Esai

Dakwah Kampus dan Ormawa: Menghadirkan Inklusivitas & Keteladanan

4 Mins read

​“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali ‘Imran: 104)

 

​Ayat tersebut sering dibaca sebagai landasan kewajiban berdakwah. Namun, jika ditempatkan dalam konteks kehidupan kampus, kandungannya dapat dimaknai lebih luas. Dakwah bukan sekadar aktivitas menyampaikan ajaran agama, melainkan upaya menghadirkan kebajikan dalam kehidupan bersama. Karena itu, dakwah tidak semestinya dipahami sebagai aktivitas eksklusif milik ulama, ustaz, atau kelompok tertentu. Setiap Muslim memiliki ruang untuk menghadirkan nilai Islam melalui pengetahuan, sikap, kepemimpinan, maupun tindakan sosial.

​Kampus menjadi ruang yang menarik karena mempertemukan banyak latar belakang sekaligus. Di dalamnya terdapat mahasiswa dengan perbedaan daerah, pemikiran, organisasi, tingkat pemahaman agama, bahkan keyakinan. Dakwah kampus kemudian berhadapan dengan pertanyaan yang lebih sulit daripada sekadar bagaimana menyampaikan pesan agama: bagaimana nilai Islam dapat hadir di tengah ruang yang plural tanpa berubah menjadi identitas kelompok yang eksklusif?

​Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika dakwah bersinggungan dengan organisasi mahasiswa (Ormawa). Berdasarkan pengalaman saya di Universitas Negeri Yogyakarta, Ormawa bukan hanya tempat mahasiswa menjalankan program kerja, melainkan juga ruang belajar tentang kepemimpinan, negosiasi, perbedaan pendapat, tanggung jawab, dan kehidupan sosial. Himpunan mahasiswa, BEM, DPM, hingga organisasi di tingkat universitas mempertemukan mahasiswa dengan karakter dan pandangan yang beragam. Justru karena sifatnya yang terbuka, Ormawa memiliki posisi strategis sebagai ruang penerapan nilai-nilai dakwah. Persoalannya, dakwah tidak selalu hadir dengan cara yang mampu menjangkau keragaman tersebut.

​Dakwah yang Terjebak dalam Kelompok

​Salah satu persoalan yang perlu dikritisi adalah kecenderungan menjadikan dakwah sebagai identitas kelompok. Dalam beberapa pengalaman di lingkungan Ormawa, kegiatan yang membawa label keagamaan terkadang lebih mudah diikuti oleh mereka yang sejak awal memiliki latar belakang dan cara pandang yang sama. Sementara itu, mahasiswa yang berbeda pandangan dapat merasa bahwa kegiatan tersebut bukan ruang bagi mereka. Ketika keadaan ini terus berlangsung, dakwah akhirnya lebih banyak berputar di antara orang-orang yang sudah memiliki pemahaman serupa.

Baca...  Mengupas Pendekatan William Montgomery Watt dalam Kajian Kenabian Muhammad

​Masalahnya bukan terletak pada keberadaan komunitas atau kelompok dakwah. Kelompok tetap diperlukan sebagai ruang belajar dan penguatan kapasitas. Persoalan muncul ketika batas antara komunitas dan ruang publik menjadi kabur. Ketika nilai dakwah hanya disampaikan kepada orang-orang yang sudah menerima nilai tersebut, dakwah kehilangan salah satu tantangan terbesarnya, yaitu menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat yang beragam. Lebih jauh, pola semacam ini dapat membuat dakwah dipersepsikan sebagai proyek kelompok tertentu, bukan sebagai upaya menghadirkan kemaslahatan bersama.

​Hal yang sama terlihat dari kecenderungan sebagian aktivis dakwah untuk memilih Ormawa yang dianggap sudah sesuai dengan lingkungan religius mereka. Sebaliknya, organisasi yang dinilai kurang religius, terlalu politis, terlalu bebas, atau tidak cukup kondusif justru dijauhi. Pilihan tersebut memang dapat membuat aktivitas dakwah lebih nyaman, tetapi kenyamanan tidak selalu sejalan dengan tujuan dakwah. Jika dakwah hanya dilakukan di ruang yang sudah menerima dakwah, ruang perubahan menjadi semakin sempit.

​Masuk ke dalam lingkungan yang berbeda bukan berarti harus kehilangan prinsip. Justru di situlah diperlukan kemampuan berdialog, bekerja sama, dan menunjukkan bahwa nilai Islam dapat berjalan bersama keberagaman. Seorang aktivis dakwah tidak harus menjadikan seluruh anggota organisasi memiliki pandangan yang sama dengannya. Yang lebih penting adalah bagaimana kehadirannya membuat organisasi menjadi lebih adil, bertanggung jawab, disiplin, dan manusiawi.

​Dengan cara pandang tersebut, Ormawa seharusnya tidak dilihat sebagai ruang yang harus terlebih dahulu “diseragamkan” agar sesuai dengan nilai dakwah. Ormawa adalah ruang sosial yang sudah memiliki keragaman. Dakwah masuk ke dalamnya bukan untuk menghapus keragaman tersebut, melainkan untuk menghadirkan nilai kebaikan di tengahnya.

​Mengaburkan Simbol dan Mulai Mencontohkan Keteladanan

Baca...  Ketahanan Mental Pekerja, Dalam Dimensi Religiusitas Islam

​Persoalan lain adalah kecenderungan mempersempit dakwah pada simbol dan aktivitas yang secara langsung diberi label keagamaan. Pakaian, jargon, kegiatan keislaman, atau identitas organisasi memang dapat menjadi bagian dari ekspresi keberagamaan. Akan tetapi, semua itu tidak cukup untuk mengukur sejauh mana nilai Islam benar-benar hadir dalam kehidupan organisasi.

