Rindu adalah beban yang tidak punya timbangan. Ia tak bisa diukur dengan takaran apa pun, tetapi siapa pun yang pernah memikulnya tahu betapa beratnya. Rindu membuat jarak yang secara hitungan hanya beberapa hari perjalanan terasa seperti rentang antar-benua. Pada titik itulah manusia kerap kehilangan akal sehat dan mencari penolong ke tempat yang paling tak lazim: kepada langit, kepada angin, kepada burung yang melintas.
Sastra Arab menyimpan banyak jejak kepedihan semacam ini. Salah satunya tiga bait yang dinisbatkan kepada Qays bin al-Mulawwah, penyair padang pasir yang dikenang dengan julukan Majnun Layla. Julukan itu bermakna “yang tergila-gila kepada Layla”, dan sejarah mengabadikannya bukan karena kekuasaan atau harta, melainkan karena kesetiaan pada satu nama.
Bait-bait ini pendek, tetapi di dalamnya terkandung dialog yang ganjil sekaligus menyentuh: seorang lelaki mengadu kepada burung, meminta sayap, lalu mendapat jawaban yang membuatnya terdiam. Mari kita baca pelan-pelan, bait demi bait.
Mengadu kepada Kawanan yang Melintas
Bait pertama membuka adegan dengan kalimat yang sederhana:
شَكَوتُ إِلى سِربِ القَطا إِذ مَرَرنَ بي # فَقُلتُ وَمِثلي بِالبُكاءِ جَديرُ
Artinya: “Aku mengadu kepada sekawanan burung qata (sejenis burung padang pasir) ketika mereka lewat di hadapanku, lalu aku berkata: “Dan orang sepertiku sangat pantas untuk menangis.”
Perhatikan urutan kejadiannya. Sang penyair tidak sedang mencari siapa-siapa. Burung-burung itu hanya lewat. Namun, kebetulan yang paling remeh pun cukup untuk membuka bendungan. Orang yang hatinya penuh tidak memerlukan alasan besar untuk bercerita; sehelai bayang-bayang sayap di atas kepala sudah memadai sebagai pendengar.
Pilihan burungnya pun tidak sembarangan. Qata, atau sandgrouse dalam bahasa Inggris, adalah burung gurun yang terbang berkelompok menempuh jarak jauh untuk mencari air. Orang Arab mengenalnya sebagai burung yang tahu arah, yang pergi di pagi hari dan pulang ke sumbernya dengan keteguhan yang nyaris tak pernah meleset.
Maka ketika Majnun memilih mengadu kepada kawanan ini, ia sebenarnya sedang berbicara kepada makhluk yang paham arti perjalanan dan arti pulang. Padang pasir telah mengajarinya bahwa kehidupan adalah gerak mencari sumber, dan baginya sumber itu bernama Layla.
Lalu datang kalimat yang menjadi inti bait ini: “wa mitsli bil-buka’i jadir”, orang sepertiku sungguh layak menangis. Ada kejujuran yang telanjang di sana. Ia tidak berkata “aku menangis” seakan sedang melaporkan keadaan. Ia berkata bahwa tangisnya memang pantas, bahwa air matanya punya alasan yang sah.
Kalimat itu terdengar seperti pembelaan diri di hadapan hakim yang tak kelihatan, hakim yang mungkin berwujud masyarakat yang mencibirnya sebagai orang gila, atau keluarga Layla yang menutup pintu rapat-rapat.
Di sini bait pembuka memberi pelajaran yang jarang kita akui: kesedihan tidak selalu perlu diperbaiki, sebagian perlu dibenarkan terlebih dahulu. Kita hidup di zaman yang gemar menyuruh orang yang berduka agar cepat kuat, cepat ikhlas, cepat melangkah.
Majnun justru mengambil jalan yang berseberangan. Ia berhenti, menengadah, dan mengakui bahwa ia berhak menangis. Pengakuan itu bukan kelemahan. Ia justru syarat pertama sebelum luka bisa dibawa ke mana-mana, termasuk kepada burung-burung yang kebetulan melintas.
Kita juga patut memperhatikan siapa yang diajak bicara. Dalam kesepiannya, Majnun tidak bertutur kepada manusia. Barangkali sebab manusia telah menjatuhkan vonis terlalu cepat atasnya. Alam, yang tidak menghakimi, menjadi ruang yang lebih aman.
Banyak orang dewasa ini pun mengalami hal serupa: mereka menumpahkan beban kepada buku harian, kepada langit malam, kepada layar yang tak membalas, karena telinga manusia terasa penuh dengan penilaian. Bait pertama ini menunjukkan bahwa kerinduan yang terlalu dalam sering kali mencari pendengar yang tidak akan menyela.
Sayap yang Dimohonkan
Bait kedua menggeser suasana dari pengakuan menjadi permohonan:
أَسِربَ القَطا هَل مِن مُعيرٍ جَناحَهُ # لَعَلّي إِلى مَن قَد هَوَيتُ أَطيرُ
Artinya: “Wahai sekawanan burung qata, adakah di antara kalian yang mau meminjamkan sayapnya kepadaku, agar aku bisa terbang kepada kekasih yang sangat kucintai?”
Pada bait pertama Majnun bercerita. Pada bait kedua ia meminta. Dan yang ia minta bukan hal sepele: sayap. Permintaan ini lahir dari kebuntuan. Jalan darat tertutup baginya. Ayah Layla menolak lamarannya, adat menjadi tembok, dan kabar tentang kekasihnya terputus.
Ketika semua rute yang dikenal manusia telah ditutup, pikiran yang terdesak akan menengok ke atas, ke satu-satunya jalan yang tak bisa dipagari siapa pun. Langit tidak punya gerbang, tidak punya penjaga, tidak punya surat izin. Maka masuk akal bila lelaki yang terkunci di bumi mendambakan kendaraan dari udara.
Kata kunci bait ini ialah mu’ir, yang meminjamkan. Majnun tidak meminta burung-burung itu menyerahkan sayapnya selamanya. Ia hanya ingin meminjam, cukup untuk sampai. Sikap itu menyimpan kerendahan hati yang halus. Ia sadar bahwa sayap bukan miliknya, dan bahwa perjalanan menuju kekasih tak bisa ditempuh dengan kekuatannya sendiri. Ada tahu diri di tengah kegilaan yang dituduhkan orang kepadanya.
Menarik pula kata la’alli, semoga, barangkali. Majnun tidak berkata “agar aku pasti sampai”. Ia hanya berharap. Seluruh bait ini berdiri di atas kemungkinan yang tipis, dan kerapuhan itulah yang membuatnya begitu manusiawi.
Orang yang sedang jatuh cinta tidak menuntut jaminan. Ia cukup diberi secuil peluang, lalu seluruh dirinya digerakkan oleh peluang itu. Dalam bahasa yang lebih sehari-hari: harapan tidak perlu besar, ia cukup nyata di mata orang yang menggenggamnya.
Dan perhatikan cara Majnun menyebut Layla. Ia tidak menyebut nama. Ia berkata man qad hawaytu, “orang yang telah kucintai dengan sepenuh jatuh”. Akar kata hawa dalam bahasa Arab membawa makna cinta yang menjatuhkan, yang menyeret, yang membuat pemiliknya tak lagi berdaulat atas dirinya.
Majnun mengakui bahwa dirinya bukan pemegang kendali. Ia terjatuh, dan karena itu ia ingin terbang. Terjatuh dan terbang, dua gerak yang berlawanan, justru bertemu dalam satu kerinduan.
Di titik ini bait kedua mengajak kita merenungkan sesuatu yang lebih luas daripada kisah dua kekasih. Setiap orang, pada saat tertentu, pernah memerlukan sayap pinjaman. Seorang perantau yang ingin pulang ke kampung halaman namun terhalang ongkos. Seorang anak yang ingin memeluk ibunya yang sakit di pulau seberang. Seorang murid yang rindu duduk di majelis gurunya yang telah wafat.
Kita semua pernah menengadah dan berharap ada kekuatan yang sudi meminjamkan sayap. Sebagian dari kita bahkan merasa malu mengakuinya, padahal meminta tolong adalah bahasa paling tua yang dikenal makhluk yang bergantung.
Jawaban dari Dahan Pohon Arak
Bait ketiga adalah puncaknya. Burung-burung yang sejak tadi hanya menjadi pendengar akhirnya bersuara:
فَجاوَبنَني مِن فَوقِ غُصنِ أَراكَةٍ # أَلا كُلُّنا يا مُستَعيرُ مُعيرُ
Artinya: “Maka mereka menjawabku dari atas dahan pohon arak: “Ketahuilah wahai pencari pinjaman, sesungguhnya kami semua adalah pemberi pinjaman.”
Pohon arak adalah pohon gurun yang dahannya sering menjadi tempat bertengger burung dan tempat para pengembara berteduh. Ranting-rantingnya pula yang dahulu dipotong untuk dijadikan siwak. Latar yang dipilih penyair terasa hidup: seorang lelaki di tanah lapang, burung-burung di dahan yang rendah, dan percakapan yang berlangsung di antara dua dunia yang biasanya tak saling bicara.
