Sastra, dalam segala bentuknya, adalah cermin paling jujur dari jiwa manusia. Ia tidak hanya merekam apa yang terlihat, tetapi juga apa yang tersembunyi di balik lapisan-lapisan perasaan yang paling dalam. Ketika sebuah syair lahir dari lisan seorang ulama besar, seorang faqih terkemuka yang hidup pada abad ke-12, kita tidak sedang berhadapan dengan sekadar rangkaian kata yang indah. Kita sedang menyaksikan sebuah dialog batin yang paling manusiawi, sebuah pergulatan antara hasrat dan komitmen, antara kecantikan yang mempesona dan ilmu yang menuntut pengabdian.
Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi, nama yang dalam lintasan sejarah Islam tercatat sebagai salah satu fakih terkemuka mazhab Hanafi, telah meninggalkan warisan intelektual yang luar biasa. Namun, di balik ketegasan fatwa-fatwanya dan kedalaman analisis fikihnya, tersimpan sebuah dimensi kemanusiaan yang sering kali luput dari perhatian kita. Syair yang ia tujukan kepada Ummi Walad, budak perempuannya yang telah melahirkan anaknya, adalah bukti bahwa seorang ulama bukanlah makhluk yang bebas dari gejolak rasa. Justru di sinilah letak keagungannya: ia mampu mengakui kerapuhannya tanpa kehilangan arah hidupnya.
Membaca Syair: Antara Keindahan dan Kegelisahan
Mari kita renungkan bait pertama syair ini dengan seksama:
سَلَامٌ عَلَى مَنْ تَيَّمَتْنِيْ بِظَرْفِهَا ۞ وَلَمْعَةِ خَدَّيْهَا وَلَمْحَةِ طَرْفِهَا
Artinya: “Salam sejahtera untuk wanita yang telah menawan hatiku dengan keelokan perangainya, kilauan kedua pipinya, serta kerlingan lirikan matanya.”
Betapa halus dan santunnya pembuka ini. Seorang ulama besar, yang biasanya berbicara tentang halal dan haram, tentang kewajiban dan larangan, tiba-tiba melunakkan bahasanya untuk menyapa seorang wanita. Salam yang ia sampaikan bukanlah salam biasa. Ia adalah salam yang penuh pengakuan: bahwa wanita ini telah menawan hatinya. Perhatikanlah pilihan kata “tayyamtni” yang berarti “telah menawan hatiku”, sebuah kata yang mengandung makna perbudakan cinta, di mana hati seseorang menjadi tawanan dari keindahan yang dipandangnya.
Namun yang menarik, An-Nasafi tidak memulai dengan menyebut kecantikan fisik semata. Ia menyebut “keelokan perangainya” terlebih dahulu sebelum menyebut “kilauan kedua pipinya” dan “kerlingan lirikan matanya”. Ini adalah urutan yang sangat bermakna. Dalam tradisi pemikiran Islam, akhlak selalu mendahului bentuk. Kecantikan yang sejati bukanlah sekadar apa yang terlihat oleh mata, tetapi apa yang dirasakan oleh hati. Seorang wanita yang memiliki perangai mulia akan memancarkan cahaya yang berbeda, cahaya yang tidak dapat ditangkap oleh indera penglihatan semata.
Bait kedua melanjutkan pengakuan itu dengan intensitas yang semakin mendalam berbunyi:
سَبَتْنِيْ وَأَصْبَتْنِيْ فَتَاةٌ مَلِيْحَةٌ ۞ تَحَيَّرَتِ الْأَوْهَامُ فِي كُنْهِ وَصْفِهَا
Artinya: “Gadis cantik itu telah menawan dan merenggut hatiku, hingga akal pikiran pun kebingungan untuk menggambarkan hakikat keindahannya.”
Di sini, An-Nasafi mengakui keterbatasan akalnya untuk mendeskripsikan keindahan yang ia hadapi. Ini adalah pengakuan yang luar biasa dari seorang ulama yang biasanya sangat percaya diri dalam merumuskan argumen-argumen fikih. Ternyata, ketika berhadapan dengan keindahan yang sejati, akal pun tak berdaya. Kata “tahayyarat al-awham” menggambarkan kebingungan prasangka-prasangka atau dugaan-dugaan dalam menangkap hakikat keindahan tersebut. Keindahan, pada puncaknya, selalu melampaui kemampuan bahasa untuk mendeskripsikannya.
Dan kemudian, bait ketiga, bait yang menjadi kunci seluruh syair ini:
فَقُلْتُ ذَرِيْنِيْ وَاعْذِرِيْنِيْ فَإِنَّنِيْ ۞ شُغِفْتُ بِتَحْصِيْلِ الْعُلُوْمِ وَكَشْفِهَا
Artinya: “Maka aku katakan padanya: “Tinggalkanlah aku dan maklumilah aku, karena sesungguhnya aku telah jatuh cinta untuk meraih berbagai ilmu dan menyingkap tirai rahasianya.”
Inilah puncak dari dialog batin yang ingin disampaikan An-Nasafi. Di tengah pusaran cinta yang menggelora, ia memilih untuk kembali kepada komitmennya: menuntut ilmu. Namun perhatikanlah, ia tidak menyangkal cintanya. Ia tidak berkata “aku tidak mencintaimu” atau “cintaku hanyalah ilusi”. Ia mengakui cintanya, tetapi ia juga menyadari bahwa ada cinta lain yang lebih besar dan lebih mendesak: cinta kepada ilmu, cinta kepada pencarian kebenaran.
Dialektika Cinta dan Ilmu: Sebuah Tafsir Filosofis
Syair ini, jika kita renungkan lebih dalam, bukan sekadar ungkapan romantis seorang ulama kepada wanita yang dicintainya. Ia adalah metafora tentang pergulatan manusia dalam menghadapi dua tarikan yang sama-sama kuat: tarikan dunia dan tarikan ilmu. Tarikan cinta manusiawi dan tarikan cinta ilahi. Tarikan keindahan yang tampak dan tarikan kebenaran yang tersembunyi.
Dalam tradisi pemikiran Islam, dikenal konsep “hubb” (cinta) yang memiliki berbagai tingkatan. Ada cinta yang bersifat naluriah, seperti cinta seorang ibu kepada anaknya. Ada cinta yang bersifat syahwat, seperti cinta antara lawan jenis yang didorong oleh daya tarik fisik. Dan ada cinta yang bersifat spiritual, seperti cinta kepada Allah, kepada Rasul-Nya, dan kepada ilmu yang merupakan jalan menuju pengetahuan tentang kebenaran.
An-Nasafi, dalam syair ini, tidak sedang menolak cinta pada tingkat pertama dan kedua. Ia justru mengakui keberadaannya. Tetapi ia menunjukkan bahwa cinta pada tingkat yang lebih tinggi (cinta kepada ilmu) harus menjadi prioritas. Ini bukan berarti ia mengecilkan arti cinta manusiawi, tetapi ia menempatkannya dalam proporsi yang tepat. Cinta kepada makhluk adalah jembatan menuju cinta kepada Khalik. Namun jika jembatan itu membuat kita lupa tujuan, maka kita perlu menata ulang langkah kita.
Kalimat “syughiftu bi-tahsil al-ulum wa kasyfiha” mengandung makna yang sangat dalam. Kata “syughiftu” berarti “aku telah dicengkeram” atau “aku telah tenggelam” dalam aktivitas tertentu. Ini bukan sekadar “aku tertarik” atau “aku berminat”. Ini adalah keterlibatan total, pengabdian yang menyeluruh. Dan objeknya adalah “tahsil al-ulum” (meraih ilmu-ilmu) dan “kasyfiha” (menyingkap tabir-tabirnya). Ilmu, dalam pandangan An-Nasafi, bukanlah sesuatu yang pasif, yang cukup dihafal atau dikumpulkan. Ilmu adalah sesuatu yang aktif, yang harus “disingkap,” yang harus “dibuka tabirnya”. Ini adalah bahasa seorang pencari, seorang peneliti, seorang yang tidak puas dengan permukaan.