​Dalam konteks Ormawa, dakwah justru dapat terlihat dari persoalan yang sangat konkret: bagaimana seorang ketua memperlakukan anggotanya; bagaimana keputusan organisasi dibuat; apakah pembagian tugas dilakukan secara adil; apakah anggota yang berbeda pandangan tetap dihargai; apakah pengurus bertanggung jawab terhadap amanahnya; serta apakah organisasi memberikan ruang kepada anggota yang selama ini kurang terdengar. Semua itu merupakan persoalan etika yang jauh lebih substantif daripada sekadar seberapa sering organisasi menggunakan simbol keagamaan.

​Seorang pemimpin Ormawa yang ingin membawa nilai Islam tidak harus terus-menerus menunjukkan identitas keagamaannya. Kepemimpinan yang adil, kerja yang disiplin, kemampuan menepati janji, kesediaan membantu anggota, dan keberanian mengakui kesalahan justru dapat menjadi bentuk dakwah yang lebih konkret. Dalam situasi tertentu, seseorang mungkin tidak tertarik mengikuti kajian atau kegiatan keagamaan, tetapi tetap dapat melihat nilai Islam melalui perilaku orang yang bekerja bersamanya.

​Di titik ini, keteladanan menjadi penting. Dakwah yang hanya mengandalkan ceramah dapat berhenti pada pengetahuan. Dakwah yang diwujudkan melalui perilaku memiliki peluang untuk menjadi pengalaman. Orang tidak hanya mendengar apa yang dikatakan, tetapi melihat bagaimana nilai tersebut diterapkan. Karena itu, aktivis dakwah yang masuk ke Ormawa perlu bertanya bukan hanya, “Apa yang harus saya sampaikan?”, melainkan juga, “Apa yang dapat saya tunjukkan melalui cara saya bekerja dan memperlakukan orang lain?”

​Saya juga melihat bahwa pencitraan berlebihan atau show off dalam aktivitas dakwah justru dapat menghasilkan jarak. Ketika identitas kelompok terlalu ditonjolkan, orang lain dapat merasa bahwa mereka sedang berhadapan dengan sebuah kelompok yang ingin menunjukkan superioritas moral. Padahal, dakwah tidak membutuhkan kesan bahwa seseorang lebih suci daripada orang lain. Dakwah membutuhkan konsistensi antara nilai yang disampaikan dan perilaku yang ditunjukkan.

Baca...  Orang-Orang Beriman Dalam Islam

​Dakwah Kampus Tidak Boleh Berhenti

​Pada akhirnya, pengalaman saya di Ormawa juga menjadi bahan evaluasi pribadi. Saya menyadari bahwa dahulu saya belum maksimal memanfaatkan posisi dan ruang organisasi untuk menghadirkan nilai-nilai yang saya yakini. Penyesalan tersebut bukan semata karena kurang banyak membuat kegiatan keagamaan, melainkan karena saya melihat kembali bahwa setiap posisi di Ormawa sebenarnya memberikan kesempatan untuk berbuat lebih banyak: membangun kultur organisasi yang adil, membantu anggota yang kesulitan, membuka ruang dialog, dan menunjukkan bahwa keberagamaan tidak harus berjarak dengan keberagaman.

​Dakwah kampus karena itu perlu keluar dari pemahaman bahwa keberhasilan dakwah ditentukan oleh seberapa banyak orang yang masuk ke dalam kelompok kita. Ukuran yang lebih penting adalah apakah nilai yang dibawa mampu memperbaiki kehidupan bersama. Ormawa menyediakan ruang yang sangat luas untuk itu karena di sanalah mahasiswa belajar menghadapi perbedaan secara langsung.

​Bagi saya, dakwah kampus tidak seharusnya hanya mencari ruang yang nyaman untuk berdakwah. Ia juga harus berani hadir di ruang yang berbeda, bekerja bersama orang yang berbeda, dan membuktikan nilai yang diyakininya melalui tindakan. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin tidak cukup hanya disebut dalam slogan. Makna tersebut harus terlihat dalam cara seseorang memimpin, bekerja, menghargai perbedaan, dan memperlakukan orang lain. Jika dakwah mampu hadir seperti itu, Ormawa tidak lagi sekadar menjadi tempat menjalankan program kerja, melainkan menjadi ruang nyata untuk menguji apakah nilai-nilai yang kita yakini benar-benar mampu diwujudkan dalam kehidupan bersama.

3 posts

About author
Penulis
Articles
Related posts
EsaiSejarah

Suara yang Dibungkam: Farag Fouda, Khilafah, dan Tragedi Kebebasan Berpikir

9 Mins read
Langit Kairo pada 8 Juni 1992 tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Debu kota yang padat, kebisingan klakson yang tak pernah berhenti, dan…
ArtikelEsaiFilsafat

Ketika Maudy Ayunda Mengajak Mindfulness: Bagaimana Islam Mengajarkan Kita Melihat Kekacauan Masyarakat?

4 Mins read
KULIAHALISLAM.COM- Beberapa waktu lalu, lini masa kita mendadak adem—atau lebih tepatnya, dipaksa adem. Penyebabnya adalah Maudy Ayunda. Sosok yang potret hidupnya nyaris…
EsaiPolitik

Konstitusi, Program, dan Sesat Pikir: Menakar Klaim Amanat Konstitusi atas MBG dan KDMP

6 Mins read
Dalam logika, non sequitur adalah kesalahan bernalar karena kesimpulan tidak benar-benar mengikuti premis yang diberikan. Ada lompatan yang tidak terjelaskan. Dalam politik,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *