu yang “asing” dan jauh, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan bangsanya.
Menurut berbagai catatan sejarah, penyebaran Islam di Nusantara berlangsung terutama melalui jalur perdagangan, pernikahan, dan pendekatan budaya yang berlangsung damai dalam waktu panjang (Ricklefs, 2001; Yatim, 2008). Dalam tradisi yang berkembang di Jawa, para wali dikenal menggunakan seni dan kebiasaan masyarakat sebagai sarana dakwah, misalnya wayang, gamelan, dan tembang, sehingga ajaran Islam diterima tanpa paksaan (Sunyoto, 2012). Cara ini memperlihatkan bahwa menjadi Muslim tidak berarti meninggalkan seluruh budaya sendiri, selama nilai-nilainya tidak bertentangan dengan ajaran tauhid.
Dari kisah tersebut, ada beberapa pelajaran identitas yang dapat ditanamkan kepada anak:
- Islam hadir dengan kelembutan. Kisah dakwah yang damai menumbuhkan citra Islam sebagai agama yang ramah, sehingga anak bangga dan tidak merasa harus bersikap keras untuk menjadi Muslim yang baik.
- Muslim boleh mencintai tanah airnya. Para wali berdakwah dengan memahami masyarakat setempat. Anak belajar bahwa mencintai Indonesia dan taat beragama dapat berjalan bersama.
- Kreativitas adalah bagian dari dakwah. Anak melihat bahwa umat Islam mampu berkarya lewat seni, bahasa, dan arsitektur, sehingga mereka merasa menjadi bagian dari umat yang berbudaya.
- Menghargai sesama adalah ciri Muslim. Kisah tentang dakwah yang menghormati keyakinan masyarakat setempat membantu anak memandang keislaman dan sikap saling menghormati sebagai satu paket.
Mengaja Kisah Efektif untuk Membangun Identitas
Pada tahap operasional konkret menurut Piaget, anak usia SD lebih mudah memahami hal yang dapat dibayangkan dan diceritakan. Konsep abstrak seperti “identitas” menjadi lebih mudah dipahami ketika dihadirkan sebagai tokoh, tempat, dan peristiwa. Kisah juga melibatkan emosi: anak yang mendengar cerita wali menyampaikan dakwah lewat pertunjukan wayang akan merasa kagum, dan rasa kagum ini menjadi benih kebanggaan.
Selain itu, kisah memberi anak figur untuk diteladani. Dalam tradisi pendidikan Islam, metode kisah sejak lama dipandang sebagai cara efektif menanamkan nilai (Daradjat, 1996). Ketika anak mengidolakan tokoh dari sejarah umatnya sendiri, mereka memiliki pegangan identitas yang kuat di tengah derasnya tokoh-tokoh populer dari media digital yang belum tentu membawa nilai baik.
Tantangan dalam Pembelajaran
Ada beberapa hambatan agar SKI benar-benar menumbuhkan identitas keislaman:
- Pertama, pembelajaran yang berfokus pada hafalan nama dan tahun, sehingga kisah kehilangan daya sentuhnya.
- Kedua, sejarah yang disampaikan terlalu jauh dari pengalaman anak, misalnya hanya membahas peristiwa di Arab tanpa menghubungkannya dengan konteks Indonesia.
- Ketiga, adanya kecenderungan menyampaikan identitas secara eksklusif, yaitu membangun kebanggaan dengan cara merendahkan kelompok lain. Identitas yang sehat justru tumbuh dari rasa percaya diri, bukan dari rasa permusuhan.
Guru juga perlu berhati-hati dalam memilih dan menyampaikan kisah. Sebagian cerita tentang Walisongo hidup dalam bentuk legenda lokal. Guru sebaiknya membedakan antara catatan sejarah dan cerita tradisi (Ricklefs, 2001; Sunyoto, 2012), serta menyampaikannya dengan bahasa yang sesuai usia anak dan tidak berlebihan.
Strategi Guru Menumbuhkan Identitas Keislaman melalui SKI
Beberapa langkah berikut dapat dicoba di kelas:
- Hubungkan dengan lingkungan anak. Ajak siswa mengenali masjid bersejarah, makam wali, atau tradisi keagamaan di daerah mereka, misalnya lewat foto, peta sederhana, atau kunjungan singkat.
- Gunakan media kreatif. Wayang kertas, komik pendek, atau drama kelas tentang dakwah para wali membuat anak ikut menghidupkan kisah.
- Ajukan pertanyaan reflektif. Misalnya, “Apa yang membuatmu bangga menjadi Muslim?” atau “Bagaimana kita menunjukkan Islam yang ramah di sekolah?”
- Tanamkan kebanggaan yang inklusif. Tekankan bahwa bangga menjadi Muslim berjalan bersama menghormati teman yang berbeda keyakinan atau budaya.
- Jadilah teladan. Guru yang ramah, jujur, dan cinta tanah air adalah “bukti hidup” bahwa Islam dan keindonesiaan dapat berjalan selaras (Daradjat, 1996).
- Libatkan keluarga. Berikan tugas ringan, seperti menanyakan kepada orang tua atau kakek-nenek tentang tradisi keagamaan di kampung, agar kisah sejarah tersambung dengan identitas keluarga.
Penutup
Identitas keislaman anak tidak terbentuk dalam semalam dan tidak cukup ditanamkan lewat hafalan. Ia tumbuh dari kisah yang menyentuh, tokoh yang dikagumi, dan pengalaman merasa menjadi bagian dari sesuatu yang berharga. SKI, khususnya melalui kisah Walisongo, memberi anak jawaban atas pertanyaan sederhana yang sering muncul di hati mereka: bahwa menjadi Muslim dan menjadi orang Indonesia bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua identitas yang dapat saling menguatkan.
Peran guru adalah mengemas sejarah menjadi cerita yang hidup, dekat dengan lingkungan anak, dan ramah terhadap perbedaan. Dengan begitu, ketika kelak anak ditanya, “Kamu siapa?”, ia dapat menjawab dengan mantap dan penuh kebanggaan: “Aku Muslim, aku Indonesia.”
Daftar Pustaka
- Daradjat, Z. (1996). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
- Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. New York: W. W. Norton.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Keputusan Menteri Agama Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah. Jakarta: Kemenag RI.
- Ricklefs, M. C. (2001). A History of Modern Indonesia since c.1200 (3rd ed.). Basingstoke: Palgrave.
- Sunyoto, A. (2012). Atlas Walisongo. Depok: Pustaka IIMaN dan Trans Pustaka.
- Yatim, B. (2008). Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Rajawali Pers.

