Pendahuluan
Penanaman keimanan dan akhlak mulia sejak usia Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) merupakan fondasi utama dalam membentengi anak dari ancaman degradasi moral di era modern (Putri & Siregar, 2021). Pada fase perkembangan ini, anak-anak mulai memperluas lingkungan sosialnya ke luar batas keluarga dan menghabiskan lebih banyak waktu di sekolah. Interaksi dengan lingkungan pergaulan secara langsung membentuk pola pikir, sikap, dan kebiasaan anak sehari-hari (Wardani & Suriani, 2024). Keberadaan teman sebaya menjadi faktor yang sangat krusial untuk diperhatikan karena anak usia dasar memiliki kecenderungan meniru yang tinggi dan membutuhkan pengakuan sosial dari kelompoknya. Oleh karena itu, penulisan ini bertujuan untuk mengulas secara mendalam pengertian teman sebaya dan keimanan anak, serta menganalisis bagaimana pengaruh interaksi pertemanan dapat mengokohkan perkembangan keimanan anak SD/MI.
Pengertian Teman Sebaya dan Keimanan Anak
Secara ilmiah, teman sebaya didefinisikan sebagai kelompok individu yang berada pada rentang usia, tingkat perkembangan, atau kematangan psikologis yang relatif setara serta saling memberikan pengaruh timbal balik dalam interaksi sosial (Nufiar, 2021). Sementara itu, dalam perspektif pendidikan Islam, keimanan anak merupakan potensi fitrah tauhid yang dikembangkan melalui tiga dimensi integral, yakni pengakuan lisan, keyakinan dalam hati, dan pembuktian nyata melalui perbuatan atau akhlak terpuji (Janna, 2013; Putri & Siregar, 2021).
Dalam kehidupan anak SD/MI, kedua konsep ini saling berkaitan erat melalui aktivitas pembiasaan sehari-hari. Hubungan pertemanan menjadi wadah konkret bagi anak untuk menerapkan nilai-nilai agama, seperti kebiasaan menjalankan salat berjamaah di sekolah, belajar mengaji bersama, dan membiasakan sikap santun serta tolong-menolong sesuai ajaran Islam (Nurbaiti et al., 2020; Wardani & Suriani, 2024).
Pengaruh Teman Sebaya terhadap Perkembangan Keimanan
Interaksi dengan teman sebaya dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap perkembangan keimanan anak SD/MI. Pengaruh positif terjadi ketika anak berada dalam lingkungan pertemanan yang kondusif dan saling mendukung dalam kebaikan (Nufiar, 2021; Wardani & Suriani, 2024). Kawan yang rajin beribadah akan mendorong anak untuk ikut serta dalam kebiasaan terpuji, seperti saling mengingatkan waktu salat, membaca Al-Qur’an bersama, dan berakhlak mulia (Maulana et al., 2025).
Sebaliknya, pengaruh negatif dapat muncul akibat tekanan kelompok (peer pressure) dan kecenderungan konformitas anak terhadap kawan sebayanya (Pebriyanti et al., 2025). Anak dapat terpengaruh untuk meninggalkan ibadah, mencontek, mengejek teman yang rajin, atau melakukan tindakan melanggar aturan sekolah jika lingkungan pergaulannya didominasi oleh perilaku kurang baik (Durachman & Al Fuad, 2020; Siroj et al., 2019). Oleh sebab itu, arahan dan pendampingan dari orang tua serta guru sangat diperlukan untuk menjaga agar iklim pergaulan anak tetap berada pada jalur yang positif (Durachman & Al Fuad, 2020).
Bentuk Peran Positif Teman Sebaya
Dalam kehidupan anak SD/MI, teman sebaya berperan penting dalam membentuk lingkungan sosial yang mendorong penguatan keimanan melalui interaksi harian. Hasil penelitian kuantitatif menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara konformitas teman sebaya dan tingkat religiusitas, karena anak membutuhkan dukungan emosional dari kelompok sebayanya (Sukri & Neviyarni, 2021). Bentuk peran positif ini terlihat secara nyata saat teman sebaya saling mengajak dan membiasakan salat Dhuha dan Zhuhur berjamaah, membaca Al-Qur’an, serta berdoa bersama sebelum belajar (Maulana et al., 2025; Nurbaiti et al., 2020). Selain itu, pergaulan yang positif memicu terbentuknya norma kelompok (peer pressure positif) di mana anak-anak saling mengingatkan dalam kebaikan, meneladani kejujuran saat belajar, serta membiasakan sikap tolong-menolong dan kepedulian sosial seperti infak bersama (Sari et al., 2021; Wardani & Suriani, 2024).
Tantangan dalam Pergaulan Anak SD/MI
Di sisi lain, pergaulan sebaya juga menyimpan tantangan yang berisiko melemahkan keimanan anak. Anak usia dasar rentan melakukan konformitas negatif demi diterima dalam kelompok, seperti ikut-ikutan mengejek teman, tidak jujur/berbohong, atau menyontek (Maulana et al., 2025; Sari et al., 2021). Hasil penelitian secara empiris mengungkapkan bahwa kecanduan penggunaan smartphone dan pengaruh lingkungan luar yang kurang mendukung berhubungan negatif dengan religiusitas, sehingga berpotensi membuat anak malas dan melalaikan ibadah wajib (Siroj et al., 2019; Sukri & Neviyarni, 2021). Temuan ini menegaskan pentingnya bimbingan dan pendampingan yang intensif dari guru serta orang tua agar anak tidak terjerumus dalam pergaulan yang buruk (Durachman & Al Fuad, 2020).
Strategi Meningkatkan Keimanan melalui Teman Sebaya
Untuk mengoptimalkan peran positif teman sebaya, pihak sekolah dan orang tua perlu menerapkan strategi pembiasaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Strategi yang dapat diterapkan meliputi pembentukan kelompok belajar agama dan pelaksanaan kegiatan keagamaan bersama yang menarik, seperti tadarus Al-Qur’an pagi, salat berjamaah, pesantren kilat, serta Peringatan Hari Besar Islam (Maulana et al., 2025; Nurbaiti et al., 2020). Pembiasaan saling mengingatkan secara sopan dilatih melalui kebiasaan budaya 5S (senyum, sapa, salam, sopan, santun) dan penugasan piket ibadah secara bergilir untuk menumbuhkan tanggung jawab bersama. Seluruh strategi ini membutuhkan sinergi antara bimbingan guru di sekolah dan pemantauan orang tua di rumah, misalnya melalui penggunaan buku penghubung harian ibadah (Maulana et al., 2025; Sari et al., 2021).
Daftar Pustaka
Durachman, & Al Fuad, Z. (2020). Peranan Orangtua, Guru, dan Teman Sebaya dalam Proses Pembentukan Karakter Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Tunas Bangsa, 7(1), 98–105.
Janna, S. R. (2013). Konsep Pendidikan Anak dalam Perspektif Al-Ghazali (Implikasinya dalam Pendidikan Agama Islam). Jurnal Al-Ta’dib, 6(2), 41–54.
Maulana, I., Haris, A., & Ihwan. (2025). Pengaruh Pembiasaan Ibadah Terhadap Pembentukan Karakter Disiplin Anak Di Madrasah Ibtidaiyah Kota Bima. eL-Muhbib: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Dasar, 9(1), 259–269.
Nufiar. (2021). Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Perilaku Peserta Didik. Jurnal Azkia, 16(1), 380–407.
Nurbaiti, R., Alwy, S., & Taulabi, I. (2020). Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pembiasaan Aktivitas Keagamaan. el Bidayah: Journal of Islamic Elementary Education, 2(1), 55–70.
Pebriyanti, A., Arnelita, F., Astuti, F. N., Solihah, K. R., & Komalasari, M. D. (2025). Peran Teman Sebaya dalam Pembentukan Identitas Diri Anak Sekolah Dasar. Sosiola Pedagogi: Jurnal Inovasi Pendidikan, Sosial, dan Humaniora, 1(1), 115–120.
Putri, R. D. P., & Siregar, V. V. (2021). Urgensi Menanamkan Akhlak pada Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam. Heutagogia: Journal of Islamic Education, 1(2), 137–147.
Sari, H. S., Hendrawati, T., & Purnamasari, R. (2021). Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam Melalui Metode Pembiasaan Siswa Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Bandung. Khazanah, 1(2), 1–54.
Siroj, E. Y., Sunarti, E., & Krisnatuti, D. (2019). Keberfungsian Agama di Keluarga, Ancaman, Interaksi Teman Sebaya, dan Religiusitas Remaja. Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen, 12(1), 13–25.
Sukri, A., & Neviyarni, S. (2021). Hubungan konformitas teman sebaya dan kecanduan penggunaan smartphone dengan religiusitas. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesia), 7(1), 66–70.
Wardani, R. A., & Suriani, A. (2024). Kontribusi Interaksi Teman Sebaya Terhadap Pembentukan Karakter Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Central Publisher, 2(6), 2183–2190.