Jawaban burung-burung itu bernada sangat ramah. Tak ada penolakan, tak ada ejekan. Kulluna mu’ir: kami semua pemberi pinjaman. Semuanya bersedia. Tak seekor pun menahan sayapnya.
Dalam ulasan para penutur kisah, jawaban ini dibaca sebagai gambaran kasih sayang alam kepada orang yang dirundung duka. Makhluk yang tak punya kepentingan pun luluh oleh kesungguhan seorang pecinta.
Penjelasan yang menyertai bait ini menyebut bahwa burung-burung itu merasa iba dan menyatakan kesiapan untuk membantu. Bacaan semacam itu wajar, dan keindahannya memang terletak pada kemurahan tanpa syarat tersebut.
Namun, bait ini juga bisa dibaca dengan nada yang lebih pahit, dan di situlah daya tariknya yang tak habis. Bila setiap burung bersedia meminjamkan sayap, mengapa Majnun tak kunjung terbang? Sebab sayap yang dipinjam tidak otomatis menjadi sayap yang bisa dipakai. Tubuh manusia tak dirancang untuk melayang, dan kemurahan hati seberapa besar pun tak bisa mengubah hukum bahan dan berat.
Jawaban burung itu tulus, tetapi ketulusan tidak sama dengan kemampuan. Kita bertemu dengan kenyataan yang sering mengiris: banyak orang baik ingin menolong, namun pertolongan mereka tak sampai pada titik yang dibutuhkan. Mereka menawarkan sayap, padahal yang dibutuhkan ialah jalan.
Pembacaan ini tidak mengurangi keindahan bait, justru memperdalamnya. Sebab dalam kehidupan nyata, orang yang berduka kerap dikelilingi niat baik yang tak menyentuh pokok soal.
Ada yang menghibur dengan nasihat, ada yang memberi doa, ada yang menawarkan waktu, dan semuanya berharga. Tetapi rindu seorang Majnun hanya bisa dijawab oleh kehadiran Layla. Tidak ada pengganti. Burung-burung boleh bersepakat menyerahkan seluruh bulunya, perjalanan itu tetap tak tertempuh. Dari sinilah tragedi Majnun bermula, dan dari sinilah ia berubah menjadi lambang.
Itu sebabnya, sebagian ahli tasawuf kemudian menangkap lapisan lain. Mereka melihat kisah ini sebagai cermin perjalanan ruhani, tempat Layla menjadi isyarat bagi Yang Dirindukan sejati.
Dalam pembacaan itu, sayap yang diminta adalah amal dan ilmu, dan burung-burung adalah makhluk yang menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya. Kalimat “kami semua pemberi pinjaman” lantas bermakna bahwa segala yang ada di alam menawarkan dirinya sebagai sarana menuju Pencipta, tetapi manusia tetap harus menempuh jalannya dengan kesungguhan yang tak bisa diwakilkan.
Pembacaan ruhani ini bersifat tafsir para penikmat sastra dan bukan keterangan dari penyair sendiri, sehingga kita menerimanya sebagai kekayaan makna dan bukan sebagai kepastian maksud.
Lalu apa yang bisa kita bawa pulang?
Pertama, kerinduan bukan aib yang perlu disembunyikan. Majnun membuktikan bahwa orang boleh berkata terang-terangan tentang air matanya dan tetap dihormati oleh sejarah. Kedua, meminta bantuan adalah tanda kesadaran akan batas diri, bukan tanda kekalahan.
Ketiga, kebaikan orang lain, sebesar apa pun, tidak serta-merta menyelesaikan persoalan yang hanya bisa selesai dengan cara tertentu, dan memahami hal ini menolong kita agar tidak marah kepada mereka yang sudah berusaha.
Keempat, dan ini yang paling halus: pada akhirnya setiap orang menempuh perjalanannya sendiri, dengan sayap yang ia tumbuhkan lewat sabar, sungguh-sungguh, dan keyakinan.
Tiga bait ini lahir dari padang pasir lebih dari seribu tiga ratus tahun silam, tetapi isinya terasa seperti percakapan yang kita jalani hari ini, di antara lalu lintas dan bunyi notifikasi, ketika rindu menyergap tanpa permisi.
Kita masih mengadu kepada apa saja yang lewat. Kita masih berharap ada yang sudi meminjamkan sayap. Dan kita masih belajar bahwa jawaban yang paling ramah pun belum tentu membawa kita pulang.
Barangkali itulah sebabnya bait-bait ini bertahan. Ia tidak menawarkan penyelesaian, melainkan teman. Ia berkata kepada setiap hati yang sedang memandang langit: engkau tidak sendirian dalam pandanganmu, dan tangismu punya alasan yang sah. Wallahu a’lam bisshawab.