Konteks Sosial-Historis: Ummi Walad dalam Tradisi Islam
Memahami syair ini secara lebih utuh, tentu saja kita perlu memahami konteks sosial-historis tentang siapa itu Ummi Walad. Dalam hukum Islam klasik, Ummi Walad adalah seorang budak perempuan yang telah melahirkan anak dari tuannya. Statusnya berbeda dari budak biasa karena ia memiliki hak-hak tertentu, termasuk tidak dapat dijual dan akan merdeka secara otomatis setelah tuannya meninggal. Anak yang dilahirkannya juga dianggap merdeka dan memiliki hak waris dari ayahnya.
Namun, di balik status hukumnya, Ummi Walad adalah manusia dengan perasaan, dengan keinginan, dengan hak untuk dicintai dan mencintai. Syair An-Nasafi ini, dalam konteks zamannya, adalah pengakuan yang luar biasa tentang kemanusiaan seorang Ummi Walad. Ia tidak berbicara tentangnya sebagai objek atau properti, tetapi sebagai wanita yang telah menawan hatinya, yang keindahannya membuat akalnya bingung. Ini adalah pengakuan tentang subjektivitas dan agensi seorang wanita, bahkan dalam sistem sosial yang sering kali dianggap patriarkis.
Lebih dari itu, syair ini juga menunjukkan bahwa cinta tidak mengenal batas kelas sosial. Seorang ulama terkemuka, yang memiliki status sosial tinggi dalam masyarakat, bisa jatuh cinta kepada seorang budak perempuan. Ini bukanlah hal yang tabu dalam Islam, justru karena Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang di hadapan Allah tidak diukur dari status sosialnya, tetapi dari ketakwaannya. Namun, tetap saja, pengakuan terbuka seperti ini dalam bentuk syair menunjukkan keberanian dan kejujuran yang luar biasa dari An-Nasafi.
Ilmu sebagai Kekasih yang Sejati: Metafora dan Makna
Jika kita membaca syair ini dengan kacamata yang lebih luas, kita bisa melihat bahwa “Ummi Walad” di sini bisa dibaca sebagai metafora dari “dunia” (al-dunya) dalam pengertiannya yang paling mempesona. Dunia memang indah. Ia menawan hati dengan segala keelokan dan pesonanya. Ia membuat akal bingung dengan keragaman dan kompleksitasnya. Namun, seorang pencari ilmu sejati harus mampu berkata kepada dunia: “Tinggalkanlah aku, maklumilah aku, karena aku sedang jatuh cinta kepada sesuatu yang lebih besar: ilmu dan penyingkapan rahasianya.”
Ini bukan berarti seorang ulama harus meninggalkan dunia sepenuhnya, menjadi pertapa yang mengasingkan diri di gua-gua. Islam tidak mengajarkan monastisisme. Tetapi Islam mengajarkan zuhud dalam arti tidak terikat secara berlebihan kepada dunia, tidak membiarkan dunia menguasai hati kita melebihi porsi yang seharusnya. An-Nasafi, dalam syair ini, sedang menunjukkan bagaimana seseorang bisa menikmati keindahan dunia tanpa kehilangan orientasi hidupnya. Ia menikmati keindahan Ummi Walad, ia mengakui pesonanya, tetapi ia tidak membiarkan pesona itu menghentikan langkahnya menuju tujuan yang lebih tinggi.
Dalam tradisi sufi, konsep ini dikenal sebagai “al-hubb al-udhri” atau cinta yang suci, di mana seseorang mencintai makhluk bukan karena hawa nafsu, tetapi karena melihat keindahan Khalik dalam keindahan makhluk-Nya. Cinta seperti ini tidak menuntut balasan, tidak mengikat, tidak memperbudak. Ia adalah cinta yang membebaskan, karena ia mengarahkan jiwa kepada sumber segala keindahan.
An-Nasafi: Ulama yang Manusiawi
Ada sebuah kecenderungan dalam sejarah intelektual Islam untuk menggambarkan para ulama sebagai sosok yang kaku, yang hanya berbicara tentang hukum dan teologi, yang tidak memiliki dimensi emosional dalam kehidupan mereka. Syair ini membantah kecenderungan tersebut. An-Nasafi, yang dikenal sebagai penulis kitab “al-Kanz” dan “al-Wafi” dalam fikih Hanafi, ternyata juga memiliki jiwa yang peka terhadap keindahan dan cinta. Ia bukanlah robot yang hanya memproses teks-teks hukum, tetapi manusia yang memiliki perasaan, yang bisa terpesona, yang bisa bingung, yang bisa jatuh cinta.
Dan justru karena ia manusiawi, fatwa-fatwanya menjadi lebih bermakna. Karena ia memahami kerapuhan manusia, ia bisa berempati dengan mereka yang menghadapi dilema serupa. Ia tidak menghakimi dari menara gading kesucian, tetapi ia berbicara dari pengalaman nyata tentang bagaimana menghadapi tarikan-tarikan yang saling bertentangan dalam hidup.
Ini mengingatkan kita pada Imam Al-Ghazali, yang sebelum menulis “Ihya’ Ulumuddin” yang monumental, terlebih dahulu mengalami krisis spiritual yang mendalam. Atau Ibn Hazm, yang menulis “Tawq al-Hamamah” (Kalung Merpati) tentang cinta, di samping karya-karyanya yang serius dalam bidang fikih dan teologi. Ulama-ulama besar dalam sejarah Islam bukanlah makhluk yang bebas dari gejolak emosi, tetapi mereka adalah orang-orang yang berhasil mengelola gejolak itu menjadi sesuatu yang produktif dan bermakna.
Cinta dan Ilmu: Dua Sayap yang Saling Menguatkan
Ada sebuah kesalahpahaman yang tersebar luas bahwa cinta dan ilmu adalah dua hal yang saling bertentangan. Seolah-olah seseorang harus memilih: menjadi pencinta yang penuh gairah tetapi bodoh, atau menjadi ilmuwan yang kering tetapi cerdas. Syair An-Nasafi menunjukkan bahwa kedua hal ini sebenarnya bisa saling menguatkan.
Cinta, pada bentuknya yang paling murni, adalah motivasi untuk mengenal lebih dalam. Ketika seseorang mencintai sesuatu, ia ingin mengetahui segala hal tentang yang dicintainya. Ia ingin memahami rahasia-rahasianya, ingin menyingkap tabir-tabirnya. Dalam pengertian ini, cinta adalah awal dari ilmu. Dan sebaliknya, ilmu yang sejati selalu membawa kepada cinta. Ketika seseorang semakin memahami alam semesta, semakin ia menyadari betapa luar biasa dan menakjubkannya ciptaan ini, dan semakin besar cintanya kepada Sang Pencipta.
An-Nasafi, dalam syairnya, menunjukkan bahwa cinta kepada Ummi Walad tidak membunuh cinta kepada ilmu. Justru sebaliknya, ia menyadari bahwa cinta itu bisa menjadi pengingat tentang betapa indahnya dunia ini, dan betapa lebih indahnya lagi ilmu yang bisa menyingkap rahasia-rahasia di balik keindahan tersebut. Cinta adalah pintu gerbang, ilmu adalah ruang utamanya. Cinta adalah undangan, ilmu adalah jamuan. Cinta adalah panggilan, ilmu adalah jawaban.
Lalu Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Syair ini, meskipun ditulis hampir sembilan abad yang lalu, masih sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Kita hidup di zaman ketika distraksi begitu melimpah. Media sosial, hiburan, tontonan, dan segala bentuk godaan duniawi mengepung kita dari segala arah. Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan: apakah kita akan membiarkan diri kita tenggelam dalam pesona dunia, ataukah kita akan tetap fokus pada tujuan hidup kita yang lebih besar?
Syair An-Nasafi mengajarkan kita bahwa mengakui pesona dunia bukanlah dosa. Merasa terpesona oleh keindahan adalah fitrah manusia. Yang menjadi masalah adalah ketika kita membiarkan pesona itu menghentikan kita, atau lebih buruk lagi, menyesatkan kita dari jalan yang benar. Kuncinya adalah kesadaran: kita harus tahu kapan harus menikmati keindahan, dan kapan harus berkata “tinggalkanlah aku” untuk kembali kepada tugas yang lebih penting.
Tak hanya itu, syair ini juga mengajarkan kita tentang kejujuran emosional. An-Nasafi tidak menyembunyikan perasaannya. Ia tidak berpura-pura menjadi orang yang bebas dari hawa nafsu. Ia mengakui dengan terbuka bahwa ia terpesona, bahwa ia bingung, bahwa ia jatuh cinta. Tetapi pada saat yang sama, ia juga mengakui bahwa ada hal lain yang lebih penting. Kejujuran seperti ini membutuhkan keberanian, karena kita hidup dalam budaya yang sering kali mengajarkan kita untuk menyembunyikan perasaan kita, atau sebaliknya, untuk mengekspresikannya tanpa batas.
Dan yang paling penting, syair ini mengajarkan kita tentang keseimbangan. Islam adalah agama yang seimbang. Ia tidak mengajarkan penolakan total terhadap dunia, tetapi juga tidak mengajarkan tenggelam total dalam dunia. Ia mengajarkan kita untuk mengambil dunia sebatas kebutuhan, dan mengambil akhirat sebagai tujuan. Dalam konteks syair An-Nasafi, “ilmu” bisa kita pahami sebagai simbol dari segala sesuatu yang mengarahkan kita kepada tujuan yang lebih tinggi: pengetahuan, kebijaksanaan, kedekatan dengan Allah, dan kontribusi kepada kemanusiaan.
Jika ditelaah lebih dalam, syair Najmuddin Umar bin Muhammad An-Nasafi ini adalah sebuah permata yang tersembunyi dalam khazanah sastra Islam. Ia bukan hanya sekadar ungkapan romantis seorang ulama kepada wanita yang dicintainya, tetapi ia adalah sebuah manifesto tentang bagaimana seharusnya seorang pencari ilmu menjalani hidupnya. Ia adalah pengakuan tentang kerapuhan manusia, tetapi sekaligus tentang keteguhan hati untuk tetap berjalan di jalan yang telah dipilih.
Di tengah dunia yang semakin bising dengan segala godaannya, syair ini hadir sebagai pengingat yang lembut namun tegas: bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari sekadar menikmati keindahan dunia. Bahwa cinta, dalam bentuknya yang paling murni, seharusnya mengarahkan kita kepada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Dan bahwa ilmu, dengan segala keajaibannya, adalah salah satu bentuk cinta yang paling mulia, karena ia membawa kita lebih dekat kepada Sang Pencipta alam semesta.
Salam sejahtera untuk An-Nasafi, sang faqih yang hatinya tetap hidup. Salam sejahtera untuk Ummi Walad, sang wanita yang menjadi inspirasi syair yang indah ini. Dan salam sejahtera untuk kita semua, para pencari ilmu, yang setiap hari berjuang untuk tetap berjalan di jalan yang benar meskipun dunia terus memanggil dengan segala pesonanya. Semoga kita mampu berkata kepada dunia, dengan penuh kesadaran dan cinta: “Tinggalkanlah aku dan maklumilah aku, karena sesungguhnya aku telah jatuh cinta untuk meraih ilmu dan menyingkap rahasia-rahasianya.” Wallahu a’lam bisshawab.

